Kau Pelindungku Dan Aku Milikmu

Kau Pelindungku Dan Aku Milikmu
Chapter 53


__ADS_3

Dalam mansion dan dalam suasana baru yang indah. Dua manusia yang sedang menikmati teh dengan santai di taman itu, seakan membuat mereka terlihat akur dan bersahabat.


Setelah kejadian berpelukan dan menangis tadi, kini Abel dan Acarl bersantai berdua seakan kejadian tadi adalah awal dimulainya mereka untuk berteman. Juga tawa mulai terdengar diantara mereka. Yang semula hanya status bos dan asisten , kini menjadi lebih hangat daripada itu.


"Besok kau bersekolah bukan?" tanya Acarl sebelum menyeruput teh telang miliknya.


Abel membelalakan matanya mengingat besok dia akan bersekolah . Seminggu tidak sekolah, membuatnya lupa jika besok adalah hari Senin. "Huaaaaa aku lupa jika besok aku harus sekolah! Bagaimana ini aku belum menyatat apapun??!!!" panik Abel .


Acarl tertawa pelan melihat Abel yang panik dengan semua yang dia lupakan itu. Sedangkan Abel menatap jengkel pada Acarl yang malah menertawakannya, namun dia menepis segala tawa Acarl untuknya . Kini Abel mulai mencari ponselnya untik menghubungi .... wait!what? siapa yang akan Abel hubungi? Bahkan Falida berbeda jurusan dengannya, dan teman sekelasnya tidak ada yang dekat satu pun.


Abel merutuki dirinya yang melupakan fakta bahwa dia adalah siswi terkucilkan disekolahnya. Abel mengetuk-ngetukkan kepalanya pada ponsel karena bingungnya. Namun tepukan dibahunya menyadarkannya untuk menoleh pada sang pelaku.


"Akan aku beri kau kompensasi," ujar Acarl sembari menunjukan remot kecil untuk memanggil Cheiz. Tak lama Cheiz datang dengan setumpuk buku dan paper bag yang entah apa isinya itu.


"Hai Nona, ini adalah semua catatan yang anda tinggalkan selama seminggu ini. Dan juga ini seragam anda," ujar Cheiz seraya menyerahkan semua yang dibawanya pada Abel.


Abel menatap cengo pada kedua lelaki didepannya ini. Bagaimana bisa dia mendapatkan catatan seminggu ini?


"Sudah kukatakan bukan? Aku akan memberimu kompensasi, dan ini dia kompensasi atas seminggu ini." ujar Acarl menganggapi wajah cengo Abel yang melihat setumpukan buku itu.


Abel mengerjapkan matanya ,lalu menatap terharu pada Acarl. Baginya ini adalah kompensasi terbesar dibandingkan uang, karena dengan semua ini dia tidak ketinggalan masa depan pendidikannya. Ehem, maksudnya ketinggalan jalan untuk menuju lulusnya. Mana mungkin seorang Abel memikirkan pendidikannya selain kelulusan dan pelarian ke luar negri nya.


"Tuan, "


"Itu kompensasi, jangan bertanya aku dapat dari mana." ujar Acarl memotong apa yang ingin dikatakan Abel. Tapi memang benar Abel ingin menanyakan darimana Acarl mendapatkan semua ini, namun niatnya tidak jadi karena Acarl sudah menjawab sebelum Abel bertanya.


Abel mengangguk lalu beralih pada tumpukan buku yang dia bawa itu. Melihat satu persatu buku, dan semua lengkap. Semua mata pelajaran ada semua. Abel seketika takjub dengan Acarl, bahkan Abel saja lupa akan sekolahnya tapi Acarl malah sudah menyiapkannya sampai ke inti-inti nya.


"Terimakasih,Tuan. Sekali lagi anda membantu saya. Bahkan saya saja lupa akan sekolah saya, tapi Tuan menyiapkan sampai sedetail ini." ujar Abel mengucapkan rasa terimakasih yang dalam itu.


Acarl mengangguk menanggapi Abel. Entah kenapa, bersama dan juga membantu Abel itu membuatnya merasa hangat . Apalagi jika melihat senyum terukir diwajah Abel, itu bahkan lebih indah daripada apapun yang pernah disukai Acarl.

__ADS_1


"Apakah Tuan besok ke kantor?" tanya Abel pada Acarl.


