
"Maaf ,Tuan. Apa maksudnya ini?"
.
.
.
.
.
Mata Abel membola saat melihat dengan jelas terpampang tugas yang harus dia kerjakan . Melihat sekali lagi untuk memastikan, Abel menatap Acarl tidak percaya.
"Tuan, kenapa saya harus menjadi pasangan anda saat ada acara? saya hanya asisten bukan?" tanya Abel pada Acarl. Acarl yang sudah siap untuk pertanyaan itu pun segera menjawab.
"Aku tidak suka dengan orang lain." jawab Acarl dingin.
"Padahal saya juga orang lain untuk anda" gerutu Abel dalam hati.
Mulai membaca lagi semua yang tercatat, Abel menelusuri tugas yang tertulis sampai lima lembar itu. Tugas Abel dari awal sampai akhir. Semuanya yang tercatat hanya pernyataan gaji itu yang menguntungkan Abel, sedangkan yang lain sangat merugikan. Memang benar kenapa semua orang takut dengan Acarl.Ternyata ini lah sebabnya.
"Baiklah,Tuan. Saya sudah membaca semuanya. Saya rasa saya sanggup dan apakah saya boleh bertanya pada anda?" ujar Abel seraya bertanya juga pada Acarl.
"Apa yang ingin kau tanyakan?" ujar Acarl balik bertanya pada Abel.
Masih menimang-menimang apa dia harus bertanya, Abel memainkan jarinya karena bimbang. Acarl sendiri yang melihat Abel, merasakan jika hal yang akan ditanyakan Abel pasti berhubungan dengan izin darinya.
"Emm... Tuan....apakah saya boleh bertemu dengan Ayah saya?" tanya Abel setelah selesai bertaruh dengan pemikirannya. Dugaan Acarl benar, dia dengan tanpa mempertimbangkan lagi langsung mengangguk.
Senyum binar langsung tercetak jelas diwajah Abel. Senyum yang sama saat Abel tersenyum dengan Eron. Tanpa diketahui, Acarl menyunggingkan senyumnya. Walaupun tipis namun itu tulus dari diri Acarl.
Setelah kembali seperti semula, Acarl berhenti juga menyunggingkan senyumnya. Masih menatap Abel yang kini menutup dokumen didepannya, Acarl tersadar akan satu hal yang harus dia katakan pada Abel.
"Abel" panggil Acarl pada Abel. Si empunya nama langsung mengangkat wajahnya dan menatap Acarl.
"Ya ,Tuan." jawab Abel dengan senyumnya.
Mendapat senyuman dari Abel lagi, membuat Acarl merasakan panas dipipinya. Abel yang melihatnya langsung panik dan menghentikan senyumnya.
__ADS_1
"Astaga ,Tuan. Apakah anda sakit? Apa anda demam? muka anda memerah." ujar Abel saking paniknya. Tanpa diduga, Abel langsung berjalan memutari meja dan mandekati Acarl, tangannya dengan reflek mendarat di kening Acarl lalu balik ke keningnya sendiri.
"Sama" gumam Abel setelah memastikan suhu Acarl sama dengan dirinya.
Acarl yang tak siap dengan sikap Abel, langsung mengalihkan pandangannya kearah samping. Mengatur nafasnya, lalu berbalik menatap Abel lagi. "Aku baik-baik saja" ujar Acarl dingin.
Sedikit hening, seketika menyadarkan Abel akan posisinya saat ini. Dia membungkukkan badannya dengan wajah tepat di depan Acarl. Mata Abel melotot dan segera mungkin dia bangkit dan jatuh tepat di sofa samping Acarl.
"Waaaaa!! .... ma-maafkan saya ,Tuan" ujar Abel setelah berteriak tak jelas karena terjungkal kebelakang.
Acarl yang melihat reaksi Abel pun berusaha keras untuk menahan tawanya. "Sial! ada apa dengan gadis ini? " gerutu Acarl dalam hati.
"Baiklah. Ehem..... ada hal yang ingin ku beritahukan secara langsung padamu. Ini mengenai tugasmu juga." ujar Acarl mulai serius setelah menjawab permintaan maaf Abel .
Mata Abel langsung melihat jika saat ini Acarl sedang serius. Abel yang mengerti situasi, dia juga langsung mendudukan diri dengan serius juga. "Ya ,Tuan." ujar Abel.
"Kau tau bukan jika tugasmu selalu berada disisiku?" tanya Acarl memastikan jika Abel membaca semuanya tadi. Abelpun mengangguk menjawab Acarl.
