Kau Pelindungku Dan Aku Milikmu

Kau Pelindungku Dan Aku Milikmu
Chapter 109


__ADS_3

Pagi hari yang berawan, membawa Abel harus pergi ke pasar lagi untuk membeli sayuran. Dengan terpaksa, Abel harus keluar dengan masker dan kacamata hitamnya lagi. Dengan langkah pelan, Abel berjalan menyusuri jalanan yang lumayan ramai karena kawasan turis.


"Harusnya kan aku juga jadi turis kayak gitu!" gerutu Abel pelan sembari melirik-lirik para turis yang bersiap mencari sarapan pagi. Abel mengusap perutnya, belum sarapan saja Abel sudah disuruh pergi kepasar seperti ini. Memanglah semuanya tega pada Abel.


Abel segera mempercepat langkahnya saat pasar sudah berada didepannya. Dirinya tak menyangka harus bekerja seperti ini dalam situasi seperti ini. Menepis segala pemikiran negatifnya, Abel segera mencari tempat yang menjual sayuran. Setelah itu tanpa mencemaskan apapun lagi, Abel segera keluar dari pasar. Tapi....


Greb..


"Nona,"


Suara dengan cekalan tangan membuat langkah Abel terhenti. Perlahan Abel menolehkan kepalanya, dilihatnya seorang pria berjas hitam yang sama yang mengejarnya kemarin. Dan dari panggilan itu, dapat Abel pastikan ia berasal dari negara yang sama dengannya.


"Apa aku sudah tertangkap sekarang?" batin Abel menangis.


"Nona, sebaiknya anda ikut dengan saya sekarang." ujar pria berjas hitam itu sembari menarik tangan Abel perlahan. Tentu saja Abel memberontak! Dia tidak kenal pria itu, dan pria itu juga terlihat sama seperti suruhan Noara jika dilihat dari jas nya.


"AIUTO! C'È UN LADRO QUI!" (TOLONG! ADA PENCURI DISINI!) pekik Abel yang membuat orang-orang yang melintas didekatnya langsung menoleh padanya. Dan benar saja, dengan kemampuan mengenali tiga kata magic itu membuat pria berjas hitam itu panik sendiri karena banyak orang yang mendekat.


"Signorina, non si preoccupi, vi aiuteremo!" (Nona, jangan cemas kami akan membantumu.) ujar pria yang mendekat dan Abel yakini ia akan menolongnya. Dengan perlahan, tangan pria berjas hitam itu mengendur dan itu adalah kesempatan Abel untuk melarikan diri.


"Byebye tuan tak dikenal! " pamit Abel pada pria berjas hitam itu sebelum akhirnya ia melarikan diri dengan cepat.


"GRAZIE A TUTTI VOI!!" (Terimakasih semuanya!!) pekik Abel pada orang-orang yang berdatangan membantunya.


Abel berlari dengan cepat sampai akhirnya ia tiba di cafe tempatnya bekerja. Sungguh, dua kali ini Abel berhasil kabur. Kalau sampai ia disuruh kepasar lagi? Pasti pria berjas hitam itu masih mengincarnya. Malah bisa jadi ia membawa rekan tambahan. Abel merutuki nasib sialnya yang selalu mendapatkan masalah dari dulu.


 -------------------


"Berasal dari Italia?"


"Benar, tidak salah lagi ini nomor kota dinegara Italia. Apa kau mendapatkan petunjuk?"


"Hmm, bisa dikatakan aku mendapatkannya."

__ADS_1


"Noara?"


"Yang lebih penting dari itu."


"Abel?"


"Bukan. Tapi gadisku."


Pria dengan senyum gembiranya, bertambah gembira saat mendapatkan informasi bahwa gadisnya yang benar-benar menelponnya kemarin. Ia tidak mungkin salah mengenali suara lembut itu, dan tak mungkin sampai salah mendengar suara itu.


Sedangkan pria yang berada diseberang, ikut bahagia mendengar kabar dari Acarl yang sudah memberikan kabar baik ini padanya. "Apa Abel bersamamu?" tanya pria yang tak lain adalah Eron.


"Dia belum bersamaku, tapi dia berada di kota yang sama denganku. Juga, nomor yang aku berikan itu adalah nomor yang pernah Abel gunakan untuk menelponku." jawab Acarl membuat Eron mendengus mendengarnya. Tapi disisi lain, ia juga bahagia kalau itu menandakan perkembangan dalam pencarian Abel yang sudah sampai empat atau lima hari ini.


"Baiklah, aku tinggal mencari lokasi titik nomor ponsel yang kau kirimkan ini." ujar Eron dengan antusias.


