Kau Pelindungku Dan Aku Milikmu

Kau Pelindungku Dan Aku Milikmu
Chapter 88


__ADS_3

Gedung bertingkat sudah terlihat megah dari jarak 100 meter itu. Abel yang menepati janjinya untuk membawakan makan siang, akhirnya membuat dia keluar rumah setelah sekian lamanya.


"Nona, kita sudah sampai." ujar pak Terry yang menyadarkan Ab dari lamunannya.


"Aa iya pak, terimakasih." balas Abel yang kemudian keluar dari mobil sembari tangannya membawa tas bekal yang sudah ia siapkan secara pribadi.


Senyum ramah dari para karyawan, menyambut perjalanan Abel dari lobi sampai ke lift. Tapi ada juga yang mencibirnya karena statusnya yang masih anak sekolah, namun dekat dengan Acarl. Mereka hanya mengetahui kalau Abel hanyalah asisten pribadi Acarl, untuk hubungan antara Abel dan Acarl belum ada yang tau. Tentu saja itu permintaan Abel , bagaimanapun juga Acarl adalah presdir disini.


"Nona Abel, sudah lama tidak terlihat." sapa security yang berjaga di depan lift.


"Iya pak, Tuan Acarl meminta saya untuk bersekolah dahulu." jawab Abel dengan senyumannya.


"Tak disangka, memang benar presdir kita berubah karena nona." ujar pak security membuat pipi Abel memerah . Dengan menundukkan kepalanya, Abel langsung nyelonong masuk kedalam lift setelah pintu lift terbuka.


"Huh, membuatku sakit jantung aja!" batin Abel kesal.


Ting...


Pintu lift terbuka menandakan lantai tempat Acarl berada sudah didepan mata. Abel berjalan menuju ruangan Acarl , tak lupa dia menyapa para karyawan yang mondar-mandir kesana-kesini dengan berkas ditangan mereka.


"Selamat siang sekretaris Lea," sapa Abel pada sekretaris Lea yang tempatnya berada diseberang ruangan Acarl.


"Selamat siang nona Abel," balas sekretaris Lea dengan senyumnya sampai lesung pipi itu terlihat.


"Tuan Acarl sibuk?" tanya Abel pada sekretaris Lea.


"Saya panggilkan ya," ujar sekretaris Lea yang langsung diangguki Abel. Sembari menunggu sekretaris Lea yang sedang menghubungi Acarl, Abel melihat-lihat kantor yang sedikit berbeda sejak terakhir dia datang.


"Presdir tidak sibuk, presdir bilang nona bisa masuk." ujar sekretaris Lea menyadarkan Abel. Abel berterimakasih pada sekretaris Lea sebelum dirinya membuka pintu ruangan Acarl.


Pria dengan tubuh tegap, duduk sambil menghadap laptop didepannya. Dan jangan lupa tumpukan kertas yang juga ada dimejanya yang membuat Abel bergidik ngeri melihatnya.


"Makan dulu, nanti dilanjutin." ujar Abel membuat Acarl menoleh pada sumber suara.


Abel menata kotak bekal yang dia bawa di meja tamu yang ada diruangan itu. Dari nasi, lauk, buah dan minum sudah tersaji rapi di atas meja, membuat Acarl yang tadinya masih setia di kursi kebesarannya langsung mendekat menghampiri Abel.


"Hemmmmmmm aromanya," puji Acarl sembari mendudukan dirinya disamping Abel. Abel mendengus saat Acarl dengan lebaynya mengeluarkan ekspresi sok tertariknya itu.


"Ya nggak usah gitu juga lah," kesal Abel membuat Acarl terkikik geli sembari menoel-noel pipi chubby milik Abel.

__ADS_1


"Ya emang wangi sayang , jadi nggak sabar buat makannya." ujar Acarl setelah berhenti tertawa.


Abel segera beralih untuk mengambilkan sendok untuk Acarl. Belum juga diserahkan sendoknya, pria jangkung berjiwa baby itu langsung memajukan wajahnya dan membuka mulutnya sembari mengeluarkan suara yang mudah dipahami semua orang yang mendengarnya.


"Aakkk," kode Acarl membuat Abel memutar matanya malas. Dengan terpaksa, Abel menyuapi Acarl sampai nasi dan lauk yang dibawa Abel tandas hilang di perut pria hangat milik Abel. Ingat! MILIK ABEL.


