Kau Pelindungku Dan Aku Milikmu

Kau Pelindungku Dan Aku Milikmu
Chapter 122


__ADS_3

Hari dimana menjadi hari besar bagi Abel telah tiba. Akhirnya kata lulus sudah tertulis di ruang aula yang tidak banyak orang didalamnya. Ya bagaimana lagi? Namanya juga Abel mengambil kelas kilat, dan yang pasti hanya sedikit orang yang masuk didalamnya.


Pagi-pagi sekali, Abel sudah terbangun saking semangatnya dia menyambut hari ini. Dibantu Emely dan yang lainnya, Abel memilih riasan dan gaun yang sangat menggambarkan dirinya dan menonjolkan dirinya yang hari ini akan menerima penghargaan. Untuk sekali saja, Abel akan tampil tidak seperti biasanya. Dan pilihannya jatuh pada....



Memang terkesan simple, namun ditambah dengan rambut yang digerai dan juga sentuhan curly yang menawan membuat Abel tampak menyala sekarang.



Kira-kira seperti itulah gambaran rambut Abel. Dan yang pasti, akan ada fotographer mendadak setelah ia selesai berias. Siapa lagi kalau bukan Cheiz! Dan tentu saja ada pria yang suka menyuruh dibelakangnya. Namanya juga Abel, pasti akan ada Acarl. Dan benar saja, Acarl dengan style kantornya mendekat pada Abel. merangkul seperti sedang foto prewedding.


Didalam kamar Abel, dengan background putih dari gorden yang menjuntai. Senyum Abel terukir tat kala ada bisikan ditelinganya yang membuatnya tak sanggup menahan senyumnya. you are so pretty .


Rasanya hari ini adalah hari bahagianya seorang Abelrta Gourich Guston. Dan sekarang, saat ia berdiri dengan kakinya didepan banyak orang, tepuk tangan yang meriah dan sorakan selamat langsung menyambutnya. Penghargaan yang bertuliskan namanya itu, ikut berfoto mengabadikan momen indah hari ini.


Ayahnya bahkan sampai menangis bahagia melihat Abel dengan senyumannya berdiri diantara para guru-guru yang menjabat tangannya. Dan tak selesai sampai itu saja, karena sekarang dia harus mengikuti pesta kecil-kecilan yang sudah disiapkan di aula.


"Ehem, yang barusan dapet penghargaan nih yeee!!" goda Falida yang mendekati Abel dengan minuman ditangannya.


Abel tertawa kecil melihat Falida yang ikut menggodanya seperti yang lain. Bahkan akun media sosialnya sudah penuh dengan ucapan selamat untuknya. Tak tau kenapa, setelah masalah bersama Clara selesai langsung followers miliknya ikut naik. Melepas masa SMA yang indah, walaupun hanya setahun dia merasakan kebahagiaan di SMA ini.


"Nanti tuan Acarl bakal kasih apa nih!! Denger kabar lo lulus aja dah di ajak camping di pinggir danau. Kalo pulang bawa penghargaan kayak gini, bakal dikasih apa yaww!!!!" goda Falida yang sungguh membuat Abel ingin menyumpal mulut Falida dengan garpu yang ia pegang.


"Lalu, apakah tuan Adrian Ariens juga akan kasih kado untuk lo yang lulus dengan nilai terbaik di jurusan IPA?" serangan balik dari Abel. Tentu saja tawa langsung terdengar dan itu membuat pipi Falida memerah saking malunya.


Secara garis besar, Abel belum tau masalah Falida. Tapi tentu saja jika dilihat dari reaksi Falida, dapat Abel putuskan bahwa ada suatu kejutan diantara Rian dan Falida sendiri. Abel hanya harus sabar untuk menunggu Falida ataupun Rian yang akan bercerita terlebih dahulu.


Pesat berjalan sesuai dengan rencana para guru dan penyelenggara acara. Dan sekarang, saatnya untuk Abel kembali pulang dengan ayahnya yang amat sangat dia sayangi. Tak hentinya juga ayahnya itu mengusap kepala Abel dengan bangga. Padahal dalam perjalanan juga, ayahnya masih menitikan air mata. Tentu saja itu membuat Abel tak kuasa menahan dirinya yang sebenarnya juga sangat berperasaan ini.


"Ayah, mau sampai kapan ayah menangis? Kan Abel juga pengen nangis juga nih jadinya." ujar Abel dengan kalimat akhirnya memelan, seperti sedang menahan isakan yang hampir saja keluar.


