
Setelah selesai membahas permasalahan antara Abel dan Acarl. Abel yang bertugas menjadi asisten pribadi Acarl pun segera melaksanakan tugasnya. Seperi sekarang, tiba-tiba Acarl menyuruh Abel untuk mengupaskan apel untuknya. Abel tanpa membantah segera melakukannya.
"Kau terlihat lihai memegang pisau?" ujar Acarl saat melihat Abel yang dengan lihainya mengupas Apel dengan pisau yang terlihat tajam itu.
Abel yang mendengar tertawa kecil menanggapinya. Dia berfikir apa yang dikatakan Acarl adalah sindiran. Menurutnya, kemampuan mengupasnya sangat mengerikan. Dan bagaimana bisa dia disebut lihai?
Acarl yang mendengar suara tawa kecil dari Abel, langsung mengerutkan dahinya. Apakah dia salah berkata? atau Abel yang tidak mengerti maksudnya. Bahkan itu tadi murni pujian darinya.
"Tuan, anda suka bercanda." ujar Abel setelah berhenti tertawa.
Bercanda? Bahkan itu hal yang anti bagi Acarl. Seorang Acarl yang dingin bisa bercanda? pasti pelangi berwarna biru. Acarl masih menatap Abel yang masih fokus dengan apelnya, terbesit rasa penasaran semua tentang Abel. Data yang diterima hanya mencakup sesuatu yang dapat dilihat, untuk pribadi Abel ,dalam diri Abel dia tidak tau.
Acarl tersadar setelah apel yang sudah terkupas dan dipotong tersaji dipiring yang yang berada didepannya. Ia menatap Abel yang melihat apel hasil kupasannya dengan ekspresi puas. "Aku tidak suka bercanda." ujar Acarl sambil mengambil apel dipiring.
Abel yang sedang membanggakan apel kupasan dan potongannya terkejut dengan pernyataan Acarl. "Hah! Jadi dia benar memujiku untuk hal ini?" batin Abel.
Abel tersenyum tipis setelah mendengar pernyataan Acarl. Ini pertama kalinya dia dipuji oleh seseorang yang baru dia kenal. Bahkan bisa dikatakan dipuji oleh bosnya. Dan rasanya.....
Abel yang berada dalam posisi bertumpu lutut untuk menyamai tinggi mejapun, sekarang merasa lelah. Bukan hanya lelah, namun bingung dengan apa yang harus dia perbuat sekarang. Ini kali pertama untuknya ,dan langsung menjadi asisten. Acarl yang melihat Abel hanya diam, akhirnya membuka suara.
"Apa kau tidak lelah dengan posisi seperti itu? Duduklah!"
Mendapati ijin duduk dari Acarl, Abel tanpa menjawab langsung mendudukan dirinya di sofa hadapan Acarl. Bahkan terbesit pikiran, jika Acarl adalah lelaki baik dan peka. Ya walau dingin lebih dominan sih.
"Ada yang bisa saya lakukan lagi,Tuan?" tanya Abel yang merasa canggung jika terus menerus diam dihadapan Acarl. Bukan hanya canggung, namun dia juga risih. Karna dia tidak terbiasa dengan orang lain, apalagi lelaki lain.
"Kau bisa membantuku memakan apel ini." ujar Acarl spontan tanpa berpikir lagi.
"Hah? apa aku tidak salah dengar?" batin Abel terpesona dengan jawaban Acarl yang tidak masuk akal di telinga Abel.
"Maaf ,Tuan. Tapi sebagai asisten saya...." ujar Abel terpotong karena segera Acarl yang langsung menyela.
"Jika tidak mau ,maka jatah bertemu dengan ayahmu akan aku pertimbangkan lagi." ancam Acarl.
Abel yang mendapat ancaman itu langsung melongo tidak percaya. Apa jadinya dia jika tidak bisa bertemu ayahnya? Dengan terpaksa , Abelpun segera mengambil potongan apel dan memakannya.
-------------
"Kau bisa membantuku memakan apel ini."
Kata-kata itu seakan angin ****** beliung yang mengelilingi pikiran Acarl saat ini. Bagaimana dia bisa bersikap seperti itu pada asistennya? Kata-kata spontan yang sangat membuatnya malu disebut majikan itu.
__ADS_1
"Argghhh.... apa aku gila ?" gerutu Acarl pada dirinya sendiri. Kini dia sedang berada di kantornya, sedangkan Abel sendiri dia tempatkan disamping sekretarisnya yang berada diluar ruangan.
"Kenapa kata itu meluncur licin sekali dari mulutku? Dan kenapa dengannya? Apa dia akan berpikir aku baik? Oh tidak! aku tidak baik! bahkan pada semua orang! " cibiran demi cibiran Acarl keluarkan saat mengingat kejadian tadi. Bahkan ajaibnya , cibiran itu ditujukan pada dirinya sendiri.
"Seharusnya aku menyuruhnya membuatkan aku kopi, atau mengelap sepatuku dan juga aku harus menyuruhnya membereskan dokumenku. Dasar sialan!!! ABELLLLLLL!!!"
Brakkk......
