
Dua tahun lamanya Acarl tidak melihat Noara, sekarang gadis itu kembali berdiri didepannya dengan senyum yang masih sama seperti dua tahun yang lalu. Gadis yang dulu ia tolak, kembali menyatakan perasaannya padanya. Mengingat itu, Acarl tentu saja langsung mengarah pada dua wanita yang ia cintai. Ibunya dan Abel.
Seperti ada petir dalam dirinya, Acarl tau akan ada yang terjadi setelah ia menolak kembali gadis didepannya ini. Noara menatap pria didepannya dengan tajam saat tau reaksi Acarl adalah reaksi bahwa dia ditolak lagi. Kata-kata Acarl yang sangat membekas didadanya itu, mencabik kembali ingatan masa lalu yang ia sesali.
Noara menggelengkan kepalanya, dan langsung pergi keluar dari ruangan ini. Acarl yang melihat gadis itu pergi, hanya bisa menghela napasnya. Bagaimanapun sekarang fokusnya hanya pada dua wanita yang dia sayangi.
_____
Jam sudah menunjukkan pukul setengah tiga. Jam yang membuat Acarl dengan cepat menyambar kunci mobilnya dan meninggalkan kantor dengan mengendarai mobilnya kesuatu tempat yang sudah menjadi destinasi utama sebelum menuju kantor. Tempat dimana gadisnya berada, dan tempat dimana ia akan membawa pulang gadisnya untuk melepas rindu.
Dalam perjalanan pun dia merasa sedikit bersalah juga membuat Noara yang baru saja menemuinya setelah sekian lama , dan dirinya menyambut dengan penolakan. Tak terasa saking hanyutnya dalam pikiran, mobilnya sudah melaju dan sampai di sekolahan gadisnya .
Gadis dengan kuncir kuda dan baju khas anak olahraga itu sudah berada didepan gerbang dengan ponsel yang ia peganh. Tak lama, ponsel Acarl berdering dan muncul nama orang yang sedang dicintainya sekarang.
"Halo," sapa Acarl setelah mengangkat panggilan dari Abel dengan senyum geli sambil melihat gadisnya yang menelponnya secara sembunyi-sembunyi.
"Kamu dimana? masih dikantor? Aku pulang sendiri aja ya? Kalo masih sibuk , aku bisa pesen taksi aja." ujar Abel membuat Acarl tertawa geli didalam mobil .
"Dasar bodoh! coba deh liat ke kiri," jawab Acarl dengan tawa kecil sambil mengamati gadisnya yang meringis saat menyadari kebodohannya .
Abel berjalan mendekat pada mobil Acarl yang terparkir di sisi kiri sekolahnya. Masuk kedalam mobil, Abel tersenyum pada Acarl yang sudah menjemputnya di jam yang tepat.
"Bagaimana sekolahnya?" tanya Acarl sembari mengemudikan mobilnya.
"Emm, baik . Hanya butuh dua bulan lagi untuk lulus." jawab Abel dengan membayangkan dirinya yang sebentar lagi akan lulus .
"Aaaa kamu benar, aku ingin segera menikahimu." goda Acarl yang membuat pipi Abel memanas. Karena selama ini , dia tidak pernah terpikirkan untuk menikah dengan Acarl. Hanya bersama Acarl yang selalu dia pikirkan.
Abel memalingkan wajahnya ke arah luar , sedangkan Acarl tersenyum geli saat mengetahui gadisnya yang sedang tersipu. Dalam perjalanan pun, Abel selalu memalingkan wajahnya dengan pikiran yang berbisik kata menikah yang diucapkan Acarl tadi.
Tuk..
Sentilan dikepala Abel, membuat Abel langsung tersadar dari lamunannya dan langsung menolehkan kepalanya pada si pelaku penyentilan dikepalanya.
"Udah nyampe sayang," ujar Acarl dengan senyumnya. Sedangkan Abel cemberut sembari mengusap bekas sentilan Acarl yang lumayan sakit karena dirinya yang tidak sadar mau disentil.
Abel turun dari mobil saat pintu mobilnya dibuka Acarl dengan Acarl yang mengulurkan tangannya pada Abel. "Sok sokan romantis ,huh!" dengus Abel yang langsung turun tanpa menggapai uluran tangan Acarl .
__ADS_1
Bukannya marah, Acarl mlh tertawa dan pergi menyusul Abel yang sudah berjalan dulu. Inilah kebahagiaan Acarl, bersama gadis yang dia cintai dan tanpa paksaan didalamnya. Rasanya sekarang Acarl berubah semenjak adanya Abel didalam hidupnya.
"Mau makan apa?" tanya Abel yang sudah berganti baju dan memakai apron bersiap untuk memasak. Sedangkan Acarl sudah duduk dengan bersandar di kulkas sembari melihat Ab yang sibuk menyiapkan bahan-bahan masakan.
"Istri Acarl kalo masak apa aja enak kok," jawab Acarl membuat Abel gemas sendiri. Sejak kapan Acarl gombal seperti ini?
