Kau Pelindungku Dan Aku Milikmu

Kau Pelindungku Dan Aku Milikmu
Chapter 82


__ADS_3

"Thanks udah nganter," ujar Abel saat dirinya sudah berada di depan mansion Acarl. Tentu saja diantar oleh Falida.


"Nggak ditawarin masuk nih?" tanya Falida dengan wajah memelasnya.


"Kapan-kapan," jawab Abel kemudian turun dari mobil Falida. Setelah mobil Falida melaju dan tidak terlihat lagi, Abel baru masuk kedalam mansion dan sudah ada golfcar yang stand by untuk mengantar Abel sampai ke pintu mansion.


"Makasih pak Terry," ujar Abel pada pak Terry yang setia mengantarkannya .


Abel masuk kedalam mansion, dan diliriknya jam didinding menunjukan pukul tujuh malam. Pulang sekolah jam empat dan sampai dirumah jam tujuh, waw maklum lah anak remaja.


Setelah obrolan-obrolan ala cewe di cafe tadi, membuat Abel berpikir kalau Noara memang benar anak baik. Tapi, entah kenapa hatinya menolak pemikirannya. Hatinya bahkan sempat melarang Abel untuk mengobrol dengan Noara, seakan memberitahu kalau akan ada bahaya dibalik itu semua.


Grebb...


Dalam lamunannya, Abel terkejut karena tiba-tiba tubuhnya terhuyung kedepan. Dilihatnya tangan kekar melingkar diperutnya. "Baru pulang?" tanya pria dibelakangnya sembari menghirup wangi khas Abel diceruk lehernya.


"Heem," jawab Abel sembari mengangguk-angguk kan kepalanya.


Merasakan kalau Abel tidak bersemangat, membuat Acarl langsung memutar tubuh gadisnya agar menghadap padanya. Melihat raut wajah Abel yang murung, membuat Acarl memiringkan kepalanya mencoba mengamati lebih jelas lagi gadisnya yang entah akhir-akhir ini terlihat murung.


"Kenapa?" tanya Acarl pada Abel. Gadis itu tersenyum seraya menggeleng pelan untuk menjawab Acarl.


~cup..


kecupan di bibir Abel membuat gadis itu mendongak dan menatap mata Acarl langsung. Sejak tadi, Abel sangat bingung pada dirinya sendiri. Saking bingungnya dia tidak menatap Acarl, hanya mendengar suara Acarl saja.


"Ada apa sih? Tadi kamu terkejut, sekarang kamu murung. Kenapa hmm?" tanya Acarl pada Abel sekali lagi. Dan sama saja gadis itu membalasnya hanya dengan senyuman dan gelengan.


"Gapapa, cuma capek. Oh iya kamu juga baru pulang? udah makan?" jawab Abel sembari bertanya pada Acarl untuk mengalir topik.


"Kalau aku bilang belum?" balas Acarl menggoda Abel. Gadis itu berusaha mengabaikan segala pikirannya yang berkecamuk dan fokus pada Acarl yang nyata didepannya.


"Kalau belum ya aku masak," jawab Abel dengan senyumannya.


Acarl tertawa kecil, walaupun dalam hatinya dia tau kalau ada yang disembunyikan gadisnya ini. "Yaudah sana masakin, ehem. sebagai calon istri harus belajar mengurus suami dengan baik. Betulkan nyonya Abel Xelone." goda Acarl membuat Abel mendegus mendengarnya.


"Iya casu," jawab Abel yang mulai melangkahkan kakinya menuju dapur.

__ADS_1


"Casu? Ca\=Calon, Su\=Suami?" gumam Acarl mencoba memahami maksud dari Casu yang Abel katakan.


Dengan perhitungan yang matang, Acarl tersenyum geli saat menemukan arti dari kata Casu itu. Dengan cepat Acarl segera menyusul Abel dengan hati berbunga-bunganya. "Honey, I'm coming!!!" pekik Acarl saking bahagianya.


Semenjak tinggal bersama Acarl, sedikit demi sedikit Abel belajar memasak. Karena biasanya jika akhir pekan, Acarl yang manja minta Abel untuk dimasakin entah itu makan siang ,sarapan ataupun makan malam. Dari situ Abel bertekad untuk belajar memasak.


Di meja makan yang sunyi, membuat kedua insan itu fokus pada makanan masing-masing. Pertahanan Acarl sudah luntur. Meletakan garpu dan sendoknya sampai menimbulkan bunyi yang lumayan keras, mampu membuat Abel langsung menoleh pada Acarl.


"Astaga, kamu kenapa?" tanya Abel setengah kaget karena suara yang bertabrakan dengan piring itu.


