Kau Pelindungku Dan Aku Milikmu

Kau Pelindungku Dan Aku Milikmu
Chapter 103


__ADS_3

Dalam ruangan yang Abel tempati, Noara datang dengan dua pria yang Abel tau pasti adalah suruhan Noara. Yap, Abel tidak bodoh untuk membaca situasi saat ini. Dari pakaian yang Noara berikan, minuman yang ada di nakas dan juga pria yang bersama Noara saat ini.


"Hai Noara, ada apa kemari?" sapa Abel dengan senyumnya. Sedangkan Noara menatap Abel dengan senyum terpaksanya saat melihat Abel yang balik menyapanya.


"Para pria ini ingin bertemu denganmu sekarang, aku yakin kamu bisa melayaninya." ujar Noara dengan smirknya dan memelankan kalimat terakhirnya. Tapi smirk Noara segera luntur setelah mendengar apa yang Noara katakan tadi. Karena...


"Wah, para pria yang gagah. Noara, kamu selalu tau apa seleraku." jawab Abel dengan senyumnya. Sedangkan Noara tersenyum dan mengangguk pada kedua pria yang bersamanya tadi seakan berpamit untuk pergi.


Setelah kepergian Noara, kini tinggal lah Abel bersama kedua pria yang sama sekali tidak dikenalnya. Tatapan jijik langsung Abel layangkan, saat dimana kedua pria itu membuka baju yang melekat ditubuhnya. Menyisakan celana panjang yang mereka pakai.


"Tuan-tuan sekalian, sepertinya minum bisa membuat kita semakin akrab." ujar Abel seraya mengambil minuman diatas nakas itu.


"Wah nona, kau cantik dan juga pandai sekali memahami suasana." puji salah satu pria itu sembari menoel dagu Abel seakan menggodanya. Pelan-pelan Abel mengusap bekas usapan pria tadi seraya tersenyum menggoda.


Abel menuangkan wine itu di gelas-gelas kecil yang sudah disiapkan Noara. Sebenarnya dalam benak Abel, ia merasa ada yang ganjal dengan keadaan diluar. Abel yang notabene kelas bahasa, sempat ia terkejut saat mendengar aksen pria yadi tadi saat menjawab dirinya. Mengenyahkan segala pemikiran itu, Abel akan mengikuti permainan Noara untuk saat ini.


"Emm tuan-tuan, apa kalian bisa memberitahu padaku. Disini di negara mana ya?" tanya Abel setelah menuangkan wine pada setiap gelas tadi.


Salah satu pria itu, merangkul pundak Abel. Walau risih, tapi Abel harus tahan demi hidup. "Nona, kau tidak perlu cemas dengan itu. Lebih baik kita memikirkan gaya apa yang cocok untuk kita bertiga nanti." ujar pria yang merangkul Abel. Sekarang Abel bergidik ngeri dengan kedua pria yang lengannya lumayan berotot itu.


Tiba-tiba, pria yang sejak tadi diam langsung mendekatkan wajahnya pada wajah Abel. "Nona, kenapa kau tidak minum? Minumlah, akan lebih nikmat kalau nanti kau menggila dibawah kita." ujar pria itu yang disambut tawa pria yang merangkul Abel. Abel dalam hati mengutuk Noara yang bodoh mempermainkannya dengan cara sampah seperti ini.


"Aww, tuan. Aku mohon pelanlah untuk nanti. Dadaku terasa sakit karena tertusuk pisau." ujar Abel dengan nada menggodanya. Demi hidup Abel!


Abel melihat pintu yang tertutup itu, dalam hati Abel ingin sekali segera meraih pintu itu dan keluar dari ruangan pengap ini. Abel yakin pintu itu dikunci, tapi Abel juga yakin kalau kunci itu ada pada salah satu pria yang ada disampingnya ini.


"Nona, minumlah!" pinta pria yang tadi mendekatkan wajahnya, seraya memberikan gelas kecil berisi wine pada Abel. Abel meminum itu? Tentu tidak, mengingat Abel yang tidak tahan dengan alkohol.


"Tuan, kalian harus tau kalau ini adalah yang pertama untuk ku. Aku harus mengingatnya, kenikmatan pertama yang aku rasakan nanti." ujar Abel dan tak lupa kedipan mata yang membuat kedua pria itu tertawa.

__ADS_1


Dilain tempat dan waktu yang sama, Pencarian Abel sepertinya tak ada habisnya. Bahkan rata-rata tidak ada yang tidur sebelum menemukan Abel. Dua hari hilangnya Abel, sangat menyiksa terutama Acarl. Pria itu masih sibuk dengan titik ponsel Noara yang berada di lautan. Bahkan dia juga sudah mengutus suruhannya untuk melakukan pencarian di negara dekat titik terakhir ponsel Noara.


Tak berbeda dengan Acarl. Eron, Rian dan ditambah Vano juga tak hentinya melakukan pencarian. Sedangkan Clara dan Falida, dengan paksaan para pria itu harus bersekolah.


