
Suasana dalam mobil saat ini sangat sunyi. Abel yang duduk didepan dengan sopir , sedangkan Acarl dibelakang sendiri. Mereka keluar kantor tepat pukul sembilan malam, karena pekerjaan Acarl yang sangat menumpuk. Apalagi ada tragedi tadi, yang malah menambah lama pekerjaan.
Kejadian tadi hanya kedua pria itu yang tau. Tapi yang pasti, Eron keluar dari ruangan Acarl dengan wajah pucat. Jika dilihat, semua orang akan merinding dengan wajah Eron saat itu. Bahkan Abel sampai meringis melihat nasib Eron. Eron yang pucat langsung berjalan keluar dan entah kemana .
"Hei kau!" panggil seseorang dari kursi belakang, membuat Abel yabg sedang melamun terjengkal. Namun dengan cepat dia ubah kembali ekspresinya.
"Ya, Tuan. Ada yang bisa saya kerjakan?" tanya Abel yang menoleh kebelakang.
Acarl menengadahkan kepalanya dan menghembuskan nafas beratnya. Terlihat jika dia sedang dalam situasi yang buruk mungkin. "Siapkan aku resort di pegunungan, dan pesankan sekarang karna aku ingin kesana besok!" perintah Acarl.
Abel yang mendapat perintah ,langsung mengirimkan pesan kepada Cheiz. Karna dalam tugas ini ,Cheiz yang tau semuanya sedangkan dia hanya membantu Acarl dan tetap disisinya. Tak lama, balasan dari Cheiz sudah ada .
Acarl yang mendengar getaran ponsel Abelpun, langsung tau jika Abel mengirimkan pesan kepada Cheiz. "Kau akan ikut besok!" perintah Acarl tak terbantahkan.
Abel yang mendengar perintah Acarl, langsung menoleh dan menatap tidak percaya dengan apa yang dikatakan Acarl. Besok adalah Minggu, lalu di resort pasti Acarl akan menginap. Bagaimana dengan sekolahnya Senin?
Dengan ragu, Abel memberanikan diri bertanya pada Acarl. Atau sebisa mungkin menolak ajakannya. "Maaf ,Tuan. Tapi saya tidak bisa." ujar Abel lirih tanpa mengangkat kepalanya menatap Acarl.
Mengangkat sebelah alisnya, Acarl melihat Abel yang menoleh kebelakang. "Apa maksudnya tidak bisa?" batin Acarl memikirkan maksud Abel.
"Lalu?" tanya Acarl singkat. Abel yang mendapat pertanyaan langsung menelan ludahnya. "Gimana jelasinnya ya?" tanya Abel pada dirinya sendiri.
"Emm...maaf ,Tuan. Tapi jika saya ikut anda ,Senin saya sekolah." ujar Abel masih menundukkan kepalanya (kebiasaan Abel jika gugup).
"Benar juga! Dia kan anak sekolah!" batin Acarl menyadari maksud dari penolakan yang dilakukan Abel.
"Aku akan memberimu izin." ujar Acarl setelah memikirkan apa yang akan dia katakan pada Abel. Mendengar penuturan acarl, pancaran binar diwajah Abel langsung terlihat sempurna . Senyum dan wajah cantik itu seketika menghadap pada Acarl. Acarl sendiri yang mendapat senyuman secara tiba-tiba,menjadi bingung.
"Aku memberimu izin pada sekolah. Aku akan mengizinkan mu pada sekolah, dan kau sesenang itu?" ujar Acarl yang bingung dengan tingkah ajaib Abel. Namun berbeda dengan Abel, ia justru menurunkan kembali senyumnya setelah mendengar apa yang dikatakan Acarl.
__ADS_1
"Aarggghh !!! harusnya aku tidak berharap lebih padanya! Dia tidak akan berbaik hati padaku!" batin Abel mengumpati Acarl.
"Sekarang apa?" tanya Acarl dalam hati setelah melihat keterdiaman Abel lagi.
Tingkah kedua manusia tadi disaksikan langsung pak supir yang sedang bekerja, mengendarai mobil supaya baik jalannya. Pak sopir menaham tawanya karena sikap polos Acarl dan sikap Abel yang masih seperti anak-anak.
"Sepertinya Tuan akan berjodoh dengan nona ini." batin pak sopir yang dari tadi menyaksikan aksi dua insan yang berada satu mobil dengannya.