"Hemmm... besok aku ke kantor. Jika kau lelah , tidak perlu ke kantor juga tidak apa. " jawab Acarl .


Abel mengerutkan dahinya. Bagaimana mungkin Abel tidak ke kantor karena lelah sekolah? Tapi dari situ, Abel mrndapatkan ide dan menyetujui penawaran Acarl untuk tidak ke kantor.


"Apakah anda pulang malam besok?" tanya Abel lagi dengan menatap mata Acarl seperti berharap akan sesuatu.


Tidak kuat melihat tatapan Abel, Acarl merasakan jika jantungnya sekarang kembali merespon dengan berdegup kencang itu. "Ke-kenapa?" tanya Acarl balik dengan sedikit gugup.


"Itu... saya ingin membuatkan anda makan malam jika anda mau." ujar Abel sambil menundukkan kepalanya tidak berani menatap Acarl lagi.


Acarl yang mendengar Abel, langsung terenyuh hatinya. Desiran darah yang mengalir serasa menghangat bagi Acarl. Apalagi melihat Abel dengan wajah malu-malu itu, membuat Acarl semakin gemas pada Abel.


"Kau mau menyiapkan untukku?" tanya Acarl memastikan lagi. Langsung saja Abel mengangguk pasti berkali-kali.


"Ba.ik.lah ehem...aku akan pulang cepat." ujar Acarl sembari memalingkan wajahnya yang memerah karena sudah tidak kuat menatap Abel. Walaupun Abel menunduk, tetap saja Acarl tidak sanggup terus-terusan melihat Abel.


"Tuan, anda ada jadwal padat untuk besok." ujar Cheiz mengejutkan Acarl dan Abel yang mendengarnya.


"Hah? jadi dari tadi tuan Cheiz belum pergi?"


"Sial! dia melihatku seperti tadi!"


Acarl juga Abel saling tatap , seakan tau jika pemikiran mereka sama. Acarl memutuskan kontak lebih dulu karena harus menjawab Cheiz. "Siapkan saja apapun yang aku perlukan besok!" perintah Acarl yang langsung disetujui Cheiz dengan anggukan.


Cheiz pun pergi karena tau jika situasi saat ini tidak tepat untuknya masih disini. Tinggal Acarl dan Abel lagi yang ada ditaman itu. Berbeda dengan suasana tadi, sekarang canggung mulai terasa. Sebagai lelaki, Acarl mencoba berpikiran untuk mencari topik terlebih dahulu.


"Sampai kapan saya harus disini, Tuan?" tanya Abel mendahului pembicaraan. Acarl kemudian menatap Abel yang sedang melihat bunga-bunga yang ada didepannya.


"Jika sampai selamanya apa kau mau?" jawab Acarl dengan balik bertanya pada Abel. Abel tersenyum menganggapi pertanyaan Acarl. Bukan karena dia setuju, melainkan menurutnya itu hanya candaan dari Acarl .

__ADS_1


"Kau tersenyum, apa kau mau?" tanya Acarl lagi namun dengan sedikit penekanan disetiap kata yang diucapkannya.


"Anda begitu lucu, Tuan. Bagaimana bisa saya disini selamanya? anda juga akan menikah, begitu juga dengan saya." jawab Abel yang lalu menatap Acarl dengan tatapan teduh dan senyum yang manis.


Acarl menghembuskan nafasnya karena mendengar penjelasan Abel. "Jika aku berkata sejujurnya apa kau terima untuk tinggal disini selamanya?" tanya Acarl lagi.


Abel yang semula tersenyum manis, kemudian menatap heran pada Acarl. Senyumnya pun juga sudah hilang berganti wajah penuh tanda tanya itu. "Haha, anda sangat lucu ,Tuan." jawab Abel diselingi tawa renyahnya.


"Apa kau tidak suka disini? Apa yang kau tidak sukai? Apa yang harus aku lakukan agar kau suka disini?" berbagai pertanyaan keluar dari mulut Acarl yang semakin membuat Abel kebingungan sendiri.


"Ada apa dengan Tuan? Dan kenapa dia memasang wajah serius seperti itu?"


.


.


.


.


.


Hay semua ❤️


Aku comeback 😅


Jangan lupa like, komen dan vote ya😙


Dukung juga boleh 😁


see you next part:)

__ADS_1


__ADS_2