Kau Pelindungku Dan Aku Milikmu

Kau Pelindungku Dan Aku Milikmu
Chapter 117


__ADS_3

Dalam mobil yang sama, Falida masih bengong karena perkataan nyonya Ariens tadi. Sungguh, dia merasa antara senang dan bingung. Senang jika dia dijodohkan dengan Rian, tapi bingung untuk menghadapi Rian yang sudah dipastikan masih memiliki rasa suka pada Abel.


"Jangan dengarkan apa yang mama katakan." ujar Rian dingin membuat Falida semakin yakin kalau dia tidak akan bisa bersanding dengan Rian yang notabene sangat-sangat menyukai Abel.


"Eumm, kalau boleh tanya emang lo masih mendem rasa suka sama Abel?" tanya Falida yang tiba-tiba saja membuat Rian menghentikan mobilnya mendadak. Beruntung jalanan sudah sepi karena sudah malam. Falida kemudian menoleh pada Rian yang dimana pria itu juga menatap Falida.


Falida menahan napasnya, tak pernah terbayangkan olehnya kalau dia bisa bertatapan dengan Rian begini. "Aaa, maaf kalo gue salah tanya." ujar Falida yang mencoba mencairkan suasana. Tidak enak juga kalau dipandang pria tampan yang sedang menyukai orang lain, bahkan itu sahabatnya sendiri.


Rian menggeleng, dan entah kenapa raut muka Rian terlihat bingung. Kalau seperti ini, benar-benar membuat Falida semakin gemas dengan pria didepannya ini. Saking gemasnya, tangan Falida terulur untuk menyentuh pipi dengan rahang tegas itu. "Apa lo bisa bantu gue biar gue bisa move on?" tanya Rian yang membuat tangan Falida yang hampir sampai di pipi itu berhenti.


"Ya?"


Cup..


wajah tampan pria itu, mendekat dan membuat kecupan di pipi Falida yang sedang terkejut dengan pertanyaan Rian. Tapi pria itu semakin membuatnya terkejut dengan kecupan dipipinya. Sungguh, apakah sekarang Falida sedang bermimpi? atau apapun itu kenapa rasanya seperti nyata?


Suasana hening, namun dengan cepat Rian kembali ke posisinya untuk mengemudikan mobilnya. Sementara Falida masih bengong dengan apa yang terjadi. Apakah seorang Rian sadar akan tindakannya tadi?


flashback off


Kini dua manusia yang masih terlihat canggung itu, mencoba untuk memperjelas tentang kejadian di dalam mobil itu. Khususnya Rian yang melakukannya, dan sekarang dia bilang tidak sengaja?


"Lo tau kan seberapa suka nya gue sama Abel?" tanya Rian pada Falida yang mengangguk-angguk mengerti arah pembicaraan Rian.


"Dan setelah gue melihat seberapa sayang antara Abel dan Acarl, gue rasa gak ada kesempatan lagi buat gue." lanjut Rian dengan menghadap pemandangan luas di didepannya ini. Dan juga Falida yang ikut melihat kota-kota dari rooftop sekolah ini.


"Emm, gue tau gimana rasanya memendam rasa suka." kata Falida mencoba berbagi dengan Rian mengenai pengalamannya sendiri, dan itu terjadi di saat ini. Dia memang memendam rasa suka dan kagum pada Rian, tapi mengingat pria itu menyukai sahabatnya yah...


Rian menolehkan kepalanya melihat Falida dengan rambut panjang yang berkibar akibat angin yang berhembus menerpa mereka. "Saat gue lihat lo waktu di mobil itu, gue juga sempet ngerasa kalo kita ada kecocokan. Ternyata sama-sama sedang memendam perasaan ya?" ujar Rian dengan tawa kecil diakhirnya. Tawa yang dimaksudkan untuk mendeskripsikan kebodohan dirinya sendiri.

__ADS_1


Berbeda dengan Falida yang merasa jantungnya dipompa dengan cepat. Apa maksudnya ketika Rian mengecup pipinya waktu itu, karena merasa ada kesamaan diantara dirinya dan Rian? Tapi, kenapa harus mengecup?


"Y-ya gue nggak salah paham kok. Gu-gue cuman kaget aja waktu itu." ujar Falida terbata-bata. Sungguh, dia malu kalau mengingat kejadian waktu itu.