Tak terasa, mobil sudah sampai di mansion Acarl. Abel bergegas keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Acarl. Tapi karena mood nya masih buruk, pintu yang seharusnya dibuka perlahan itu malah dibuka dengan tarikan yang kuat oleh Abel. Tanpa melihat kearah Acarl, Abel menahan pintu untuk Acarl keluar.
Acarl yang tadi terkejut karena pintu yang sangat cepat terbuka itu ,langsung melihat wajah Abel yang cemberut itu. Keluar dengan elegan, Acarl mengibaskan jas yang dikenakannya dihadapan Abel. Tak terasa senyum tipis terukir diwajah Acarl. Setelah melewati Abel, Acarl kembali dikejutkan dengan suara pintu mobil yang ditutup dengan kerasnya.
Menghentikan langkahnya karena terkejut, Acarl menoleh kebelakang setelah menghembuskan nafas beratnya. Sedangkan Abel yang tidak melihat jalan ataupun Acarl, tubuhnya menabrak sesuatu didepannya. Apalagi jika bukan dada Acarl? Karena kurang seimbang , Abel terhuyung kebelakang. Namun setelah sepersekian detik, Abel menyadari kalau tubuhnya terasa melayang. Mata Abel yang tadinya tertutup kini terbuka, dan pandangan pertamanya adalah Acarl. Tangan kekar itu melingkar dengan erat dipinggang Abel, seakan menahan sesuatu benda berharga yang akan terjatuh itu.
Mata biru itu memancarkan pesonanya sendiri saat dilihat Abel. Tanpa disadari ,mata itu menghipnotis Abel. Itupun berlaku pada Acarl. Acarl juga tak lepas dari mata hazel milik Abel, seperti terasa jika dia tenggelam dalam tatapan itu.
Sebuah panggilan terdengar nyata ditelinga kedua insan yang masih melakukan adegan romantis diteras mansion itu. Panggilan yang menyadarkan kedua orang itu, panggilan yang tak terasa membuat Acarl kecewa tanpa sebab.
Membenarkan posisi, Acarl dan Abel kembali berdiri sempurna. Abel yang masih dalam keadaan gugup, memilih diam dan menundukkan kepalanya. Sedangkan Acarl kembali melanjutkan langkahnya dan melupakan niatnya untuk bertanya pada Abel tadi karena merasa aneh pada dirinya.
--------------
Dua manusia yang masih terjaga dimalamnya ,kini memikirkan hal yang sama. Jika bukan Abel dan Acarl siapa lagi? Setelah kejadian tadi, Acarl maupun Abel langsung menuju kamarnya masing-masing. Acarl yang merasa aneh dengan jantungnya, dan Abel yang merasa terpesona dengan mata milik Acarl tadi.
"Astaga, Tuhan! Kenapa aku memikirkannya? " batin Abel .
Abel langsung menarik selimut yang digunakannya untuk menutupi wajahnya. Padahal dia dikamarnya sendiri, tapi rasa malu masih terasa jelas dihati Abel.
Sedangkan dikamar lain, seorang pria yang dikenal dingin itu sekarang sedang mengatur nafasnya seperti ibu-ibu yang akan melahirkan. Mengambil nafas lalu dikeluarkan lagi. Itu dilakukan berulang-ulang oleh Acarl.
__ADS_1
"Argghh sial! Apa aku harus ke dokter jantung sekarang?" gerutu Acarl yang dari tadi masih merasakan debaran jantung yang berdetak kencang tidak seperti biasanya.
Tiba-tiba kejadian tadi terlintas dibenak Acarl, membuat jantungnya yang tadi sudah mendingan kembali berdetak lebih kencang. Mata hazel itu terus menghantui Acarl saat ini, seakan mata itu menghisap jiwa Acarl pada saat itu juga.
Mengabaikan debaran jantungnya, Acarl mencoba memikirkan hal lain. Namun pikirannya kembali memunculkan sosok Abel. Abel yang tiba-tiba menjadi badmood tadi terlintas dibenak Acarl.
"Ada apa dengan gadis itu? Apa aku melakukan kesalahan?" gumam Acarl sembari membaringkan tubuhnya dan meletakkan tangannya kebelakang kepala sebagai bantalnya.
Memejamkan matanya, Acarl mencoba sekuat tenaga untuk tidur. Begitu juga Abel yang berada di kamarnya sendiri. Mengeyahkan kejadian tadi, mereka akhirnya menuju kealam mimpi.
.
.
.
.
.
Huhu maap baru up😭
Signal oh signal😭
Semoga kalian suka untuk part ini😭
Jangan lupa like,komen dan vote ya ❤️
See you next part:)
__ADS_1