
Bukan Acarl namanya jika tidak bisa menaklukan hati gadisnya yang sedikit pemarah ini. Bahkan sekarang Acarl lebih mendekatkan dirinya pada Abel. Dilihatnya, Abel juga menatap matanya dengan nyalang.
"Katakan padaku, kenapa kamu marah hmm?" tanya Acarl masih memeluk Abel lebih erat.
"KAU!" ronta Abel untuk dilepaskan. Mood nya benar-benar kacau saat bersama Acarl sekarang. Entah karena dia sedang datang bulan, atau karena kejadian tadi yang masih terngiang di kepalanya. Dan rasa penasaran yang lebih dominan, membuat Abel merasa ada sesuatu janggal antara Acarl dan Noara.
Acarl menatap sorot mata Abel yang terlihat sangat marah, dan Acarl tau kenapa itu. Bukan Acarl tidak mau menjelaskan pada Abel, tapi ada hal yang lebih penting dari itu. Yaitu menjaga Abel tetap aman.
"Hei, aku akan pulang secepatnya. Jangan sedih-sedih gini lah. " goda Acarl dengan menoel-noel pipi chubby Abel. Tentu saja hal itu langsung ditepis oleh Abel.
Tak kehilangan cara lagi, Acarl menarik paksa Abel agar berada dalam pelukannya. Dalam hitungan detik, bibir itu sudah terbenam di bibir hangat Abel. Memanfaatkan Abel yang terdiam, Acarl mengangkat tubuh Abel dalam gendongannya. Membawa gadis itu dalam kamar bernuansa putih aestetik.
"Aku tidak akan melakukan apapun, hanya meminta bekal untuk besok." bisik Acarl membuat dada Abel berdebar dengan hembusan nafas yang kian cepat itu.
Acarl sendiri sebenarnya menahan dirinya saat melihat raut wajah Abel yang membuat nalurinya bangkit. Tapi apalah daya dari semua itu , biarpun sekarang dia mau melakukannya tapi dia tidak akan bisa. Bulan merah Abel sudah membatasi pergerakannya.
"Maafin aku ya, kalau sudah waktunya pasti aku ceritain." ujar Acarl di sela ia mencium leher jenjang Abel. Abel tak merespon apapun, tapi dalam dirinya dia merasa senang karena Acarl yang peka dengan apa yang dia rasakan sekarang. Setidaknya prianya ini masih mengerti batasan.
Abel membalik posisi, dimana Abel berada diatas dan Acarl berada dibawah. Dengan smirknya, Abel mendekatkan wajahnya tepat di telinga Acarl. "Aku setuju kalau kamu nggak mau melakukan apapun padaku," bisik Abel membuat Acarl speechless.
Acarl menelan ludahnya saat gadisnya terasa agresif tidak seperti biasanya. Rasanya Acarl ingin menerkam langsung gadisnya itu, tapi ada seribu tapi yang harus Acarl pegang teguh. Dengan begitu, Acarl bergerak cepat mengangkat tubuhnya membuat Abel terkejut.
"Kamu tau kalau membangunkan singa itu berbahaya?" tanya sekaligus goda Acarl. Sekarang posisinya Abel duduk dipangkuan Acarl dan menghadap Acarl, sedangkan Acarl tentu saja merengkuh pinggang Abel dan terus mendekatkan wajahnya sampai akhirnya bibirnya kembali menyentuh bibir Abel.
"Acarl, aku cuma mau kamu untuk bisa lebih percaya padaku." ujar Abel disela Acarl menciumi seisi wajahnya. Walau begitu menikmati kegiatannya, Acarl masih mendengar permintaan Abel yang sudah pasti mengarah pada Noara yang mereka temui tadi.
Acarl tak menjawab, melainkan langsung saja menyerbu bibir pink Abel. Begitu candu, sampai membuat Acarl melakukan lama. Saat dirasa dirinya sudah tidak kuat menahan nalurinya, Acarl langsung bangkit dan turun dari ranjang. Abel yang melihat hanya mengerutkan keningnya bingung dengan Acarl yang memasang ekspresi yang tidak pernah ia ketahui.
Acarl menarik nafasnya lalu menghembuskan dengan cepat. Belum juga Abel ingin bertanya ada apa, tapi Acarl sudah lebih dulu meninggalkan Abel dan segera mencari pertolongan di dalam kamar mandi. Dengan guyuran air shower yang dingin, Acarl menahan segala hasratnya.
"Hampir aja," gumam Acarl seraya membasahi dirinya dengan air dingin.
