
Didalam ruangan dengan suasana serius, membuat Abel merasa bosan. Saat ini Abel berada dikantor dan lebih tepatnya didalam ruangan kantor Acarl. Masih dalam perasaan canggung, Abel hanya diam saja . Sesekali melirik Acarl yang berkutik dengan laptop dan kertas putih berabjad bahkan berangaka itu.
Abel yang duduk di sofa yang ada dalam ruangan merasa bosa karena tidak ada Keira bersamanya. Fakta terbaru, jika Keira ternyata bersekolah di salah satu sekolahan ternama di kota ini. Gadis kecil yang masih bersekolah di taman kanak-kanak itu, tadi diantarkan oleh Cheiz. Sedangkan Abel dan Acarl berangkat kekantor.
Ingin sekali Abel mengecek atau memainkan ponselnya, tapi ucapan Acarl tempo lalu masih melekat dengan sempurna dibenaknya. Melirik Acarl membuatnya malu jika teringat kejadian tadi pagi. Bahkan sampai sarapan tadi, Abel hanya diam saja begitu juga dengan Acarl.
Abel terasa sunyi saat tak ada gadis kecil itu disampingnya. Jika saja sekolah Keira tidak ada acara, pasti saat ini Keira ada bersamanya. Secara hari ini adalah hari Sabtu, jadi seharusnya hari ini sekolah libur.
Memikirkan masalah sekolah, Abel sangat rindu dengan kegiatan tiap pagi sampai siangnya itu. Walaupun disana dia selalu tersingkirkan, tapi tetap saja rasa rindu terselip. Jika harus memilih antara sekolah atau bersama Acarl, pasti Abel akan memilih sekolah.
"Ehem!!" dehem Acarl yang menyadarkan Abel. Abel langsung menoleh pada Acarl, juga Abel langsung bangkit berdiri dari sofanya .
"Ya Tuan," jawab Abel. Abel yang tadinya mengira Acarl memanggilnya, menjadi malu karena faktanya Acarl hanya berdehem ,bukan memanggilnya.
Mendapat tatapan dari Acarl, membuat Abel semakin malu saja. Abel semakin menundukkan kepalanya sembari meringis dengan wajah memerahnya.
"Keira! kakak membutuhkanmu saat ini! kenapa harus ada cara sekolah sih kamu dihari Sabtu gini!" batin Abel yang kesal dengan dirinya sendiri.
Acarl diam-diam tersenyum melihat sikap Abel yang menurutnya menarik. Banyak gadis diluar sana yang agresif saat melihat Acarl, namun Abel malah seperti menjauh. Itu yang menurut Acarl sangat unik dan semakin membuat Acarl penasaran dengan seperti apa Abel itu.
Tok tok tok....
Suara ketukan pintu menginterupsi acara senyum Acarl, begitu juga menginterupsi acara malu-maluan Abel. Abel kembali menegakkan kepalanya dan menoleh pada Acarl seolah bertanya apakah dia harus membukanya. Acarl yang mengerti, menganggukkan kepalanya dan langsung direspon Abel dengan berdiri dan menghampiri pintu.
Abel membuka pintu pelan-pelan. Terlihat seorang pria yang familiar bagi Abel, berdiri didepan pintu dengan gagahnya. Tanpa diduga tatapan mata bertemu saat itu juga. Mata hazel Abel dengan mata biru pria itu, seperti saling menyapa.
"E-eron? " ujar Abel menyapa Eron yang tersenyum padanya.
Bukannya menjawab sapaan Abel dengan kata-kata, Eron malah mengulurkan tangannya seolah ingin berjabat tangan dengan Abel yang masih menatapnya. Tentu saja Abel sedikit terkejut dengan respon Eron yang diluar dugaannya. Namun tak berselang lama, Abel menerima jabatan tangan itu .
"Kamu semakin cantik saja," ujar Eron jujur. Saat ini mata Eron tak lepas dari wajah Abel yang memerah itu. Abel yang mendapat pujian tiba-tiba itu, seketika langsung menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan semu merah itu.
__ADS_1
Masih berada diambang pintu, membuat Abel dan Eron tak menyadari adanya tubrukan hawa panas dan dingin didalam ruangan itu.
"Apa Acarl ada?" tanya Eron setelah mengakhiri aksi menatapnya. Sontak itu membuat Abel mengangkat kepalanya dan mengangguk mengiyakan.
