
Diluar resort, sudah berjejer lima koper dengan ukuran berbeda-beda. Dua koper kecil berwarna pink milik keira, satu koper sedang berwarna merah milik Abel, dan satu koper sedang ,satu koper kecil milik Acarl yang berwarna hitam semua.
"Beres!" seru Abel seraya menepuk-nepuk tangannya seolah ingin menghilangkan debu yang menempel di telapak tangannya.
Abel yang sejak tadi sibuk dengan persiapan pulang, menjadikannya lelah saat sudah selesai. Dengan merenggangkan tangannya keatas, Abel mencoba menghilangkan rasa pegal ditangannya yang sejak tadi tidak berhenti bekerja. Menata perlengkapannya, menata perlengkapan Acarl dan juga milik Keira. Abel yang awalnya tidak membawa koper, sekarang karena Acarl dia harus membawa koper saat pulang.
Di belakang Abel, terlihat dua manusia yang sedang duduk santai sambil melihat Abel .Keira yang melihat Abel, langsung melirik tajam kearah Acarl. Acarl yang merasa jika sedang dilihat seseorang, langsung mengarahkan pandangannya pada Keira. Dan benar saja, tatapan tajam Keira langsung menjadi pemandangan pertama untuk Acarl.
"Apa?" tanya Acarl datar seraya menolehkan kepalanya untuk melihat Abel lagi.
"Huh! Dasar kakak bos yang tidak peka! Kenapa tidak mengambilkan minum untuk kakak cantik?!" kesal Keira yang melihat Acarl tidak ada respon saat memandang Abel yang terlihat lelah itu.
"Minum? apa itu perlu? aku bos nya disini!" batin Acarl.
Acarl kembali menolehkan kepalanya menatap Keira. "Apa?" tanya Keira menirukan ucapan Acarl tadi. Acarl yang tau ejekan itu, seketika menjadi kesal .
Acarl berdecih lalu mengalihkan pandangannya pada Cheiz yang tak jauh darinya. Keira yang ikut mengarahkan pandangannya kearah Acarl memandang, langsung menggenggam tangan Acarl. Acarl yang merasakan tangannya dipegang, langsung melihat Keira yang menatapnya.
"Bukan seperti itu! Kakak bos harus mengambilkan secara khusus untuk kakak cantik! " ujar Keira.
Acarl melongo mendengar apa yang diucapkan Keira padanya. Acarl menunjuk dirinya sendiri, seolah bertanya apa Acarl yang harus mengambilkan. Anggukan kepala dari Keira menjawab Acarl.
Aku tidak paham dengan perempuan, gumam Acarl.
Keira yang melihat Acarl beranjak, membuatnya tertawa pelan melihat reaksi Acarl. Dasar kakak bos yang kurang pengertian, gumam Keira disela tawanya.
Tak lama, Acarl kembali dengan segelas strawberry squash ditangannya. Dengan ketidaktahuannya tentang perempuan, membuat Acarl sedikit berdebat tadi di ruang makan. Menanyakan pada bartender yang bertugas, apa yang disukai wanita untuk minum. Sampai akhirnya ia memilih strawberry squash yang tidak beralkohol.
Acarl berjalan mendekat pada Abel yang masih berdiri disebelah koper seraya menunggu mobil yang akan membawa barang mereka nanti.
Abel yang sedang menundukkan kepalanya, langsung dibuat terkejut dengan kehadiran Acarl disampingnya. Abel menoleh ke Acarl, dan mendapati Acarl dengan senyum dan segelas strawberry squash ditangannya.
"Apakah tuan Acarl sedang kesambet ya?" batin Abel saat melihat senyum diwajah Acarl.
Acarl menyodorkan minuman ditangannya, dan itu sontak menambah rasa penasarannya terhadap Acarl. Sampai-sampai pikiran aneh bermunculan dibenak Abel. Memikirkan apa yang terjadi dengan tuannya ini.
"Tu-tuan, Anda baik-baik saja bukan?" tanya Abel khawatir dengan perilaku Acarl yang melenceng jauh dari biasanya.
__ADS_1
Acarl yang mendengar perkataan Abel, langsung menurunkan senyumnya menjadi datar lagi. Inilah yang tidak Acarl sukai dari perempuan. Sikap perempuan yang tidak mudah dipahami, membuat Acarl kebingungan dengannya. Apalagi jika harus menghadapi perubahan sikap perempuan, itu sangat melelahkan bagi Acarl.
"Untukmu!" ujar Acarl sambil menyodorkan minuman ditangannya dengan wajah datar. Abel melongo melihatnya, bahkan tangannya sampai gemetar menerima minuman itu.
