
"Ayah a-aku....."
.
.
.
.
.
"Ayah... apakah ayah bisa berjanji padaku agar tidak marah?" tanya Abel pelan .
Mendengar permintaan putrinya, Tuan Guston pun menoleh kebelakang untuk melihat Abel. Dilihatnya putrinya itu sedang menundukkan kepalanya dengan wajah sedih yang mendominasi.
"Apakah ayah bisa marah padamu?" jawab tuan Guston dengan senyumnya, walaupun dalam hatinya merasa ada yang aneh dengan putrinya itu.
Menghembuskan nafas beratnya, Abel menguatkan dirinya untuk mengungkapkan perjanjian antara dirinya dengan Acarl. "Ayah, aku tau ayah akan marah. Sangat marah , tapi aku juga tidak sengaja ayah," ujar Abel.
Tak terasa buliran bening menetes tanpa ijin melalui pipi dan menetes lewat dagu. "Ay-ayah... a-ku telah menyingung keluarga Xelone." lanjut Abel dengan suara serak khas orang menangis.
Menyunggingkan senyumnya, tuan Guston mengelus lembut rambut putrinya. Bukan rasa marah yang diterima tuan Guston, melainkan rasa senang lebih mendominasi saat putrinya dengan berani mengakui kesalahannya. Tuan Guston sendiri sebenarnya sudah tau dengan apa yang menimpa putrinya itu, namun saat melihat jika putrinya itu bisa menyelesaikan sendiri membuat tuan Guston diam .
Merasa ada belaian lembut dikepalanya, membuat Abel merasa sedikit tenang. Menahan air mata yang keluar, Abel mengangkat kepalanya . Hal pertama yang dia lihat adalah ayahnya yang menoleh padanya dan tersenyum seperti biasa.
"A-ayah???"
"Ayah tau semuanya... ayah diam karena ayah yakin kamu bisa." ujar tuan Guston membuat Abel mengerutkan dahinya.
"Ayah tau?" tanya Abel memastikan jika dia hanya salah dengar. Namun harapannya pupus saat melihat ayahnya mengangguk.
Bagaimana bisa dia membiarkan ayah nya mengetahui hal yang mampu membuat malu keluarga? . "Tapi ayah tidak marah?" tanya Abel lagi memastikan.
"Kamu memang anakku. Kamu tau? ayah marah saat dengan cerobohnya kamu menyinggung keluarga Xelone. Tapi setelah ayah lihat ternyata kamu korbannya." jelas tuan Guston diselingi tawa kecil dibelakangnya.
__ADS_1
"Tapi ada hal lain yang ingin aku katakan pada ayah. Dan ini mungkin akan membuat ayah sangat kecewa padaku," ujar Abel lirih.
Mendengar itu, tuan Guston pun segera memposisikan diri untuk mendengarkan apa yang ingin putrinya itu sampaikan . "Apa itu?" tanya tuan Guston.
Mantapkan hati, jiwa dan raga, Abelpun memejamkan matanya." Aku.. aku.. ada konsekuensi dari ini semua ayah. Dan besok adalah waktunya. Aku ak-an menjadi asisten tuan Acarl" jawab Abel sambil memejamkan matanya.
Kata demi kata yang diucapkan Abel membuat tuan Guston terkejut. Namun saat mendengar nama Acarl disebut , maka pikiran tuan Guston terfokus pada satu hal. Putrinya.
"Aku tidak bisa menolaknya ,Ayah. Jika aku..hiks... menolaknya maka perusahaan milik Guston akan hancur." lanjut Abel dengan tangis disela kalimatnya.
Terkejut mendengar penuturan putrinya, tuan Guston berdiri dari duduknya . Abel yang tersentak pun reflek mundur kebelakang sambil menatap ayahnya yang sekarang juga menatapnya. Berbatas kursi yang tadi diduduki ayahnya, Abel menangis sejadi-jadinya saat tatapan ayahnya yang sudah tegas bertambah tegas lagi.
"Kam-kamu tidak bercanda kan, Abel?" tanya tuan Guston mencoba tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
Pupus sudah harapan tuan Guston saat melihat gelengan kecil yang berulang kali itu dari putrinya. Seakan kakinya lemas, tuan Guston tersipuh dilantai .
"Ayah ma-maafkan aku," ujar Abel seraya menyetarakan tingginya dengan ayahnya .
Menatap putri satu-satunya ini menangis, membuat tuan Guston ikut menangis. Ayah mana yang tidak menangis saat putrinya tertuduh padahal dia tidak salah? dan sekarang putrinya harus menanggung konsekuensi dari hal yang bukan dia penyebabnya.
"Ayah, mulai besok aku akan tinggal dirumah tuan Acarl. Biarkan aku menanggungnya ,Ayah. Ini salah ku , dan demi perusahaan aku akan berjuang!" ujar Abel menenangkan ayahnya.
