Kau Pelindungku Dan Aku Milikmu

Kau Pelindungku Dan Aku Milikmu
Chapter 80


__ADS_3

Sesi bersedih masih berlanjut, dengan Eron dan Rian yang memesan cocktail . Jika Eron dan Rian merayakan kesedihannya, beda lagi dengan Acarl yang bergabunh minum cocktail untuk merayakan kebahagiaannya karena sekarang sudah diresmikan hubungannya dengan Abel.


"Heiiiiii, Acarl si balok es ituuuuu tidak pas untuk Abel yang menggemaskannnn." ujar Eron dengan nada yang sudah meleyot-leyot karena saking mabuknya.


"Ahaaaaaa, memangggg dan Abel harusnya dengankuuuu." jawab Rian tak kalah berbeda dengan Eron.


"Jangan dengarkan mereka, kamu hanya untukku dan aku hanya untukmu." ujar Acarl pada Abel sembari menggenggam tangan Abel yang berada diatas meja. Abel tersenyum dan mengangguk.


Hari semakin gelap, membuat keempat orang tadi harus pulang terutama Abel yang besok ada kelas. Eron dan Rian pulang dengan sopir yang sebelumnya sudah Acarl panggil dari kediaman Eron, sedangakan Acarl tentu saja pulang membawa Abel yang duduk dikursi penumpang disampingnya.


"Dua pengacau sudah hilang," ucap Acarl saat mobil sudah melaju meninggalkan cafe tempat mereka berkumpul tadi.


"Kamu nggak mabuk kan?" tanya Abel saat melihat Acarl yang tadi ikut minum tapi masih terlihat segar saja.


"Aku nggak lemah sama alkohol, jangan khawatir. Akan aku antar kamu sampai rumah kita dalam keadaan tangan dan kaki masih utuh." jawab Acarl yang sesekali menoleh pada Abel.


"Ya haruslah! Aku penggal kamu kalo sampe aku nggak utuh!" jawab Abel dengan nada dibuat seolah sedang mengancam.


Suasana kembali hening, sampai pada saatnya mobil berhenti didepan gerbang mansion yang menandakan bahwa mereka sudah sampai ketujuan dengan selamat. Acarl memasukan mobil sampai pada parkiran di lantai bawah mansion.


"Kenapa firasatku nggak enak ya?" tanya Abel pada dirinya sendiri saat dirinya sudah turun dari mobil.


Masih dalam lamunannya, Abel terkejut saat pundaknya ditepuk seseorang yang amat dikenalnya. Acarl dengan senyumnya mencoba menyadarkan Abel dari tatapan kosong gadis itu. "Kenapa hemm?" tanya Acarl mencoba tersenyum, walau dalam dirinya dia bertanya-tanya juga kenapa Abel terlihat cemas.


Abel menggeleng dan tersenyum. "Enggak gapapa , yuk masuk." ajak Abel pada Acarl yang langsung diangguki pria itu.


......................


Pagi hari cerah, namun penuh rasa cemas. Entahlah, sejak kemarin menginjakkan dirinya di mansion ini Abel merasa cemas tanpa sebab. Sampai sebelum dia tidur semalam saja, Abel masih melamun sampai matanya sendiri yang secara otomatis tertutup.


"Abel!!! sadarlah, sekarang kamu dan Acarl sudah bersama. Okey, tidak akan terjadi apa-apa." gumam Abel menyemangati dirinya sendiri.


Berjalan menuju kamar mandi, Abel segera mempersiapkan dirinya untuk sekolah. Mengabaikan segala pikiran buruk yang sejak semalam menyerangnya.


_____


"Kamu yakin tidak apa-apa?" tanya Acarl setelah mobil berhenti tepat didepan sekolah Abel. Sejak semalam Acarl terus khawatir dengan gadisnya yang tiba-tiba terlihat murung seperti ada sesuatu yang mengganggunya.


"Tidak, aku baik. Semalam kayaknya aku capek, jadi nggak bersemangat deh." jawab Abel dengan tawa kecilnya yang Acarl tau kalau itu. palsu.

__ADS_1


"Baiklah, kalau ada apa-apa jangan ragu untuk memanggilku." ujar Acarl sembari mengusap surai Abel dan mengecup kening gadis itu. Abel kemudian turun dan masuk kedalam sekolahnya. Tepat setelah Abel sudah terlihat lagi, ponsel Acarl bergetar dan menampilkan nama Cheiz yang membuat Acarl langsung mengangkat panggilan itu.


"Halo," sapa Acarl terlebih dahulu.


"Tuan, ada kabar buruk untuk anda." jawab Cheiz to the poin.


"Katakan!"


"Seperti prediksi kita, gadis itu sudah pulang kenegara ini sejak kemarin." ucap Cheiz di seberang menjelaskan maksud dari dirinya yang menghubungi Acarl.


"Baiklah, sesuai rencana kita. Dan pastikan jangan sampai dia bertemu Abel," jawab Acarl lalu memutuskan panggilan sepihak.


