
Suasana malam yang tenang, membuat Abel yang mencari kedamaian merasa sangat senang saat ini. Tapi kesenangannya hilang seketika, saat pintu kamarnya diketuk dari luar dan teriakan suara yang familiar itu menyapa pendengarannya.
"Nona Abel??" panggil seseorang dari luar kamar Abel. Abel langsung bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan menuju pintu. Membuka kenop pintu, Abel langsung disapa wajah datar milik Cheiz yang entah kenapa sekarang memerah itu.
"Tuan Cheiz? Anda sakit?" tanya Abel pada Cheiz yang diam dengan wajah datar dan pipi yang memerah itu. Membuka semakin lebar pintunya, membuat Abel yang tadinya hanya separuh badan yang terlihat , sekarang terlihat sepenuhnya.
Cheiz langsung panik dan mengulurkan tangannya yang membawa paper bag berwarna pink itu. Abel yang paham maksud Cheiz, langsung mengambil paper bag itu. "Apa ini?" tanya Abel.
Cheiz menghembuskan nafasnya untuk menstabilkan ekspresinya. "Nona, tolong perhatikan pakaian anda. Terimakasih." ujar Cheiz lalu berlalu pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban Abel.
"Ada apa dengannya?" batin Abel bertanya.
Menghendikan bahunya, tanda Abel tidak mau tau. Abelpun masuk kedalam kamarnya. Namun saat dirinya melewati kaca besar, dirinya langsung terpaku dengan pantulan dirinya. Pipi Abel tiba-tiba merona setelah melihat dirinya sendiri.
"Ya Tuhan! apakah ini yang dimaksud Tuan Cheiz." batin Abel malu.
Bagaimana tidak, tubuh yang hanya berbalut handuk kimono terpampang jelas di cermin itu. Dan parahnya lagi handuk itu memiliki belahan kerah yang menurun. Abel seketika menjadi bodoh sesaat, namun itu tak berselang lama karena ketukan pintu terdengar lagi. Dengan pelan, Abel membuka pintu dan hanya menonjolkan kepalanya saja.
"Nona, saya hanya ingin mengatakan kalau anda harus menuju ruang makan nanti setelah anda ehem... berpakaian." ujar Cheiz yang mengetuk pintu Abel. Abel langsung mengangguk dan mengiyakan ucapan Cheiz. Dia tau jika itu pasti adalah perintah Acarl untuknya.
Cheiz sudah pergi, sekarang Abel langsung bergegas membuka paper bag yang diberikan Cheiz tadi. Satu set pakaian santai dengan lengan pendek dan celana pendek juga, terlihat indah dan cocok untuk dipakai di resort yang dekat pantai. Tapi tatapan Abel terpaku lagi dengan satu set pakaian dalam yang berada dibawah baju tadi.
"Apakah Tuan Cheiz yang menyiapkannya?" batin Abel.
Tak memperdulikan lagi, Abel segera memakai pakaiannya dan bergegas menuju ruang makan sebelum Acarl marah padanya karena terlambat datang.
Suasana ramai terlihat di ruang makan. Banyak pengunjung yang rata-rata pasangan kekasih atau suami istri berkunjung kemari. Bahkan ada anak-anak kecil berlarian kesana kemari. Resort ini mengambil tema kekeluargaan, yang sudah pasti semua berada pada satu tempat. Seperti ruang makan ini. Staff resort hanya menyiapkan makanan di ruang makan, dan tidak melayani untuk dibawa ke kamar. Tentu saja ada pengecualian untuk paket honeymoon.
Abel yang menginjakkan kakinya di ruang makan, langsung menelisik ruangan untuk mencari seseorang. Saat matanya menangkap seseorang yang dia cari, dia segera melangkahkan kakinya menuju tempat orang itu berada.
Brakk...
__ADS_1
"Aww..." pekik Abel saat kakinya merasa tertabrak sesuatu dari belakang. Abel pun segera menoleh kebelakang dan mendapati seorang gadis kecil yang mungkin berusia empat tahun itu tersungkur dilantai. Dengan cepat, Abel berjongkok dan meraih tubuh gadis kecil itu.
"Hiks... Kakak ,maafkan aku." ujar gadis itu setelah berhasil berdiri dibantu Abel.
Abel yang mendapat permintaan maaf dari gadis kecil berkuncir dua itu, merasa gemas sendiri. "Iya tidak apa-apa. Lain kali hati-hati,ya! Oh iya, nama kamu siapa?" ujar Abel sekaligus bertanya nama gadis kecil yang lucu itu.