"Kamu jujur sekarang sama aku, ada apa?" tanya Acarl sedikit memaksa Abel untuk mengatakan isi hati gadis itu. Sebagai pria yang baru merasakan cinta, membuat Acarl kurang peka dengan ekspresi perempuan yang berbanding terbalik dengan isi hatinya.


"Jujur apa sih?" tanya Abel balik sembari meletakan garpu dan sendoknya seperti Acarl, namun tidak sekencang acarl.


"Kamu murung terus," jawab Acarl.


Abel tersenyum melihat Acarl dengan segala ekspresi yang pria itu berikan. "Murung apa sih? Akutu capek," jawab Abel yang tidak sepenuhnya bohong.


"Capek ya capek, tapi ini keliatan beda." ujar Acarl mencoba lebih merincikan apa yang dimaksud.


"Mau tau?" tanya Abel sedikit menggoda Acarl. Sebenarnya Abel sendiri juga tidak sengaja membuat ekspresi murung, tapi pikirannya yang berkecamuk membuat gadis itu lupa untuk mengendalikan dirinya.


"Huh, okelah. Jadi tu, aku tadi pergi ke cafe di depan mall kota sama Falida. Terus~ ada cewe nyamperin setttt , nah dia nyamperin aku sama Falida gara-gara dia denger kalo aku sama Falida lagi bahas kamu. Eh dia nyamperin gara-gara dia ngefans sama kamu." jelas Abel panjang lebar penuh nada.


Mendengar pernyataan Abel, membuat Acarl menyimpulkan satu hal dan itu membuatnya tertawa geli. "Aduh, ternyata sayangnya aku cemburu nih?" goda Acarl dengan senyum jailnya sembari mencolek dagu Abel.


"Ish enggak ya!" sanggah Abel dengan muka dia buat cemberut.


Perdebatan kecil mulai mengisi kosongnya ruang makan tadi. Sampai akhirnya, sekarang Abel dan Acarl lelah dan masuk ke kamar masing-masing. Didalam kamar yang membuat mereka bisa bernaung di pikiran masing-masing.


_____


"Tuan Cheiz, maafkan kami. Siang tadi kami sempat kehilangan jejak nona Noara," ujar suruhan Cheiz dengan tertunduk takut.


Cheiz memijat pelipisnya berusaha meredam amarahnya. Satu tugas saja sudah gagal, bagaimana jika gagal lagi. Bahkan Acarl saja tidak akan tinggal diam kalau terjadi apa-apa pada Abel.


"Maafkan kami, Tuan." lirih suruhan Cheiz lagi.

__ADS_1


"Cepat pergi selidiki lagi! Cari tau apakah terjadi sesuatu saat kalian lengan tadi!" perintah Cheiz langsung membuat para suruhannya bergerak.


Setelah kepergian suruhannya, Cheiz duduk untuk meredakan kekesalannya. Berharap jika tidak terjadi apa-apa disaat kelalaian suruhannya untuk menjaga Abel. Bisa gawat jika sampai Noara menemukan Abel, dan tau kalau Abel ada hubungannya dengan Acarl. Bukan hanya luka yang akan didapat Abel, mungkin nyawa juga menjadi taruhannya.


Tak berselang lama, ponsel Cheiz berdering menandakan ada panggilan masuk. Dan benar saja, ketakutannya bertambah saat nama Acarl tertera nyata di ponselnya. Dengan ragu, Cheiz mengangkat panggilan itu.


"Hallo?" sapa dari seberang.


"Iya ,Tuan." jawab Cheiz berusaha senetral mungkin, walau tau akan ada bencana setelah ini.


"Bagaimana?" tanya Acarl langsung menusuk dada Cheiz.


Ajal serasa akan tiba menurut Cheiz saat ini juga. "Maafkan saya, Tuan. Mereka sempat kehilangan jejak siang tadi." ujar Cheiz dengan nada senetral mungkin agar mampu diterima Acarl dengan baik.


Bumi bergoyang saat dimana pekikan mulai terdengar menggema di penjuru markas . "APA!! BAGAIMANA BISA? TERUS SELIDIKI!" pekik Acarl langsung mematikan panggilannya.


Saat sedang pusing-pusingnya, Acarl teringat akan satu hal. Wajah murung itu, tadi siang. Acarl langsung meraih ponselnya lagi dan mencari nomor Cheiz.


^^^Cek semua CCTV di cafe depan mall kota. Selidiki waktunya siang tadi saat kalian kehilangan jejak.^^^


.


.


.


.


.


Hay semua ❤️


Aku comeback 😅


Jangan lupa like, komen dan vote ya 😙


Dukung wajib 😁

__ADS_1


See you next part:)


__ADS_2