Kau Pelindungku Dan Aku Milikmu

Kau Pelindungku Dan Aku Milikmu
Chapter 86


__ADS_3

"Aaaa lega sekali rasanya udah dua bulan aja kita ikut kelas kilat," pekik Falida yang berjalan keluar gerbang bersama seorang gadis yang tak lain adalah Abel.


"Iya ya, kurang sebulan lagi kita lulus." jawab Abel yang ikut tersenyum membayangkan dirinya yang sebentar lagi lulus itu.


"Iya deh yang udah kebelet married, gue mah apa atuh." sindir Falida membuat Abel tertawa geli.


Abel dan Falida yang berjalan bersama menyusuri lorong, tak sengaja bertemu dengan Rian. Yap, karena sudah satu bulan ini juga sekolah sudah masuk seperti biasa. Untuk kelas, Abel sudah tidak di kelas 11 A bahasa melainkan di kelas kilat bahasa . Itu membuat Abel dan Rian yang dulunya sering ketemu jadi tidak lagi.


"Cewe," sapa Rian saat dirinya juga melihat Abel yang berjalan keluar bersama teman yang selalu ada jika Abel ada itu.


"Hai Ri," balas Abel. Falida yang melihat Abel membalas sapaan Rian dengan senyuman tentu saja dibuat bingung. Karena setaunya, Abel dan Rian adalah musuh bebuyutan.


"Gimana kelasnya?" tanya Rian yang membuat Abel mau tak mau menghentikan langkahnya.


Abel berdiri didepan Rian yang menyandarkan dirinya di dinding lorong. "Capek, tapi nanti gue bakal lulus duluan dibandingkan elo kan?" jawab Abel membuat Rian mendengus mendengarnya.


"Tuh cewe temen lo kan? Kok mukanya gitu banget liat gue?" tanya Rian membuat Abel menolehkan kepalanya kebelakang dan mendapati Falida yang sedang menatap Rian dengan tatapan penuh selidik.


"Falida, gue sama Rian udah baikan kok. Jangan bingung gitu kenapa!" ujar Abel membuat Falida seketika menatap sahabatnya itu tak percaya. Baikan? Sejak kapan?


"Wah emang bener ya, lo jahat nggak cerita sama gue." kesal Falida tak terima saat Abel dengan gampangnya bilang begitu tanpa ada rasa bersalah padanya.


Abel terkikik lalu mengacungkan dua jarinya dan bergumam membentuk kata peace. "Lo tau kan kalo dia adiknya Eron, dan Eron temennya Acarl. Yahh, kurang lebih gitu ceritanya. Lengkapnya nanti gue ceritain." ujar Abel yang diangguki malas oleh Falida.


Mereka bertiga yang awalnya dalam suasana canggung, sekarang sudah tertawa bersama. Bahkan sekarang Rian pun mengantarkan Falida dan Abel sampai gerbang. Singkat tapi bermakna, itulah yang terjadi pada mereka. Rian yang memendam rasa pada Abel harus dia hapuskan dengan hanya menjadi teman Abel.


Satu persatu jemputan sudah sampai, kini Abel sudah berada di mobil Acarl dan duduk di kursi penumpang di samping Acarl yang sedang mengemudi. "Itu tadi Rian?" tanya Acarl setelah Abel masuk kedalam mobil dan Acarl mulai menginjak pedal gas.


"Heem, tadi nggak sengaja ketemu pas mau ke gerbang." jawab Abel seraya memakai seat-belt yang lupa ia pakai sampai membuat mobil berisik karena bunyi pengingat.


Tidak ada pembicaraan lagi setelah itu, mereka berdua hanyut dalam pikiran masing-masing. Acarl sendiri memikirkan Noara yang sudah satu bulan ini tidak dia lihat. Entahlah, rasanya bersalah saja mengusir gadis itu secara kasar. Tapi bagaimana lagi, itu semua dia lakukan demi hubungannya dengan Abel.


"Nggak kerasa ya, kurang satu bulan lagi aku lulus." ujar Abel membuat Acarl tersadar dari lamunannya.

__ADS_1


"Ya apa?" tanya Acarl pada Abel karena dia tidak mendengar apa yang Abel katakan tadi.