"Na-nama aku hiks.. Keila ." jawab Keira sambil menyeka air matanya.
"Oh Keila, salam kenal ya. Namaku Abel. " ujar Abel sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan gadis kecil itu. Bukannya menyambut jabatan tangan Abel, gadis kecil itu malah mengerucutkan bibirnya tanda dia kesal.
"Loh, Keila kenapa?" tanya Abel setelah tau jika gadis kecil didepannya sedang marah.
"Namaku Keila! K-E-I-R-A Keila!" ujar gadis kecil itu yang membuat senyum gemas terukir diwajah Abel. Abel yang gemas karena gadis didepannya yang mengeja namanya menjadi Keira, tapi menyebutkan namanya menjadi Keila.
"Oh namamu Keira?" tanya Abel memastikan . Anggukan langsung terlihat sempurna dari gadis kecil itu.
"Dimana mamamu?" tanya Abel yang merasa jika anak kecil didepannya sedang sendiri dari tadi.
Acarl yang mengamati dari tadi, menjadi tersenyum saat melihat Abel dengan baiknya pada anak kecil yang tidak dia kenal. Sampai Abel sudah ada dihadapannya, Acarl masih tersenyum.
"Kau suka anak kecil?" tanya Acarl pada Abel setelah Abel duduk dihadapannya. Abel hanya mengangguk untuk menjawabnya. Sebenarnya ini kali pertama untuknya melihat senyum tulus dari Acarl, dan baginya itu sungguh menyeramkan.
Acarl menjentikkan jarinya, tak lama kemudian datang pelayan yang membawa buku menu. Buku menu sudah berada didepan Acarl dan Abel. Abel yang membuka buku itu seakan takjub dengan harga yang tercetak disana. "Waw! ini kalau aku tabung pasti bisa langsung ke luar negeri aku." takjub Abel dalam hati.
"Kau ingin makan apa?" tanya Acarl tiba-tiba. Abel yang masih takjub dengan harga disana, merasa terkejut dengan Acarl yang tiba-tiba berbicara padanya.
"Emm... saya ikut anda saja ,Tuan. Dan saya minta ini dipotong dengan gaji saya saja." jawab Abel. Walaupun Abel sangat suka jika ditraktir, tapi rasa tidak enaknya terlalu tinggi daripada rasa sukanya.
"Kau bahkan belum menerima gaji. Tapi kau sudah minta gajimu dipotong?" ujar Acarl tak terima dengan apa yang dikatakan Abel. Memangnya Acarl terlalu miskin apa untuk membayar makanan ini? bahkan ini di resortnya sendiri.
"Maaf , Tuan. Saya tidak terbiasa menerima traktiran." jawab Abel. Jawaban Abel membuat Acarl langsung menerima ide untuk membuat Abel membayarnya.
"Baiklah, aku akan membiarkanmu membayar sendiri. Tapi bukan dengan gajimu." ujar Acarl. Abel langsung menatap Acarl tanda bertanya apa maksud dari ucapan Acarl itu?
__ADS_1
"Lalu dengan apa saya membayarnya, Tuan?" tanya Abel yang bingung dengan jalan pikiran Acarl yang sulit sekali ditebak. Mungkin karena wajahnya yang datar.
Dengan senyum devil nya, Acarl mengisyaratkan jarinya untuk membuat Abel mendekat padanya. Abel yang mengerti maksud isyarat Acarl, langsung memajukan badannya. Begitu juga dengan Acarl.
"Ikut aku besok pagi! Ku tunggu sampai jam enam pagi." bisik Acarl pada Abel.
Abel yang mendapat bisikan itu langsung bertanya pada Acarl tanpa suara. Dia menanyakan kemana dia akan pergi, tapi Acarl mengabaikannya dan langsung menoleh pada pelayan yang sudah menunggu dari tadi. Setelah menyebutkan pesanannya, Acarl kembali menatap Abel yang sedang menundukkan kepalanya seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Tunggu permainannya besok." batin Acarl sambil menatap Abel lekat.
.
.
.
.
.
.
Hai semua ❤️
Aku up lagi😘
Jangan lupa like, komen dan vote ya 😙
Dukung sekalian🥺
Hari ini aku dalam mood bagus😅
Jadi , see you next part:)
__ADS_1