
Perempuan dengan senyum manisnya itu, berjalan mendekat kearah Abel dan Falida yang terdiam mengamati kedatangan tamu tak diundang itu. Sedangkan Noara yang berjalan mendekat, memberi senyumannya pada dua gadis yang ia kenal belum lama ini.
"Hai Abel, hai juga Falida." sapa Noara yang dibalas senyum paksa dari kedua gadis itu. Lebih tepatnya Abel lah yang melontarkan senyum paksa, berbeda dengan Falida dengan senyum canggungnya.
"Oh ayolah, kita sudah lama tidak bertemu. Aku rindu dengan kalian, makanya aku kesini." ujar Noara yang masih dengan senyumnya.
Abel akui gadis didepannya ini cantik, tapi apa boleh buat kalau ia harus membenci gadis didepannya ini yang beraninya ingin merebut Acarl dari sisinya. Dengan teror yang ia terima kemarin, Abel yakin pasti ada kaitannya dengan Noara. Dapat dilihat dari teror dan kedatangan gadis itu sekarang.
"Bagaimana kalau kita di cafe tempat pertama kita bertemu?" tanya Noara lagi. Falida melirik Abel yang juga melirik Falida. Abel tersenyum mengangguk dengan ajakan Noara. Yah walaupun Abel harus waspada nantinya, tapi Abel yakin kalau ia bisa mengalahkan Noara.
"Boleh," jawab Abel.
Mereka bertiga akhirnya memilih berangkat bersama dengan mobil yang dibawa Noara. Setiap detik, Abel mengamati tingkah Noara. Belum ada tanda-tanda mencurigakan, tapi tetap saja hati Abel tidak tenang. Pasti ada masalah nantinya, tapi dia harus berani!
Mobil yang membawa mereka sudah berhenti di cafe yang dituju. Memasuki cafe bersama, memesan makanan dan minuman lalu duduk ditempat yang sama seperti mereka bertemu pertama kalinya.
"Wah, aku tidak tau kalau bakal canggung kayak gini." ujar Noara dengan senyum kecutnya.
"Maaf, aku memang orang yang pemalu." balas Abel dengan senyum tulusnya. Yah, untuk kali ini ia jujur kalau ia orang yang pemalu. Untuk memulai percakapan saja Abel harus memikirkan paling tidak dua jam, apa lagi dengan orang baru yang mempunyai niat pada Abel.
Akhirnya semua berjalan lancar. Abel mengandalkan Falida untuk saat ini. Dengan kemampuan sosialisasi Falida yang matang, sekarang tercipta suasana pertemanan disini. Untuk Abel, Abel hanya menyimak dan sesekali menjawab jika ia ditanya.
"Waw, nggak nyangka kamu suka boyband juga ya!" pekik Noara yang terlihat kagum pada Falida.
Tidak heran kalau Falida mudah bergaul. Sepertinya Falida sangat tau tentang trend-trend yang harus dibahas jika bertemu orang-orang baru.
"Ya itu karena mereka tampan!" balas Falida tak kalah antusiasnya. Falida yang notabene tidak tau permasalahan yang sebenarnya, jadi hanya Abel yang diam disini. Ingin sebenarnya Abel bercerita pada Falida, tapi mengingat gadis itu adalah sahabatnya membuat Abel mengurungkan niatnya.
Jika dibilang jahat, memang jahat kalau tidak memberitahu sahabat sendiri. Yah, mungkin ini juga karena Abel yang tidak mau membuat sahabatnya khawatir.
__ADS_1
"Oh ya, Abel aku mau minta maaf ya sama kamu. Aku sama Carl emang temen dari kecil, jadi taukan pertengkaran antara sahabat?" ujar Noara yang sekarang beralih pada Abel. Abel yang sebelumnya melamun, hanya mengangguk-angguk saja saat Noara berbicara padanya.
"Aku jadi inget deh waktu dulu tuh Carl kayak apa. Pokoknya Carl tuh orang yang so sweet kok, kamu bakal sayang banget deh sama Carl." lanjut Noara yang hanya ditanggapi senyuman dari Abel. Berbeda dengan Falida yang sekarang menatap Abel.
"Loh? Kamu tau kalau Abel sama tuan Acarl?" tanya Falida to the poin pada Noara. Gadis itu mengangguk mengiyakan apa yang ditanyakan Falida.