Acarl memutuskan panggilannya sepihak. Sungguh, sekarang rasanya Acarl sangat bahagia mendengar kabar bahwa gadisnya tidak berada jauh darinya. Dengan semangatnya, Acarl mulai keluar dari hotel untuk mencari Abel. Segala petunjuk sudah Acarl temukan, hanya tinggal masuk kedalam petunjuk itu untuk mencapai tujuan. Tapi...


"Apa kau punya otak! Kalau kau langsung mencekal tangannya, siapapun pasti mengira kau pencuri!" kesal Acarl pada suruhannya yang sekarang babak belur dengan luka lebam di wajahnya. Sedangkan Acarl menggelengkan kepalanya, menahan amarah yang sudah memuncak.


"Apa benar yang kau cekal adalah Abel?" tanya Acarl untuk mengalihkan topik kegagalan tadi.


"Benar, Tuan. Nona Abel bahkan mengucap sampai jumpa pada saya sebelum nona Abel kabur." jawab suruhan Acarl sembari mengangguk pasti. Sekarang giliran Acarl yang bingung harus berbuat apa, karena sudah dipastikan bahwa pasar bukanlah tempat yang akan Abel datangi lagi.


 ---------------------


"Ya! Aku tidak akan kepasar itu lagi. Aku akan ke supermarket atau ke pasar yang berbeda arah dari pasar itu. Pasti banyak pasar yang ada di kota ini selain pasar itu." gumam seorang gadis yang kini sedang berada didapur untuk menaruh sayuran yang tadi ia beli.


Abel, gadis itu sungguh penasaran dengan pria berjas hitam itu yang selalu mengikutinya. Kalau dia suruhan Noara, kenapa tidak membiusnya seperti dulu? Tapi kalau bukan Noara siapa lagi? Sungguh semua yang ada sangat rumit. Abel segera saja melakukan tugasnya, sebelum pikiran-pikiran buruk itu semakin membuatnya kacau.


Dan tak terasa, waktu sudah menunjukkan untuk cafe ini tutup. Tiga hari untuk Abel bekerja disini, dan itu membuat Abel cukup beradaptasi sekarang. Bahkan, teman-teman didapur sudah mulai mengajak Abel mengobrol. Tapi yang belum berubah, hanyalah si kasir galak yang selalu menatap sinis pada Abel.


"Vuoi uscire con me?" (Mau keluar bersamaku?) tanya teman Abel yang baru tadi mengajaknya mengobrol. Namanya Serra, gadis cantik yang usianya tidak jauh berbeda dengannya. Walaupun lebih tua Serra, tapi Abel yang memalsukan data dirinya sekarang menjadi seumuran dengan Serra.

__ADS_1


"Posso uscire?" (Apa boleh aku keluar?) tanya Abel pada Serra yang balik tersenyum pada Abel. Bukan, bukan senyum lucu. Tapi senyum mengejek yang Abel lihat di wajah Serra.


"Credi che qui ti odiamo?" (Apa kamu mengira kami disini membencimu?) tanya Serra sembari tertawa melihat wajah polos Abel.


"Ehi, non sai mai cos'è l'ospek?" (Hei, apa kamu tidak pernah tau apa itu ospek?) ujar Serra membuat Abel membelalakkan matanya. Dia tidak percaya kalau selama ini dia sedang dalam masa ospek! Memangnya ini sekolah? Sedangkan Serra yang melihat Abel mendengus kesal, langsung mencubit pipi Abel yang lumayan tembam.


"Dai, non arrabbiarti. Vogliamo solo vedere la tua esibizione!" (Sudahlah jangan marah, kami disini juga ingin melihat kinerjamu!) lanjut Serra yang langsung Abel balas dengan senyuman. Yah, sejujurnya ini juga tidak buruk untuknya. Bahka dipengalaman pertama Abel bekerja, ini bisa disebut tantangan yang menyenangkan.


"Penso di essere troppo carina qui." (Aku kira karena aku terlalu cantik disini.) ucap Abel yang langsung mendapat sentilan dikepala Abel.


Tak terasa, kini Abel memiliki teman. Teman yang menyenangkan dan bahkan terlihat mengerti dirinya. Walau begitu, ini perkembangan yang baik bukan untuk mengincar ponsel mereka? Dan sebentar lagi, Abel pasti bisa menghubungi Acarl. Dan semoga saja itu bisa ia lakukan secepatnya.


.


.


.


.


.


Hay semua 🤭


Aku comeback 🥺


Kesabaran Abel berbuah hasil 🥳


Jangan lupa like, komen dan vote ya 🤭


Dukung wajib 👌


See you next part:)

__ADS_1


__ADS_2