
Hari keempat di resort, rasanya Abel sudah terbiasa dengan kasur milik resort. Ya walaupun dia tukang tidur, tapi jika berganti kasur dia juga akan merasa tidak enak setelah bangun. Tapi sekarang dia sudah terbiasa dengan kasur resort ini, mungkin karena nyamannya suasana hatinya saat disini juga berpengaruh.
Abel bangun lebih awal dari biasanya. Bahkan sangat awal dari jadwal Acarl bangun. Yap, sekarang Abel sudah tau jadwal Acarl bangun dan apa yang harus dua persiapkan untuk Acarl setelahnya. Layaknya asisten pribadi pada umumnya, Abel akan menyambut pagi Acarl terlebih dahulu , lalu saat sudah memastikan Acarl masuk kedalam kamar mandi Abel segera menuju ruang makan untuk mengambil sarapan untuk Acarl. Acarl hanya makan di ruang makan saat makan malam saja, selebihnya dia akan makan di kamarnya.
"Pukul tiga pagi," gumam Abel saat melihat jam di nakasnya. Bukan karena susah tidur, melainkan karena semilir angin yang membuatnya terbangun. Abel merutuki kebodohannya yang lupa menutup jendela sebelum tidur, tapi memang karena malam tadi suasana sangat panas juga sih.
Abel berjalan dengan selimut melilit ditubuhnya untuk memastikan tubuhnya masih terasa hangat. Berjalan menuju jendela, namun mata Abel tak sengaja menangkap sosok yang sedang duduk di tepi pantai . Setelah Abel lihat lebih detail, sudah dipastikan jika yang sedang duduk itu adalah Cheiz. Abelpun mengurungkan niatnya untuk menutup jendela, dan berganti berjalan menghampiri Cheiz yang sedang sendiri.
Suasana pantai yang masih gelap, membuat Abel hanya melihat samar-samar tubuh Cheiz. Walau samar, tapi Abel sangat hafal betul dengan tubuh kekar Cheiz , mungkin karena sering betemu.
"Tuan Cheiz, apa itu anda?" tanya Abel memastikan setelah langkahnya lumayan dekat dengan orang yang sedang duduk itu. Dan benar saja, setelah seseorang itu menoleh ternyata benar Cheiz.
"Nona, apa yang anda lakukan pagi buta seperti ini?" tanya Cheiz yang melihat kehadiran Abel dari belakangnya. Abel menjawab dengan gelengan kepala, tanda dia tidak tau apa yang dia lakukan disini karena niatnya hanya ingin menghampiri Cheiz.
"Aku hanya melihat seseorang yang sedang duduk ditepi pantai sendirian, lalu aku seperti mengenalinya jadi aku kesini." jawab Abel seraya mendudukan dirinya disamping Cheiz.
Dengan selimut yang masih melilit di tubuh Abel, hawa dingin pagi hari tidak terasa menusuk di kulit Abel. Cheiz melirik Abel yang tiba-tiba ikut duduk disebelahnya, namun dia biarkan saja bahkan tidak menanggapi jawaban Abel tadi.
Hening menyeruak diantara dua orang ini. Dengan pikiran masing-masing, membuat mereka enggan untuk memulai pembicaraan lebih dulu. Abel dengan bayang-bayang tugas sekolah yang pasti menumpuk, membuatnya terhanyut dalam pikirannya. Sedangkan Cheiz memikirkan Tuannya yang sudah Lima tahun bersamanya.
"Nona, apa anda sangat tertekan ikut dengan Tuan Acarl?" tanya Cheiz tiba-tiba memecah keheningan. Abel seketika menoleh pada Cheiz dan memamerkan rentetan gigi putihnya.
"Bagaimana aku bisa tertekan,Tuan. Memang sebelumnya saya sempat berpikir jika saya akan mati disini, tapi nyatanya saya malah lebih menikmati kehidupan sekarang. Bukan apa, tapi hidup saya sekarang seolah membuat saya mengerti arti hidup yang sesungguhnya." jawab Abel panjang lebar.
Mendengar jawaban Abel, Cheiz mengalihkan pandangannya yang semula menatap pantai menjadi menatap Abel. Senyum tipis terbit begitu saja di bibir Cheiz. "Kurasa Tuan benar, Nona Abel sangat menderita sebelumnya dirumah." batin Cheiz.
"Nona, apakah saya bisa mengatakan sesuatu pada anda?" tanya Cheiz setelah menimbang-nimbang dari tadi. Dengan rasa penasaran, membuat Abel mengangguk pasti untuk menjawab Cheiz.
