
Wanita dengan smirk andalan, berjalan mendekat pada gadis yang pingsan dan diikat di kursi. Dermaga tua yang sudah tidak terpakai lagi, membuat wanita itu berani menyekap gadis itu tanpa rasa ragu.
"Nona, sepertinya jika disini kita tidak akan aman." ujar asisten wanita itu dengan ragu. Jujur dirinya takut jika harus menjalankan tugas berbahaya seperti ini, apa lagi ini berurusan dengan beberapa keluarga ternama yang pastinya mampu membuat nona nya berlutut.
"Biarkan saja, aku ingin Acarl melihat untuk yang terakhir kali gadisnya yang amat dia sayangi ini." ujar wanita itu yang tak lain adalah Noara.
Noara berjalan mendekati Abel yang masih pingsan. Merogoh sakunya, benda kecil nan tajam mampu Noara raih dengan cepat. "Apa yang terjadi kalau kamu mati nanti? Kamu tidak bisa bersama Acarl, maka kita akan seimbang bukan?" ujar Noara pada Abel yang masih belum sadarkan diri. Tangannya dengan perlahan, menari indah di pipi Abel. Membawa benda tajam itu,. menggores pipi putih yang kini sudah terdapat cairan warna merah yang mengalir.
"Apa karena kamu cantik, jadi kamu bisa memiliki Carl? Bukankah aku lebih darimu?" lanjut Noara dengan raut wajah sendunya. Abel yang belum sadarkan diri, masih terdiam walaupun kini darah itu sudah mengalir sampai ke lehernya.
Dan tepat dimana Noara berada, angin dermaga yang lumayan kencang berhembus menerbangkan rambut wanita itu. Jika saja hatinya seperti malaikat, kini pasti Noara akan terlihat lebih cantik daripada malaikat itu sendiri. Tapi, keegoisan Noara sudah membutakan apa yang seharusnya ada padanya.
Perjalanan membawa Abel yang menempuh tiga jam, tak terasa sekarang sudah jam menjelang sore. Abel yang merasakan dingin ditubuhnya, akhirnya membuka matanya. Perlahan, dia merasakan perih di pipi sebelah kirinya. Mencoba mengangkat tangannya, Abel langsung membuka matanya dengan sempurna saat menyadari dirinya diikat dengan kuat di kursi kayu yabg tebal.
"Kamu sudah bangun?" tanya wanita yang sejak tadi bersamanya, siapa lagi kalau bukan Noara!
"Apa awh-...." ujar Abel yang terhenti saat merasakan perih yang amat sangat di pipinya saat dia mencoba untuk berbicara.
"Hemm, aku tau apa yang mau kamu katakan. Semua tak lepas dari Carl yang terus menyayangimu." jawab Noara yang sudah tau lebih dulu apa yang akan Abel tanyakan padanya.
Abel mencoba menahan perih di pipinya. "Kau salah Noara. Kau salah mengartikan arti dari cinta karna terbiasa. Kau bersama Acarl terbiasa sejak kecil seperti kakak dan adik, sedangkan aku dan Acarl terbiasa karena kita sehati." ujar Abel sedikit kesusahan karena harus menahan rasa perih di pipinya.
"Dan kau terlalu terobsesi dengan Acarl. Kalaupun kau bisa bersamanya, itu hanya akan menjadi cinta sepihak. Dan itu cukup menya-.."
"CUKUP!" pekik Noara dengan raut marahnya. Mendengar Abel yang menasihatinya, tentu saja Noara tidak terima. Acarl bersamanya sejak kecil, yang artinya mereka terbiasa hidup berdampingan bukan? Bukan kah itu sudah cukup untuk mereka melanjutkan hidup bersama berdua? kira-kira seperti itulah yang Noara pikirkan.
"Cukup. Kalaupun Carl tidak mencintaiku, lalu kenapa dia mencintaimu? Kau dan dia hanya bertemu dalam waktu yang singkat. Tapi aku sudah sejak kecil bersamanya! Jadi kalau aku tidak bisa mendapatkannya, kaupun harus sama." lanjut Noara dengan dada naik turun karena mencoba menyangkal apa yang Abel katakan padanya.