Acarl yang memantau melalui satelit, tak henti-hentinya meremas kepalanya saat tidak menemukan pencerahan pencarian Abel. "Abel dimana kamu?" selalu kata itu yang Acarl pertanyakan saat tidak menemukan keberadaan Abel ataupun Noara.


Cheiz yang melihat tuannya terus memantau layar komputer untuk mengecek satelit itu, merasakan apa yang Acarl rasakan. Abel yang selalu ceria disini, tiba-tiba menghilangkan meninggalkan kemurungan di mansion ini. Bahkan para pelayan mansion juga ikut bersedih saat mendengar kabar hilangnya Abel. Mereka juga merasa bersalah karena tidak bisa menjaga Abel.


"Tuan, sebaiknya anda istirahat sebentar. Jika seperti ini terus, nanti kalau nona Abel melihatnya, nona pasti akan marah." ujar Cheiz membujuk Acarl yang sudah seharian penuh tidak mengisi perutnya. Bahkan matanya saja sudah menghitam karena kurang tidur, atau bisa dikatakan tidak tidur.


"Makan? Apa Abel juga makan disana? Dan tidur?! Apa dia juga punya tempat nyaman untuk tidur?" serbuan pertanyaan dari Acarl yang langsung membungkam Cheiz saat itu juga. Kacau, setiap apa yang ingin Acarl lakukan, ia harus mengingat apakah Abel juga bisa melakukannya.


"Apa kau akan berpikir sesempit ini?" pertanyaan yang mampu membuat Acarl menolehkan kepalanya. Dilihatnya, Eron dengan tangan ia lipat didepan dada, berjalan menghampiri Acarl yang terlihat lebih kacau dibandingkan kemarin.


Eron menepuk jidatnya saat melihat sahabatnya yang berubah dari kata keren dan tampan. "Setelah ini, mungkin Abel akan memilihku dibandingkan kau yang sudah kurus kerempeng." ejek Eron yang membuat Acarl berdecak kesal. Tapi setelah itu, Acarl langsung bangkit dan menghentakkan kakinya menuju tempat yang akan membuatnya kembali seperti semula daripada Abel harus memilih Eron nantinya.


----------------------


Dua pria yang sudah mabuk karena wine yang dituangkan terus menerus, membuat Abel memiliki kesempatan untuk kabur. Tapi masalahnya, sekarang yang ia perlukan adalah mencari kunci yang pasti ada ditangan salah satu pria yang ada di ruangan bersamanya ini.


"Hai nona, tubuh mu indah sekali. Sekarang sudah waktunya bukan? untuk kau melayani kami," tanya salah satu pria yang kini memeluk pinggang Abel. Walaupun sedang mabuk, tapi pelukan dipinggangnya itu, dapat Abel rasakan kencangnya.


"Tuan, bisakah kau melepaskan ku?" tanya Abel balik.


Pria itu menggeleng dan semakin mengeratkan pelukannya. "Tidak bisa begitu, Nona." jawab pria itu yang langsung memajukan wajahnya. Tentu saja hal itu membuat Abel memundurkan wajahnya! Tidak ada yang boleh menodainya kecuali Acarl. Tapi tentu saja Acarl tidak akan pernah menodainya ya!!!


Tanpa sengaja, tangan Abel merasakan ada logam yang mengenai kulitnya. Abel melirik tangannya dan mendapati sebuah kunci yang menyembul keluar dari saku celana pria yang memeluk Abel. Senyuman langsung tergambar jelas diwajah Abel, karena harapannya itu kini ada pencerahan.


"Oh tuan, kau kuat sekali. Padahal aku suka jika kau lemas di depanku." ujar Abel dengan nada menggodanya.

__ADS_1


"Aku akan lemas jika kau menciumku sayang." ujar pria itu dengan tatapan menjijikan dan jangan lupa bibirnya yang sudah ia maju-majukan. Tak disangka, satu pria lagi juga ikut mendekat dan ikut merangkul pinggang Abel dengan satu tangannya.


"Ciumlah kita berdua sayang," bisik pria yang baru saja mendekat pada Abel. Situasi ini mengingatkan Abel pada Acarl. Acarlnya yang selalu menjaganya, Acarlnya yang selalu melindunginya. Dan Acarl yang hanya menjadi milik Abel, begitu juga sebaliknya Abel yang hanya bisa menjadi milik Acarl seorang.


Dalam diamnya, Abel berusaha mencari jalan keluar terlebih dahulu. Dan salah satu caranya adalah, berciuman...


.


.


.


.


.


Hay semua 🤭


Jangan lupa like, komen dan vote ya 😂


Dukung wajib 👌


Mohon maaf kalau part ini membuat jengkel pada Acarl😭


Babang Acarl juga capek dan kehilangan separuh nyawanya😭


Mengsad lah babang Acarl😭


See you next part biar tau kelanjutannya 😙

__ADS_1


__ADS_2