
Pria dengan tubuh tegap dengan rambut acak-acakan, membuat Abel terkejut saking tidak biasanya pria itu berpenampilan seperti itu. Rasa terkejut Abel tak hanya sampai situ, saat pria didepannya...
"Kamu kenapa pakek apron?" tanya Abel melongo melihat pria yang tak lain adalah Acarl dengan apron yang menggantung dilehernya.
Acarl melihat dirinya sendiri yang membuat Abel sampai menatapnya seperti itu, seperti ada masalah dengan dirinya. Saat Acarl memeriksa penampilannya sendiri, tawa menggelegar langsung saja terdengar nyaring dipenjuru mansion, siapa lagi kalau bukan Abel pelakunya.
"HAHAHAHAHAHAHAHA... apa yang kamu laku-HAHAHA," tawa Abel yang menggelegar sembari menanyakan situasi yang terjadi disini saat ini.
"Aku memasak untukmu," jawab Acarl polos sembari menatap Abel yang masih tertawa sampai gadis itu memegangi perutnya yang mungkin sakit karena tertawa terbahak-bahak.
Abel berusaha menetralkan dirinya, mengatur nafasnya dengan mata tertutup berharap tawanya akan cepat reda. "Fyuhhh... Kamu ehem terlihat lucu." ujar Abel sok mengomentari Acarl setelah tawanya berhenti.
"Benarkah?" "tanya Acarl balik.
"Jangan lakukan lagi, itu sangat menganggu sistem humor ku." ujar Abel pelan tanpa melihat Acarl. Mendengar itu, Acarl langsung melepas apronnya dan berjalan mendekat pada Abel yang sedang duduk dihadapan lasagna buatannya.
Salah besar jika sekarang Abel malu pada Acarl karena sudah menertawakannya, karena sebenarnya Abel tidak menoleh pada Acarl sebab rambut Acarl yang acak-acakan sungguh membuat Abel tidak sanggup menahan godaan yang menyilaukan matanya itu.
"Aku sudah melepasnya, kenapa kamu masih tidak menatapku?" tanya Acarl tepat sasaran membuat Abel terjengkat pelan.
"Itu, aku...... Aaa aku ingin memakan lasagna buatanmu," alibi Abel membuat Acarl tersenyum. Wajah merah milik Abel sangat membuat Acarl percaya jika gadis didepannya ini sedang tersipu, tapi itu adalah hiburan Acarl yang sebenarnya. Perlahan Acarl mendekati Abel, duduk disamping gadis itu.
Masih saja Abel mengabaikan Acarl dan asik menikmati Lasagna nya dengan perasaan campur aduk. Antara senang dan entahlah apalagi yang ada dihati Abel. Semakin Acarl mendekatkan wajahnya, semakin Abel menundukkan kepalanya.
"Kalau benar tidak ada apa-apa, coba lihat aku bentar." pinta Acarl membuat Abel mau tidak mau harus menahan harus mendongak. Gengsi lah kalau sampai ketauan blushing, padahal aslinya iya.
Memantapkan hatinya, Abel mengangkat wajahnya menatap Acarl. Baru juga wajahnya terangkat, satu kecupan di bibir Abel mengejutkan Abel yang membuatnya langsung terdiam kaku dengan mata membola saking terkejutnya.
Melihat Abel yang masih diam , Acarl dengan senyumnya kembali menempelkan bibirnya dibibir Abel. Bukan hanya kecupan, Acarl memberi sedikit bumbu manis yang membuat Abel lemas karenanya. Acarl memberi jeda untuk Abel mengambil nafas, setelah dirasa cukup Acarl kembali melancarkan aksinya.
__ADS_1
Menahan tengkuk Abel, Acarl mendorongnya agar lebih dalam lagi. Walaupun rasanya naluri Acarl bangkit, tapi akalnya masih bekerja dengan baik. Mengerti gadisnya masih kecil, Acarl hanya bermain disekitar wajah sampai ke leher Abel yang menggemaskan untuknya.
Abel yang sudah lemas, hanya mampu menikmati setiap hembusan nafas Acarl yang membuatnya tak berdaya. Beruntung di dapur hanya ada Abel dan Acarl saja, jadi kegiatan mereka tidak dilihat siapapun.
"Selamat mendapatkan ranking satu sayang," bisik Acarl disela ciumannya. Abel yang belum sepenuhnya sadar hanya bisa diam saja .