Acarl menghela nafasnya sebelum akhirnya kembali melajukan mobilnya menuju kantor. Pikiran-pikiran berkecamuk terus menghantui Acarl, membuat pria itu sedikit khawatir jika dia pergi ke kantor dan meninggalkan hartanya, harta berharganya. "Abel, aku tidak akan membuatmu terluka."


Disisi lain, seorang gadis dengan high heels merah menyala memasuki kantor yang terlihat sedikit ramai karena banyak yang baru datang ke kantor. Mengamati setiap sudut kantor yang sudah lama tidak dia lihat, gadis itu berjalan menuju lift tanpa ada persetujuan dari resepsionis. Bukan pemilik kantor, namun karyawan kantor banyak yang takut padanya.


Sekretaris Lea yang bertugas didepan ruangan Acarl, mendengar langkah kaki yang semakin mendekat. Langkah kaki dengam irama dari high heels, membuat Sekretaris Lea langsung melihat seseorang yang baru datang itu. Matanya membola saat mendapati seorang gadis yang hampir dua tahun ini tidak muncul dan sekarang gadis itu ada didepannya, tepat didepannya dengan penampilan yang masih sama sejak dua tahun yang lalu.


"Selamat pagi Sekretaris Lea," sapa gadis itu dengan senyumnya. Tentu saja menghilangkan rasa gugupnya, Sekretaris Lea tersenyum dan membalas sapaan dari gadis itu.


"Nona, Tuan belum sampai." ucap Sekretaris Lea pada gadis yang menatap pintu ruangan Acarl yang langsung terbaca jika gadis itu ingin masuk kedalam ruangan itu.


Noara Palvison, nama gadis yang ditakuti hampir semua orang. Tahta nya, juga tindakannya. Noara adalah anak kedua di keluarga Palvison, sifatnya yang terlihat ramah berbanding terbalik jika ada yang membuatnya marah sedikit saja. Sampai akhirnya sifat itu terus melunjak, membuat Noara diasingkan ke negara lain meninggalkan negara asalnya.


Tringg....


Suara telepon kantor berdering, membuat kedua orang yang berdampingan itu seketika mengalihkan pandangannya pada telepon itu. Sebagai sekretaris, Sekretaris Lea langsung mengangkat panggilan itu.


"Maaf Nona, Tuan Acarl tidak datang ke kantor karena ada meeting ditempat lain." ucap Sekretaris Lea saat selesai menerima panggilan itu.


"Sayang sekali, kalau begitu terimakasih Sekretaris Lea." jawab Noara dengan senyumnya dan dibalas senyuman juga oleh Sekretaris Lea.


"Apa dia sudah berubah?" batin Sekretaris Lea saat Noara meninggalkan tempatnya tadi.


Noara dengan langkah tegasnya meninggalkan kantor Acarl. Satu tempat yang harus dia tuju, tapi sebelum itu Noara harus kembali kerumahnya dulu sebelum kesana. Mempersiapkan semua barang yang harus dia bawa.


_____


"Huaaaa capek!!" pekik Abel saat jam istirahat sudah datang. Ingin sekali memakan Lasagna kesukaannya di kantin ini, tapi mengingat kalau ini seharusnya libur Abel jadi sedih karena semua kantin tutup.

__ADS_1


"Bener banget, gue juga capek!!" sahut Falida yang juga merasakan apa yang Abel rasakan.


Sekolah kilat membuat mereka harus berkerja ekstra. Dimana setiap satu jam mereka harus berganti mata pelajaran. Kalau saja bukan demi Acarl, pasti Abel akan menolak hal beginian.


"Semangat!!" gumam Abel menyemangati dirinya sendiri. Gumaman itu di dengar oleh Falida, gadis itu tentu saja menatap heran pada temannya yang tiba-tiba bisa sesemangat ini bersekolah.


"Tumben amat semangat beginian," sindir Falida membuat Abel sedikit gelagapan dan hanya menyengir.


"Eh iya, lo kayaknya baik-baik aja tinggal bersama tuan Acarl." lanjut Falida membuat Abel terdiam dan menatap Falida dengan tatapan bertanya.


"Hah??"


"Ck, iya lo keliatan biasa aja. " decak Falida melihat temannya tiba-tiba aneh.


"Hehehe, ada yang gue sembunyiin dari elo. Kalo ada waktu, kita ke cafe biasa ya." jawab Abel. Abel sudah yakin kalau dirinya harus memberitahukan hubungannya dengan Acarl pada Falida. Rasanya sangat gatal lidah Abel untuk mengatakannya.


"Wahh, ternyata lo begitu ya!" kesal Falida yang ditanggapi tawa kecil dari Abel.


Percakapan mereka berakhir saat bella masuk sudah berbunyi. Berjalan bersama, Abel dan Falida menuju kelas masing-masing untuk menyelesaikan misi mereka berdua yang memilih sekolah kilat.


.


.


.


.


.


Hay semua ❤️


Aku comeback 😅


Jangan lupa like, komen dan vote ya 😙


Dukung wajib 😁


See you next part:)

__ADS_1


__ADS_2