Kau Pelindungku Dan Aku Milikmu

Kau Pelindungku Dan Aku Milikmu
Chapter 54


__ADS_3

Di dalam kamar , Abel masih memikirkan apa yang terjadi dengan Acarl. Setiap kata yang Acarl ucapkan tadi begitu membingungkan untuk Abel.


Flashback


"Apa kau tidak suka disini? Apa yang kau tidak sukai? Apa yang harus aku lakukan agar kau suka disini?" berbagai pertanyaan keluar dari mulut Acarl yang semakin membuat Abel kebingungan sendiri.


Abel hanya diam dan memalingkan wajahnya yang tadi menghadap Acarl. Abel yang merasa ada yang aneh dengan Acarl, akhirnya memutuskan untuk segera pergi dari situ.


"Tuan, saya harus menyiapkan keperluan untuk besok. Saya ke kamar dulu ya?" pamit Abel yang langsung diangguki Acarl.


Flashback off


Sebenarnya Abel merasa bersalah karen itu. Tapi bagaimana lagi, kalau Abel belum bisa menjawab pertanyaan Acarl itu. Bahkan Abel dapat melihat wajah terpaksa Acarl yang mengizinkan dia kekamar .


Abel menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang, memikirkan apa perlu dia menjawab pertanyaan Acarl itu. Atau memikirkan apa yang harus dia lakukan saat nanti bertemu Acarl. Memikirkan itu semua membuat Abel merasa gejolak dalam hatinya seperti berteriak entah teriakan apa itu.


Tak berbeda dengan Abel, Acarl juga merasa bingung kenapa dia menanyakan pertanyaan itu . Dalam kamarnya sendiri, dia mengingat ekspresi wajah Abel yang terkejut karena pertanyaannya.


"Arghhh kenapa aku menanyakan hal bodoh itu sekarang!" pekik Acarl merutuki dirinya sendiri .


Menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang, Acarl mendongakkan kepalanya dan menutup matanya seolah meratapi segala yang sudah terjadi tadi dan memikirkan apa yang harus dia lakukan besok ketika bertemu dengan Abel.


...----------------...


Pagi hari yang mendung, seolah menyatakan perasaan kedua orang yang bersama dalam ruang makan itu. Memandangi makanan didepannya, kedua orang itu belum mempunyai niat untuk mengawali makan.


Dalam pikiran yang sama, kedua orang itu hanya diam yang membuat suasana terasa canggung. Acarl yang merasakan kecanggungan, akhirnya memilih untuk mengawali pembicaraan terlebih dahulu.


"Ehem, kenapa kau tidak segera makan?" tanya Acarl basa-basi dahulu, lalu mengambil sendok dan mulai memakan sarapannya.


Abel yang mendengar suara dentingan sendok itu, akhirnya memutuskan untuk ikut menyantap sarapannya dalam diam. Bahkan kepalanya menunduk sampai rambutnya menutupi wajah cantik itu.


Acarl yang jengah melihat Abel dengan kepala menunduknya, akhirnya memberanikan diri untuk mencondongkan tubuhnya kedepan agar mendekat pada Abel. Dengan tangannya, Acarl menuntun dagu Abel agar kepala itu terangkat . Tentu saja Abel terkejut dengan itu, saking terkejutnya dia hanya diam saja.


"Jangan pikirkan masalah semalam, aku... aku hanya ... aku hanya asal saja." ujar Acarl setelah wajah Abel berhasil menghadap Acarl sekarang.


Wajah Abel seketika memerah dan langsung dengan reflek menutup matanya. Wajah yang hanya berjarak lima centi itu, membuat keduanya merasakan hembusan hangat dari kedua hidung yang hampir bertabrakan itu. Merasakan tidak terjadi apa-apa, akhirnya Abel memberanikan diri untuk membuka matanya.


Dalam rona merah yang menjalar itu, terbesit rasa kagum melihat ciptaan Tuhan yang indah didepannya. Mata biru emerald itu sungguh sempurna bagi Abel. Dengan hidung mancung yang hampir menyentuh hidungnya itu.

__ADS_1


Begitu juga dengan Acarl yang memandang wajah cantik Abel yang sedang merona itu. Mata hazel itu seakan manis bagi Acarl, dan jangan lupa pipi yang lumayan tembam itu yang ingin sekali Acarl cubit saking gemasnya.


"Jangan lupakan janjimu nanti malam," ujar Acarl tiba-tiba yang juga langsung memutus kontak pertama kali.


"I-iya Tuan," jawab Abel yang sekarang mempercepat makannya karena saking malunya jika terus bersama Acarl, atau didekat Acarl.


 _______-------________


Didepan pintu yang sama, Abel dan Acarl berdiri menunggu mobil mereka datang. Namun entah kenapa hanya satu mobil saja yang datang, dan itu adalah mobil Acarl yang didalam sudah ada Cheiz yang sekarang keluar untuk membukakan pintu untuk Acarl.