"Akhh!!" pekik Abel saat lehernya diberi tanda oleh Acarl. Acarl menoleh pada Abel yang menahan napasnya, dirinya lalu menyudahi kegiatan mereka ditutup dengan satu kecupan dipucuk kepala Abel.
"Makan lagi ini, nanti keburu dingin." ujar Acarl biasa saja seakan tidak terjadi apa-apa sebelumnya.
Seakan terhipnotis, Abel langsung meraih garpunya dan memakan lasagna yang sedikit dingin itu. Acarl yang melihat Abel sedang makan, akhirnya memutuskan untuk melangkahkan kakinya menuju kulkas untuk mengambil minuman untuk Abel dan dirinya.
Melihat Acarl yang bangkit dari tempat duduknya, seketika Abel langsung meraba lehernya yang sempat diberi tanda oleh Acarl. Mengambil ponselnya, Abel melihat tanda itu melalui kamera ponselnya. Abel terkejut saat mendapati bukan hanya satu tanda dilehernya, melainkan tiga tanda yang berbeda tempat itu.
"Untuk merayakan kesuksesanmu, mau cocktail or mocktail?" tanya Acarl yang masih berada didepan kulkas tanpa menoleh pada Abel. Abel yang terkejut langsung bergegas kembali keposisinya tadi.
"M-mocktail aja," jawab Abel yang memilih minuman non alkohol. Bukan takut atau apa, tapi Abel hanya menjaga dirinya yang memang tidak tahan dengan alkohol.
"Aku dengar kamu mendapat nilai tertinggi bahkan dibandingkan dengan satu sekolahan." ujar Acarl sembari meminum minumannya.
"Terlalu berlebihan," jawab Abel yang tidak suka dipuji seperti itu. Walaupun itu benar sekalipun.
Acarl tersenyum menanggapi gadisnya yang tidak suka dipuji itu. "Aku juga mendengar kamu mengambil kelas kilat," ujar Acarl membuat Abel terdiam.
"Kamu dengar darimana?" tanya Abel dengan tatapan menyelidik.
"Itu sangat mudah untukku kan?" tanya Acarl balik membuat Abel mendengus kesal dan melampiaskannya pada lasagna didepannya.
"Pelan-pelan saja makannya," peringat Acarl yang diabaikan Abel karena saking kesalnya.
__ADS_1
Lasagna yang tadinya masih terlihat banyak, sekarang sudah tandas masuk kedalam perut gadis kecil yang duduk dihadapan Acarl.
"Kamu cap cap Tau nggak sih?" tanya Abel dengan mulut masih mengunyah lasagna dimulutnya. Acarl menggeleng setelah paham apa yang Abel katakan.
"Ishhh, ITU KEJUTAN TAUKKK!! AKU MAU MEMBERITAHUMU UNTUK KEJUTAN !!" pekik Abel saking kesalnya dengan wajah memerah dan api-api menyala disekujur tubuhnya.
Acarl terkejut dengan pekikan itu, namun akhirnya dia tersenyum geli melihat gadisnya yang cemberut dengan muka ditekuk dan kedua tangan dipinggangnya tanda dia memang kesal.
Acarl berjalan mendekat pada Abel, lalu merengkuh tubuh kecil itu. Mengusap surai yang tergerai indah itu, " Makasih kejutannya ya, apa itu tandanya nggak lama lagi kamu bisa mengutarakan perasaan padaku?" tanya Acarl disela mengusap surai itu.
Abel tidak menjawabnya, mengiyakan bahkan juga menyangkalnya. Abel hanya mampu membalas pelukan hangat Acarl yang saat ini membuatnya tenang dan nyaman. Acarl juga memahami arti pelukan Abel, yang menandakan bahwa gadisnya ini belum bisa menjawab apa yang dia tanyakan. Dengan begitu Acarl bertekad akan berusaha untuk membuat Abel mengerti akan perasaannya yang sebenarnya kepada dirinya.
"Ehem... sebagai kompensasi karena membuat gadisku marah, bersiaplah untuk besok." ujar Acarl dengan kalimat terakhirnya di pelankan. Abel diam masih menikmati pelukan Acarl yang hangat itu dalam senyumnya.
.
.
.
.
.
Hay semua ❤️
Aku comeback 😅
Jangan lupa like, komen dan vote ya 😙
__ADS_1
Dukung juga boleh 😁
See you next part:)