
Dua manusia dengan hati yang berbeda tujuan itu , berjalan menyusuri mall kota yang bisa dibilang mall terbesar juga di negara ini.
"Kamu yakin nggak mau beli apa-apa?" tanya Eron dengan lembut pada Abe yang tengah melihat sekelilingnya.
"Tidak tau, kalau ada yang bagus pasti aku beli . Cuman belum ada yang menarik perhatianku," jawab Abel yang sebenarnya banyak sekali yang ingin dia beli, hanya saja masalah uang yang dia tabung itu lah yang menjadi kendala.
"Baiklah, kalau ada katakan saja. Hari ini karena kamu sudah selesai ujian, jadi aku traktir kamu. Ambil saja apa yang kamu mau," ujar Eron membuat mata Abel berbinar. Bukan, bukan karena menatap Eron tapi karena melihat toko aksesoris remaja.
Entahlah, sekarang Abel mulai menyukai benda-benda yang biasa dibawa anak remaja seusianya. Mungkin karena dia sudah sedikit feminim, atau karena terlalu sering bergaul dengan Falida.
Abel melesat dengan cepat masuk kedalam toko itu dan meninggalkan Eron sendiri terpaku melihat Abel. Abel mendatangi lorong benda-benda aestetik. "Huwaaaaaa ini lucu sekali," pekik Abel saat melihat sebuah pigura yang menurutnya unik itu.
"Apa mau kamu beli?" tanya Eron yang entah sejak kapan sudah berada di samping Abel lagi. Abel berbinar dan menoleh pada Eron.
"Kamu tadi bilang mau mentraktir aku kan? Baiklah aku mau ambil ini ." ujar Abel,lalu menyerahkan pigura itu pada Eron .
Abel kembali berputar-putar menyusuri setiap lorong yang berisi benda-benda berbeda namun sama aestetik nya dengan pigura tadi. Seperti kaca, lampu, hiasan dan sebagainya mampu diangkut Abel. Dengan senyum gembiranya, dia menaruh benda yang sudah diambilnya ke kasir. Dengan isyarat menyuruh Eron yang membelikannya tentunya.
Eron yang paham hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat seakan Abel hidup kembali dan berawal seperti anak kecil lagi.
"Makasih ya, kamu baik deh." puji Abel pada Eron yang membawa banyak paper bag yang isinya barang-barang belanjaan Abel.
"Dasar wanita," batin Eron menertawakan dirinya sendiri.
Abel berjalan mendahului Eron yang kesusahan membawa barang-barang itu. Reflek Abel melihat jam tangannya yang melingkar ditangannya itu, dan seketika mata Abel membulat.
"HAH!! sudah jam setengah delapan???" pekik Abel dan tiba-tiba berhenti membuat Eron yang dibelakangnya juga ikut berhenti.
Abel berbalik dan mendapati Eron yang menatap Abel dengan tatapan bertanya. "Apa?" tanya Eron yang kini merasakan firasat buruk.
"Anterin," ujar Abel manja dengan puppy eyes nya.
"Haaaaaaaa~yuk," jawab Eron ragu dengan senyum terpaksanya karena tidak tahan melihat wajah memohon Abel yang menggemaskan itu.
Abel dengan semangat langsung mendahului Eron menuju parkiran dimana mobil Eron berada. Sedangkan Eron dengan pelan-pelan melangkahkan kakinya mengikuti Abel yang sudah jauh darinya.
__ADS_1
"Untung aku suka, kalo enggak udah aku buang dari tadi benda-benda ini." batin Eron menyabarkan dirinya sendiri.
Menekan tombol dikunci mobilnya, Eron langsung membuka bagasi untuk menyimpan barang-barang Abel yang tadi dia bawa. Sedangkan Abel yang sudah mendengar suara bip bip pertanda kalau kuncinya sudah dibuka, akhirnya nyelonong masuk kedalam kursi penumpang didepan.
Eron masuk dikursi pengemudi ,sekilas melihat Abel yang mengecek ponselnya terus-menerus. "Emang ini mau kemana?" tanya Eron seraya tangannya sibuk memasang seat belt.
"Itu di Cafe deket taman. Udahlah pokoknya jalan aja dulu, nanti kalo udah deket aku kasih tau." jawab Abel yang sedikit malas menjelaskan pada Eron, tapi dirinya juga sadar diri kalau sekarang ia meminta Eron untuk mengantarnya.
Mobil melaju sesuai perintah Abel. Dengan Abel sebagai penunjuk jalan, akhirnya mereka sampai ditempat tujuan. Abel sedikit kebingungan saat akan turun dari mobil Eron. Eron sadar akan raut gelisah Abel, akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
"Ada apa?" tanya Eron membuat Abel langsung menoleh.
