
Melihat Abel yang masih diam saja, membuat Acarl meraih tangan Abel. Hal itu mampu membuat Abel tersadar, lalu menarik tangannya karena terkejut .
"Apa kau ingin masuk sekarang atau disini dan terus membayangkan diriku." ujar Acarl yang langsung membuat Abel gelagapan sendiri.
Dengan cepat, Abel turun dari mobil tanpa memikirkan ketakutannya tadi saat mengingat mall kegemaran anak sekolah yang suka nongkrong disini. Bahkan sekarang Abel membuntuti Acarl yang sudah berjalan duluan. Tapi anehnya, Abel merasa jika ada sesuatu yang salah dengan mall yang katanya terkenal dikalangan remaja ini.
"Ada apa dengan mall ini?" batin Abel bertanya.
Tak memperdulikan lagi , Abel segera berjalan dibelakang Acarl sampai pintu masuk kedalam mall terbuka. Dan menampilkan...
"Kenapa sepi?"
Acarl melirik Abel yang sekarang berada disampingnya sambil menatap mall yang dalam keadaan sepi ini. Smirk andalan Acarlpun ikut keluar melihat reaksi Abel yang menganga .
"Apa kau tidak mau berjalan? kalau begitu ada kursi roda disana yang mampu mengangkut mu." ujar Acarl berbisik ditelinga Abel sambil memutar kepala Abel agar melihat kursi roda untuk fasilitas disabilitas yang dilihatnya.
Abel yang sadar langsung menjauhkan kepalanya dari Acarl, dan tentu saja Acarl tertawa melihat reaksi Abel yang entah kenapa sangat lucu dipandang itu. Sampai-sampai saat ini karyawan Mall semua takjub dengan tawa Acarl yang terkenal menyeramkan itu.
Berbagai macam bisikan mulai terdengar menyelimuti jalan Abel dan Acarl. Bahkan karyawan yang tadinya ketakutan karena kedatangan Acarl, menjadi tersenyum ramah .
Sampailah sekarang Abel dan Acarl di tempat pakaian yang ingin ditujunya. Langsung saja para karyawan mengerubungi Abel dan Acarl yang baru memasuki toko. Menundukkan kepalanya untuk menyambut kedatangan Acarl.
"Carikan aku stelan pakaian wanita yang cocok dengannya!" perintah Acarl mulai terdengar dipenjuru toko. Segera para karyawan berlarian mencari berbagai pakaian yang diminta Acarl.
Salah satu karyawan menarik Abel menuju tempat untuk mencoba pakaiannya. Tentu saja Abel terkejut dengan itu, tapi dia mencoba tenang dan ikut saja. Berbagai pilihan baju yang indah sudah terpampang didepan wajah Abel.
"Nona, silakan anda memilih untuk dicoba." ujar wanita yang dari nametag nya adalah manager toko. Abel mengitari berbagai baju yang sudah dipilihkan, dan pilihannya jatuh pada ....
Bayangkan saja itu Abel ya:)
Tapi ini bukan visualnya, untuk visual aku ingin kalian berimajinasi sendiri ya:)
__ADS_1
Dengan melihat pantulan dirinya dicermin, Abel merasa warna yang cocok dengan tubuhnya ini terasa indah untuknya. Bahkan sekarang para karyawan menatap takjub pada Abel yang terlihat mempesona dengan stelan itu. Abel berjalan keluar dengan diiringi karyawan yang takjub dengan hasil pilihannya.
"Tuan," panggil Abel pada Acarl yang sedang duduk menatap majalah pakaian wanita.
Acarl yang merasa terpanggil namanya, mengangkat wajahnya. Seketika Acarl membeku karena melihat Abel yang sudah mengenakan stelan seperti sekretaris dalam drama-drama. Terlihat dewasa menurut Acarl untuk seorang Abel yang masih remaja itu.
"Ehem, baiklah bungkus yang itu. Tapi pilih lagi yang tidak ehem tidak menunjukkan... Asshhh sudahlah pilih lagi saja!" ujar Acarl mencoba menilai Abel. Namun Acarl tiba-tiba kehilangan kata-kata.
"Baik, Tuan." jawab Abel lalu berbalik menuju tempat mencoba pakaian lagi.
Kali ini Abel bingung dengan apa yang harus dipilihnya setelah melihat respon Acarl tadi yang bahkan tidak memujinya sama sekali. Menepis hal itu, Abel memilih asal saja karena sudah tidak mood melihat berbagai pakaian yang tadinya di anggap indah itu.
