
Sampai di resort yang dituju, Abel ternganga melihat resort yang dia ketahui jika ini milik Acarl. Resort dengan pemandangan laut yang menyatu dengan pasir putih yang indah dan suguhan gunung yang melintang dibelakangnya. Bahkan sampai turun dari mobil, Abel masih melihat kagum resort itu.
"Wow! inikah resortnya? "batin Abel sambil mengamati setiap inci resort.
Acarl yang melihat Abel terpaku pada resort didepannya semakin mengerutkan dahinya. Menurut yang dia tau, keluarga Guston itu keluarga dengan kekayaan yang berlimpah juga, tapi kenapa melihat reaksi Abel malah berbanding terbalik seperti gadis itu tidak pernah menikmati resort.
"Ehem, Abel!" kejut Acarl untuk menyadarkan Abel dari tatapan kagumnya. Abel yang merasa terpanggil namanya langsung mengakhiri aksi terpesonanya. Dengan malu , dia menoleh pada Acarl.
"Ah, iya Tuan?" jawab Abel dengan senyum canggungnya karena menahan malu kepergok oleh Acarl.
Acarl semakin tertarik dengan sosok Abel yang tingkahnya ada saja menurutnya. Bahkan senyum canggung Abel mampu membuat Acarl yang tidak bisa tersenyum, menjadi tersenyum tipis. Sanga~t tipis.
"Apa kau punya sapu tangan?" tanya Acarl.
Abel dengan sigap merogoh saku jas gaya kantornya, dan mengambil sapu tangan yang selalu stay disana. "Ada , Tuan." jawab Abel sambil menyodorkan sapu tangan yang sudah diambilnya.
"Bukan untukku, tapi untukmu. Air liur mu hampir menetes kebawah." goda Acarl . Setelah mengucapkan itu, Acarl berbalik dan berjalan meninggalkan Abel yang saat ini tambah malu.
Acarl yang berjalan mendahului , membuat Cheiz segera mengejar Acarl dan meninggalkan Abel sendiri . "Tuan, tapi nona Abel masih dibelakang." ujar Cheiz pada Acarl .
"Apa kau pikir aku bodoh? Dia pasti akan tanya resepsionis kan?" jawab Acarl. Cheiz yang baru sadar langsung mengangguk dan mengikuti Acarl.
Tapi saat mereka sedang berjalan menuju kamar, Abel dengan tergesa langsung berlari menyusul Acarl dan Cheiz. Walau masih dalam keadaan malu, Abel masih berfikir jernih . Sesampainya di dekat Acarl dan Cheiz , Abel mengatur nafasnya yang ngos-ngosan karena berlari. Bayangkan saja, saat ini Abel dengan pakaian formal jas dan rok selutut khas orang kantor, berlari padahal menggunakan high heels .
"Apa kau dikejar hantu lagi?" tanya Acarl saat melihat Abel sudah ada didekatnya. Abel menggelengkan kepalanya dan menundukkan kepala karena rasa malu masih menjalar jika dia melihat Acarl .
"Baiklah, nona Abel. Kurasa kau bisa datang ke ruangan ku sebentar. Ada yang ingin ku tanyakan padamu." ujar Acarl datar ,Abel yang mendapat perintah langsung menatap Acarl . "Baik , Tuan." jawab Abel.
Sepanjang perjalanan menuju ruangan Acarl, Abel melihat-lihat interior resort yang dipikirnya sangat indah dan simpel. Saking kagumnya, Abel tak sadar jika sudah sampai di ruangan Acarl. Di posisi Abel yang berjalan membuntuti Acarl, membuat Abel menabrak Acarl yang berhenti secara mendadak.
__ADS_1
"Aww..." pekik Abel yang langsung membuat Acarl menoleh kebelakang. Abel sendiri mengusap-usap dahinya yang membentur punggung Acarl.
"Maafkan saya,Tuan." ujar Abel saat melihat Acarl yang menatapnya. Tanpa menjawab, Acarl hanya menatap Abel dengan datar.
Abel yang melihat tatapan datar Acarl langsung menunduk. "Dia benar-benar menakutkan! bahkan hanya dari tatapannya aku tau itu menakutkan." batin Abel berteriak.
