Kau Pelindungku Dan Aku Milikmu

Kau Pelindungku Dan Aku Milikmu
Chapter 121


__ADS_3

Jalanan dengan pemandangan hijaunya pohon di pegunungan nan sejuk. Penculikan yang sangat-sangat mendadak ini, sungguh membuat Abel tidak mempersiapkan apapun. Bahkan dirinya yang kucel sehabis sekolah saja, tidak dia urus. Berbeda dengan pria disampingnya yang kini mulai ditempat favoritnya. Leher jenjang Abel yang ia kecupi dan gesekan hidungnya itu.


"Acarl, apa kamu dalam mode manja sekarang?" tanya Abel pada Acarl yang hanya dibalas anggukan daru pria itu. Sedangkan Abel kini tersenyum gemas melihat tingkah Acarl.


Dunia serasa milik berdua, yah itu memang benar sih. Sekarang saja, ada Cheiz dan pak Terry yang duduk dikursi depan. Tapi yang belakang, ini sibuk dengan aksi masing-masing. Acarl yang stay dileher Abel, dan Abel yang mengusap-usap sayang rambut tebal Acarl.


Perjalanan yang lumayan jauh dari sekolah Abel tadi. Tapi Abel akui, pemandangan pedesaan yang sejuk ini membuat Abel merasa damai. Perlahan, Abel membuka kaca mobilnya dan begitu juga pak Terry yang peka langsung mematikan AC mobil. Sejuknya udara di pegunungan ini, langsung masuk memenuhi mobil yang terasa sedikit panas karena satu pria yang tak berhenti melakukan aksinya.


"Acarl, mau sampai kapan kamu berada di leherku?" tanya Abel sedikit kesal, karena Acarl tidak hanya mengecup lehernya namun juga sesekali menggigit kecil yang membuat Abel harus menahan napasnya.


"Aku mau seperti ini sampai mobil ini berhenti ditempat yang akan kita datangi." balas Acarl sembari mengeratkan pelukannya sampai Abel benar-benar menempel padanya.


Lima tahun perbedaan umur mereka, tapi Acarl terlihat lebih seperti anak kecil dibandingkan Abel. Walaupun terpaut cukup jauh, tapi Acarl akui hanya gadis kecil inilah yang mampu membuatnya menjadi seperti ini. Dan sungguh mengesankan kalau mengingat dirinya yang dulu berniat untuk memanfaatkan Abel saja demi perusahaan.


Mobil berhenti tepat di danau yang indah. Suasana yang sepi dan sejuk, membuat Danau ini terkesan menyenangkan untuk dijadikan tempat refreshing setelah pusing menghadapi ujian yang berat itu. Dan itulah kenapa Acarl mengajak Abel kesini, dan begitu juga pemikiran Abel tentang tempat pilihan Acarl ini.


Abel yang berdiri di tepi danau, sedikit terkejut saat sebuah mantel hangat mendarat di kedua pundaknya. Dan siapa lagi kalau bukan Acarl yang memberinya!! Persiapan Acarl sungguh sudah matang saat membawa Abel kemari. Bahkan tenda dan tempat barbeque sudah tertata rapih di dekat danau.


"Apa ini hadiahnya?" tanya Abel sembari matanya melihat tenda yang terlihat sangat nyaman itu.


Acarl yang mendengar pertanyaan Abel, langsung menggelengkan kepalanya dan memutar tubuh Abel agar menghadap ke danau saja. Sembari memeluk dari belakang, Acarl kembali beraksi di leher Abel.


"Tidak seru kalau aku memberi hadiah sesederhana ini untuk gadisku. Kalau mau melihat hadiahmu, kita harus menaiki perahu itu sampai melihat kadomu di tengah danau." ujar Acarl membuat Abel seketika mengedarkan pandangannya ke danau, seperti sedang mencari kadonya.

__ADS_1


"Apa kita akan berdua saja kesana?" tanya Abel seraya melihat perahu kecil yang terparkir di pinggir danau yang membentang dikelilingi bukit-bukit kecil yang hijau.


"Tentu saja kita berdua kesana, dan kamu tinggal duduk saja. Karena aku, Acarl Xelone akan menjadi supirmu sampai kamu menemukan hadiah itu." jawab Acarl membuat Abel tertawa kecil mendengarnya. Bagaimana mungkin Abel akan menganggap Acarl seperti itu? Acarl yang terlihat manis saja sudah cukup.