"Nona, sebaiknya anda ikut bersama kami. Karena entah kenapa mobil yang satunya tidak mau berjalan." ujar Cheiz setelah memastikan Acarl sudah masuk dengan aman.


Acarl yang melihat Cheiz sedang berbicara dengan Abel, memilih menurunkan kaca mobilnya dan mendengarkan apa yang sedang dibahas Abel dan Cheiz.


"Emm..Aku bisa mencari taksi saja kalau begitu." jawab Abel. Kini Acarl sudah tau permasalahannya, dengan smirknya Acarl berpikir inilah kesempatannya agar terlihat bak superhero didepan Abel.


"Sudah terlalu siang untukmu mencari taksi. Masuklah akan aku antar," ujar Acarl yang mengagetkan Abel.


"Bagus Tuan, sebenarnya mobil nya tidak rusak. Saya hanya ingin Tuan menghabiskan lebih banyak waktu bersama nona ." batin Cheiz setelah melihat Acarl yang menawarkan tumpangan secara langsung pada Abel.


Abel berpikir jika yang dikatakan Acarl benar juga. Ini sudah jam setengah tujuh, yang berarti dirinya hanya mempunyai waktu yang tersisa sebelum bel masuk berbunyi hanya lima belas menit. Tanpa pikir panjang lagi, Abel akhirnya menurut dan ikut masuk dalam mobil yang sama dengan Acarl.


Dalam perjalanan, hanya ada kesunyian . Abel yang memandang jendela, dan Acarl yang memandang Abel. "Aku akan pulang jam tujuh," ujar Acarl tiba-tiba , membuat Abel sedikit terkejut namun tak lama berhasil mengendalikan rasa terkejutnya.


"Hah?" tanya Abel . Karena tadi Abel dalam lamunannya, membuatnya kurang mendengar apa yang dikatakan Acarl padanya.


"Aku akan pulang jam tujuh. Jangan terburu-buru memasaknya," ulang Acarl dengan sedikit menambahkan kata di akhirnya.


Abel mengangguk-angguk kecil. " Aaa, baiklah Tuan. Saya akan lakukan yang terbaik untuk nanti." jawab Abel seraya berpikir makanan apa yang akan dia masak nanti malam.


"Ehem, nona. Kita sudah sampai ," ujar Cheiz menyela .


Abel yang mendengar Cheiz yang mengatakan jika sudah sampai di halte dekat sekolahnya, membuatnya segera membuka pintu perlahan. Terdengar bunyi bell masuk setelah pintu terbuka sempurna, membuatnya segera berlari tanpa pamit pada Acarl.


"Gadis yang kuat," ujar Acarl saat melihat Abel yang berlari sangat kencang dari kaca mobilnya.


"Tuan, anda hari ini ada meeting jam delapan." ujar Cheiz mengingatkan .


"Undurkan saja, atau majukan di jam makan siang." jawab Acarl yang langsung disetujui Cheiz.

__ADS_1


Mobil kembali melaju setelah memastikan Abel masuk dalam sekolah dengan aman . Rasanya Acarl ingin waktu berjalan lebih cepat agar dirinya bisa segera pulang dan makan masakan Abel yang sangat dinantinya itu.


"Gadis kecil, kenapa kau selalu memenuhi pikiranku."batin Acarl.


_____------_____


Dalam kelas yang ramai, semua mata langsung tertuju pada gadis yang baru memasuki kelas itu dengan terengah-engah. Pandangan penuh rasa jijik itu mengarah langsung pada Abel yang masih diambang pintu .


"Wahh, tuan putri sudah selesai berliburkah?" ejek salah satu siswi seraya melangkah maju mendekati Abel.


"Satu minggu yang nyaman bukan?" ejek siswi itu yang Abel tau namanya adalah Geina itu.


"Lalu? apa gue harus bikin pesta supaya mata lo terbuka lihat betapa bahagianya gue?" jawab Abel dengan smirknya. Tentu saja jawaban Abel membuat Geina kesal dan dengan reflek mengangkat tangannya seakan ingin menampar Abel saat itu juga. Tapi sebelum tangan itu melayang, Abel dengan cepat menangkisnya dengan kata-katanya.


"Tampar? apa hanya itu kemampuan lo? Oh aduh sakit, wajah cantikku! Cih!" ujar Abel dengan nada mengejeknya dengan diakhiri decihan jijik melihat Geina yang entah sejak kapan berani maju sendiri ini.


Tangan Geina langsung terkepal mendengar ejekan Abel. Dengan rasa kesalnya, dia berbalik dan berjalan menuju tempat duduknya. Begitu juga dengan Abel, setelah melihat Geina berputar dia segera melangkahkan kakinya yang tadi terhenti karena Geina.


"Tak ada yang berubah, semua membenciku."


.


.


.


.


.


Hay semua ❤️


Aku comeback 😅


Jangan lupa like, komen dan vote ya😙


Dukung juga boleh 😁


See you next part:)

__ADS_1


__ADS_2