Abel yang merasa kalau pembahasan kali ini bakal menyangkut dirinya, akhirnya memilih untuk mengakhiri perkumpulan hari ini. Tentunya dengan sopan ya! " Emm, sepertinya aku harus pulang sekarang. Perbedaan waktu disini dan di tempat Acarl membuatku harus tidur siang," pamit Abel dengan senyumnya.
"Wah, enaknya bisa bermesraan seperti itu. Jadi iri deh," balas Noara dengan senyum jahilnya. Yang Abel tau pastinya itu semua palsu.
Abel memilih untuk segera pergi setelah melambaikan tangannya, tentu saja Falida ikut dengannya. Dalam perjalanan pulang, karena satu taksi yang sama dengan Falida membuat Abel diserbu berbagai pertanyaan dari Falida. Tentunya pertanyaan yang menyangkut Noara.
"Sstttt! nanti gue ceritain deh detailnya." putus Abel yang merasa telinganya membengkak karena serbuan pertanyaan dari Falida.
Sampailah sekarang Abel di mansion Acarl. Dengan bergegas ia masuk kedalam kamarnya, mengganti pakaian dan juga melakukan panggilan video bersama Acarl. Abel yakin sekarang Acarl pasti tau kalau tadi dia bertemu dengan Noara. Dan benar saja saat wajah Acarl terlihat, wajah itu seakan menunjukkan rasa khawatirnya.
Abel tersenyum mendapati tebakannya benar. Acarl pasti menaruh orang kepercayaan untuk mengikuti Abel, tapi tentu saja Abel harus berhati-hati sendiri dengan kekuatannya. "Aku baik," jawab Abel dengan masih tersenyum manis pada Acarl.
"Syukurlah, aku rasa aku sangat rindu." ujar Acarl yang Abel yakini itu bohong.
Walaupun Acarl berniat untuk melindunginya, tapi tetap saja Abel adalah Abel. Abel bukan gadis lemah yang tidak tau apa-apa. Melawan keluarga pacarnya saja dia berani, apalagi melawan masa lalu kekasihnya.
"Selesaikan kerjamu dulu, aku juga mau selesaiin sekolahku." jawab Abel, tak lupa menampilkan deretan gigi putihnya. Satu tujuan Abel, yaitu hidup bersama Acarl. Orang pertama yang ia cintai setelah ayahnya pasti!
Terlihat diseberang sana, Acarl tersenyum mendengar penuturan Abel padanya. Sebuah mimpi langsung tercetak dibenak keduanya. Walaupun tidak saling mengutarakan apa yang mereka mimpikan, tak disangka keduanya sama-sama mendambakan waktu dimana mereka terikat diikatan pernikahan yang manis.
"Jaga dirimu di sana. Aku janji tidak akan sampai satu bulan pasti pulang," ujar Acarl.
Kini perasaan Acarl berbeda dengan tadi setelah ia mendengar kabar dari salah satu suruhannya. Melihat Abel yang tersenyum, mampu meyakinkan Acarl bahwa gadisnya itu dalam keadaan baik-baik saja sekarang.
__ADS_1
"Kamu juga jaga dirimu. Aku menunggu!" balas Abel dengan kalimat diakhirnya ia bisikan. Tawa kecil terdengar diantara keduanya. Beruntung ini bukanlah malam hari, jadi tidak akan ada yang terkejut mendengar suara tawa di mansion yang sepi ini.
Selepas Abel bertukar kabar dengan Acarl, Abel memilih untuk segera membersihkan dirinya. Tinggal di mansion Acarl yang besar ini, membuat Abel merasa hampa. Baru saja ia mendapat pesan dari Clara kalau gadis itu ada tugas kuliah, dan Eron yang sama ada kerja. Tak lupa Rian, yang sekarang entah kemana perginya yang pasti pria itu menghabiskan waktu di masa mudanya.
"Oh iya Falida!" gumam Abel yang mengingat akan memberi kabar pada Falida, atau lebih tepatnya akan bergibah. Tak menunggu lama, jari jemari Abel sudah mencari nama sahabatnya itu. Dan menekan ikon telepon berwarna hijau.
Dalam percakapannya dengan Falida, Abel bersyukur sekarang ia tidak sendiri seperti dulu. Mimpi buruk masa senior high school, hilang setelah ia mengenal Acarl, sahabatnya Falida, Rian, Eron dan berubahnya Clara.
Tuhan, izinkan aku terus bersama mereka.
.
.
.
.
.
Hai semua ðŸ˜
Maaf aku yang telat pakek banget ðŸ˜
Seneng banget bisa comeback 🥺
Intinya makasih buat yang masih setia menunggu 🥳
See you next part:)
__ADS_1