__ADS_1
Abel tau memang sulit untuk melepaskan cinta pertama. Tapi ini jika diteruskan, hanya akan menyakiti perasaan masing-masing kan? "Aku paham apa yang kau rasakan, dan aku tau itu sulit untukmu. Tapi tolong Noara, kau hanya terobsesi dengannya. Dan itu pasti akan menyakitimu kalau kau tidak segera menghentikannya." pinta Abel dengan tulus. Walaupun dia membenci Noara, tapi apa salahnya dia memberi saran pada Noara sebelum semua lebih parah lagi.
"KAU SEBAIKNYA DIAM! KAU TIDAK AKAN PERNAH TAU APA YANG AKU RASAKAN!" marah Noara dengan menghadap pada lautan lepas didepannya.
Menghela napasnya, Abel menoleh pada Noara yang berada disampingnya. "Kalau begitu, coba saja kau bunuh aku. Dan jalani hidup bersama Acarl. Dan coba rasakan, betapa menyedihkannya dirimu yang hanya bisa mengharap Acarl menoleh padamu. Karna, Acarl sudah berjanji padaku kalau hanya aku yang akan menjadi miliknya." ujar Abel yang kini menambah rasa kesal Noara.
"KAU!"
"NOARA!"
Suara teriakan itu, membuat dua perempuan langsung menolehkan kepalanya. Disana terlihat para suruhan Noara, sedang menghadang seorang pria yang kini menjadi topik Noara dan Abel.
"Acarl?" gumam Abel saat melihat wajah yang amat familiar dan dirindukannya itu.
Yap, pria itu adalah Acarl. Dengan pasukan dibelakangnya, Acarl berjalan maju mendekati Noara yang memegang pisau dan hampir menusuk Abel kalau saja Acarl tidak datang tepat pada waktunya tadi.
Acarl menepis tangan Noara yang memegang pisau, sehingga pisau itu terbang dan terbanting dengan kasar. "Kau gila." ucap Acarl yang langsung melewati Noara begitu saja. Kini tatapan Acarl beralih pada gadis yang diikat dengan luka dipipinya.
Sret...
"Carl, kamu harus tau. Kamu tidak bisa membawanya dalam keadaan hidup, karna hanya aku yang bisa memilikimu." ujar Noara yang kini menghadapkan pistol tepat pada Abel.
"Kau memang gila. Kita tidak pernah ada hubungan, hubungan ku hanya dengan Abel." balas Acarl dengan tajam sembari memeluk pundak gadis disampingnya. Noara bergetar mendengar apa yang Acarl katakan.
Dorr....
Nyaris. Itu kata yang bisa dideskripsikan disini. Kalau tidak cepat menghindar, pasti sekarang akan ada adegan bersedih yang amat dalam. Karena dengan sigapnya, Acarl menarik Abel dalam pelukannya saat peluru ditembakan oleh Noara.
__ADS_1
"Menyerahlah, karna apa pun cara yang kau lakukan itu hanya menambah rasa benciku padamu." ujar Acarl membuat Noara semakin menjadi-jadi. Kini wanita itu tertawa mendengar penuturan Acarl, sampai akhirnya....
"NOARA! HENTIKAN!"
Suara pekikan dengan beberapa mobil medis berdatangan. Dilihatnya, Tuan Palvison berlari menyusul Noara yang semakin menjadi.
"Hentikan, nak. Disini belum cocok untukmu. Kembalilah ke luar negri, kau belum sembuh nak." ujar tuan Palvison dengan memohon pada putrinya.
"Ayah, aku sudah baik-baik saja hahahaha. Lihat aku ayah! sekarang aku baik-baik saja." ujar Noara dengan tawa yang keras. Tapi tak berselang lama, petugas medis langsung membekuk Noara. Lalu membawa Noara kedalam mobil yang bertuliskan.
Rumah sakit jiwa
.
.
.
.
.
Hay semua ðŸ¤
Gimana nih?
Jangan lupa like, komen dan vote ya 😂
__ADS_1
Dukung wajib 👌
See you next part:)