Kau Pelindungku Dan Aku Milikmu

Kau Pelindungku Dan Aku Milikmu
Chapter 37


__ADS_3

Seperti perjanjian pagi tadi, kini Abel dan Acarl sudah berada ditepi pantai dengan kuda disamping mereka masing-masing. Suasana sore yang masih ramai , membuat mereka menunggu agar sepi terlebih dahulu. Setidaknya hanya tinggal satu atau dua orang saja.


Sore hari yang cerah, menemani Abel yang sedang menunggu saat perlombaannya bersama Acarl nanti. Matahari yang bulat dan memancarkan warna jingga ,menyatu dengan laut biru yang mampu menciptakan pesonanya sendiri. Seketika Abel terpaku dengan pemandangan itu, tanpa menyadari seseorang disebelahnya yang meliriknya dari tadi.


Suasana baru untuk Abel, namun indah dirasakannya. Meskipun awalnya dia terpaksa bertanggungjawab menjadi asisten Acarl, tapi kini dia bersyukur karena Acarl , dia bisa menikmati arti hidup yang sebenarnya.


"Terimakasih." ucap Abel tiba-tiba yang langsung masuk ke indra pendengaran Acarl. Acarl menoleh setelah mendengarnya, dan mendapati senyum cerah di wajah Abel. Mata hazel milik Abel menatap sinar jingga yang membuat mata itu terlihat bercahaya. Dan tak melihat secara langsung Acarl yang menatapnya saat ini.


"Apa kau berbicara padaku?" tanya Acarl memastikan, karena dia ragu penuturan Abel tadi untuknya atau tidak. Sehingga dia memutuskan untuk bertanya daripada menjadi bodoh lagi seperti tadi siang.


Abel sendiri dengan wajah yang masih tersenyum, langsung menoleh pada Acarl yang sedang menatapnya. Mengangguk kecil untuk menjawab pertanyaan Acarl. Lalu kembali menatap pantai yang kini telah hilang warna senjanya. Sedangkan Acarl masih menatap Abel yang sedang dalam mood yang bagus.


"Untuk apa berterimakasih?" tanya Acarl dengan nada datar dan mengalihkan pandangannya kearah pantai seperti yang Abel lakukan.


"Aku berterimakasih karena anda sudah menunjukkan pada saya cara menikmati indahnya dunia luar. Saya memang suka keluar saat weekend, tapi semua itu hanya sebatas ke villa dan ke mall." jawab Abel panjang lebar. Entah kenapa perasaan Abel berbeda saat ini, seperti berbicara dengan santai pada Acarl saat ini.


Acarl meresapi semua yang dikatakan Abel, yang dikatakan Abel saat ini mengingatkan dia saat melihat bahu bergetar Abel di balkon. Acarl mulai berpikir seberat apa hidup yang dijalani Abel selama ini, bahkan dia hanya tau jika ibunya sering mengabaikannya dan selingkuh dari ayahnya. Tapi untuk hidup Abel, entah kenapa merasa sangat tertutup, laporan dari Cheiz waktu itu hanya mencakup identitas Abel dan keluarganya saja.


"Tuan, apa kita jadi berlomba?" tanya Abel setelah melihat sekitarnya sepi. Pertanyaan Abel mampu menyadarkan Acarl dari lamunannya, yap sejak tadi Acarl memang melamun.


"Apa sudah sepi?" tanya Acarl sekaligus menetralkan diri kembali. Entah kenapa Acarl sekarang merasa ingin mengetahui lebih dalam sebenarnya bagaimana Abel yang sebenarnya. Entah kenapa hatinya tergerak untuk mengetahuinya.


"Emm saya rasa sudah ,Tuan." jawab Abel sambil memalingkan wajahnya kekanan dan kekiri seperti melihat keadaan sekitar. Acarl yang mendengar jawaban Abel, langsung mengangguk dan menaiki kudanya diikuti Abel yang menyusul menaiki kudanya.


Acarl sudah mengambil posisi di garis start , disusul Abel disampingnya. Acarl melirik Abel sekilas, lalu tersenyum miring melihat Abel yang sepertinya menatap lurus ke garis finish yang cukup jauh tempatnya. Sedangkan untuk wasit sendiri, Cheiz lah yang berperan.


Cheiz berjalan menuju samping Abel untuk bersiap mengibarkan bendera . "SIAP!!!! 1...2....,.....3!" aba-aba dari Cheiz sudah terlontar, membuat dua orang yang berlomba segera melajukan kudanya.


"Aku pasti bisa!" batin Abel menyemangati dirinya sendiri.