"Hemm, yah setidaknya lo nggak baperan trus nampar gue. Lo asik." ujar Rian membuat Falida tersenyum canggung, tapi dalam hati sudah berdebar tak karuan. Apalagi ditambah dengan melihat senyum diwajah Rian sedekat ini.


"Udah mau bell, seneng bisa ngobrol sama lo." lanjut Rian yang lalu berlalu pergi meninggalkan Falida yang masih terpaku di tempatnya. Sampai akhirnya ia tersadar dan kembali kekelasnya sendiri.


 -------------


Dress berwarna putih, terlihat sangat kontras dengan warna pasir hitam yang menjadi pijakannya. Ditambah dengan taburan bintang dan angin malam yang berhembus menerpa rambut gadis dengan senyum yang sejak tadi tak pernah hilang.


"Sayang, jangan lari-lari. Nanti perbannya terbang trus lukamu infeksi!" peringat laki-laki yang berjalan mengikuti gadis itu yang berputar-putar dan berlari kecil menyusui pantai.


"Acarl! Aku bukan anak kecil okey!" balas Abel sembari mengerucutkan bibirnya karena merasa seperti mempunyai babysitter yang selalu mengawasinya.


"Kapan lulus sih!? Harus berapa tahun lagi aku menunggu?" gerutu Acarl membuat Abel tertawa. Wajah Acarl yang terlihat menggemaskan, sangat tidak pas dengan umur Acarl yang sudah berkepala dua.


"Aku udah masuk kelas kilat, nggak lama lagi juga lulus." jawab Abel sembari menyenderkan kepalanya didada bidang Acarl. Sungguh posisi yang nyaman saat di gendongan Acarl.


Acarl membawa Abel menuju kamar mandi, dan mendudukkan Abel di kloset untuk membersihkan kaki Abel dari pasir hitam yang menempel karena Abel berjalan dipasir tanpa sandal ataupun sepatu sekalipun. Dan itu cukup membuat Abel malu karena merasa diperlakukan seperti istri sah yang amat disayanginya.


"Apa besok harus pergi sekolah?" tanya Acarl yang sudah selesai dengan kaki Abel. Pria itu masih berjongkok dan menghadap Abel yang juga menatapnya. Abel mengangguk dengan bibir melengkung ke bawah menandakan kalau sebenarnya dia juga sangat ingin menghabiskan waktu bersama Acarl.


"Acarl, kan sebentar lagi aku ada ujian akhir. Kalau tidak masuk, nanti aku tidak lulus. Kalau tidak lulus, apa aku bisa bersamamu?" ujar Abel yang langsung mendapatkan kecupan di bibirnya.


"Apapun yang terjadi padamu, hanya Abelrta Gourich Guston yang bisa menjadi nyonya Xelone selanjutnya." balas Acarl membuat Abel tertawa kecil. Setelah kemudian tubuh Abel kembali melayang karena pria yang tak lain Acarl yang kembali menggendongnya.


Tidak buruk juga diperlakukan seperti ratu, tapi jujur saja itu membuat Abel malu dalam waktu bersamaan. Memiliki Acarl saja masih menjadi pertanyaan untuk Abel, apalagi mendapatkan perhatian dari pria yang mendekati sempurna ini.

__ADS_1


"Terimakasih," ujar Abel saat dirinya sudah mendarat di ranjang empuk yang akan menjadi tempat tidurnya bersama Acarl. Sementara Acarl menggeleng kecil menanggapi ucapan Abel.


"Aku sudah bilang kan? kalau aku suka ucapan terimakasih secara tindakan?" ingat Acarl yang langsung membuat Abel memajukan wajahnya. Bibir mungil miliknya, mendarat sempurna di bibir hangat milik Abel. Tentu saja itu disambut bahagia oleh Acarl.


"Makasih sudah memilihku." ujar Abel disela ciumannya.


"Terimakasih juga karena sudah mau menjadi milikku." balas Acarl membuat keduanya tersenyum bahagia.


.


.


.


.


.


Halo semua 😂


Apa kabar?


Baik kan? Baik lah! masa engga


Jangan lupa like, komen dan vote ya 🤭


Dukung wajib 👌


See you next part:)

__ADS_1


__ADS_2