Tertawa kecil terdengar setelah Abel mengucapakan itu. Dan dilihatnya, seorang Tuan Guston ini tersenyum dengan bangganya. "Ayah sangat senang hari ini. Putri ayah, menjadi nomor satu, bukan hanya dia hati ayah tapi juga nomor satu di kehidupan nyata." ujar tuan Guston sembari fokus pada jalanan yang lumayan macet hari ini.

__ADS_1


Abel tersenyum, mendapati ayahnya bangga saja dia sudah senang. Dan sekarang, dengan kalimat seorang ayah yang tulus terdengar di telinganya. Tentu saja hal ini mampu membuat Abel mau tak mau harus ikut menitikan air matanya. "Ayah, itu semua kan karena ayah. Kalau saja ayahku bukan ayah ini , belum tentu aku akan seperti ini kan, Yah?" jawab Abel membuat seisi mobil tertawa.


Syukurlah kalau ini adalah akhir yang bahagia, tapi Abel sungguh tidak mengerti dengan semuanya. Selama hampir satu tahun lamanya, kebahagiaan langsung ia dapatkan. Bukannya tidak senang, tapi mengingat akan keterpurukannya saat masih menjadi Abel si perebut lelaki orang waktu itu. Sungguh, aneh jika dibilang ini adalah balasan yang baik atas salah paham semua orang, tapi Abel masih bingung jika harus menerima kebahagiaan secara mendadak seperti ini.


Bertemu dengan Acarl, jatuh cinta dengan Acarl, Banyak teman yang mulai mendekatinya, Clara yang dulunya sangat membencinya langsung berubah seakan dia adalah kakak yang baik dan juga yang paling penting Abel dicintai oleh Acarl.


Jika ini akhirnya, apa boleh kalau Abel berhenti disini saja? Hidup adalah masalah, jadi jika ini kebahagiaan Abel maka Abel ingin sekali untuk diam disini menikmati kebahagiaan ini. Cukup sudah Abel menderita, dan sekarang apakah dia harus memiliki masalah lagi disaat dia sudah merasa bahagia?


Waktu berlalu mengalir dengan indahnya, sampai akhirnya Abel tiba di mansion Acarl setelah kejutan dari ayahnya sudah ia terima. Berjalan dengan anggunnya, Abel merasa dirinya akan mendapatkan kejutan dari sang pujaan hati. Dan benar saja, karena mansion ini disulap bak restauran bintang lima bahkan lebih. Karena apa? karena saat pertama kali masuk Abel sudah disambut para pelayan yang berjejer dengan pakaian formal yang terkesan elegan.


Abel dituntun menuju taman belakang mansion, dan disitu Abel menemukan boneka besar dengan lampu dibawahnya sebagai sinar di gelapnya taman belakang. Abel dituntun lagi mengitari taman dan sampai menemukan bunga-bunga yang bertaburan di bawah seakan menunjukkan jalan yang harus Abel lalui.


Saat lilin-lilin dan bunga-bunga terlihat, disitu juga si pelayan berhenti mengantarkan Abel. Dan memberitahu Abel bahwa gadis itu harus berjalan sendiri sampai ujung taburan bunga berakhir. Benar-benar dugaan Abel kalau Acarl akan bertindak memang benar. Pria itu tak habis-habisnya memberi hadiah untuknya.


Abel tertawa kecil mengingat dirinya akan dituntun bunga mawar ini ke atap mansion, tempat dimana dia dan Acarl terlihat akrab dengan hadiah Acarl berbagai makanan khas Italia yang amat dia sukai itu. Dan sekarang, ia akan diberi kejutan lagi oleh Acarl di tempat yang sama dengan suasana yang berbeda tentunya.


"Acarl, aku nggak bisa terkejut lagi dengan ini semua." ujar Abel dengan tawa kecilnya setelah melihat candle light dinner yabg sudah tertata rapi di depannya.


Namun tak berapa lama, tiba-tiba ada angin dan membuat semua lilin mati. Dengan smirknya, Abel mencoba untuk berpura-pura terkejut dan ketakutan. Karena Abel sungguh paham dengan gaya Acarl memberinya hadiah.


"Huaaa! Acarl! Kenapa lilinnya mati? Aku tidak suka gelap Acarl!" pekik Abel yang pura-pura ketakutan.


"Aktingmu terlalu terbaca sayang, walau tak melihatmu saja aku bisa menebak kalau itu pura-pura." bisikan dari belakang Abel membuat Abel tak sengaja mengeluarkan tawanya.