Abel di posisi pertama saat ini, dengan Acarl yang berada tak jauh dibelakangnya. Dengan senyum bangganya, Abel semakin yakin jika dia akan menang . Terbukti garis finish sudah terlihat jelas didepannya. Tak lama senyum Abel luntur, berjarak beberapa meter lagi ke garis finish tapi entah dari mana Acarl sudah menyalipnya dan membuat Acarl lah pemenang dalam lomba ini.


Acarl yang melihat wajah kecewa Abel ,merasa geli sendiri. Tak disangka, senyum terukir diwajah Acarl. Bibir mengerucut dan muka datar itu seketika membuat Acarl merasa tergelitik dan tak kuat untuk menahan tawanya.


"Kau ingat kesepakatan kita bukan?" tanya Acarl setelah menghentikan tawanya. Abel mendengus kesal, lalu turun dari kudanya. Abel berjalan menuju kuda Acarl, lalu berbalik memunggungi kuda itu. Acarl dengan senyum devil nya langsung membalikkan badannya menghadap punggung Abel dan...


BRUKK...


Tepat sasaran, tubuh Acarl berada tepat di punggung kecil Abel. Sedangkan dengan sigap , tangan Abel langsung menahan tubuh Acarl digendongnya. Dengan susah payah Abel berjalan tertatih menuju kamar Acarl. Tubuh kecilnya seperti hilang saat tubuh Acarl menempel dengan sempurna di punggungnya.


"Kesepakatan yang bodoh!" batin Abel merutuki kebodohannya yang mau saja menerima kesepakatan dalam lomba ini.


Dengan tubuh Acarl yang 2 kali tubuh Abel beratnya, membuat Abel merasa lelah padahal baru beberapa langkah. Beruntung resort ini tidak tingkat, melainkan resort dipinggir pantai dan berjejer.


Abel mengira jika Acarl akan berbaik hati dengan mengalah, tapi ternyata tidak. Bahkan Abel sudah memberi kesepakatan yang bagus, dengan menggunakan ponselnya sehari besok. Tapi apa daya jika dia kalah dari Acarl, eh bukan! Tapi Acarl yang tidak mau mengalah.

__ADS_1


Acarl yang berada digendong Abel hanya diam dan menikmati setiap langkah kecil yang dilakukan Abel. Satu langkah terasa lama bagi Acarl. Dalam rasa senangnya, akhirnya tanpa aba-aba Acarl turun dari gendongan Abel. Abel yang tak siap dengan gerakan tiba-tiba Acarl, membuat tubuhnya terhuyung kebelakang, tepat didada bidang milik Acarl.


Tangan Acarl dengan sigap menangkap Abel . "Aku memiliki kesepakatan lain yang lebih mudah ." ujar Acarl saat Abel menatap Acarl.


Abel segera bangkit dari dekapan Acarl. "Apa kesepakatannya,Tuan?" tanya Abel yang sudah menghadap Acarl sekarang. Walaupun badan Abel terasa remuk saat ini, tapi kesepakatan tetaplah kesepakatan.


Acarl yang melihat raut kecewa dari Abel ,semakin melebarkan senyumnya tanpa sengaja. Ide gila yang muncul saat berada di gendongan Abel tadi, seakan bisa membuatnya menjadi pemenang sesungguhnya.


"Aku ingin kau memijatku sampai aku tertidur." ujar Acarl pada Abel. Abel yang awalnya menunduk karena ingin menyembunyikan wajah kesalnya, dibuat terangkat setelah mendengar penuturan Acarl.


"Bahkan ini lebih sulit daripada menggendongmu ,Tuan!" batin Abel geram dengan kesepakatan Acarl yang sama saja membuatnya kesal.


"Tidak ada nego!" lanjut Acarl setelah mengetahui jika Abel ingin mengelak lagi. Dan benar saja, saat ini Abel berusaha mengelak bahkan sudah membuka mulutnya bersiap untuk berbicara.


Dengan senyum terpaksa, Abel mengiyakan perintah Acarl. Menghela napas panjang, Abel berusaha untuk sabar dalam menghadapi Acarl yang dia tidak tau seperti apa orangnya. Sedangkan Acarl sendiri tersenyum kemenangan saat berhasil membuat Abel kesal. Tapi tentu saja jika dia tidak menunjukkan senyumnya pada Abel, Acarl langsung memutar tubuhnya jika dia tersenyum. Merekapun menuju ruang makan sebelum menuju kamar Acarl.


...----------------...


"Kurang kencang!"


"Terlalu kencang!"


"Apa kau tidak bisa memijat?"


"Kenapa kau mencubitku?"


