
Hari sekolah yang melelahkan kembali datang menghampiri Abel. Jika Abel yang biasanya bersemangat sekolah, tapi tetap saja tak bisa dipungkiri ada rasa lelah dibalik semangatnya. Namanya juga manusia, lelah itu kan juga manusiawi.
Hanya kurang beberapa minggu lagi, dan setelah itu selesai sudah menderitaannya tentang sekolah materi. Rencananya, ingin sekali ia masuk ke universitas pariwisata yang akan praktek lapangan. Tapi jika dipikir-pikir lagi , ia juga ingin menghabiskan waktu bersama Acarl. Hah, semenjak bertemu Acarl sepertinya tatanan hidup Abel berubah dari perkiraannya sebelum ia kenal Acarl.
Belum juga ia selesai memikirkan masalah masa depannya, mobil yang dikemudikan Clara sudah sampai di sekolahnya. Karena Clara juga masuk kuliah, jadi sekalian saja ia mengantarkan Abel.
"Hei, Kakak ipar. Apa kamu nggak mau sekolah?" tanya Clara yang mengejutkan Abel. Abel langsung tersadar dari lamunannya dan melihat sekeliling yang sudah menunjukkan pemandangan sekolah ya sangat familiar untuknya.
"Eh oh iya, makasih aku harus pergi. Babay," pamit Abel dengan buru-buru sembari meninggalkan Clara yang menatap bingung pada kekasih kakaknya itu.
Dalam sekolahan yang sudah ramai karena dia kesiangan, Abel langsung menuju ke kelasnya. Mendudukan dirinya di bangku yang sudah ia claim menjadi miliknya, Abel langsung di hampiri seorang siswi yang berbeda kelas dengannya.
"Hai, kak Abel ya?" sapa siswi itu yang menghampiri Abel.
Abel menoleh dan mendapati siswi itu sendiri dengan senyumnya dan jangan lupa dengan kotak yang lumayan besar ditangannya. " Iya," jawab Abel sembari mengangguk mengiyakan.
"Kakak ada paket, tadi waktu pak satpam mau manggil kakak eh kakak udah lari duluan. Jadi dititipin ke aku," ujar siswi itu yang Abel yakin jika ia adalah adik kelas Abel.
Abel menerima paket yang siswi itu sodorkan padanya tanpa rasa ragu. "Makasih ya," ujar Abel berterimakasih. Siswi itu mengangguk lalu pamit pada Abel untuk kembali ke kelasnya.
Abel memperhatikan paket ditangannya. Bahkan paket ini tidak ada nama pengirimnya, tapi apa benar ini ditujukan untuknya?
"Woy, pagi-pagi udah dapet paket aja nih." kejut Falida yang baru datang sembari menambahkan bumbu sindir pada Abel. Abel yang terkejut, reflek menjatuhkan paket itu.
Pyarrr...
Bunyi yang timbul dari jatuhnya paket Abel, terdengar seperti kaca yang pecah. Dengan cepat, Abel mengambil paketnya yang tergeletak di lantai. Dan pada saat Abel mengangkat paket itu, dirinya dikejutkan dengan cairan yang menetes dari dalam paket. Bukan hanya itu, tapi cairan berwarna merah itu terlihat seperti darah akibat luka yang baru saja terjadi.
"Arghh," pekik Abel yang langsung membanting paket itu saking terkejutnya. Bukan hanya Abel yang terkejut, tapi yang ada di dalam kelas itu juga terkejut karena mereka dari tadi juga menyaksikan tetesan darah dari dalam paket misterius yang Abel dapatkan.
"D-d-darah,"
Falida juga yang melihatnya, juga terkejut karena cairan itu muncul di depannya. Dengan kepintarannya dalam IPA, Falida mencoba mendekat dan menyentuh cairan itu tanpa rasa takut.
"Ini bukan darah." ujar Falida membuat seisi ruangan menghela napasnya lega.
Sekarang Abel ikut berjongkok seperti Falida, dan menyentuh cairan itu yang terasa kental tapi tidak seperti darah. Abel juga mengecek percikan cairan itu yang menempel pada bajunya, alhasil ternyata cairan itu pewarna makanan yang tidak diberi air.
__ADS_1
Abel menahan degup jantungnya sampai akhirnya guru kelasnya datang. Dengan terpogoh-pogoh, guru itu berlari keluar lagi setelah melihat cairan yang ada dalam kelasnya. "Mampus." gumam Abel setelah melihat gurunya kabur tanpa permisi.
_______
Dalam perjalanan pulang, pikiran Abel dipenuhi rasa penasarannya pada paket cairan pewarna makanan yang ia terima tadi.