"Baiklah, supirku tolong bawa majikanmu ini ke tengah danau yang luas dengan perahu cinta milik kita." ujar Abel mengikuti alur Acarl. Dan dengan sigap Acarl mengangkat tubuh Abel dan membawanya ke perahu untuk mengambil hadiah.


"Siap majikan, akan ku dayung perahu ini agar kita bisa membentangkan layar cinta kita." jawab Acarl yang seketika menjadi tawa bagi Abel maupun Acarl. Berbeda dengan Cheiz yang melihat atasannya yang tertawa lebar. Cukup puas Cheiz menjadi asisten Acarl, setelah melihat tawa Acarl yang dulu selalu hilang termakan masalah keluarganya.


"Nona, saya sangat bergantung pada anda." ujar Cheiz pelan sebelum berbalik dan pergi menuju tendanya bersama pak Terry.


 ----------------------


Malam yang sangat larut, dan dimalam itulah Abel dan Acarl baru sampai di mansion Acarl. Kenapa tidak menginap? Yah karena besok siang keduanya ada acara. Abel dengan penghargaan yang harus diterimanya, dan Acarl yang ada meeting penting membahas proyek yang dia kerjakan sekarang.


Dan sekarang Acarl merasa kalau dirinya harus berterimakasih pada ibunya yang selalu mendukungnya. Bahkan ibunya pernah rela merentangkan tangannya demi melindungi Acarl dari amukan ayahnya yang saat itu terobsesi dengan harta dan wanita. Walaupun sekarang sudah tidak, tapi tetap saja antara Acarl dan ayahnya masih renggang.


Sementara di kamar sebelah, Abel dengan jarinya berada di leher. Meraba kalung dengan liontin bunga Lily yang indah membuatnya senyum-senyum sendiri. Inilah hadiah dari Acarl, yang harus ia ambil dari tengah danau tadi. Tak terbayang apa yang membuat Acarl memiliki ide seperti itu. Tapi jujur, Abel senang dengan kejutan itu.


Besok adalah hari berat untuknya, Dan tentu saja dirinya tidak sendiri. Ayahnya yang tampan dan baik hati, akan menemaninya untuk terima penghargaan karena menjadi murid dengan nilai tertinggi. Dan jujur saja, Abel juga sangat rindu pada Ayahnya yang baik hati dan sangat menyayanginya itu.


Bang Vano yang juga sayang pada Abel, terpaksa tidak bisa ikut dalam serah terima penghargaan untuk Abel. Yah, namanya juga abangnya satu itu harus mengurus bisnis ayah yang ada di Kanada. Abel maklumi itu, tapi yang pasti Abel tidak akan memaklumi kalau Vano tidak memberinya hadiah. Orangnya tidak datang, tapi hadiahnya harus datang kan!!!


Vano dan ayah, seketika pikiran Abel melintas sampai pada ibunya. Entah apa yang ibunya inginkan, tapi itu selalu menusuk hatinya. Perhatian untuknya tidak ada, dan dia hanya berpikir kalau Abel bukanlah anak yang harus ia banggakan. Dan untuk kasus perselingkuhannya, dari yang Abel tau adalah ibunya ingin membalas dendam pada masa mudanya. Di jodohkan dengan ayahnya yang hanya orang biasa, pasti sangat sulit untuk menerimanya.

__ADS_1


Biar begitu, ingin untuk sekali saja Abel menerima senyum ibunya. Cukup sekali saja, agar Abel tau rasanya diperhatikan dengan senyum hangat seorang ibu. Karena pada dasarnya, dari kecil Abel lah yang paling tau dengan keadaan rumah yang kacau dibandingkan kakaknya yang selalu bersekolah di luar negri. Pertengkaran, sampai akhirnya lelah dan memilih hidup hanya sebagai orang yang berada dalam satu atap.


.


.


.


.


.


Hai semua 😭


Akhirnya up juga aku😭


Bagi yang menunggu, terimakasih ya🤭


Jangan lupa like, komen dan vote ya 🤭


Dukung wajib 👌


See you next part:)

__ADS_1


__ADS_2