Yap, saat ini dengan posisi Acarl tengkurap dikasur dan Abel duduk disampingnya, Abel memijat Acarl walau ada perdebatan sebelum memijat tadi.


flashback


Masuk kedalam kamar milik Acarl, Abel langsung terkejut dengan pemandangan yang dilihatnya pertama kali saat masuk. Acarl dengan celana selututnya dan tanpa memakai baju itu mampu membuat Abel terkejut. Dengan sigap dan reflek, Abel langsung berbalik dan menutup matanya.


"Tu-tuan, kenapa anda tidak memakai bajumu?" tanya Abel dengan posisi yang masih sama .


"Lalu? Apa aku tidak mengatakan jika kau harus memijat punggungku?" balik tanya Acarl dengan smirk kemenangannya.


Ingin Abel menggelengkan kepalanya, tapi mau bagaimana lagi ini Tuannya. Untuk menentangnya bukanlah hal yang mudah untuk Abel. Dengan terpaksa, Abel membalikkan badannya namun masih dengan mata tertutup. Tangannya juga diulurkan kedepan seperti berjaga-jaga dengan hal didepannya.


*Tu**kkkk*...


Tusukan jari telunjuk di dahi Abel membuat Abel mengaduh dan reflek membuka matanya. Tatapannya bertemu dengan Acarl, Acarl dengan smirknya dan Abel dengan rasa perih di dahinya.


"Lakukan saja!" ujar Acarl yang langsung menghipnotis Abel. Abel seketika mengangguk karena terhipnotis dengan tatapan dalam dari Acarl.


flashback off

__ADS_1


Dan disinilah sekarang, karena kecerobohan Abel yang mengangguk karena hanya ditatap saja. Dengan tangan kecil Abel, Abel berusaha semaksimal mungkin untuk memijat sekuat tenaga agar dirasa enak oleh Acarl.


Entah kenapa, mata Abel sudah tidak kuat untuk berkompromi lagi. Bahkan kepalanya sudah mengangguk-angguk tidak kuat lagi, sampai pada pijatannya juga sudah pelan. Acarl yang belum tidur, dapat merasakan pijatan Abel pada punggungnya sudah memelan. Dengan terpaksa, Acarl menolehkan kepalanya ke Abel dan mendapati gadis itu sudah setengah sadar. Tangannya masih memijat, tapi tanpa tenaga.


Acarl mencoba perlahan untuk bangun dari posisinya. Tapi walaupun dirinya sudah pelan-pelan, tetap saja Abel yang tidak ada tumpuan untuk tegak akhirnya terhuyung kebelakang. Bersyukur dia duduk di kasur, jadi sudah pasti dia jatuh dikasur.


Acarl memakai kembali bajunya dan perlahan mengangkat tubuh Abel. "Masih berat." batin Acarl.


Berbeda dengan siang tadi, Acarl membawa Abel ke kamarnya dengan santai. Dia tau jika Abel tidak akan terbangun sekarang, dilihat dari posisi dia tidur dan saat diangkat dia tidak ada respon sama sekali. "Benar-benar babi." gumam Acarl sambil menatap wajah Abel yang terlihat polos saat tidur.


Kini Acarl sudah berada di kamar gadis itu, memang kan kamarnya berdekatan. Dia meletakan tubuh mungil Abel pada kasur dan beralih menuju lemari gadis itu. Menghela nafas, Acarl mencoba menghubungi Cheiz. Tak berapa lama, panggilannya tersambung.


"Ya , Tuan?" sapa seseorang di seberang.


"Aku ingin kau membawakan baju-baju untuk gadis itu. Apakah kau lupa jika itu kompensasinya?!" ujar Acarl setelah melihat jika lemari Abel hanya berisi set baju tidur saja.


"Baik ,Tuan. Maafkan saya." jawab Cheiz.


Tanpa permisi, Acarl segera mematikan panggilannya sepihak. Sebelum keluar dari kamar Abel, Acarl sempatkan untuk memandang wajah polos Abel. Sepintas ingatan saat melihat Abel, Acarl mengerutkan dahinya saat mengingat ucapan gadis itu sore tadi.


"Apa yang sebenarnya terjadi denganmu?" gumam Acarl.


Acarl langsung berbalik dan segera menuju kamarnya kembali. Ikut menyusul Abel ke alam mimpi yang indah, mungkin.


.


.


.


.


.


.


Hay semua ❤️


Selamat liburan 😘


Selamat tahun baru Imlek bagi yang merayakan 🥳


Jangan lupa like, komen dan vote ya 😙


Dukung juga😁

__ADS_1


See you next part:)


__ADS_2