"Anu, itu barangku gimana ya?" bingung Abel sembari menatap mohon pada Eron. Eron langsung menepuk jidatnya karena wajah Abel yang begitu tidak bisa ditolaknya itu.
"Iya iya, aku antarkan kemansion Acarl. Sudah sana, kamu udah ditunggu kan?" putus Eron membuat binar diwajah Abel kembali terlihat. Abel menganggukkan kepalanya dengan semangat .
"Makasih ... muachhhhh!!" ujar Abel diakhiri dengan kiss bye yang membuat pipi Eron memerah yang sudah tidak diketahui Abel karena gadis itu sudah turun .
"Kamu yang memulai," gumam Eron sambil tersenyum manis melihat Abel yang berlari masuk kedalam cafe itu.
___---___
"Kamu mencariku?" ujar seseorang dari belakang Abel yang tentu saja menganggetkan Abel .
Abel terkejut dan langsung memutar tubuhnya untuk melihat orang yang mengejutkannya itu. "Ahaha iya," jawab Abel ragu. Sedikit tercengang saat orang didepannya menggunakan panggilan Aku Kamu, bahkan terasa seperti akrab.
"Yaudah sini, aku udah pilihin tempat." ujar orang itu sembari menarik tangan Abel. Abel hanya pasrah dan melangkah mengikuti irama kaki orang yang menariknya.
"Kamu mau minum apa? Oh makan juga boleh, ah iya aku ada hutang Lasagna ya?" ujar orang didepan Abel yang sekarang mereka sudah duduk berhadapan.
"Kamu?" tanya Abel entah apa makna pertanyaan itu.
Pertanyaan mendadak yang Abel ucapkan, mampu membuat orang didepannya itu yang tadi ingin memesan makanan langsung teralih dan menoleh pada Abel.
"Iya aku Clara," ujar orang didepannya yang tak lain adalah Clara. Gadis itu tersenyum canggung dan mengurungkan niatnya tadi yang ingin memesankan makanan untuk Abel.
__ADS_1
"Gu-gue nggak paham, jujur gue masih bingung sama ini." kata Abel seraya menatap Clara yang tampak berbeda dengan senyumnya yang baru pertamakali Abel lihat.
Clara yang paham maksud Abel, langsung meraih tangan Abel lalu menggenggamnya. Seketika mata Clara berkaca-kaca,membuat Abel merasa aneh dan bingung dalam waktu bersamaan.
"A-aku tau, kamu pasti bakal kaget. Ta-tapi aku cuma pengen kita baikan. Kamu udah nyelametin aku dari geng gak jelas itu, dan kamu juga udah mau ulurin tangan buat aku yang pernah bikin kamu malu." lirih Clara panjang lebar, membuat Abel sedikit tersentuh tapi tetap memasang wajah bingungnya.
"Aku cuma mau minta maaf, kalau kamu nggak mau maafin gapapa kok. Aku juga mau ganti Lasagna mu yang pernah aku jatuhin." lanjut Clara membuat Abel tersenyum .
"Hihi, udah deh nggak usah formal gitu. Kakak ingetkan kalo gue pernah bilang jangan pernah jatuh didepan adek kelas?" jawab Abel dengan diselingi tawa karena gemas dengan nada bicara dan panggilan Clara untuknya.
"Hah? L-lo maafin gue?" tanya Clara tak percaya saat melihat anggukan kepala Abel.
"Kakak, gue tau kenapa kakak lakuin itu ke gue. Itu juga bukan kesalahan kakak kan?" ujar Abel membuat Clara tersenyum malu saat mengingat kejadian tempo lalu yang membuat semua hancur dari keluarga dan pertemanannya.
"Lo nggak ada pikiran kalo gue manfaatin lo sekarang?" tanya Clara yang tiba-tiba berpikiran kalau Abel akan mempermainkannya lagi.
"Dengan mata berkaca-kaca dan nada bicara seperti itu tadi?" jawab Abel dengan tawa renyahnya. Mendengar pertanyaan Clara, membuat Abel berpikir jika Clara dihadapannya ini bukanlah Clara yang dia tau selama ini.
Clara ikut tertawa melihat Abel menyambut permintaan maafnya dengan mudah. Sempat Clara berpikir kalau Abel tidak akan percaya padanya, tapi semua keraguan itu sekarang menguap saat tawa Abel yang tidak pernah didengarnya itu kini bersuara bersahutan dengan suara tawanya.
.
.
.
.
.
Hay semua ❤️
Aku comeback 😅
Jangan lupa like, komen dan vote ya 😙
__ADS_1
Dukung juga boleh 😁
See you next part:)