Abel memutar tubuhnya, direntangkan tangannya itu untuk memeluk pria yang ada didepannya. "Apa kamu hobi bikin aku terkejut?" tanya Abel membuat Acarl mengeluarkan smirknya walaupun tidak bisa dilihat oleh Abel.


"Happy birthday Abelrta Gourich Guston."


Deg...


Seketika Abel mematung mendengar kalimat itu. Sungguhkah? Benarkah? Tanggal berapa ini? seingatnya hari ini bukanlah ulang tahunnya! Apa Acarl mendapatkan info yang salah? Seorang Acarl?


"Selamat menuju delapan belas tahun sayang, malam ini ayo lukis kenangan di detik terakhir melepaskan tujuh belas tahunmu." bisik Acarl lagi membuat Abel menelan ludahnya. Tanpa diperpanjang lagi, bibir hangat langsung menempel indah dibibir Abel.

__ADS_1


Lilin yang mati, kini tergantikan lampu-lampu kecil yang menyala menyinari keduanya ditengah sinar bulan yang malu-malu menampakan wujudnya. Acarl melepas perlahan bibirnya, lalu menatap wajah Abel yang masih sama sejak pertama kali bertemu.


"You are the best in my life. " bisikan itu kembali disambut dengan ciuman yang lebih dalam daripada tadi. Abel yang tak menyangka bahwa besoklah ulang tahunnya, kini mulai mengalungkan tangannya di leher Acarl.


"Aku bahkan lupa dengan ulang tahun ku." ujar Abel disela ciumannya.


"Aku akan mengingatnya untukmu."


Acarl yang menyudahi ciumannya tadi, kini menggiring Abel ke kursi yang sudah disiapkan. "Makanlah yang banyak, karena malam ini adalah malam yang panjang untuk kita." ujar Acarl membuat Abel tersedak ludahnya sendiri.


Sungguh, kalimat Acarl terlalu ambigu untuk ia cerna. Dan itu membuat Abel sedikit merinding karenanya. Dasar Acarl yang senang melihat wajah panik Abel, memilih untuk membuat gadis itu seperti kelabakan sendiri. Terbukti dengan Abel yang sekarang makan dengan cepat seperti terburu-buru. Sedangkan Acarl menahan tawanya melihat gadisnya yang amat sangat seperti anak kecil yang akan diajak ke dokter.


"Wah, aku sudah selesai makan. Sepertinya aku akan ke kamar dan mandi, lalu tidur." ujar Abel setelah meletakan garpu dan sendoknya.


Acarl yang sudah tidak tahan, langsung saja menarik tangan mungil itu dan akhirnya tubuh mungil Abel menempel sempurna di dekapan Acarl. "Nyonya Xelone, ada kata yang terlewat tadi. Kamu akan ke kamar, lalu mandi, lalu bersamaku menikmati malam sampai akhirnya kita tertidur." ujar Acarl yang meralat kata-kata Abel tadi.


"Ha ha ha," tawa renyah Abel sebelum tubuhnya diputar dan menempel lah benda hangat dan kenyal dibibirnya.


Benar-benar membuat Abel terlena, sampai akhirnya tubuh Abel melayang dengan kakinya yang mengapit pinggang Acarl. Sementara Acarl, perlahan mulai melangkahkan kakinya menuju lift yang akan membawa mereka ke tempat dimana seharusnya mereka berada sekarang.


Ciuman itu perlahan turun ke leher Abel sampai akhirnya tubuh mungil Abel jatuh di kasur yang empuk milik tuan Acarl Xelone. "Izinkan aku," ujar Acarl yang sudah dipenuhi kabut lelaki dimatanya. Abel menatap mata itu, dan perlahan kepalanya mengangguk bak sedang dihipnotis. Perlahan tapi pasti, Acarl memulai aksinya dan membuat Abel menyanyi di dalam kamar dengan cahaya bulan yang kini sudah muncul menyambut mereka.


Hai semuanya 👐


Aku sebagai author KPdAM mengucapkan terimakasih buat yang sudah mengikuti KPdAM dari awal🤗


Sekian dari aku, dimana disini aku menyuguhkan kisah pertemuan Acarl dan sesuai dengan judul dimana mereka yang saling melindungi dan saling memiliki😙


Insyaallah, aku sebagai author akan membuat season kedua untuk KPdAM😚


Tungguin ya👌


See you later:)

__ADS_1


__ADS_2