
Dua manusia yang saling menatap dengan makna yang berbeda itu, masih berada diposisinya . Sendok yang tadi ada digenggaman Acarl, sudah terlepas dan jatuh di lantai dengan mengenaskan.
"Kamu bilang kita harus seperti dulu?" tanya Acarl dengan senyum penuh artinya.
Noara mengangguk bahagia dengan binar yang masih belum pudar sejak tadi. "Iya, aku mau kita seperti dulu. Sebelum aku dibawa ke negara itu dan berpisah denganmu." jawab Noara penuh keyakinan.
"Heh, seperti dulu saat kau mencoba melukai orang yang kusayang?" tanya Acarl dengan mendengus penuh sindirian, membuat senyum di wajah Noara luntur.
"Aku sudah memaafkanmu saat melihat kau memasang wajah bodohmu saat itu, dan sekarang kau meminta kita kembali seperti dulu?" lanjut Acarl menggeleng kecil.
Pukulan langsung terasa didada Noara, bukan karena perkataan Acarl padanya . Acari tidak salah, Acarl benar kalau Acarl marah seperti itu padanya. Tapi..
"Carl, kamu tau kan kalau waktu itu aku hanya terbawa emosi?" lirih Noara yang tak menyangka kalau Acarl masih memendam rasa benci padanya.
Acarl tersenyum menatap Noara, dengan kedua tangan ia lipat didepan dada. Acarl sebenarnya juga tidak menyalahkan semua pada Noara, karena sikap Noara yang melunjak adalah pengaruh dari lingkungan keluarga yang Noara dapat. Dengan begitu Acarl tidak menyalahkan Noara sepenuhnya. Tapi tetap saja rasa kecewa masih ada.
Flashback on
Kenal sejak kecil, membuat Noara maupun Acarl menjadi semakin dekat. Sebagai seorang perempuan, tentu saja Noara yang tidak pernah mendapat kasih sayang orang tuannya tersentuh saat ada yang peduli padanya. Acarl, laki-laki pertama yang memperhatikannya walau dia hanya menganggapnya sebagai adik.
Suatu hari setelah wisuda, Noara datang kerumah Acarl dengan hati yang gembira dan senyum yang selalu terpancar saat dia membayangkan Acarl. Rumah Acarl yang termasuk sering dikunjungi olehnya itu, membuat Noara juga dikenal oleh pelayan-pelayan yang ada.
"Carl!!!" panggil Noara saat dirinya melihat Acarl yang sedang duduk di ruang tamu dengan masih memakai jas karena baru saja pulang dari wisudanya.
Mendengar namanya dipanggil, Acarl menolehkan kepalanya dan mendapati Noara yang melambaikan tangannya padanya. "Hmmm," jawab Acarl singkat lalu kembali memfokuskan dirinya pada laptop dengan tugas-tugas kantor yang sudah ayahnya berikan itu.
Noara mendekati Acarl dan duduk disebelah laki-laki itu. "Carl, apa kamu mau minum? pasti enak kalau bekerja sambil minum minuman yang segar." tawar Noara sangat antusias.
"Tidak," jawab Acarl singkat. Sebenarnya sikap Acarl pada Noara selalu begini, tapi entah pandangan dari mana gadis itu mendeskripsikan kalau Acarl peduli padanya.
"Baiklah. Oh iya, aku dengar kamu mau ada kerja di kantor ya besok?" tanya Noara lagi dan hanya dijawab deheman oleh pria itu.
"Okey, besok aku akan bawakan makanan kesukaanmu untuk makan siang. Lalu setelah itu, aku berharap bisa menjadi asistenmu. Itu cita-citaku, dan selalu aku tulis saat ada angket yang menanyakan cita-cita. Dan kalo kamu tau..."
__ADS_1
"Berisik!!" potong Acarl dengan cepat, membuat Noara langsung menghentikan ocehannya.
"Ma-maafin aku hiks aku cuma mau ada disampingmu," lirih Noara saat melihat tatapan Acarl yang menurutnya adalah tatapan risih saja.
Acarl menghela nafasnya dan membenarkan tatapannya menjadi biasa. "Kamu bisa lakukan yang terbaik, seperti mengurus perusahaan ayahmu atau apapun itu. Kita punya jalan masing-masing." ujar Acarl sembari meletakan laptopnya diatas meja.
