Kau Pelindungku Dan Aku Milikmu

Kau Pelindungku Dan Aku Milikmu
Chapter 25


__ADS_3

"Hahhhhhhh"


Seakan habis lari maraton , Abel bangun dengan menghembuskan nafasnya yang terengah-engah. Seperti nyata dialaminya , apakah mimpi itu pertanda? Atau itu hanya bayang-bayang saking takutnya dia?


Melihat kearah jam yang menunjukkan pukul empat pagi, membuat Abel segera bangun dari tidurnya dan mulai melakukan ibadah paginya.


Selesai melakukan ibadahnya, Abel keluar dari kamarnya dan turun menuju dapur. Mengambil segelas air putih ,dia teguk air itu seakan rasa dahaga yang sudah lama terpendam baru merasakan tetesan air lembut di tenggorokannya.


Kembali menuju kamarnya, dia mulai ingat jika hari ini adalah hari dia akan meninggalkan rumah ini. Rumah dan disegala keadaannya, bahkan ruangan dan setiap kenangannya. Memantapkan hatinya, Abel menghembuskan nafas beratnya dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Selesai membersihkan diri, bingung akan melakukan apa, Abel memilih untuk menyiapkan barang yang akan dibawanya. Bukan baju pastinya, melainkan barang yang penting bagi wanita yang sudah dia pikirkan jika itu tak akan disiapkan Acarl maupun asistennya.


Sampai jam menunjukkan pukul enam pagi, Abelpun turun menuju meja makan. Disana terlihat sudah ramai, walaupun hanya ramai para pelayan namun membuat Abel merasa tak sendiri. Duduk dikursinya, dia mengambil segelas air putih sambil menunggu ayahnya itu turun.


Hari Sabtu yang indah untuk berjalan-jalan bersama keluarga, tapi tidak untuk Abel yang akan lepas dari keluarganya. Bahkan dia akan melepas kepergiannya hanya dengan ayahnya, Kakaknya? tentu tidak Abel beritahu. Yang ada saat ini pasti kakaknya akan merantainya agar tidak pergi.


Tersenyum geli saat membayangkan apa yang akan dilakukan kakaknya itu saat melihat Abel akan pergi, sungguh pemandangan yang indah jika itu terjadi.


"Pagi sayang," sapaan dari belakang Abel membuat sang empunya nama menoleh dan mendapati ayahnya yang turun melewati tangga.


"Pagi ayah," balas Abel degan senyumnya.


Tuan Guston yang sudah memakai pakaian kerjanya ,duduk disebelah Abel. Menatap putri satu-satunya itu, rasa bersalah bahkan rasa takut bercampur menjadi satu. Bersalah karena dia tidak bisa berbuat apa-apa saat putrinya terkena masalah. Dan rasa takut saat menyadari jika hari ini putrinya akan pergi dan tak tau kapan dia akan kembali .


Melihat ayahnya sedang menatapnya, Abel tersenyum untuk menenangkan ayahnya. "Aku tidak apa-apa, bahkan aku masih bisa bersekolah," ujar Abel.


"Ayah tau, tapi ayah merasa bersalah saat apa yang menimpa kamu ayah tidak bisa apa-apa." lirih tuan Guston.


"Ayah adalah ayah yang best buat Abel. Bahkan ini bukan salah ayah, ini salahku yang bisa mengancam keluarga kita. " jawab Abel dengan senyum untuk menguatkan dirinya sendiri.


"Maafkan ayah," lirih tuan Guston yang mendapat gelengan kecil dari Abel.


Menghembuskan nafasnya yang berat seraya menengadahkan kepalanya. Tuan Guston,mencoba tersenyum kepada Abel saat dirinya sudah sedikit tenang.


Mereka berduapun akhirnya memilih untuk sarapan. Saat sedang menikmati sarapan, suara menggelegar terdengar di seluruh penjuru ruang makan saat itu. "Hai semua!!!"


Mendengar suara yang familiar, membuat tuan Guston dan Abel menoleh ke sumber suara. Seorang wanita paruh baya dengan senyumnya berjalan mendekat . Nyonya Guston.


"Ayah... kapan pulang?" sapa nyonya Guston pada suaminya. Dia bahkan mengabaikan Abel yang juga duduk disana. Abel yang sudah biasa dengan keadaan ini hanya diam saja. Yap, Abel sudah biasa diabaikan dan dianggap tidak ada oleh ibunya sendiri. Berbeda dengan kakaknya yang selalu ada dimata ibunya.


Merasa sudah selesai menghabiskan sarapannya, Abel segera pergi dari ruang makan itu. Terlihat ibunya yang menatap sinis kearah Abel. Memutar bola mata malas, dia segera beranjak sebelum suara melengking ibunya terdengar.

__ADS_1


Menuju kamarnya, Abel menyingkirkan barang yang akan dibawanya nanti didekat pintu kamar agar mudah diambilnya nanti. Boneka kesayangannya, skincare, foto keluarga (Dia,Ayah, dan Kakaknya). Masabodo sama nyonya itu, dia bahkan tidak menganggap Abel anaknya.


Kalo bukan karena kakaknya ahli waris perusahaan, mungkin ibunya itu juga tidak sayang terhadap kakaknya. Terlihat dari dia saat menjujung nama kakaknya dihadapan Abel. Kakaknya yang mengerti sifat ibunya pun hanya membiarkannya saja, selama tidak melewati batas maka dia akan diam.