"Ehem... bisakah kau melihatku sekarang?" tanya Acarl menginterupsi kegiatan membatin Abel. Abel langsung sigap dan menghadap Acarl. Saat setelah Abel menatap Acarl, dahi Abel tiba-tiba tertempel sebuah kertas . Walau terkejut, Abel segera mengambil kertas itu dari dahinya.
Ternyata bukan kertas biasa yang menempel didahi Abel, tetapi amplop putih dengan logo ...... "Tunggu sebentar!!! bukankah ini logo SMA ku?" batin Abel setelah melihat luar amplop.
Dengan cepat, Abel segera membuka amplop yang membuatnya penasaran apa isinya. Amplop sudah terbuka, Abel segera membaca setiap inci ketikan di kertas itu. Matanya membola saat dalam surat itu tertulis bahwa Abel diberi izin bercuti selama lima hari .
"Itu adalah surat duplikat dari surat izin untuk kelasmu." ujar Acarl tiba-tiba , namun ucapan Acarl mampu membuat Abel melongo tak percaya dengan apa yang dilakukan Acarl padanya.
"Maaf ,Tuan. Bukankah kita disini hanya sehari?" tanya Abel yang merasa bingung dengan jalan pikir Tuannya ini. Apa yang harus dia lakukan selama itu? bahkan ini dengan Acarl .
"Jika aku ingin kau bisa apa?" ujar Acarl dengan muka menantangnya. Abel langsung diam, seperti mengiyakan apa yang dikatakan Acarl.
Abel menatap indahnya pantai dari balkon kamarnya. Yap , sekarang Abel sudah berada di kamarnya. Kamar yang bersebelahan dengan Acarl. Abel sendiri terpaku dengan indahnya ombak pantai yang menggulung ke arah pesisir pantai. Tiba-tiba Abel menyadari segala hal yang sudah terlewatkan untuknya.
"Aku bisa menikmati semua ini dari awal, dari resort sampai keindahan seperti ini. Tapi aku harus menabung untukku." gumam Abel sambil memandangi beberapa orang yang berlarian ditepi pantai.
Tak terasa buliran bening menetes dari mata Abel, membayangkan seandainya semua hal yang dia jalani sesuai dalam normalnya manusia. Dari keluarganya saja sudah tidak normal menurutnya. Hidupnya penuh dengan kebohongan, untuk menutupi semua hal yang terjadi dikeluarganya.
"Ayah, aku capek sekarang! Kapan aku hidup damai? hiks... " tangis Abel pecah, namun tidak bersuara . Hanya air matanya yang menetes mengalir di pipinya.
Abel tiba-tiba teringat satu hal tujuannya hidup. Dia ingin pergi keluar negri dan menjalani hidupnya diantara manusia normal lainnya. Itu tujuannya dari dulu. Mempelajari bahasa-bahasa dan menabung, semua itu untuk hal yang ingin dilakukan Abel suatu saat nanti. Abel menyeka air matanya setelah teringat tujuan hidupnya. Kembali tersenyum dan bersemangat lagi.
Abel tidak menyadari jika semua yang terjadi padanya tadi disaksikan langsung oleh seseorang yang menyelonong masuk tadi. Acarl.
__ADS_1
Acarl yang menyelonong masuk ke kamar Abel untuk memanggil gadis itu untuk turun, malah disuguhi pemandangan yang menyedihkan. Bahu bergetar Abel yang terlihat dari belakang , ditambah gumaman Abel yang lumayan keras membuat Acarl tau kesedihan yang dirasakan Abel.
Acarl yang melihat Abel kembali menegakkan tubuhnya, langsung berbalik dan menutup pintu kamar Abel. Dia berpikir jika Abel saat ini pasti ingin sendiri dahulu. Dan dia jadi tau kenapa Abel yang dikatakan anak pengusaha, tapi merasa tercengang saat melihat resort miliknya ini.
Kembali menuju kamarnya, Acarl menuju balkon. Sebenarnya, dia hanya ingin melihat Abel. Tapi tak disangka , ternyata Abel sudah masuk kedalam kamarnya.
"Kau gadis yang menarik." batin Acarl.
.
.
.
.
.
Hai semua ❤️
Jangan lupa like, komen dan vote ya😙
Eh dukung juga😂
Maaf kalo aku up jarang-jarang 🥺
Maklum masih cekulah, tugas menumpuk😭
Maafin aku ya semua😭
__ADS_1
See you next part:)