__ADS_1
Cheiz yang melihat anggukan dari Abel, langsung menghela nafas sebelum mengucapkan kalimat yang menurutnya sensitif ini. " Nona, sebenarnya saya merasa sangat kagum saat ini. Sebelum ini , saya yang sudah bersama tuan Acarl selama lima tahun tapi baru kali ini saya melihat tuan tersenyum. " ujar Cheiz.
Abel meresapi setiap kata yang diucapkan Cheiz, tapi dia tidak paham akan maksud dari ucapan Cheiz itu. Dengan ketidaktahuannya, akhirnya Abel mengangguk ragu. Cheiz yang melihat Abel malah mengangguk menjadi tersenyum miris. "Bagaimana mungkin ada gadis SMA tapi masih polos sepertinya," batin Cheiz.
"Itu bagus,Tuan. Saya awalnya sangat takut saat memutuskan untuk berakhir menjadi asisten Tuan Acarl, tapi sekarang saya malah berterimakasih padanya . Hidupku memang hancur, tapi saat disini aku mulai merasakan hidup yang sebenarnya." ujar Abel menanggapi Cheiz.
"Apakah karena ibu anda?" tanya Cheiz.
"Semuanya." jawab Abel yang membuat Cheiz mengerutkan keningnya. Menurut informasi yang didapat Cheiz waktu itu, hanya ada masalah pada nyonya Guston. Tapi sekarang Abel malah menambahkan semuanya yang membuat hidupnya hancur?
"Saya tau anda pasti terkejut. Tapi hidup saya rumit sekali, bahkan untuk menceritakannya saja butuh waktu sebulan baru selesai." ujar Abel diselingi tawa diakhirnya.
Tawa palsu yang sangat ketara itu mengalihkan topik yang ingin dibahas Cheiz menjadi terurungkan. Awalnya dia ingin membahas tuannya yang menjadi lebih bahagia saat bersama Abel, tapi entah kenapa berlangsung menjadi membahas kehidupan Abel. Seperti mendapat durian runtuh, Cheiz memanfaatkan percakapannya kali ini untuk mengungkap seperti apa Abel sebenarnya.
"Saat saya kecil, saya terus dibandingkan dengan kakak saya. Memang benar jika anda berpikir itu ibu saya, tapi juga ditambah dengan nenek saya. Apa gunanya saya yang hanya anak perempuan di keluarga Guston? bahkan kedudukanku bisa dianggap ketidaksengajaan. Ibu tidak sengaja melahirkan saya, saya hidup hanya singgah sementara di keluarga Guston." ujar Abel panjang lebar. Tak terasa buliran bening jatuh begitu saja, bahkan Cheiz melihat dengan jelas aliran bening itu meluncur di pipi seseorang disampingnya.
Ingin rasanya Cheiz menenangkan , tapi mau bagaimana lagi kalau Cheiz tidak berpengalaman dalam hal ini. Cheiz akhirnya memilih untuk diam saja membiarkan Abel yang sekarang mengatur nafasnya, mencoba menahan aliran bening itu jatuh lagi.
Cheiz menatap miris pada Abel, sebagai orang yang mengikuti keluarga kaya, dia tau apa yang dirasakan Abel. Anak perempuan selalu tersingkirkan di dalam keluarga kaya.
"Nona, bukankah anda sebaiknya bersiap-siap untuk ke kamar Tuan Acarl?" tanya Cheiz mencoba mengalihkannya percakapan.
"Aaaaa anda benar, sebaiknya saya kembali. Kalau tidak aku akan kehilangan ponselku," ujar Abel mengiyakan ucapan Cheiz. Cheiz ikut bangkit saat melihat Abel bangkit. Dia sendiri juga asisten Acarl, jadi dia juga harus bersiap-siap.
Dalam perjalanan menuju kamar, Cheiz merutuki kebodohannya yang membuat Abel menangis dipagi hari ini. Jika bukan karena egonya yang ingin menggali informasi lebih dalam, pasti tidak akan seperti ini. Tapi sekarang yang paling penting adalah melaporkan apa yang dikatakan Abel tadi pada Acarl.
"Aku tidak tau apa yang akan terjadi nanti pada keluarga Guston," batin Cheiz menduga-duga.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
Hai semua ❤️
Aku comeback 😭
Maaf kalau bikin kalian menunggu😭
Syedih akutu sebenarnya kalau bikin kalian nunggu😭
Maafin ya🥺
Jangan lupa like, komen dan vote ya 😙
Dukung juga boleh😁
See you next part:)
__ADS_1