Dengan asal, Abel mengambil stelan simpel yang tidak rumit sama sekali itu. Namun itu ternyata juga terlihat indah ditubuhnya. Bahkan sekarang para karyawan masih menganga menatap Abel, karena mereka tau jika tadi raut wajah Abel berubah karena respon Acarl. Tapi kini mereka takjub dengan penampilan Abel yang sempurna, mungkin karena bentuk tubuhnya yang pas untuk semua jenis baju.
Abel berjalan malas ketempat Acarl berada. "Tuan," panggil Abel pada Acarl. Acarl yang namanya disebut, langsung mendongak dan melihat Abel yang menunduk tapi masih terlihat cantik dengan baju yang dia pakai.
"Sudahlah, bungkus juga itu! Dan pilihkan tiga baju lagi ,apa saja sesuai ukurannya. Pasti semua juga cocok untuknya." perintah Acarl pada karyawan toko, dengan memelankan kalimat terakhirnya.
...----------------...
Dalam mansion yang sepi karena sudah malam, Abel dan Acarl pun juga sudah berada di kamar masing-masing. Abel mencoba untuk tidur, tapi tetap saja tidak bisa. Karena matanya tidak bisa diajak kompromi, akhirnya Abel bangun dan melangkahkan kakinya menuju taman belakang mansion.
Menuju sebuah ayunan yang terlihat tidak pernah terpakai itu, mungkin karena hanya Acarl yang tinggal disini sedangkan Acarl jarang dirumah.
Mengayunkan kakinya, membuat ayunan yang di naiki Abel ikut berayun sesuai irama kaki Abel. "Kenapa aku kecewa dengan respon tuan Acarl tadi ya?" batin Abel
"Arghhh kenapa aku memikirkannya sih," pekik Abel pelan, takut ada yang mendengar pekikannya. Tapi usahanya memelankan suaranya percuma, karena Acarl yang juga tidak bisa tidur itu , tadi mendengar suara langkah kaki dan mengikutinya.
Acarl berdiri dibelakang Abel, mengamati setiap gerak gerik gadis itu yang menurut Acarl sangat menggemaskan itu. Abel yang menendang-nendang daun, juga yang meninju-ninju udara terlihat menggemaskan dimata Acarl.
Acarl berjalan mendekat pada Abel, lalu menyentuh pundak gadis itu. Abel yang mendapat sentuhan dipundaknya, tentu saja terkejut . Dengan cepat dirinya membalikkan tubuhnya kebelakang dan mendapatkan Acarl yang dengan wajah bertanyanya.
__ADS_1
"Tuan," ujar Abel dengan senyum terpaksa karena ketauan sendirian di malam hari begini.
"Ada apa kau kesini?" tanya Acarl yang sekarang ikut menaiki ayunan disamping Abel. Abel yang merasa sedikit canggung itu, menggeser tubuhnya agar memberi jarak antara dirinya dengan Acarl.
"Saya tidak bisa tidur ,Tuan. Jadi saya berjalan-jalan saja dan sampailah disini." jawab Abel uang langsung diangguki Acarl.
"Apa kau siap untuk besok? " tanya Acarl lagi yang sekarang menatap Abel yang sedang melihat bulan sabit diatas mereka.
"Siap tidak siap, saya harus siap untuk tugas pertama saya sebagai asisten didepan para dewan direksi kan ,Tuan." jawab Abel . Acarl tertegun mendengar jawaban Abel yang terlihat santai, padahal besok hari yang sangat berat pastinya untuk Abel. Tapi Abel kan memang tidak tau apa yang terjadi besok, dia hanya tau jika besok adalah pertemuan dengan dewan direksi saja.
"Baiklah, persiapkan dirimu baik-baik." ujar Acarl yang tersenyum manis pada Abel. Abel yang masih melihat bulan, tentu saja tidak melihat senyum yang seindah bulan sabit itu.
Malampun mereka lalui dengan menatap bulan sabit yang menunjukkan senyum pada dua insan itu. Tak sadar, dua manusia itu tertidur diatas ayunan yang lumayan besar itu karena angin sepoi-sepoi yang menerpa mereka.
.
.
.
.
.
Hay semua ❤️
Aku comeback 😅
Jangan lupa like, komen dan vote ya 😙
Dukung juga boleh 😁
See you next part:)
__ADS_1