Kau Pelindungku Dan Aku Milikmu

Kau Pelindungku Dan Aku Milikmu
Chapter 119


__ADS_3

Dalam mobil yang sedang melaju ke suatu tempat, dimana dua orang yang didalamnya saling diam disepanjang perjalanan. Rian yang fokus pada jalanan dan setir mobilnya, sementara Falida yang fokus pada batinnya yang sedang bertarung sekarang.


Tak lama, mobil berhenti didepan sebuah cafe yang berada dipusat kota ini. "Kita sudah sampai?" tanya Falida yang langsung mendapatkan anggukan langsung dari Rian. Dan itu membuat Falida langsung membuka pintu mobil dan keluar menyusul Rian yang sudah lebih dulu berjalan ke dalam cafe.


"Pesanlah, gue yang traktir." ujar Rian membuat Falida tertawa kecil. Setelah itu, jari jemari Falida mencoba ikut membaca bersamaan dengan mulutnya yang komat-kamit membaca setiap menu yang ada di dalam daftar menu didepannya.


"Kayaknya milk shake strawberry sama steak udah bikin gue kenyang buat makan malam." ujar Falida mengutarakan pesanan miliknya. Rian yang mendengar hanya menggelengkan kepalanya kecil, mengingat ia tak perlu canggung bersama Falida yang bisa dibilang asik dan mudah bergaul.


Setelah Falida memesan makanannya, kini ganti Rian yang memesan. Sekolah yang pulang sekitar jam empat, membuat mereka kini di restoran untuk sekalian makan malam. Walaupun belum saatnya makan malam, tapi mereka tidak punya pilihan tempat untuk mengobrol.


Rian menatap Falida yang memandang keluar kaca yang memperlihatkan jalanan kota dengan para pasangan kekasih yang bergandengan tangan menyusuri kota bersama. Tanpa sadar, Rian terpana melihat wajah Falida yang tak kalah cantiknya dengan Abel. Sementara Falida yang merasa ditatap,. akhirnya menolehkan kepalanya dan kini tatapan mereka bertemu.


Bola mata hitam milik Falida, beradu dengan bola mata coklat milik Rian. Pada saat itu juga, rasanya Falida yang notabene playgirl karena suka gonta-ganti pacar merasakan hal berbeda. Berbeda karena kini ia sedang bertatapan dengan salah satu most wanted di sekolahnya, dan bisa terjadi berita gempar kalau ada yang melihat Falida hanya berdua dengan Rian.


Rian yang melihat senyum di bibir Falida langsung menyudahi aksi tatap menatap itu. Sementara Falida yang terkejut dengan Rian yang tiba-tiba berpaling, akhirnya ia merasa malu sendiri. "Apa tidak apa-apa kalau kita berdua seperti ini?" tanya Falida yang membuka pembicaraan terlebih dahulu.


Rian menolehkan kepalanya lagi dan melihat Falida sekilas. "Memangnya kenapa jika berdua? Lo takut di hajar sama fans gue?" balas Rian dengan kepercayaan diri yang tinggi. Hati Falida mengangguk, tapi pemikirannya seolah kesal dengan tingkah Rian.


"Yee, Kepedean banget sih jadi orang!" sulut Falida sampai akhirnya kini milkshake dan juga lemon squash miliknya dan Rian datang lebih dulu dibanding makanannya.


"Ini gue beneran ditraktir kan?" tanya Falida membuat Rian mendengus mendengarnya. Dan itu adalah jawaban iya menurut Falida.


Walaupun canggung, tapi tetap saja seorang Falida tidak boleh sok malu-malu kucing. Sifat menyolotnya harus ada walaupun orang yang bersamanya lebih tinggi darinya. Dan itu menjadikan Falida mudah akrab dengan orang lain, tapi untuk Falida hanya Abel yang bisa menjadi sahabatnya. Sahabat yang selalu ada dan tidak pernah bertanya kenapa, tapi diganti dengan Gue akan selalu ada buat lo.


Falida yang asik menyeruput milkshake miliknya, menolehkan kepalanya saat Rian mulai membuka pembicaraan. "Lo inget kan kalau gue butuh bantuan lo?" tanya Rian membuat Falida mengangguk mengiyakan.


"Mau nggak lo jadi pacar gue?"


phurrrrr.....

__ADS_1


Tanpa sengaja, minuman Falida tersembur dan beruntung tidak mengenai Rian. Biar bagaimanapun, ini adalah pertanyaan sekaligus kejutan yang membuat Falida kelabakan sendiri. Pernyataan atau pertanyaan yang mendadak itu, mana mungkin bisa ditoleransi dengan cepat oleh Falida?


