
Hari keempat yang sama saja seperti hari-hari sebelumnya. Di siang hari yang sama membosankan nya seperti kemarin-kemarin. Itu yang dirasakan Abel saat ini, hanya termenung diam sambil melihat Acarl yabg berkutat dengan laptopnya.
"Aaaaa, kenapa harus ke resort kalau ujung-ujungnya anda masih mengerjakan pekerjaan anda!" batin Abel bergemuruh .
Abel bangkit dari keterpurukannya karena menunggu Acarl sampai selesai bekerja. Berjalan mengelilingi kamar Acarl, Abel melihat-lihat banyak buku tertata di rak buku. Bahkan yang menjadi fokusnya saat ini karena ada buku novel remaja . "Apa seorang seperti dia suka baca buku seperti ini?" batin Abel bertanya.
Abel mengambil buku itu dan melihat setiap inci cover buku itu, dan matanya terpaku dengan judul buku yang menarik perhatiannya. Buku berwarna pink dengan gambar dua pasang kekasih yang memakai baju kantor. Senyum geli terbit di wajah Abel setelah melihat buku itu, bahkan dia sampai melupakan rasa bosan yang dialaminya tadi.
"Cintaku turun pada asistenku, buku yang menarik untuk seorang seperti tuan Acarl." batin Abel tertawa setelah membaca judul buku itu.
Abel membaca-baca halaman perhalaman buku itu, sampai akhirnya dia hanyut dalam novel itu. Bahkan dia sampai bergonta-ganti gaya seiring perasaannya saat membaca novel itu.
"APAA!! BAGAIMANA BISA Diaa.."
Pekikan yang keras itu berhasil membuat Acarl yang gila kerja menjadi teralihkan perhatiannya pada Abel. Acarl yang dari tadi tidak memperhatikan Abel, menjadi terkejut saat melihat buku keramatnya berada ditangan mulus Abel. "BUKU ITU!!!" pekik Acarl dalam hati.
Mata Acarl membola melihat Abel yang juga melihatnya. Tapi tatapan Acarl tertuju pada buku novel yang ada ditangan Abel. Acarl bangkit dari duduknya dan melompati meja didepannya bak super hero yang melihat penjahat. Abel yang melihat Acarl,makin tercengang sampai-sampai mulutnya terbuka.
Acarl yang sudah berada didepan Abel, segera merebut paksa buku novel keramatnya. Sedangkan Abel yang masih memandang Acarl, langsung tersadar karena benda di tangannya merasa ditarik paksa.
Abel mengerjapkan matanya, "Matilah aku !!" batin Abel.
Acarl yang sudah menaruh buku keramatnya di tempat aman, langsung melirik sinis pada Abel. Abel menelan ludahnya kasar karena lirikan tajam Acarl yang seakan mengiris sisa hidupnya saat ini juga.
Dengan tatapan tajamnya, Acarl berjalan mendekat pada Abel yang masih duduk ditempatnya. Acarl membungkukkan tubuhnya agar wajahnya berada tepat di depan wajah Abel. Abel memundurkan kepalanya , merasa oksigen semakin menipis seiring Acarl mendekat padanya.
Acarl secara tiba-tiba, meletakkan tangannya di sandaran kursi Abel. Dan itu semakin membuat nyali Abel menciut. saking terkejutnya, Abel sampai memejamkan matanya dan memalingkan wajahnya. Bulu kuduk merinding yang dirasakan Abel saat ini, karena nafas hangat Acarl menerpa halus di telinga Abel.
"Apa kau tidak bisa meminta izin sebelum bertindak ditempatku?" bisik Acarl tepat ditelinga Abel. Abel yang tadinya memejamkan matanya, menjadi membuka matanya dengan nafas terengah-engah seakan tercekik dengan bisikan Acarl.
Acarl menegakkan tubuhnya dan melihat Abel yang masih memalingkan wajahnya. Sudut bibirnya terangkat sebelah, melihat Abel yang entah kenapa ketakutan sekali. Padahal tindakannya tadi hanya karena dia malu rahasianya terbongkar ditangan Abel. Rahasia dimana dia suka membaca novel romantis , walaupun sekarang sudah tidak lagi. Tapi jika ada yang mengetahuinya,tetap saja dia malu.
Acarl berbalik kembali menuju meja kerjanya, sedangkan Abel yang sudah merasa tidak ada orang didepannya langsung menolehkan kepalanya kedepan. Dilihatnya Acarl yang sudah kembali berkutat dengan laptopnya seperti tidak ada kejadian apa-apa.
