
Mansion dengan nuansa putih gading berlantaikan hitam itu, terlihat sedikit ramai dibandingkan biasanya. Para pelayan perempuan mondar mandir membawa paperbag dan kotak-kotak yang beraneka ukurannya itu.
Bahkan kini waktu harus digunakan semaksimal mungkin khususnya Abel. Abel menelan ludahnya saat melihat paperbag berbagai merek, dan juga kotak high heels yang beraneka merek juga . Para pelayan yang sudah meletakan paperbag dan kota high heels ,langsung mengeluarkan semua barang dan ditata serapih mungkin ditempat tidur Abel.
"Nona, ini gaun yang disipakan Tuan untuk anda. Tuan berkata pada kita kalau nona harus tampil sempurna untuk malam ini," ujar Emely yang paling dekat dengan Abel dibanding yang lainnya.
Abel terkejut dengan apa yang dikatakan Emely padanya ini. Gaun dan High heels sebanyak ini dan Abel harus memilihnya?? Tidak tidak, Abel ingin pingsan saat ini juga. Melihat brand yabg tertera saja membuat kaki Abel lemas, apalagi jika dia memakainya nanti.
"Aku harus pilih?" tanya Abel menatap semua gaun didepannya. Tentu saja Emely mengangguk semangat,karna memang itu perintah dari Tuannya.
Melangkah perlahan dengan mata tertutup ,Abel memilih asal gaun yang ada dan pilihannya jatuh pada........
Gaun simple dengan warna hitam dan tanpa lengan itu. Walaupun begitu, brand yang tertera pasti akan membuat semua orang lemas jika melihatnya. Bahkan gaun simple itu tidak sesuai dengan harga yang pastinya tinggi itu.
"Pilihan yang bagus,Nona." puji Emely sambil tersenyum melihat pilihan Abel yang terkesan sesuai untuk remaja seperti Abel. Bahkan warna hitam yang netral itu pasti cocok dengan kulit putih Abel.
Abel membuka matanya dan melihat pilihannya, dan dirinya ikut tersenyum saat jari telunjuknya memilih sesuai harapannya. Gaun simple dan terkesan tidak menuakan dirinya. Abel kembali menutup matanya dan berjalan mendekati high heels. Dan....
Kembali dengan kata simple, kini Abel juga memilih high heels simple yang tidak akan membuatnya nenderita saat memakinya. Walaupun Abel adalah remaja, tapi menggunakan high heels yang tipis dan tinggi sangat menyakiti kakinya setelah memakainya.
Kini Abel kembali tersenyum karena berhasil memilih high heels yang tepat yang juga senada warnanya dengan gaun pilihannya tadi.
"Baiklah ,Nona. Sekarang anda harus bersiap merias diri anda. Saya dengan yang lain akan membantu anda." ujar Emely menuntun Abel ke meja rias yang ada.
Dengan rambut Abel yang sudah curly gantung, membuatnya tidak ribet lagi. Hanya butuh dirapihkan sedikit untuk memberi kesan yang indah. Bahkan Abel yang terkesan cantik, tidak membutuhkan foundation lagi. Hanya BB cream dan sedikit lipgloss salem , juga eyeshadow coklat yang menghiasi wajah Abel.
Walau natural, namun sangat cocok saat Abel yang menggunakannya. Dengan tas kecil dengan warna yang senada gaun dan high heels nya, Abel berjalan menuju mobil yang khusus disiapkan untuknya itu.
__--__
Pria dengan jas itu kini sudah duduk rapi ditempat yang sudah ia siapkan . Duduk sambil menunggu seseorang yang kini spesial baginya itu.
Atap kantor dengan pemandangan kota dari atas gedung itu, membuat suasana mendukung dengan langit tanpa awan yang sempurna menampilkan bulan purnama yang indah.
Membuka ponselnya, Acarl tersenyum dengan tema ponsel khusus untuknya itu. Tema dengan lengkap foto Abel yang sedang memasak itu, sungguh sempurna menghiasi ponselnya. Melihat pesan yang diterimanya, Acarl tersenyum saat mengetahui gadisnya akan sampai dalam beberapa menit lagi.