"Apa kau tau siapa aku?" tanya Acarl lagi, dan lagi-lagi dia juga mendapat anggukan kepala Abel. Namun kini anggukan itu disertai dengan jawaban kata-kata dari Abel.
"Kau Acarl Xelone." jawab Abel polos. Acarl mengernyit, berpikir bagaimana bisa gadis didepannya ini begitu polos? Mengapa dia tidak tau maksud Acarl?
"Kenapa kau mengangguk terus?" tanya Acarl pada Abel dengan nada kesalnya.
Abel yang tak tau apa-apa, merasa bingung dengan sikap Acarl yang tiba-tiba menunjukkan nada kesalnya pada Abel. "Bahkan mengangguk pun salah?" kesal Abel dalam hati.
"Ya karna saya memang tau ,Tuan" jawab Abel .
Mengusap wajahnya kasar, Acarl menatap Abel dengan dingin. Walau memang dia memiliki tatapan dingin ,namun ini lebih dingin lagi. Sampai-sampai AC ruangan kalah dinginnya dengan hawa yang diberi Acarl. "Apa kau tau apa artinya?" tanya Acarl dengan kesal namun masih santai .
Menaruh jari telunjuknya pada dagu, menandakan Abel yang memikirkan maksud dari ucapan Acarl. Lama berpikir, Abel langsung teringat dengan maksud Acarl. Xelone.
Satu nama itu seakan memutar ulang kejadian beberapa hari lalu yang membuatnya berakhir sampai kesini, menjadi asisten pribadi Acarl.
"Saya tau ,Tuan." jawab Abel dengan lirih. Menimang apa yang akan dikatakan Acarl lagi padanya.
"Kau tidak perlu panik. Cukup kau menjadi asisten ku, jangan dengarkan mereka!" ujar Acarl memberitahu pada Abel apa yang harus dilakukan Abel saat menjumpai keluarga Xelone lainnya.
Abel menatap Acarl dengan tatapan bertanya. Apa maksud dari ucapan Acarl? Apa yang akan terjadi padanya? Pertanyaan demi pertanyaan muncul dibenak Abel. Seakan-akan peringatan dari Acarl tadi akan membahayakan dirinya.
__ADS_1
"Tuan, apa yang terjadi?" tanya Abel pada Acarl karna rasa takutnya mendera saat tau apa maksud dari ucapan Acarl padanya.
"Katakan saja pada mereka jika kau milikku, dan semua akan berjalan lancar. Selama kau bersamaku kau aman." ujar Acarl lagi ,membuat Abel menatap tak percaya apa yang dikatakan Acarl.
"Maaf ,Tuan. Itu tak ada dalam dokumen persetujuan kita. Bahkan jika terjadi apapun padaku, bukankah lebih baik jika saya menjawab sebagai asisten anda? Kalau dipikirkan lagi, jika saya menjawab sebagai wanita anda , mungkin pengaruh pada XLN company akan ..." tolak Abel. Namun belum selesai berbicara, ucapannya terpotong oleh Acarl.
"Dan jika itu terjadi, aku akan menyelesaikannya. Tugasmu adalah disampingku, selebihnya adalah Cheiz." ujar Acarl dingin.
Bimbang dengan semua yang terjadi, Abel makin pusing dengan situasi saat ini. Dirinya yang datang kesini karena ingin menebus kesalahannya pada XLN company, kenapa malah menjadi wanita Acarl? Apa maksud dari ini semua.
"Tuan. Saya disini untuk menebus kesalahan saya, dan kenapa sekarang seperti ini?" tanya Abel membutuhkan penjelasan yang pasti dari Acarl.
"Gadis ini sungguh cerdik. Bagaimana caraku membuatnya sebagai alat untuk menjatuhkan reputasi tua bangka itu!" batin Acarl .
Memejamkan matanya, Acarl menimang apa yang harus dia lakukan untuk membuat Abel menjadi seperti yang dia inginkan. Disatu sisi ,Abel memang benar namun disisi lain Acarl sangat membutuhkannya.
"Baiklah , tetaplah menjadi asisten ku. " putus Acarl . Bukannya dia kalah, namun dia mengalah dan akan memikirkan lagi cara yang tepat untuk membuat Abel menerimanya.
"Namun untuk menjadi asisten, kau tetap menjadi pasangan ku saat ada acara!" lanjut Acarl dan mendapat anggukan dari Abel.
"Huh, dasar tidak laku!"
.
.
.
.
.
.
Comeback 🥳
Maaf baru up😭
Jangan lupa like, komen dan vote ya❤️
__ADS_1
see you next part:)