__ADS_1
"Kamu gila Abel! kenapa berani-beraninya kamu berbuat seperti itu dan bahkan di tempat Tuan Acarl itu!" batin Abel berteriak.
...----------------...
Diruang makan yang ramai, Abel memakan makanan dalam diam. Bahkan lebih diam dari diamnya yang biasa. Rasa canggung tentu masih melekat dirasa Abel, jadi dari tadi dia tidak berani melihat kearah depan . Takutnya jika tatapannya akan bertemu dengan Acarl selalu menghantuinya.
Srettt....
Tangan Abel yang tadinya ingin meraih gelas minumnya, merasa ditarik seseorang dibelakangnya. Gadis berkepang dua tersenyum manis setelah Abel menolehkan kepalanya menghadap pelaku penarikan tangannya itu. Bahkan senyum Abel juga ikut terpatri karena melihat gadis menggemaskan itu.
"Keira?" sapa Abel dengan senyum yang manis sampai-sampai matanya tidak terlihat. Gadis yang disapa Keira itu juga tersenyum manis seperti Abel.
"Kakak cantik, akhirnya kita bertemu." ujar Keira seraya tangan mungilnya masih menggenggam tangan kanan Abel.
Abel yang gemas, mencubit hidung Keira pelan . Lalu memutar tubuhnya agar menghadap ke arah Keira . "Aaaa kamu menggemaskan sekali ,sih!" kata Abel dengan tangan masih menguyel-uyel pipi tembam Keira.
"Kakak cantik, apa kakak tau jika pipiku akan hilang kalau kakak terus mainkan seperti ini?!" kesal Keira pada Abel yang sejak tadi risih dengan perlakuan Abel yang menyakitkan pipinya itu.
Abel tertawa pelan menanggapi gerutuan Keira. Baginya Keira itu bagaimana peri kecil dengan rambut keemasan yang cantik, apalagi dengan rambut dikepang dua itu. Pipi tembamnya yang memerah saat tersenyum itu, juga membuat Abel tidak bisa berkata-kata lagi ingin mendeskripsikan seperti apa lagi.
"Aku mencari kakak, tapi kakak selalu tidak ada. Bahkan aku rela kabur dari kamar agar bertemu kakak." jawab Keira seraya tangan mungilnya dimainkan membentuk lingkaran.
"Apa? tapi aku selalu kesini setiap jam segini," jawab Abel dengan dahi mengernyit , memikirkan apa maksud gadis didepannya yang kabur itu.
"Iya aku tau! Aku kesini jam sepuluh, jadi tidak bisa bertemu dengan kakak!" jawab Keira yang entah kenapa sekarang mengeluarkan ekspresi sendunya yang membuat Abel juga ikut menatap sendu gadis itu.
"Hei, apa kamu sebegitu kangennya sama aku?" tanya Abel yang sekarang kembali tersenyum manis agar gadis didepannya ikut tersenyum lagi.
Benar saja, gadis didepannya itu tersenyum manis. Bahkan dipikir-pikir ingin rasanya Abel membawa pulang gadis didepannya ini . "Iya aku kangen," jawab Keira.
"Kakak, apa kakak sedang kencan?" tanya Keira polos yang langsung membuat bola mata Abel membola, dan entah dorongan dari mana kepalanya menoleh pada Acarl yang juga menatapnya bahkan dari tadi.
"Gadis kecil ini ternyata sungguh mematikan dan jeli sekali!" batin Abel.
__ADS_1
"Aha itu, dia adalah bos kakak." jawab Abel seadanya, karena memang benar begitu adanya.
Mendengar jawaban Abel, helaan nafas lega dan ekspresi yang tenang muncul pada gadis itu seakan jawaban Abel adalah hal yang paling ditunggu-tunggunya.
"Syukurlah," ujar Keira.
"Kakak bos, apa aku boleh meminjam kakak cantik untuk menemaniku? jika tidak boleh, aku akan menculiknya darimu." ujar Keira yang sekarang menatap tajam pada Acarl yang menatapnya bingung. Bahkan bukan hanya Acarl yang bingung, tapi Abelpun begitu.
"Entah kenapa atmosfer sepertinya menghitam."
.
.
.
.
.
Hai semua ❤️
Aku comeback 😭
Kangen nggak sama aku?
Nggak ya? aduh sedih😭
Jangan lupa like, komen dan vote ya 😘
Dukung juga 😁
Sekolah meresahkan, jadi aku jarang up😭
__ADS_1
Makasih masih menunggu 🥳
see you next part:)