Kau Pelindungku Dan Aku Milikmu

Kau Pelindungku Dan Aku Milikmu
Chapter 87


__ADS_3

Halo semua ❤️


Aku sebagai Author mau ngucapin terimakasih buat kalian😘


Pokoknya makasih gitu😅


Intinya aku sayang sama semua yang disini😊


Selamat membaca deh:*


Salam dari Author dan Abel dan Acarl🥳


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"APA!!HAH!!! BERDARAH!???" pekik Acarl dengan mata membola setelah gadisnya mengucapkan itu.


Dengan membuka keras pintu kamar mandi, telihatlah Abel yang terkejut karena Acarl yang tiba-tiba masuk. Untung saja dia sudah selesai dengan ritualnya, kalau tidak....


"Oke, kamu diam disini aku panggil dokter dan setelah itu kamu harus ist...."


"Sstttt kamu cerewet banget deh!" sela Abel dengan cepat sebelum telinganya harus mendengar seluruh isi dunia nantinya. Dengan meletakan telunjuknya di bibir Acarl, membuat Acarl diam dari bawelnya tadi.


Acarl melepaskan telunjuk Abel dan mengecup pucuk kepala Abel. "Aku khawatir," ujar Acarl masih sedikit panik karena Abel yang menghentikan aksi terkejutnya itu.


"Aku bukan berdarah kayak yang kamu pikirin!! Aku cewe Acarl!" kesal Abel karena tingkah Acarl yang memancingnya untuk emosi.


Acarl menggaruk kepalanya tidak paham dengan apa yang Abel maksudkan. Cewe? Tentu saja Acarl tau itu, tapi apa hubungannya dengan berdarah? "Bisa lebih rinci?" tanya Acarl memancing emosi Abel yang semakin meledak-ledak.


"Huhhhhhh, Kamu sekolah kan? " tanya Abel balik setelah menghela napas yang panjang. Acarl mengangguk mengiyakan apa yang Abel tanyakan.


"PMS,"


"Ohhhhh, PMS tahh. Kalo PMS aku tau sayang, tapi kamu bilang berdarah." jawab Acarl dengan santai setelah tau maksud arti berdarah yang Abel maksud.


"Ish, peka dikit lah." kesal Abel yang lalu menghentak-hentakkan kakinya sembari berjalan menuju kasur empuk didalam kamarnya itu.


Acarl menyusul Abel yang menutup dirinya dengan selimut. Ini pertama kali dia melihat Abel yang sedang PMS dan uring-uringan. Kalau diingat-ingat lagi , ini kali pertama juga dia melihat Abel PMS.


"Kamu bulan kemarin nggak PMS?" tanya Acarl blak-blakan.

__ADS_1


"PMS," jawab Abel singkat dan jutek.


Acarl yang merasa Abel sedang sensitif akhirnya memilih untuk ikut merebahkan dirinya dan memeluk Abel yang terbungkus selimut itu. "Jangan gini lah, nanti kamu sesek gimana?"


"Sakit Acarl, ini perutku sakit." jawab Abel masih didalam selimutnya.


"Sakit??? Kok sakit!"


Abel membuka selimutnya dengan kasar , kemudian menatap tajam Acarl yang juga menatap Abel dengan watadosnya. "Kamu mau mati ya?" tanya Abel pelan namun penuh penekanan disetiap kalimatnya.


Acarl langsung mendekap Abel yang sedang sensitif dan meletakan kepala mungil itu di dadanya. Abel tak menolak apapun yang dilakukan Acarl, toh dia juga suka walau sedang emosi begini.


"Maaf ya, aku cuma khawatir. Apalagi dua hari lagi aku ada kerja di luar negeri." ujar Acarl sembari mengusap surai Abel. Abel mendongak menatap Acarl yang juga menatapnya.


"Kok mendadak?" tanya Abel yang sudah melengkungkan bibirnya kebawah. Entahlah , ini juga kali pertama untuk Abel terlalu sensitif saat PMS.


Acarl tersenyum lalu memajukan wajahnya untuk mengecup kedua mata Abel yang menatapnya sendu. "Aku pastiin cepet pulang kok, aku juga nggak tahan pisah lama sama kamu." ujar Acarl dengan senyumnya.


Abel mengangguk ,kemudian menyembunyikan lagi wajahnya didada Acarl yang lebar itu. Merasakan kehangatan dan detak jantung Acarl yang seirama dengan detak jantungnya.


____________


"Sayang, kamu nggak sekolah?" tanya Acarl saat mendapati Abel berada di dapur sepagi ini dan tanpa menggunakan seragamnya.