"Saya akan ambilkan minuman," ujar Abel lalu berlalu pergi tanpa permisi.
Menggelengkan kepalanya pelan, Eron takjub dengan gadis penuh misteri seperti Abel. Eron masuk kedalam ruang kerja Acarl dan langsung mendudukan dirinya di kursi seberang Acarl. Si empunya ruangan malah acuh sambil fokus pada laptop didepannya.
"Apa laptopmu lebih penting daripada aku?" sindir Eron yang membuat Acarl jengah dan akhirnya memutuskan untuk menutup laptop dan beralih pada Eron.
"Ada apa kau kemari?" tanya Acarl dingin seperti biasa. Eron yang sudah terbiasa dengan perilaku Acarl, membuatnya enjoy saja saat bersama Acarl. Malah sekarang dia menaikan kakinya di meja Acarl.
"Tidak ada. Aku hanya mau melihat perkembangan untuk drama besok," ujar Eron dengan senyum devil nya.
Ucapan Eron mampu membuat rasa cemburu yang tadi Acarl rasakan menguap begitu saja. Bahkan sekarang Acarl memajukan tubuhnya karena merasa tertarik dengan topik pembahasan kali ini.
"Apa kau mau melihatnya besok?" tanya Acarl dengan senyum yang entah apa artinya itu.
Acarl menaikan bahunya dan tersenyum penuh makna, "Lalu? memang itu tujuanku kan?" ujar Acarl .
Sebenarnya Eron sendiri tidak tau jelas apa masalah antara Acarl dengan ayahnya, tapi apapun itu pasti sangat membuat Acarl membenci ayahnya. Pernah sekali Eron mendengar pembicaraan Acarl dan Cheiz yang membahas tuan Xelone , tapi hanya sedikit dibagian tuan Xelone pernah menyakiti Acarl dan ibunya.
Tok tok tok...
"Tuan, saya masuk." teriak dari luar yang lalu dibarengi dengan pintu yang terbuka.
Tampak Abel dengan nampan berisi dua cangkir minuman. Abel berjalan mendekat pada Acarl dan Eron, lalu meletakan masing-masing cangkir di hadapan Acarl dan Eron. Melihat suasana serius, membuat Abel ingin segera meninggalkan tempat itu. Tapi sebuah panggilan menginterupsi kegiatannya.
"Ikut aku berbelanja nanti!" perintah Acarl yang sudah pasti itu ditujukan untuk Abel. Abel memutar tubuhnya lalu mengangguk mengiyakan perintah Acarl.
"Baik,Tuan. Tapi saya menunggu Keira pulang dulu." jawab Abel yang langsung diangguki Acarl.
__ADS_1
Eron yang mendengar dan melihat interaksi Acarl dan Abel, menjadi bingung dengan adanya kata Keira yang tersemat. Setelah melihat Abel keluar dari ruangan, barulah Eron menatap Acarl tajam.
"Siapa Keira itu?" tanya Eron langsung.
Acarl menatap Eron dan seketika bingung dengan apa yang harus dia katakan. Apa mungkin kalau Acarl menjawab anak dari seorang jal*ng yang ikut pulang dengannya? Atau dia harus menjawab kalau Keira anak temuannya. Saat masih berpikir, tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan menampilkan Cheiz dengan seorang gadis kecil digandengnya.
"Halo kakak bo-s." sapa gadis kecil yang tak lain adalah Keira. Keira yang terkejut ,begitu juga dengan Eron.
"Keira Ariens," ujar Eron yang membuat Keira menundukkan kepalanya.
Acarl yang mendengar Eron menyebutkan nama Keira dengan nama belakangnya, dibuat bingung dan heran dengan nama "Ariens" yang di sematkan Eron. Ariens?
Tak lama datang Abel dari belakang Keira dan langsung memeluk Keira. Tapi senyum saat melihat Keira pulang, luntur karena melihat suasana mencekam dari dalam ruangan dan melihat Keira yang menunduk dalam seakan takut dengan apa yang ada didepannya.
.
.
.
.
.
Hay semua ❤️
Maaf aku telat up 😭
Jangan lupa like, komen dan vote ya 😙
Dukung juga boleh 😁
__ADS_1
See you next part:)