Noara menggeleng saat mendengar penuturan Acarl, apa ini semacam penolakan sebelum pelamaran?
"Nggak! Aku cuma suka kalau ada didekatmu, dan kamu juga sama. Kamu selalu perhatian padaku, disaat yang lain menjauh dan kamu mendekat. " ujar Noara yang tidak terima dengan apa yang Acarl katakan. Menurutnya, jalan yang tepat adalah disaat mereka bersama.
"Apa kamu tau? Aku begitu karena aku juga pernah ada diposisimu, dan aku tidak bisa membiarkan kamu sepertiku dulu yang tidak ada perhatian untukku." jelas Acarl dengan halus. Kalau tidak halus, pasti Acarl langsung mengatakan kalau dia hanya kasihan.
"Tidak! kamu memang takdirku Carl, Kamu dan aku punya jalan yang sama." ujar Noara lagi , semakin melunjak seperti yang Acarl bayangkan.
"Jalanmu dan jalanku berbeda." putus Acarl sepenuhnya membuat aura kemarahan langsung tercipta disekitar gadis itu.
Kriettt....
Suara pintu dibuka, membuat Noara maupun Acarl langsung menolehkan kepalanya pada sumber suara. Dilihatnya wanita paruh baya yang tersenyum sembari membawa buah dipiring yang dibawanya.
Melihat sesuatu yang berkilau, membuat Noara langsung terpana dan segera mengambil itu. Gerakannya yang tiba-tiba, membuat wanita paruh baya itu mendengar suara yang dibuat gadis itu. Semakin dekat dan...
"Aaa..... uhuk uhuk," pekik ibu Acarl saat lehernya di diapit oleh tangan yang melingkarinya. Dan jangan lupa, benda tajam nan berkilau yang suda berada didepan lehernya.
"NOARA!!" teriak Acarl yang terkejut dengan aksi gadis itu.
"Carl, pertimbangkan lagi. Ibumu sangat menyayangimu bukan?" tanya Noara dengan lembut dan smirk yang terpampang jelas.
Acarl dengan napas naik turunnya ,diam-diam memencet remot kecil yang selalu ada disakunya. "Apa yang kau mau?!" tanya Acarl untuk sekedar mengalihkan fokus gadis itu, demi ibunya.
Noara tersenyum dan sedikit melonggarkan apitannya. "Tidak banyak, aku hanya ingin bersamamu. Ada didekatmu dan selalu menjadj nama yang kamu sebut. Itu saja," jawab Noara sambil tersenyum tulus.
"Dalam mimpimu!"
__ADS_1
Greb....
Tubuh Noara langsung terkunci saat dua pengawal Acarl sudah masuk dalam ruangan . Pisau yang tadinya ada digenggaman gadis itupun sudah terbuang entah kemana, sedangakan ibunya sudah terlepas sepenuhnya dari Noara.
" Kau berani menyakiti ibuku, maka aku tak akan segan untuk melakukan ini. Maafkan aku, memang benar kalau jalanmu dan aku berbeda. BAWA DIA PERGI!" ujar Acarl pada Noara sebelum menyuruh pengawalnya untuk membawa pergi Noara yang sekarang menangis dan memberontak.
Seminggu setelah kejadian itu, Acarl mendengar kalau Noara dipindahkan ke negara lain dengan alasan yang Acarl sendiri tidak tau. Atau lebih tepatnya Acarl tidak mau tau lagi apapun tentang Noara. Sejak saat itu juga, dia memerintahkan Cheiz yang sudah resmi menjadi asistennya untuk menutup semua berita tentang Noara.
Dalam waktu seminggu itu juga, sebenarnya Acarl juga merenungka dirinya. Bukan hanya Noara yang salah, tapi dirinya juga yang membuat Noara bersandar pundak padanya. Sikap Noara pasti juga dilantari perhatian yang tidak pernah dia dapatkan dari kedua orang tuanya. Dengan begitu, walau kebencian masih ada tapi Acarl sudah memaafkan Noara yang sebelumnya ingin membunuh ibunya itu.
flashback off
.
.
.
.
.
Hay semua ❤️
Aku comeback 😅
Maaf ya udah ngilang, abis lebaran bikin capek dan akhirnya aku sakit 😭
Sekali lagi maaf ya,
Untuk yang masih setia membaca, I lup yu😘
Jangan lupa like, komen dan vote ya 😙
__ADS_1
Dukung wajib 😁
See you next part:)