Acarl yang sudah siap dengan jas kantornya, memilih duduk dikursi yang ada didapur untuk melihat Abel. Pemandangan indah dipagi hari yang cerah.


"Besok berangkat jam berapa?" tanya Abel sembari tangannya masih menyiapkan bahan-bahan masakan.


"Aku berangkat pagi, " jawab Acarl yang langsung diangguki Abel. Sedikit tidak rela sebenarnya ditinggal Acarl yang sudah amat dekat dengannya. Jika berpisah itu rasanya enggak banget untuknya. Apalagi ini belum pasti Acarl akan pulang kapan.


"Jangan sedih gitu lah, jadi pengen angkut kan aku!" ujar Acarl dengan memonyong-monyongkan bibirnya seperti ana kecil yang akan menangis.


Abel yang melihat ekspresi Acarl seperti anak kecil itu langsung tertawa, mengabaikan Acarl yang semakin memonyongkan bibirnya sampai sekiranya bibir Acarl bisa dikuncir. "Aduh bayi besarku, hahahahahaha aaaaaa jangan bikin ketawa!," ujar Abel disela tawanya.


Abel yang tertawa sampai menutup matanya, tak sadar jika sekarang Acarl sudah berdiri didepan gadis itu. Setelah membuka matanya, Abel terkejut saat dada bidang milik Acarl sudah berada di depan matanya. Abel mendongak dan mendapati smirk Acarl yang semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Abel.


"Berani tertawain aku?" ujar Acarl dengan smirk membuat Abel menelan ludahnya.


"Aaaaaa Acarl, aku harus memasak tauk! Nan-nanti gosong ," pinta Abel yang langsung membuat Abel merutuki mulutnya yang tidak bisa diajak kompromi. Sejak kapan Abel memasak? Bahkan gadis itu baru saja selesai memotong sayuran saja.

__ADS_1


Acarl yang melihat wajah panik Abel,semakin memajukan wajahnya. "Sudah berapa lama aku tidak melihat wajah panik ini?".


Abel yang semakin memundurkan wajahnya, membuat Acarl harus menahan tengkuk Abel agar mengikis jarak diantara keduanya. Semakin dekat, membuat Abel menutup matanya sembari merasakan hembusan nafas hangat yang menerpa wajahnya yang sekarang sudah dipastikan memerah .


Cuupppp~~~


Kecupan di pucuk kepala Abel, membuat si empunya kepala langsung membuka matanya dan disambut senyuman meledek dari Acarl yang menyebalkan.


"Aku harus kerja, jadi nggak bisa untuk melakukan itu. Tunggu pulang nanti ya," ujar Acarl dengan santainya sembari mengacak rambut Abel.


"Si-siapa juga yang mikir gitu, orang a-aku tadi itu..." ujar Abel yang berniat menyangkal tapi tidak tau harus berkata apa.


Abel mencibir dan menghentak-hentakkan kakinya sembari memutari dapur karena salah tingkah. "Tidak Abel! Jangan terbuai dengan godaannya!" batin Abel.


Abel kembali memulai kegiatan memasaknya yang sempat tertunda karena Acarl. Ya ini salah Acarl, harus Acarl yang salah. Memasukan sayuran yang sudah iya potong dan ditumisnya. Jangan lupa dengan smoothies mangga sebagai vitamin.


Setelah dirasa masakannya siap, Abel segera menyajikannya dimeja tempat Acarl berada. "Makasih istriku," ujar Acarl membuat kedua pipi Abel kembali merona. Sudah empat bulan tinggal dengan Acarl, kenapa masih saja tidak bisa mengontrol dirinya? Itu yang menjadi tanda tanya besar untuk Abel.


"Nanti kamu ke kantor ya, bawakan aku makan siang." pinta Acarl disela makannya.


"Iya."jawab Abel singkat.


Sudah lama juga semenjak Abel sekolah kilat, dirinya jadi jarang ke kantor Acarl. Padahal statusnya sebagai asisten pribadi Acarl masih ada. Tapi apalah daya Abel saat Acarl dengan tegas melarangnya untuk keluar rumah sembarangan yang alasannya sendiri tidak Abel ketahui.


Memperhatikan Acarl yang sedang sarapan, membuat Abel berpikir sejak kapan Acarl berubah manis seperti ini. Bahkan jika dirasa, Abel tau dulu Acarl hanya memanfaatkan dirinya untuk melawan ayahnya. Anehnya, untuk marah saja Abel tidak. Apalagi membenci Acarl,


------


prangg......


.


.


.


.


.

__ADS_1


Udah lama nggak up🥺


Ada yang kangen nggak ya?


__ADS_2