Abel menoleh pada Acarl dan tersenyum. " Kamu pasti sibuk. Nggak apa-apa kok, cuma sedikit curhat aja." jawab Abel yang pastinya membuat pria disampingnya itu merasa tersindir.


"Maaf ya, aku tadi lagi mikirin sesuatu." ujar Acarl berusaha setenang mungkin, walau dalam hatinya dia mengutuk sifat wanita yang selalu tidak mau jujur.


Abel menggeleng, entah kenapa moodnya sedang down sekarang, juga perutnya sakit. "Aku pengen boba, " ujar Abel tiba-tiba membuat Acarl melihat gadisnya itu sekilas.


"Apa?" tanya Acarl memastikan lagi. Abel mendengus kesal karena Acarl yang menghancurkan moodnya. "Aku pengen boba!" jawab Abel dengan kesal dan langsung mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Acarl yang menyadari jika gadisnya sedang ngambek, akhirnya memilih diam dan melajukan mobilnya menuju tempat boba yang ada.


Tak lama, sampailah mereka di tempat boba. Acarl yang baru saja mematikan mesin langsung terkejut saat menyadari jika gadisnya tertidur pulas. Karena tidak tega membangunkannya, Acarl pun turun dan membeli boba sendiri untuk Abel. Setelah mendapatka boba nya, Acarl memilih segera pulang.


"Hari ini beda banget sih kamu?" tanya Acarl pada Abel yang sedang tidur. Sudah pasti tidak akan ada jawaban dari Abel karena gadis itu yang sudah pulas.


 -----------


Mobil berhenti di depan mansion. Entah kenapa, Abel yang tertidur pulas tiba-tiba terbangun setelah mesin mobil mati.


"Iya baru aja nyampe," jawab Acarl sembari menatap tak percaya pada gadisnya yang bisa terbangun tepat saat mobil berhenti.


Abel langsung bergegas keluar dari mobil dan berlari, membuat Acarl mengerjapkan matanya bingung karena gadisnya yang kalem bisa berlari sekencang itu. Langsung sadar, Acarl ikut menyusul Abel tak kalah cepatnya.


Tok tok tok...


"Abel, ada apa? Kenapa lari sekencang itu?" pekik Acarl saking paniknya.


"Aaaaaaa, kamu jangan masuk!!" jawab Abel dari dalam kamar. Tapi Acarl tetap Acarl, dirinya sebisa mungkin masuk kedalam kamar itu setelah mendapatkan kunci kamar Abel dari Cheiz.


Membuka pintu, Abel langsung berlari menuju kamar mandi. "Sayang, buka pintunya. Kamu kenapa sih?" panik Acarl yang sekarang beralih menggedor pintu kamar mandi Abel.


Tak lama, pintu terbuka sedikit dan memunculkan kepala Abel dari pintu itu. " Anu, Acarl. Emmm.... Aku boleh minta tolong nggak?" ujar Abel ragu-ragu. Pastilah Acarl si bucin itu mengangguk dengan semangat.


"Apapun, kamu minta apa?" tanya Acarl.

__ADS_1


"Itu, di dalam laci meja rias. Tolong ambilkan....emmm itu pembalut," jawab Abel malu-malu dengan kepala tertunduk. Acarl sendiri yang padahal kurang paham hanya mengangguk dan berjalan menuju laci yang ditunjuk Abel .


"Mana pembalut?" tanya Acarl dengan mengobrak-abrik meja rias Abel.


"Ituuu, yang disitu. Warnanya putih," jelas Abel sembari menunjuk - nunjuk apa yang Acarl obrak-abrik.


"Nah iya yang itu," ujar Abel saat Acarl memegang satu pembalut yang dimaksud. Dengan segera, Acarl memberikannya pada Abel.


Menutup pintu kamar mandi, Acarl masih berjaga didepan pintu kamar mandi yang tertutup itu. "Emang buat apa sih?" tanya Acarl sembari menunggu Abel.


Mendapat pertanyaan seperti itu, wajah Abel kembali memerah karena malu. "Aku- emm Aku berdarah." jawab Abel pelan.


"APA!!HAH!!! BERDARAH!???"


.


.


.


.


.


Hay semua ❤️


Aku comeback 😅


Jangan lupa like, komen dan vote ya 😙


Dukung wajib 😁


See you next part:)

__ADS_1


__ADS_2