Candle light dinner yang mempesona ,simple dan tidak terlalu lebay itu sangat sempurna menggambarkan Abel yang selalu tampil simple setiap harinya.
"Gadis, kenapa kamu begitu unik sampai membuatku harus memilikimu?" gumam Acarl seraya melihat foto Abel diponselnya.
Walaupun tadi Acarl sedikit kesal saat mengetahui apa yang terjadi di sekolah Abel, tapi dia hapuskan kekesalannya saat mengingat dinnernya hari ini. Hanya Abel dan Acarl saja.
__ADS_1
___---___
"Nona, sebentar lagi akan sampai." ujar Pak Terry memberitahu pada Abel yang duduk dibelakang. Dirinya terlihat seperti nona yang sesungguhnya sekarang, bahkan semua pelayan pria di mansion sampai tak berkedip melihat Abel saat melewatinya tadi.
"Iya Pak, " jawab Abel sambil mempersiapkan dirinya .
Mobil berbelok dan memasuki kawasan kantor, namun berbeda dari biasanya kini mobil masuk ke dalam parkiran khusus yang baru dia ketahui tempatnya ini. Melihat kebingungan Abel ,Pak Terry dengan paham langsung menjelaskan pada Abel.
"Ini adalah parkiran khusus untuk Tuan, Nona." jawab pak Terry lalu memberhentikan mobilnya saat sudah berada didepan lift khusus yang dirancang hanya untuk Acarl.
Pak Terry membukakan pintu untuk Abel. Dan menuntun Abel menuju lift yang ada. Namun pintu lift tidak segera terbuka seperti lift pada umumnya saat didekati manusia.
"Nona ,saya ada tugas. Saya harus kembali segera, dan anda pikirkan sendiri ya untuk masuk kedalam," ujar Pak Terry sedikit berteriak karena berlari dan langsung mengemudikan mobilnya meninggalkan Abel sendiri .
"Tapi pak..." ucap Abel yang telat karena mobil sudah melaju menghilang dari pandangannya.
"Huaaaaa, bagaimana ini. Mana gelap dan sepi lagi!" gerutu Abel dalam hatinya.
Disisi lain, Acarl tertawa melihat Abel yang panik karena ditinggal pak Terry seorang diri. Ini memang salah satu rencana Acarl yang ingin melihat wajah panik Abel dari kamera CCTV yang sudah disiapkannya. Tentu saja Abel tidak sendiri disana ,ada penjaga tersembunyi yang ditugaskan mendampingi Abel dan menjaga keselamatan Abel dari jauh.
Abel yang panik, melihat ke lift yang ada didepannya. Sebuah tulisan menarik perhatiannya. Pelan-pelan Abel membaca dengan dibantu senter dari ponselnya.
Lift khusus dengan face lock untuk membukanya.
Abel sedikit memikirkan maksudnya dan akhirnya paham dengan maksud papan pemberitahuan itu. Dengan membuka ponselnya, Abel menscroll galeri dan menemukan foto keramat yang dia ambil secara diam-diam itu.
Aduh malunya aku, Abel.
Mendekatkan foto itu di sensor lift, akhirnya pintu lift terbuka dan Abel bisa bernapas lega karenanya. Berbeda dengan orang yang memantau Abel dari jauh, Acarl tersenyum bahagia saat mengetahui fakta bahwa Abel menyimpan fotonya digaleri ponsel gadis itu.
"Kamu sudah ketahuan gadis kecil," gumam Acarl masih dengan senyumnya yang lebar .
Saat pintu lift terbuka, menampilkan ruangan Acarl. Namun kini fokus Abel ada pada pelayan yang sudah berbaris didepan lift. Salah satu pelayan menundukkan kepalanya pada Abel yang mengisyaratkan dengan tangannya agar Abel kembali masuk kedalam lift . Abel yang paham langsung mengikuti saja.
Lift berhenti di tempat yang sama dengan Acarl. Acarl yang sudah bersiap dari tadi, kini langsung menemui Abel saat pintu lift itu terbuka. Dengan tangannya, Acarl menautkan jemarinya pada jari kecil Abel dan menuntunnya ketempat seharusnya.