"Lo lo nembak gue?" tanya Falida dengan tatapan tanya yang kentara dan kini dirinya kembali terkejut dengan anggukan kepala dari Rian. Pikiran Falida seakan kacau namun juga bahagia.


 ------------------


"Kamu kenapa melamun?" tanya seorang pria yang sedang duduk dikursi kebesarannya dan laptop yang berada didepannya. Sementara gadis yang ditanyainya, sedang duduk di sofa dan memandang kedepan dengan tatapan kosong.


"Acarl, aku masih penasaran dengan hubungan Falida dan Rian. Padahal setauku mereka nggak pernah akrab," ujar gadis itu yang tak lain adalah Abel.


Kini mereka berdua sedang di kantor Acarl, karena pria itu yang banyak pekerjaan dan Abel yang tidak bisa jauh dari Acarl harus mengikuti Acarl kemanapun pria itu pergi. Dan disinilah mereka sekarang, dengan kesibukan masing-masing namun masih saling perhatian.


"Mungkin ada urusan yang membuat mereka harus bersama." jawab Acarl sembari memeriksa berkas-berkas yang menumpuk juga di mejanya.


Abel menghela napasnya, mungkin benar apa kata Acarl. Tapi tetap saja rasa penasaran masih ada! Dan itu membuat Abel tidak mampu menahannya, tapi harus ia tahan! Sementara Acarl yang melihat gadisnya, akhirnya memutuskan untuk berjalan mendekati gadisnya itu.


Membaringkan dirinya dan menjadikan kaki Abel sebagai bantal, membuat Acarl bisa melihat wajah Abel dari bawah. "Jangan pikirkan mereka mulu! Ada big baby disini yang butuh usapan." ujar Acarl membuat Abel tersenyum geli. Benar saja, kini Acarl terlihat lelah dan itu membuat Abel tidak tega jika tidak mengusap rambut tebal nan hitam milik Acarl.


"Apa masih lama untuk membuat Abel dan Acarl kecil disini?" goda Acarl sembari mendaratkan tangannya di perut rata Abel. Tentu saja Abel tersipu dengan apa yang Acarl lakukan! Karena bagaimanapun juga, dia sendiri adalah gadis normal yang juga akan terpikat kalau ada pria yang menggodanya.


Abel ikut mendaratkan tangannya di atas tangan Acarl, bersama berada diperut rata Abel dan tersenyum pada Acarl. "Apa papa Acarl udah nggak sabar?" balas Abel menggoda Acarl.


Acarl tersenyum geli mendengar gadisnya kini ikut menggodanya, dan itu mampu membuat Acarl menganggukkan kepalanya berulang kali. Abel yang melihat Acarl sangat antusias, langsung mendekatkan wajahnya. Tak berapa lama, wajah Acarl yang awalnya tersenyum kini terlihat cemberut seperti anak kecil yang tidak mendapatkan permen impiannya.


Sementara Abel tertawa kecil sembari mencubit pipi Acarl karena gemas. Sungguh, melihat Acarl yang seperti ini sangatlah menggelitik dirinya untuk tertawa. Karena bisikannya yang membuat Acarl cemberut, menandakan bahwa Abel menang melawan godaan Acarl.


"Acarl dan Abel kecil udah nggak sabar juga liat papa. Tapi sayang, mama masih mau sekolah. Papa yang sabar ya?!" seperti itulah kira-kira bisikan Abel yang mampu membuat seorang Acarl Xelone cemberut.


Sebagai pria dewasa, dirinya benar-benar menginginkannya. Dan usianya yang sudah 23 tahun, mendekati cukup untuknya menikahi Abel. Ditambah dia sudah bekerja, memiliki rumah sendiri dan lainnya. Tapi Acarl yang sudah mengatakan akan menunggu Abel, harus bertahan dengan apa yang Abel putuskan. Karena Acarl tidak mau kalau Abel sampai tidak merasa puas dengan masa remajanya.

__ADS_1


"Aku akan menunggumu, jangan lama-lama ya?!" ujar Acarl membuat Abel tersenyum dan mengangguk.


"Tentu saja aku tidak akan membuat my big baby menunggu terlalu lama." balas Abel membuat Acarl tak kuasa untuk mengecup bibir manis nan lembut milik Abel. Sampai akhirnya, kecupan itu berganti dengan ciuman yang dalam namun masih dalam kendali.


.


.


.


.


.


Halo 😘


Kangen nggak nih?


Kangen ya😭


Atuh aku mah mau minta maaf😭


Dalam seminggu ini, aku banyak sekali acara sampai-sampai tidak pegang handphone (Selain sekolah) 😭


Maafin aku ya😭


Jangan lupa like, komen dan vote ya 🤭


Dukung wajib 👌

__ADS_1


See you next part:)


__ADS_2