
Seorang gadis dengan apron yang bertengger di tubuhnya, mondar-mandir sesuai dengan teriakan yang memanggilnya. Yap, gadis itu adalah Abel. Kini dia bekerja sebagai pelayan di cafe milik Agam. Kenapa bisa? Okey, kita mulai dari awal.
"Kalau boleh tau, apa kamu merekrut pegawai?"
"Apa?!"
Setelah Abel melamar pekerjaan tanpa surat-surat atau dokumen pelamaran, kini dia berhasil menjadi pelayan di cafe yang bisa dikatakan ternama di negara ini. Pastinya saat melamar pekerjaan, Abel harus pintar-pintar mencari alasan agar dirinya bisa bertahan hidup disini.
"Kenapa kamu mau kerja disini?" tanya Agam khawatir dirinya salah dengar dengan pertanyaan Abel.
Abel tertunduk sedih, kini akting dimulai. "Aku hiks tidak punya orang tua lagi, aku tinggal dengan tante dan om ku. Mereka selalu menyuruhku mencari uang tanpa henti, dan itu sangat menyiksaku. Aku kabur tanpa membawa apa-apa, dan tempat tinggal pun aku tidak ada. Apalagi ponsel, aku juga tidak bawa." lirih Abel dengan segala kesedihan yang tertuang. Sementara Agam yang melihat, tak sanggup untuk menolak permintaan gadis didepannya.
"Baiklah-baiklah, kamu bisa bekerja disini. Dan ada mess untukmu tinggal juga." putus Agam yang langsung membuat binar dimata Abel berbinar sangat terang.
"Dan gajinya aku mau diawal untuk membeli baju," ujar Abel membuat Agam mengerjapkan matanya tak percaya dengan tingkah gadis didepannya ini. Tapi tetap saja Agam tidak bisa menolak jika gadis itu memasang puppy eyes yang meluluhkan hati siapapun yang melihatnya.
Dan itulah kenapa sekarang ada gadis berapron yang bekerja dengan giatnya. Melayani para pelanggan, Abel harus senantiasa tersenyum. Semalam memang melelahkan bagi Abel, dia harus berlarian agar bisa kabur dan juga harus pergi ke mall malam-malam untuk membeli baju sederhana untuknya. Tentu saja dengan menyamar menggunakan masker, topi yang dia beli mendadak di toko dekat cafe milik Agam.
Rasanya ingin Abel membeli tiket untuk pulang, tapi banyak resiko mengincar dirinya kalau sampai ketahuan. Untuk keluar ke mall semalam saja, Abel harus ekstra hati-hati agar tidak ada yang mengenalinya. Jadi sekarang, Abel hanya harus bertahan hidup. Itulah sebabnya Abel bekerja disini, dan dekat dengan orang agar bisa meminjam ponselnya.
Setidaknya itu jalan Abel satu-satunya, walaupun harus membutuhkan waktu untuk itu. Mengingat ras nya yang berbeda juga, Abel haruskan untuk bersosialisasi dulu? Disini saja Abel mendapat lirikan tajam dari para pekerja lainnya. Walaupun begitu, Abel tetap tersenyum manis walau dalam hati sudah ingin mencakar wajah mereka satu persatu.
"Ei, tu! Che lavoro stai facendo lì, perché sei così in ritardo!?” (Hei kau! Kerja apa kau disana, kenapa lambat sekali!?) teriak salah satu karyawan yang bertugas di area kasir. Abel yang mendengar hanya mengangguk kecil dan membatin mengutuk karyawan itu yang sengaja membuatnya kesal.
Apa tidak jelas sekarang dia sedang mengantarkan menu untuk pelanggan yang baru datang? Huh, kalau begini terus kapan Abel bisa berteman dengan mereka?! Tapi demi agar bisa menghubungi Acarl, Abel akan rela diperlakukan seperti ini. Kalau saja dia tidak menjadi DPO, sekarang Abel juga akan keluar untuk menelpon Acarl lewat telepon umum.
"Yah, semua demi hidup. Kalau tidak begini, mungkin akan lebih merepotkan." batin Abel.