Dengan mata berbinarnya ,Abel melihat indahnya atap yang disulap Acarl menjadi tempat yang menyenangkan bagi Abel. candle light dinner yang tidak seperti biasanya itu, membuat Abel tersenyum karena seperti dirinya istimewa hari ini.
"Tuan," ujar Abel yang terpotong karena jari telunjuk Acarl yang langsung berada pada bibir Abel.
"Kamu suka masakan Italia kan? Kamu bisa mencoba semua yang ada sampai kamu puas ," ujar Acarl menjelaskan sambil menunjuk beberapa stand makanan layaknya street food yang berjejer rapih .
Abel tersenyum karenanya. Dengan segera, Abel berjalan menuju stand spaghetti yang terlihat menggiurkan saat melihatnya.
"Ciao, c'è qualcosa in cui posso aiutarti, signorina? (Halo, adakah yang bisa saya bantu,Nona?) " ujar orang yang seperti penjual spaghetti itu dengan bahasa Italia dengan aksen yang sesuai. Abel tersenyum lalu menoleh pada Acarl yang juga tersenyum melihat Abel. Abel kembali melihat si penjual setelah senyum Acarl seperti mengujinya itu.
__ADS_1
"Voglio gli spaghetti al ragù alla bolognese, (Aku mau spaghetti dengan saus Bolognese ,)" ujar Abel memesan dengan senang hati karena dinner ala tantangan yang Acarl buat sangat menarik perhatiannya.
penjual itu mengangguk dan mempersilakan Abel untuk menunggu. Tapi Abel yang sudah terlanjur tertantang , bukannya memilih duduk malah dia memilih untuk memesan makanan lainnya terutama Lasagna kesukaannya.
Acarl yang melihat Abel begitu semangat, hanya bisa memandangi sifat anak kecil Abel yang begitu lucu baginya itu. Bahkan Acarl tak hentinya tersenyum karena Abel yang berpindah tempat untuk memesan makanan yang dia mau. Bahkan semua stand didatanginya.
"Tuan, terimakasih..." ujar Abel dari kejauhan sambil berlari dan memeluk Acarl secara tiba-tiba, membuat si empunya tubuh kekar itu melongo dan dengan pelan-pelan membalas pelukan kecil dari gadis kecilnya itu.
Berhasil menetralkan dirinya, Acarl mendorong pelan tubuh Abel agar dirinya bisa melihat wajah bahagia Abel. "Terimakasih dari bibirmu tidak berarti untukku, " ujar Acarl menggoda Abel yang tadinya tersenyum ,kini dibuat bingung karena ucapan Acarl.
"Lalu dengan apa saya harus membay-....." tanya Abel yang belum selesai, namun bibir hangat Acarl sudah menyerbunya dulu.
Bagaikan candu, tanpa disadari Abel membalas ciuman yang diberikan Acarl. Saat pasokan udaranya hampir habis, Abel melepaskan perlahan karena dia bukan ahlinya.
"Bernafaslah agar bisa lama," bisik Acarl yang membuat Abel merona saat itu juga.
Melihat Abel yang diam, Acarl menuntun Abel menuju kursi yang sudah disiapkan untuk berdua itu. Tak lama pelayan datang dan menempatkan pesanan Abel dan Acarl. Namun lebih dominan pada pesanan Abel yang banyak itu.
"Makanlah, jangan sampai kamu kelaparan." ujar Acarl menggoda Abel.
"Tuan juga, makanlah agar saya bisa memanggil anda dengan Ac-carl." jawab Abel yang membuat Acarl yang mendengar menatap tak percaya dengan apa yang terjadi. Gadis kecil yang selalu tiba-tiba itu, selalu bisa membuat Acarl terdiam karenanya.
Dibawah sinar bulan yang terang, dua manusia itu menikmati malam mereka dengan kecanggungan yang perlahan pudar itu.
.
.
.
.
.
Hay semua ❤️
Aku comeback 😅
Jangan lupa like, komen dan vote ya 😙
Dukung juga boleh 😁
Maaf karena aku baru up, untuk sekedar info saja kalau kakekku meninggal yang membuat aku tidak bisa up😭
Makasih sudah menunggu😊
__ADS_1
See you next part:)