__ADS_1
Abel yang masih berada di dalam kamarnya, menatap nanar pintu yang tertutup dengan Acarl yang juga ikut menghilang. Namun dengan cepat Abel menepis pikirannya dan langsung beranjak dari ranjangnya berniat pergi ke dapur untuk mempersiapkan bahan masakan yang dia butuhkan.
Tapi sebelum itu, Abel merasakan jika tubuhnya sangat lengket sekarang. Dengan langkah gontai, Abel memikirkan untuk mandi lebih dulu sebelum ke dapur.
"Kalau dipikir-pikir lagi, sudah pasti Acarl dan Noara kenal. Tapi kenapa kayak benci sama Noara ya," berbagai pikiran kembali berkecamuk di benak Abel sembari dirinya menjalankan ritualnya.
--------------
Di dapur yang sedikit ramai karena para pelayan yang ikut membantu Abel menyiapkan bahan, datang Acarl dengan santainya.
"Tuan," sapa para pelayan pada Acarl yang baru tiba di dapur. Sementara Abel masih menyiapkan bahan tanpa memperdulikan suara langkah yang semakin mendekat padanya.
"Mau masak apa?" tanya Acarl yang sudah menempel di belakang Abel.
"Masak manusia," jawab Abel ketus, membuat Acarl yang mendengarnya sedikit mengangkat senyumnya karena jawaban Abel yang menurutnya menggelikan.
Niat Acarl untuk mencari perhatian belum selesai, dirinya sekarang masih berusaha untuk bertanya lagi pada Abel yang mondar-mandir sembari membawa beban dibelakangnya. "Masak manusia? kalo gitu aku mau sop kikil manusia ya?" pinta Acarl sekedar menggoda Abel.
"Oh mau kikil manusia? Boleh kok," jawab Abel yang kini maju beberapa langkah mendekat pada Acarl yang semakin mundur karena pisau daging yang dibawa Abel terlihat sangat tajam.
"Sayang itu bahaya kalo kamu pegang pisaunya kayak gitu," ujar Acarl yang merasa ngeri dengan tangan Abel yang menggoyang-goyangkan pisau seakan sudah lihai.
Abel menyunggingkan senyumnya," Katanya mau sop kikil manusia?" tanya Abel dengan seringainya.
Acarl dengan cepat sudah berada dekat dengan Abel, bahkan tangan Abel yang menggenggam pisau tadi, sudah dicekal oleh Acarl. Dengan smirk andalannya, Acarl menatap Abel yang terkejut dengan kecepatan Acarl yang seperti angin.
"Sayang, ini bahaya." ujar Acarl dengan smirknya dan nada pelan namun berkesan menakutkan bagi Abel.
Abel menyadari jika situasinya sekarang akan diluar jangkauannya, dengan cepat Abel langsung menghempaskan tangan Acarl yang menggenggamnya. "Ish lepas! Sakit tauk!" kesal Abel yang kemudian berkacak pinggang seolah ia sedang marah pada Acarl.
"Sakit?" tanya Acarl.
__ADS_1
"Iya sakit, dan kamu malah hmpphhh...."
Belum juga Abel selesai mengomel, benda kenyal nan hangat sudah menempel sempurna di bibir Abel. Seketika itu, para pelayan yang tadinya masih didapur langsung buru-buru meninggalkan dapur dengan dipimpin kepala koki yang memandu jalan.
Keadaan dapur yang sepi, membuat Acarl leluasa untuk melancarkan aksinya. Acarl menekan tengkuk Abel dan mendorongnya agar lebih dalam , begitu juga dengan Abel yang selalu lemas ketika Acarl menyerbunya dengan lembut seperti sekarang.
"Jangan sering marah, atau aku akan selalu menghukummu seperti ini." ujar Acarl sembari dirinya menggendong Abel agar gadisnya itu duduk di meja dapur agar membuat mereka lebih nyaman. Sedangkan Abel sendiri , menarik nafasnya dalam-dalam sebelum Acarl memulai lagi aksinya.
Dua manusia itu, masih asik didalam dapur sampai mereka tidak menyadari ada seorang gadis lain yang menyaksikan dari jauh, juga dua lelaki yang juga tiba bersama gadis itu.
"We came at the wrong time didn't we?" (Kita datang diwaktu yang salah bukan?)
.
.
.
.
.
Hay semua ❤️
Aku comeback 😅
Jangan lupa like komen dan vote ya 😙
Dukung boleh banget 😭
See you next part:)
__ADS_1