
Dua orang yang sedang melihat foto yang terpampang di ponsel Abel, terkejut dengan apa yang dilihatnya. "Apa ini darah?" tanya seseorang yang tak lain adalah Eron (Orang yang Abel percaya saat ini).
Abel menggelengkan kepalanya tanda bahwa jawaban dari pertanyaan Eron adalah tidak. Sedangkan Clara masih mengamati foto yang Abel perlihatkan dengan teliti. "Tapi kenapa bisa ada yang menyerangmu?" tanya Clara yang disambut Abel dengan mengangkat kedua bahunya.
Abel mengingat-ingat orang yang membencinya. Bahkan kalau Abel pikir-pikir Clara sudah menerimanya, mantan teman-teman Clara? Sepertinya tidak karena kebanyakan kalau anak sekolahnya suka menyerang langsung daripada melalui paket-paket tidak jelas seperti ini. Tapi siapa lagi?
"Sepertinya aku tau," ujar Abel yang langsung membuat dua orang menatap Abel. Abel tidak yakin, tapi setelah mendengar cerita Eron kemarin....
"Siapa?" tanya Clara yang antusias ingin tau . Berbeda dengan Eron yang membelalakan matanya seakan tau apa yang ada dipikiran Abel.
"Jangan-jangan..." ujar Eron menggantung. Clara yang menyadari kalau Eron tau orang yang dimaksud Abel, langsung menyerbu Eron untuk ia tanyai.
Clara yang masih bingung, menatap bergantian dua orang di depannya. "Siapa??? Kenapa nggak kasih tau!!" kesal Clara yang merasa hanya dia sendiri yang tidak dianggap disini. Bagaimanapun mereka ada dalam satu meja, tapi kenapa hanya Clara yang tidak bisa bertelepati dengan mereka.
"Ish nggak adil lah kalian!" kesal Clara yang semakin menjadi-jadi saking tidak adanya orang yang memperhatikannya.
Abel sendiri ingin sekali memberitahu Clara, tapi tatapan Eron lebih membunuh untuk mengatakan padanya kalau tidak perlu diberitahu dulu. Rasanya geram juga mendengar Clara yang protes, tapi berbahaya juga kalau sampai diberitahu.
"Apa kak Acarl tau masalah ini?" tanya Clara membuat Abel dan Eron saling menatap, merutuki kebodohan masing-masing yang melupakan posisi Clara yang menjadi adik seorang Acarl.
"Ah anu, itu. Emm jangan kasih tau Acarl dulu ya," pinta Abel pada Clara. Tentu saja itu menjadi poin untuk Clara mengetahui rahasia Abel dan Eron. Dengan kepintarannya, Clara menggelengkan kepalanya tanda ia tidak mau mengikuti permintaan Abel.
"Katakan dulu padaku, nanti kita bisa berkompromi." ujar Clara berusaha bernegosiasi dengan Abel maupun Eron.
Menghela napasnya, Eron merasa ini juga karenanya yang sudah membocorkan pada Abel. "Noara," ujar Eron yang membuat mata bulat Clara, semakin bulat karena nama manusia dajjal yang di sebut Eron.
Clara yang kesal dengan Eron, menendang kaki pria itu dibawah meja. Tentu saja Eron mengaduh karena reflek, dan tentu saja Abel mengetahuinya. "Aku sudah tau tentang Noara. Jangan salahkan Eron, tapi salahkan saja kakakmu yang membuatku mati penasaran." ujar Abel mencoba menengahi pertempuran yang terjadi antara Eron dan Clara.
"Huh, dasar mulut emak. Bocor mulu!" sindir Clara yang langsung menusuk dada Eron.
Kembali pada topik, kini ketiga manusia itu, terlihat serius degan permasalahan yang ada. Serangan mendadak ini, adalah tanda-tanda serangan selanjutnya bukan? Hah rasanya Abel ingin segera mengakhiri ini.
"Kita akan menjagamu, kalau sampai kita tidak menjagamu maka kepala kita akan terpajang diatas tungku api." ujar Eron menenangkan Abel, juga diangguki oleh Clara.
"Tenang aja," balas Abel dengan senyumnya.