"Serasa punya bayi deh," sindir Abel membuat Acarl mengeluarkan smirknya. Firasat mulai berdatangan pada Abel setelah melihat smirk pria nya yang penuh arti itu.


Acarl mendekatkan wajahnya ditelinga Abel, ia lakukan untuk membisikkan sesuatu yang sekarang mampu menbuat pipi chubby Abel terlihat merah menyala. "Gimana? setujukan?" tanya Acarl setelah acara membisiknya selesai.


"Tapi aku ingin perempuan!" ujar Acarl tak dapat ditolak.


"Apaan sih!?" kesal Abel yang merasa kesal pada Acarl yang aneh. Bukan apa, tapi bisikan Acarl juga menganggunya. Bisikan penuh makna, arti mendalam dan perasaan yang bersatu.


"Ayo bikin baby," bisik Acarl tadi yang membuat Abel sampai blushing lagi ketika megingatnya.


Acarl tersenyum penuh arti sembari tangannya maju mengelus perut rata yang tertutup sweater warna mocca yang Abel pakai. "Disini akan ada penerus keluarga A." ujar Acarl yang sudah membayangkan akan indahnya masa-masa kalau apa yang dia inginkan tercapai.


"Haha, kayaknya aku harus pergi." sela Abel dengan tawa renyah diawalnya. Berniat untuk berdiri, tapi tangannya langsung dicekal Acarl dan ditarik menuju dekapan pria bermata biru emerald itu.


"Acarl!!!" protes Abel karena sekarang posisinya Abel duduk dipangkuan Acarl. Walau sudah berstatus pacaran, tapi tetap saja Abel malu untuk melakukan ini dengan Acarl.


"Aku pengen kayak gini bentar," pinta Acarl yang benar saja langsung membuat Abel berhenti melakukan aksi berontaknya.


Acarl yang merasa Abel sudah pasrah, hanya bisa menahan senyumnya. Merasakan sejenak hangat tubuh Abel yang pasti akan dia rindukan nanti. "Besok ikut aja ya ke negara K," pinta Acarl membuat Abel menunduk untuk melihat Acarl.


"Aku kan sekolah," jawab Abel tak kalah sedihnya. Bagaimanapun dia juga akan merindukan sosok Acarl nanti. Sekali dulu dia ditinggal Acarl, dia merasakan hampa. Dan sekarang dia harus merasakan lagi?


"Kalau gitu beri aku bekal yang banyak ya!," perintah Acarl yang langsung diangguki Abel.


Masih dalam posisi Abel menghadap Acarl, dan Acarl yang memangku Abel membuat Acarl bisa menyembunyikan wajahnya di perut rata Abel. "Kamu makan yang banyak ya!" perintah Acarl membuat Abel mengerutkan dahinya.


"Nanti aku gendut lagi," balas Abel yang tak terima dengan perintah Acarl.


"Gapapa, yang penting baby ada tempat luas saat diperutmu."


Blush....


"Baby?" batin Abel.

__ADS_1


"Eh udah hampir selesai waktu istirahat mu, aku keluar aja ya?" pamit Abel yang sudah salah tingkah karena Acarl yang membahas bayi lagi.


"Gamau!" tolak Acarl yang langsung memeluk erat tubuh mungil itu.


"Tapi kan..."


"Nona, ini sudah selesai waktu istirahatnya."


"Lalu maksudmu aku harus pergi sekarang? Setelah aku susah payah sampai disini?"


"Maaf nona, jika anda begini terus terpaksa saya harus memanggil keamanan."


"Apa yang terjadi?" gumam Abel dan Acarl bersamaan.


Saling menatap satu sama lain, membuat Abel dan juga Acarl langsung bergerak untuk mengetahui keadaan luar. Setelah membuka pintunya, Acarl merutuki dirinya sendiri yang sekarang harus menghadapi masalah didepannya.


"Noara?"


Semua mata langsung beralih menatap seorang gadis kecil yang menyebut nama seseorang pembuat onar disini. "Hai Abel, kita bertemu lagi ya?!" balas Noara sembari melirik tajam Acarl yang menatapnya datar.


"Dugaanku benar."


.


.


.


.


.


Hay semua ❤️


Aku comeback 😅


Jangan lupa like, komen dan vote ya 😙


Dukung wajib 😁

__ADS_1


See you next part:)


__ADS_2