Abel yang bolak-balik kedapur dan kedepan, tak sengaja melihat benda yang amat membinarkan matanya. Sebuah benda berwarna putih, dengan angka-angka disampingnya. Yap, itu adalah telepon kabel milik restauran. "Tuhan, berpihak padaku." batin Abel tersenyum.
__ADS_1
"Ehi nuovo ragazzo! Mettiti al lavoro, non sognare ad occhi aperti!" (Hei anak baru! Cepat kerja, jangan melamun!) kejut nyonya kasir yang membuat Abel berdecih. Sungguh mengganggu kebahagiaan Abel! Tapi kini Abel kembali tersenyum saat mengingat dia tinggal di mess yang ada dibelakang cafe. Yang artinya, jalannya masuk kedalam cafe sangatlah mudah.
"Tunggu aku Acarl, aku akan menelponmu malam ini." janji Abel pada dirinya sendiri.
-------------------------
"ARGHHHH! KALIAN SEMUA BODOH! TIDAK BECUS MENJAGA SATU WANITA SAJA!" pekik seseorang yang tak lain adalah Noara.
Gadis itu melayangkan tatapan tajam pada dua orang yang seharusnya bersama dengan Abel. Dan apa sekarang? Dia malah menemukan mereka berdua dalam keadaan mabuk sampai kehilangan Abel dengan mudahnya.
"Ma-maafkan kami, Nona." ujar salah satu pria yang bersama Abel semalam.
Dengan kekesalannya, Noara membanting kursi yang tadi didudukinya. Sekarang yang dipikirkan Noara hanya Abel yang harus dia temukan. "Kirim orang untuk mengawasi telepon umum dan tempat-tempat transportasi. Jangan lengah!" ujar Noara pada asistennya. Tentu saja asistennya mengangguk dan langsung beralih pada ponselnya.
"Tidak akan pernah aku lepaskan dirimu itu Abel!"
-----------------
Mengemasi koper miliknya, Acarl bersumpah tidak akan kembali sebelum menemukan Abel. Hanya Abel yang bisa mengisi dayanya lagi, hanya Acarl yang bisa memiliki Abel.
tok tok tok.....
Suara ketukan pintu, menyadarkan Acarl dari lamunannya. Dirinya segera meletakkan foto tadi kedalam kopernya dan menutupnya sebelum membukakan pintu untuk si pengetuk pintu.
Seorang pria sebaya dengannya, berdiri tegap menatap tajam pada Acarl yang sudah membukakan pintunya. "Ada yang ingin kukatakan padamu." ujar pria itu yang membuat Acarl mempersilahkan pria itu masuk kedalam kamarnya.
Vano, saudara satu-satunya yang Abel miliki. Kini berhadapan langsung dengan Acarl yang menjadi kekasih Abel. Canggung rasanya jika kedua pria ini bersama. "Ehem, temukan Abel dengan cepat. Aku tidak akan tinggal diam kalau dalam sebulan kau belum menemukan Abel." ujar Vano memulai pembicaraan.
Acarl tertawa kecil mendengar ancaman Vano, bukan berarti dia meremehkan juga sih. Acarl tau seberapa berharganya seorang Abel, gadis yang penuh misteri itu. Acarl yang sudah menghabiskan waktu bersama Abel selama berbulan-bulan, tentu tau keunikan gadis itu yang tersembunyi dari orang lain. Dan itu, hanya orang yang paling dekat dengan Abel yang tau.
__ADS_1
"Tanpa kau beritahu, aku tidak akan mengulur waktu lebih lama lagi untuk Abel." jawab Acarl membuat Vano tersenyum. Dilihatnya mata yang yakin sedang menatapnya, Vano mengangguk percaya pada Acarl.
"Yah, aku harus mempercayaimu untuk saat ini. Karna kau yang membuat hilangnya adikku, jadi kau lah yang juga harus membawanya kembali." ujar Vano dengan smirknya.
"Tentu saja kau benar! Dan setelah itu, kau harus melepaskan adikmu yang lucu itu untukku."
"Apa?!"
.
.
.
.
.
Hay semua 🤭
Kangen nggak? Kangen nggak?
Kangen lah masa enggak😅
Jangan lupa like, komen dan vote ya 🤭
Dukung wajib 👌
Salam dari babang Vano yang lagi kesal sama Acarl😂
__ADS_1
See you next part:)