Yap, setelah kejadian itu tadi Abel bertanggungjawab untuk membersihkan lantai dan juga bertugas untuk membujuk gurunya tadi yang kabur dari kelasnya. Sedangkan Falida, karena ada kelas juga akhirnya membuat Abel menyuruhnya agar langsung ke kelas.
Hari yang melelahkan untuk Abel, dengan baju berlumuran warna merah yang membuat Abel tidak pergi ke kantinnya untuk hari ini. Sebenarnya ada baju ganti di lokernya, tapi mengingat tetesan cairan tadi membuat Abel menyimpan saja rasa laparnya.
"Nona, maaf jika saya bertanya. Apa ada sesuatu terjadi? saya tadi terkejut dengan seragam anda yang seperti ada..."
Abel paham dengan apa yang ditanyakan pak Terry padanya. Tapi Abel sendiri bingung harus menjawab apa. Bahkan dirinya saja juga tidak tau siapa pengirim itu, jika Abel mengatakan kalau ia menerima paket dari seseorang pasti itu akan terdengar sampai Acarl. Abel ingat saat dulu Acarl pernah tiba-tiba pulang dari kerjanya karena mendengar Abel jalan dengan pria lain, dan Abel tidak ingin itu terulang lagi.
"Bukan apa-apa pak, ada temanku yang keturunan India dan dia membawa warna di dalam tasnya. Eh warnanya tumpah dalam tas, akhirnya aku bantu aja deh sampai kena seragam." jawab Abel asal, yang bahkan ia sendiri pernah memiliki teman India.
"Anda membuat saya terkejut nona," balas Pak Terry yang ditanggapi tawa kecil dari Abel. Abel bersyukur Pak Terry mempercayainya saat ini. Tapi masalah ini harus ia selidiki segera.
Mengingat satu nama yang ia percaya saat ini, Abel langsung merogoh sakunya untuk mengambil ponsel miliknya. Dengan keberanian penuh, Abel mengirim beberapa pesan yang intinya Abel mengajak seseorang itu bertemu dengannya.
^^^Apakah kamu bisa membantuku?^^^
^^^Aku mohon!!^^^
^^^Hanya kamu yang bisa kupercaya saat ini.^^^
Tak lama ponsel Abel bergetar menandakan pesan yang ia kirim itu dibalas. Abel tersenyum setelah mengetahui orang yang ia percaya itu menyanggupi ajakannya.
Sampai di mansion megah yang sudah ia tinggalin selama lima bulan ini, Abel segera masuk kedalam kamarnya dan segera mengganti pakaiannya dengan sweater dan celana panjang sebelum para pelayan menanyainya mengenai seragamnya yang kotor.
"Nona? Kenapa anda terlihat buru-buru?" tanya Emely yang sedari tadi sudah masuk kedalam kamar Abel dan melihat nona nya yang mondar-mandir dengan buru-buru.
"Ah Emely, aku ada ketemu sama temen sebentar aja." ujar Abel dengan buru-buru.
Emely sendiri langsung mengerutkan dahinya," Maaf nona, tapi Tuan berpesan pada saya agar nona tidak keluar sendirian." tolak Emely dengan halus. Bisa bahaya jika sampai tuannya tau gadisnya akan keluar sendirian.
"Siapa bilang dia sendiri? Dia denganku." bukan Abel yang mengatakannya. Tapi seorang gadis lain dengan melipat tangannya dan menatap Abel dan Emely secara bergantian.
__ADS_1
"Nona Clara," sapa Emely dengan sopan.
"Emm, Abel akan pergi denganku. Jadi sebaiknya jangan halangi." tak bisa menolak lagi, Emely mengizinkan Abel dan Clara pergi.
Menggunakan mobil Clara, Abel dan Clara pergi meninggalkan mansion. "Makasih kak," ujar Abel membuat Clara tergelak.
"Jangan panggil aku kakak, sebentar lagi juga aku akan memanggilmu kakak ipar." goda Clara membuat Abel tersipu. Clara yang sebenarnya tidak tau akan kemana Abel sekarang, hanya bisa mengikuti saja arahan Abel.
Sampailah dirinya di cafe yang akan dituju Abel. "Ada apa kamu kesini?" tanya Clara yang sudah penasaran sejak ia sampai di mansion tadi dan melihat Abel yang tengah buru-buru tapi dihalangi Emely.
"Aku ada urusan, apa mau ikut?" tawar Abel yang langsung disambut binar dimata Clara.
____
"Ini masalahnya," ujar Abel sembari menyodorkan ponselnya yang berisi foto paket yang ia terima tadi.
"Jangan-jangan..."
.
.
.
.
.
Hay semua ❤️
Aku comeback 😅
Jangan lupa like, komen dan vote ya 😙
Dukung wajib banget 😂
See you next part:)
__ADS_1