Suara pintu terbuka membuat Acarl membelalakkan matanya. Tepat saat dia berteriak menyebut nama Abel, pintu terbuka menampilkan sosok lelaki menyebalkan dan tidak tau diri itu. Siapa lagi jika bukan Eron!
Eron sendiri yang mendengar teriakan Acarl , terkejut. Sampai-sampai saat ini dia seperti patung yang memegang dua pintu untuk menahannya.
Suara Acarl yang menggema ,juga masuk pada telinga Abel. Dengan segera ,dia berlari dan mendorong Eron yang menghalangi jalan.
Sebagai CEO, berteriak memanggil asistennya sangat tidak mungkin sekarang. Karena sekarang ada telefon yang langsung memanggil asistennya jika dia butuh. Dan dengan memalukannya, saat Acarl berteriak ada cecunguk yang membuka pintu tanpa seizinnya?
"*Sial! " satu kata yang ada dibenak Acarl.
"Ada apa denganku?" tanya Abel dalam hati.
"Nyawaku hanya satu" batin Eron yang melihat Acarl dengan mata elangnya*.
Tersadar, Eron yang sudah lepas dari pintu karena didorong Abel pun berdiri dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu. Acarl yang melihat Eron menatap kearah lain seakan tidak terjadi apapun, menjadi kesal. Sedangkan Abel hanya diam sampai Acarl melihatnya.
"Ehem... bawakan aku 2 kopi." ujar Acarl mencairkan suasana. Mendapat perintah dari Acarl, tanpa menunggu lama Abel langsung melangkah meninggalkan ruangan Acarl.
Eron yang dalam situasi bahaya, mencari cara untuk kabur dari Acarl saat ini. Melihat Abel yang sudah berlalu pergi, membuat Eron reflek berbalik ingin menyusul Abel. Namun langkahnya terhenti karena panggilan mengerikan dari belakangnya.
"Eron!" panggil Acarl dengan lembut namun menyayat.
Menelan salivanya kasar, Eron kembali berbalik dengan dan menampilkan cengirannya pada Acarl.
"Bukankah kau ingin menemui ku?" tanya Acarl dengan menyindir dan seringainya yang mengerikan terlihat jelas.
"Haha.... kau mungkin bercanda. Aku hanya ingin menjumpai seseorang disini." jawab Eron dengan tawa canggungnya. Tawa yang terkesan ketakutan saat melihat elang liar menatapnya dengan tajam.
"Seseorang? " tanya Acarl lagi , bahkan seringainya yang tadi terlihat masih lembut kini berubah menjadi seperti monster. Hawa dingin AC bertambah dingin, membuat orang yang ada didalam pasti merasa seperti di Antartika saat ini.
"Oh astaga aku lupa ! Aku ada acara." ujar Eron seolah-olah terlupa akan sesuatu. Padahal mau kabur!
Brakkk......
__ADS_1
Suara gebrakan meja , menggema di dalam ruangan itu. Beruntung ruangan ini kedap suara, jika tidak sudah dipastikan semua telinga dalam perusahaan akan mendengarnya. Eron yang mendengar langsung ,seakan merasa telinganya akan tuli saat ini. "Apa ini ajal?" tanya Eron dalam hati.
Kini tangan Eron terasa gemetar dibawah meja, serta keringat dingin bercucuran. "Astaga! terasa panas disini!" ujar Eron sambil membenarkan kerahnya.
"KAU...."
Tok tok tok.....
Pintu diketuk dari luar. Nafas lega langsung keluar dari diri Eron, seakan harapan hidupnya terkabul dengan cepat.
Pintu terbuka sedikit, setelah itu Acarl mengijinkan masuk orang itu. Dan terlihat Abel yang membawa nampan berisi dua cangkir kopi .
"Silakan ,Tuan. " ujar Abel seraya menaruh cangkir kopi dihadapan masing-masing lelaki di yang duduk dengan tegang itu. Dari awal masuk, Abel merasakan hawa dingin yang langsung menyeruak kedalam kulitnya.
"Ada apa dengan mereka?" batin Abel bertanya-tanya.
Mengabaikan pertanyaannya, Abel memberi salam pada Acarl untuk kembali ketempatnya. Setelah Acarl mengangguk, Abel langsung terbirit-birit kembali ketempatnya. "Oh astaga ! itu menyeramkan!" gumam Abel setelah keluar dari ruangan Acarl.
Sekarang tinggal lah dua lelaki diruangan itu. "Aku tadi mendengar jika kau mau pergi?" ujar Acarl sambil menyeruput kopinya.
Tersenyum kearah Acarl, Eron mengangguk membenarkan ucapan Acarl. "Kalau begitu aku pergi dulu!" ujar Eron pada Acarl. Tanpa menunggu jawaban dari Acarl, Eron berdiri dan melangkahkan kakinya.
"Siapa yang mengijinkan mu?" ujar Acarl yang menghentikan langkah Eron.
"Habislah aku!"
.
.
.
.
.
.
Aku comeback ❤️
Janganlah kalian lupa dengan like,vote dan komentarnya 🥺
__ADS_1
Makasih sudah menunggu KPDAM😙
see you next part:)