Mendengar ucapan ayahnya, membuat Abel tersenyum menenangkan. Dia memang tidak bersalah, namun dia akan merasa bersalah jika dia tidak berangkat. Ayahnya pasti akan tambah terbebani , sangat terbebani jika dia tidak menerima konsekuensinya.
"Apa kamu tau ayah? Kamu mengajarkan aku untuk berfikir sebelum melakukan sesuatu. Dan aku sudah memikirkan secara matang semuanya." jelas Abel pada ayahnya dengan nada lembut .
"Tapi...."
"Ssttt .... percaya padaku! aku akan kembali setelah menyelesaikan ini." potong Abel saat ayahnya ingin mengajukan penolakan lagi.
"Sekarang, aku ingin bersama ayah sebelum aku kesana besok." ujar Abel penuh pengharapan sambil menatap ayahnya dengan binar. Tuan Guston tidak bisa menolak apa yang diminta Abel. Akhirnya tuan Guston pasrah lalu mengangguk dan tersenyum.
----------------------
Disaat yang bersamaan, Acarl yang sekarang sudah berada di mansion nya hanya diam. Didalam ruang kerja yang berada di mansionnya , Acarl bahkan tidak melirik pekerjaan yang jelas nyata berada di depannya.
__ADS_1
Dengan bolpoin yang dia selipkan di sela jari telunjuk dan jari tengah itu , menandakan dia sedang memikirkan sesuatu.
"Cheiz!!" panggil Acarl pada Cheiz sang asisten.
Dengan terburu-buru, Cheiz pun segera masuk kedalam ruang kerja Acarl. "Ya tuan," jawab Cheiz setelah mendengar teriakan tuannya dari dalam.
Melihat Cheiz yang sudah masuk kedalam ruangannya, Acarl segera mengisyaratkan tangannya untuk menyuruh Cheiz duduk. Setelah Cheiz duduk barulah Acarl mengutarakan semua yang ada dipikirannya. "Apakah kau sudah menyiapkan perlengkapannya?" tanya Acarl.
Mengerti apa arti kata (Nya) yang dimaksud Acarl adalah Abel, Cheiz pun sedikit mengerutkan dahinya saat mendengar seorang Acarl memikirkan orang lain. "Apakah dia terbentur sesuatu tadi?" tanya Cheiz dalam hati.
Merasa tidak ada jawaban dari Cheiz, membuat Acarl melihat kearah Cheiz yang sedang menatapnya dengan dahi yang berkerut . Seperti tau apa yang dipikirkan Cheiz membuat Acarl berdehem," Ehem... bukan apa. Dan aku mau bertanya kenapa kau sekarang berubah Cheiz," ujar Acarl mengalihkan pembicaraan.
Mendengar apa kata tuannya yang aneh membuat Cheiz semakin penasaran dengan apa saja yang dipikirkan tuannya ini. " Berubah bagaimana,Tuan?" tanya Cheiz.
" Kenapa sekarang kau tidak teliti? Bagaimana kau bisa menulis data yang kurang?" tanya Acarl semakin membingungkan bagi Cheiz.
"Maaf tuan? saya sudah menulis data berdasarkan yang ada." jawab Cheiz tegas karena dia tidak merasa bersalah. Menurutnya semua data apa saja itu sudah dia teliti seteliti mungkin sebelum menyerahkannya kepada Acarl.
"Kau bahkan tidak menuliskan hubungan antara gadis itu dengan Eron." ujar Acarl to the point karena kesal dengan Cheiz yang berusaha ingin benar sendiri.
"Maaf tuan, data itu saya dapatkan sebelum kita melihat hubungan antara nona Guston dengan tuan Eron." jawab Cheiz.
Mengangkat sebelah alisnya, seolah mengekspresikan bahwa Acarl sedang bertanya maksud dari ucapan Cheiz. "Astaga tuan, sekarang bahkan kau bodoh sekali ! Biasanya kau tau apa yang aku katakan." umpat Cheiz dalam hati setelah melihat tanda tanya diwajah Acarl.
"Menurut saya , Nona Abel dengan tuan Eron baru mengenal setelah saya mendapatkan data diri nona, Tuan." jawab Cheiz.
Tidak terima dengan jawaban dari Cheiz, membuat Acarl mengepalkan tangannya meremas bolpoin yang tadi berada disela jarinya. "Bagaimana mungkin mereka langsung terlihat akrab hanya dalam beberapa hari?" cercaan dari Acarl keluar.
"Jika itu saya tidak tau,Tuan." jawab Cheiz apa adanya sambil melirik kepalan tangan Acarl.
"Apa anda benar tuan saya kenal ?" tanya Cheiz pada dirinya sendiri saat melihat reaksi Acarl terhadap semua jawabannya yang menyangkut Abel.
Aku up lagi😘
Makasih buat yang setia menunggu ❤️
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan vote ya🤭
See you next part:)