__ADS_1
Ia tidak terlalu mengerti kenapa Noara sangat terobsesi seperti itu. Bahkan penolakan Acarl yang kejam, tidak mampu merobek hati kecilnya? Abel sungguh salut dengan apa yang Noara rasakan. Tapi tidak dengan caranya untuk mendapatkan segalanya.
________
"Apa kamu merindukan ku?"
"Sangat!"
"Apa yang akan aku dapat kalau pulang?"
"Pukulan kasti?"
Tawa-tawa terdengar menghiasi isi kamar Abel saat ini. Malam hari yang sepi, berbeda dengan hari cerah di tempat Acarl. Tentu bukan Acarl yang meminta video call, tapi Abel yang entah kenapa merasa hampa jika tidak ada pria itu disisi nya.
"Apa kamu tau? aku disini tidak senyenyak saat tidur bersamamu." goda Acarl di sebrang sana.
Pipi Abel yang selalu merona karena gombalan receh Acarl, langsung ia tutupi dengan boneka kecil yang selalu ada disebelahnya. Rasanya ini LDR paling jauh yang pernah Abel rasakan. Tapi menyenangkan juga karena ia bisa merasakan rindu yang teramat untuk Acarl.
"Lagi kerja?" tanya Abel dijawab gelengan kepala oleh Acarl. Abel mengerutkan dahinya karena bingung, bukannya ini ditempat Acarl siang tapi kenapa pria itu tidak bekerja?
Abel mengangguk-angguk mengerti apa maksud Acarl. Biar begitu, sekarang Abel lebih memilih untuk menikmati wajah Acarl yang selalu terlihat tampan baginya. Entahlah, Abel merasa dirinya beruntung sekali bisa bertemu Acarl dan dicintai olehnya.
"I love you,"
Wajah menegang langsung terlihat jelas dilayar ponsel Abel. Wajah Acarl yang menatapnya dengan bola mata yang bisa saja hampir keluar itu, membuat Abel tersenyum.
"Bisa katakan sekali lagi!" pinta Acarl yang mendapat gelengan kepala dari Abel, menandakan gadis itu tidak mau mengulanginya.
"Huh sayang sekali, rasanya bekalku sudah habis." keluh Acarl membuat tawa kecil keluar begitu saja dari mulut manis Abel.
Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul dua belas tepat di tempat Abel. Abel menyudahi panggilannya dengan Acarl, lalu memilih untuk segera tidur karena besok dia harus bersekolah.
---------------------
"Tinggal dua minggu lagi kalian akan mengikuti kelas kilat ini. Saya harapkan kalian semua mempersiapkan untuk ujian lusa depan. Tetap semangat, dan belajar lebih giat lagi."
__ADS_1
Salam penutup hari ini sudah terdengar jelas di telinga Abel. Rasanya tidak menyangka saja, secepat ini dia akan segera keluar dari sekolahan ini. Sudah hampir tiga belas tahun lamanya, momen ini ia tunggu-tunggu.
"Fyuhhh, akhirnya sebentar lagi gue bebas." pekik Abel saat berjalan keluar bersama Falida.
"Hahaha bener juga, gue juga nggak nyangka bakalan secepet ini!" balas Falida tak kalah semangatnya dengan Abel.
Langkah Abel terhenti saat dirinya mendapati sosok seorang wanita yang amat ia kenali dan harus jauhi. Noara. Gadis itu seakan sedang menunggu mangsanya tepat di gerbang sekolahnya.
"Apa yang harus aku lakukan!" batin Abel berteriak.
Falida yang menyadari temannya berhenti mendadak, akhirnya ia melihat arah mata Abel yang mengarah pada seorang wanita yang juga ia kenali. Tapi kenapa Abel sampai beraksi seperti ini?
Noara, gadis itu melihat sekeliling sampai akhirnya ia meliha Abel dan Falida yang berdiri memandanginya. Gadis itu berjalan mendekat kearah keduanya sedang berada. Seketika, Abel merasa ada aura permusuhan yang terasa saat Noara semakin mendekat padanya.
"Hai Abel, kita bertemu lagi."
.
.
.
.
.
Hay semua ❤️
Aku comeback 😅
Jangan lupa like, komen dan vote ya 😙
Dukung wajib banget 😂
See you next part:)
__ADS_1