Abel yang gemas dengan Acarl yang tiba-tiba menggombal , hanya bisa tertawa kecil sembari dirinya menyiapkan beberapa bahan masakan di atas meja. Tak berapa lama, Acarl melihat Abel mendekat padanya. Semakin dekat, sampai senyum terbit diwajah Acarl.
"Apa? mau peluk?" tanya Acarl pada Abel dengan senyum bangga dan tangan yang sudah ia rentangkan seakan menyambut Abel yang ia kira akan memeluknya.
Abel menyeringai dengan tangan bersedekap didada. "Tuan Acarl, apa anda tau kalau anda menyebalkan?" tanya Abel masih dengan seringainya.
"What?" bingung Acarl dengan apa yang Abel maksudkan. Bukannya menjawab kebingungan Acarl, Abel langsung menarik Acarl kesamping dan terpampang lah sekarang kulkas yang ingin dituju Abel sejak tadi.
"Kamu menghalangiku untuk memasak tau!?" ucap Abel sembari membuka pintu kulkas . Sedangkan Acarl menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu.
Berbekal ingatan saat menghabiskan waktu dengan Acarl di pulau pribadi Acarl waktu itu, Abel mulai memasak makanan yang sempat ia pelajari disana.
Membersihkan zucchini, mengupas bawang ,membersihkan udang.Cuci zucchini dan serut menggunakan peeler, sisihkan
Chopped bawang putih, saute di pan dengan minyak dan tambahin udang aduk 5 menitan . Campur zucchini noodles aduk dan tambah garam merica koreksi rasa, semenitan aja, koreksi rasa, karna zucchini mudah berair. Beri toping keju parut/ parmesan, juga udang rebus diatasnya.
Acarl yang sejak tadi memperhatikan Abel, mendekat dan memeluk gadis itu dari belakang. Mengecupi leher putih itu dan berbisik di telinga gadis itu. " Kamu memang yang terbaik,"
Blush...
Pipi Abel merona saat hembusan nafas hangat masuk kedalam telinganya. Hembusan nafas berirama itu memujinya dan jangan lupa disertai kecupan berkali-kali dilehernya.
"I-ini cepat makan," ujar Abel tergagap karena dirinya yang entah kenapa merasa...
"Suapin ya?" pinta Acarl yang masih enak nemplok di belakang Abel. Tanpa pikir panjang, Abel mengangguk dan membuat Acarl melepaskan pelukan itu dan beralih duduk di kursi yang ada disitu.
Layaknya seorang ibu yang menyuapi anaknya, kini pemandangan itu bisa disaksikan di mansion Acarl. Acarl yang duduk tenang dan tersenyum setiap menerima suapan dari Abel , sedangkan Abel yang selalu memastikan kalau makanannya tidak terlalu panas sebelum menyuapkannya pada Acarl.
"Kapan akan ada momen seperti ini?" tanya Acarl sembari menunggu Abel menyuapinya.
"Hemm? momen seperti apa?" tanya Abel balik yang kurang paham dengan apa yang Acarl tanyakan padanya.
__ADS_1
"Kapan ada kumpulan kecil diperutmu? Kumpulan yang akan membuatku dan kamu tidak bisa tidur. Kumpulan yang membuatmu selalu ada di mansion ini. Juga kumpulan yang selalu memanggilmu mommy dan memanggilku daddy." jelas Acarl membuat gerakan Abel berhenti. Entah kenapa, perasaan Abel sepert tertusuk saat Acarl menyelesaikan kalimatnya.
"Makanlah," ujar Abel yang tidak berniat membalas pertanyaan Acarl.
Acarl yang mengerti kalau Abel sedikit gelisah, meraih tangan itu dan menggenggamnya erat. "Percayalah, kamu dan aku akan bersama." ujar Acarl membuat Abel tersenyum. Hanya Acarl lah yang selalu tau apa isi hatinya, juga yang selalu bisa membuatnya merasakan apa itu takut kehilangan.
"Aku berharap itu janjimu," ujar Abel yang langsung diangguki Acarl.
Mereka kembali melakukan kegiatannya yang sempat tertunda tadi, sampai akhirnya piring ditangan Abel sudah bersih berkilau.
Sebenarnya kegiatan mereka dari tadi diawasi oleh seseorang yang merasa sakit dan gelisah melihat kedua orang yang ia kenal berada didapur itu. "Hiks apakah ini petanda aku akan dipecat?" gumam seorang pria yang sedang meratapi nasibnya.
"Itu tidak akan terjadi," ujar pria lainnya yang mendengar gumaman pria tadi.
"Tuan Cheiz, ada istri dan anakku yang menungguku." ujar pria tadi.
"Kami masih membutuhkanmu untuk menjadi kepala koki disini," jawab Cheiz dengan senyumnya pada kepala koki mansion Acarl.
"Anda janji?"
"Pasti,"
.
.
.
.
.
Hai semua ❤️
Aku comeback 😅
Jangan lupa like, komen dan vote ya 😙
__ADS_1
Dukung wajib 😁
See you next part:)