"Te-terimakasih Tuan, " ujar Abel setelah minuman itu berada ditangannya. Abel merasa canggung dengan Acarl yang masih berdiri disampingnya, begitu juga dengan Acarl yang bingung bagaimana caranya pergi dari sini. Jika dia pergi begitu saja, maka akan terlihat jika dia sedang mencoba mendekati Abel. Tidak tidak tidak , Seorang Acarl tidak seperti itu.
"Lusa bersiaplah bersikap seperti asisten profesional. Kita akan ada pertemuan dengan dewan direksi. Jangan membuat kacau! cukup ikuti aku dan lakukan apa yang aku perintahkan." ujar Acarl memberitahu Abel mengenai hal yang harus mereka hadapi dua hari lagi.
"Akhirnya aku menemukan topik," batin Acarl lega.
Abel meminum minumannya, lalu beralih menoleh pada Acarl lagi. "Apa yang bisa saya lakukan disana ,Tuan? Bahkan saya masih bersekolah, jadi saya tidak paham sama sekali tentang dunia bisnis." jawab Abel .
"Sudah kukatakan jika kau hanya perlu diam dan menuruti perintahku," ujar Acarl.
Abel menganggukkan kepalanya ,tidak bisa membantah apapun. Walaupun dia dari keluarga pengusaha juga, tapi dia sama sekali tidak diberi pelajaran tentang dunia bisnis. Berbeda dengan kakak laki-lakinya, yang setiap detik selalu dibanggakan itu.
"Kakak bos, apa kamu tidak membawakan aku minum?" tanya Keira yang tiba-tiba sudah berada disamping Acarl. Acarl sedikit terkejut karena Keira yang tanpa aba-aba sudah ada disampingnya itu. Acarl menundukkan kepalanya untuk melihat Keira yang tingginya terpaut jauh darinya itu.
"Kau mau minum?" tanya Acarl, namun bukan jawaban yang Acarl dapat melainkan lambaian tangan yang mengisyaratkan Acarl untuk berjongkok didepan Keira.
"Kakak bos, ini kesempatan mu. Kamu harus terlihat baik padaku, dengan begitu kakak cantik akan terharu melihatnya." bisik Keira tepat di telinga Acarl.
Acarl kembali menegakkan tubuhnya dan tersenyum sambil mengacak rambut Keira seolah dia gemas. Sedangkan Abel yang melihat interaksi antara Acarl dan Keira malah menjadi bingung.
"Sejak kapan mereka akur?" batin Abel bertanya-tanya.
Acarl yang entah darimana , mendapatkan pemikiran untuk menggendong Keira. Tentu saja itu membuat semua yang melihat menjadi takjub, bahkan juga kaget.
"Wah ayahnya tampan dan anaknya cantik,"
"Keluarga yang terlihat sempurna,"
"Waw aku ingin suami seperti dia,"
Kira-kira seperti itulah gumam-gumam yang terdengar setelah melihat interaksi Acarl dan Keira. Keira juga seolah menjadi anak perempuan Acarl, dengan senyum polosnya dan jari jemarinya yang memainkan rambut Acarl.
"Darimana gadis kecil ini belajar berakting," batin Acarl.
__ADS_1
"Kau mau es krim kan?" tanya Acarl dengan senyumnya.
Keira mengangguk semangat dengan tawaran Acarl. Namun malah cubitan dihidung yang didapatkan Keira.
"Awww, sakit." pekik Keira sambil mengusap hidungnya sayang.
"Jangan makan es krim, apa kau tidak tau kalau anak kecil makan es krim itu bisa bikin gigi kamu sakit lalu juga bisa bikin kamu pilek?" ujar Acarl. Sebenarnya, bukan Acarl peduli seperti itu cuman saja dia yang malas jika balik lagi ke ruang makan.
Diam-diam Abel tersenyum melihat keduanya, tidak menyangka saja seorang Acarl yang terkenal menyeramkan mempunyai sisi keayahan seperti ini.
Dia tersenyum, ujar Keira tanpa suara hanya menggerakkan mulutnya membentuk kata itu.
"Apa yang aku lakukan sebenarnya? Apa aku benar menyukainya? "
.
.
.
.
.
.
Hay semua ❤️
Aku balik lagi 😙
Maaf atas keterlambatan ku🥺
Di musim hujan ini membuat sinyal dirumahku putus-putus 😭
Mohon maklumnya ya🥺
Jangan lupa like, komen dan vote ya 😙
__ADS_1
dukung juga boleh 😁
see you next part:)