Unknown number is calling.....


Getar handphone disaku Abel, membuat Abel segera merogoh saku celananya. Nomor tak dikenal pun terpampang jelas dilayar handphone Abel. "Halo.." sapa Abel pada orang diseberang.


"Hallo nona..." suara orang diseberang.


Tanpa menanyakan siapa orang itu, Abel sudah tau dari suara yang sedikit familiar ditelinganya. Satu nama yang ada dipikiran Abel. Cheiz.


"Kapan aku kesana?" tanya Abel.


"Tuan sedang rapat saat ini, jadi sekitar pukul 10 saya akan menjemput nona . Anda tidak perlu membawa barang ,Nona." ujar Cheiz datar .


Sebenarnya Abel sudah tau jika dia tidak perlu membawa barang sesuai kesepakatan antara dia dan Acarl waktu itu. Tapi demi kenyamanannya sendiri, Abel sedikit membawa barang pribadinya. "Baiklah, tapi aku hanya akan membawa beberapa barang yang penting untukku" jawab Abel.


"Baik nona,"


Telepon putus sepihak ,siapa lagi kalau bukan Cheiz yang memutuskan secara sepihak. Bahkan Cheiz terlihat lebih mirip Acarl daripada Clara yang secara harfiah adik kandung Acarl.


 ---------------


"Bagaimana menurut ada ,Tuan?" pertanyaan itu seketika membuat Acarl tersadar. Menatap semua yang ada diruang meeting, Acarl segera mengubah ekspresinya menjadi seperti biasa.


"Ehem... Apakah itu sudah pas untuk dilakukan tahun ini? Bahkan sudah terlihat jelas jika disana ada skala yang turun." jawab Acarl seprofesional mungkin. Beruntung sebelum meeting , Acarl sudah mempelajari setiap data-data yang dia terima.


Rapat berjalan sesuai kondisi dan membuahkan hasil. Walaupun Acarl tidak fokus, namun dengan seprofesional mungkin dia harus terlihat berwibawa. Semenjak perusahaan XLN company berada di tangan Acarl, banyak kemajuan yang terjadi.


Keluar dari ruang rapat, Acarl menuju ruangan CEO. Menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya, Acarl memejamkan matanya. Dirasanya saat ini beban Acarl sangat berat, semenjak adiknya itu selalu membuat masalah yang berakibat menghancurkan reputasi keluarganya.


Sudah sedikit tenang, Acarl langsung terpikir gadis yang nanti tinggal di mansion nya. Jarj Acarl langsung melayang pada kontak handphone milik Cheiz. Menunggu kata memanggil menjadi berdering, dan dari berdering menuju 0.00 . Sapaan terdengar, membuat Acarl segera memajukan kepalanya mendekat kearah ponselnya yang dia letakan dia mejanya.


"Halo tuan?" sapa Cheiz


"Apa kau sudah menjemputnya?" tanya Acarl to the poin.


"Kami sedang menuju ke kediaman Guston ,Tuan." jawab Cheiz.


"Baiklah." ucap Acarl dan langsung memutuskan panggilannya.

__ADS_1


 ------------------------


Jam sudah menunjukkan pukul Sepuluh kurang seperempat menit. Rasa berdebar karena gugup menyerbu Abel saat ini. Nyonya Guston sudah tau jika Abel akan dijemput nanti, namun respon nya hanya sinis dan biasa saja. Sedangkan ayahnya sendiri, tidak jadi berangkat kerja. Dia ingin melepas kepergian Abel sebelum dia berangkat.


Dinn dinn.....


Suara klakson yang masuk ke telinga Abel itu menambah rasa gugup Abel. Suara mobil berganti menjadi suara bell rumah, Abel yang mendengar pun segera turun sambil membawa barangnya.


Bersamaan dengan Abel yang menuruni tangga, tuan Guston juga keluar dari kamarnya dan turun tangga tepat dibelakang Abel. Melihat majikannya sudah dekat, para pelayan pun membuka pintu utama dan terlihat seorang lelaki dengan jas berwarna hitam berada disamping mobil.


"Selamat pagi nona dan Tuan," sapa Cheiz dengan sopan. Abel dan tuan Guston mengangguk untuk menjawab Cheiz.


"Baiklah nona, apakah anda sudah siap?" tanya Cheiz dengan senyum sopannya.


"Aku... aku siap." jawab Abel memantapkan pilihannya.


Mendengar putrinya menjawab , membuat Tuan Guston merasa teriris hatinya. Rasa sakit saat harus merelakan putrinya sangat mendominan dihati tuan Guston. Menggenggam erat tangan Abel, tuan Guston menatap putrinya itu seakan ingin menahannya sebentar.


"Apakah dia bisa datang kemari?" tanya tuan Guston pada Cheiz , namun tatapan matanya mengarah pada Abel.


"Untuk itu, hanya dengan izin Tuan muda Acarl saja , Tuan." jawab Cheiz.


"Ayah, aku tidak apa-apa. Aku pasti akan kembali." ujar Abel menenangkan ayahnya.


Berjalan perlahan sambil melepaskan genggaman tangan ayahnya, Abel maju menuju mobil yang sudah berada didepannya. Dengan senyumnya, dia melihat ayahnya dan melambaikan tangannya.


"Aku pasti akan kembali ,Ayah." batin Abel.


.


.


.


.


.


Hai semua😘


Maaf aku baru up😭

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan vote ya❤️


see you next part


__ADS_2