
Setelah menceritakan yang sebenarnya terjadi pada Acarl, Eron mencari keberadaan ponakannya dengan Abel itu. Sebelumnya, Acarl sudah menelpon Abel. Dari kejauhan Acarl dan Eron sudah melihat Abel dan Keira yang masih duduk ditempatnya. Tanpa ragu lagi, Acarl dan Eron berjalan mendekat pada dua gadis beda generasi itu.
"Apa benar mereka yang menghabiskan makanan sebanyak ini?" batin Acarl bertanya setelah melihat tumpukan piring kosong di meja makan yang ditempati Abel dan Keira.
"Kei," panggil Eron pada Keira. Keira yang masih ketakutan langsung berlari dan memeluk Abel, menyembunyikan wajahnya diperut Abel yang sedang duduk.
"Kei, maafin paman ya? tadi paman kaget liat kamu disini." Ujar Eron berusaha lembut pada Keira. Setelah mendengar cerita Acarl tadi, Eron tau kenapa Keira bersama Abel dan Acarl. Dan itu membuat Eron mengumpati kakaknya yang tega meninggalkan Keira demi bisa berdua dengan lelakinya .
"Paman marah sama Keira kan? paman nggak suka sama Keira kan?" lirih Keira tanpa melihat Eron .
"Paman nggak marah sama Keira, paman tadi kaget karna liat Keira disini dan udah secantik ini." jawab Eron terus membujuk Keira. Disini Keira yang korban, jadi tidak sepatutnya juga Eron tadi bersikap kasar pada Keira yang tidak tau apa-apa.
"Maafin paman ya," lanjut Eron yang langsung meluluhkan hati Keira. Keira langsung berbalik dan menghadap Eron yang memasang wajah sedihnya. Keira yang tidak tega, mengulurkan tangannya yang mungil itu dan ditempelkan pada pipi Eron.
"Keira maafin paman kok, tapi paman harus beliin Keira boneka panda yang besar." ujar Keira yang membuat Eron takjub dengan respon gadis kecil ini. Dengan cepat, Eron mengangguk dan menggenggam tangan mungilnya Keira lalu mengecupnya .
"Kalau gitu, Keira kangen sama oma opa enggak?" tanya Eron pada Keira. Tentu saja gadis kecil itu mengeluarkan binar dimatanya. Sebagai cucu pertama keluarga Ariens, pastinya dia akan lebih diperhatikan disana. Keira pun mengangguk mantap .
"Aku kangen oma opa ,paman. Tapi nanti mama," ujar Keira yang senang ,tapi ada yang mengganjal di lubuk hatinya. Eron yang paham, lalu menggendong Keira .
"Hei gadis, apa Keira lupa kalau ada paman disini?" balas Eron yang membuat cengiran khas Keira keluar.
...----------------...
Didalam ruangan yang sekarang sepi itu, Abel bingung ingin berbuat apa. Sekarang hanya tinggal dirinya dan Acarl diruangan yang membosankan itu. Setelah Keira yang menyetujui ajakan Eron tadi, sekarang Keira sudah sah ikut bersama Eron untuk pulang ke tempat oma opa nya berada.
Diam-diam Abel mengeluarkan ponselnya dan ditutupinya dengan bantal sofa agar tidak ketahuan Acarl. Banyak pesan dan panggilan tak terjawab masuk kedalam ponsel Abel, tapu parahnya adalah Abel lupa mematikan dering notifikasi ponselnya.
"Mati aku, apa aku harus menoleh pada dia sekarang?" batin Abel.
Perlahan namun pasti, Abelpun menoleh pada Acarl yang sekarang juga menatapnya. Abel memperlihatkan deretan gigi putihnya pada Acarl, sedangkan Acarl merasakan sesuatu terjadi dalam dirinya. Wajah menggemaskan Abel, mampu membuat seorang Acarl menelan ludahnya susah.
"Ehem... kapan jadwal pertemuanku dengan dokter?" ujar Acarl tiba-tiba. Abel sedikit terkejut dengan apa yang ditanyakan Acarl padanya, karna setahunya tidak ada jadwal pertemuan dengan dokter hari ini.
"Maaf,Tuan. Dalam daftar saya tidak ada pertemuan antara anda dengan dokter," jawab Abel yang membuat Acarl mengerutkan keningnya. Pikirannya langsung saja tertuju pada Cheiz saat itu juga.
"Sialan Cheiz! dia bos nya apa aku bos nya?!" batin Acarl mengutuk Cheiz.
Acarl menoleh lagi pada Abel dan melihat wajah polos itu menatapnya dengan tatapan yang entah kenapa bisa membuat jantung Acarl berdegup kencang lagi. "Berhenti menatapku, atau kau ku..." pekik Acarl yang menggantung karena tidak tahu apa yang harus dia katakan selanjutnya, tapi tentu saja itu membuat Abel sendiri merinding melihat kemarahan Acarl.
"Maafkan aku, aku hanya sedang kesal." ujar Acarl setelah menangkap raut ketakutan diwajah Abel. Tentu saja permintaan maaf Acarl dianggap aneh untuk Abel, bagaimana bisa Acarl yang bos Meminta maaf padanya.
"Tidak ,Tuan. Saya akan menghubungi tuan Cheiz untuk bertanya dokter yang biasa mengobati anda." sangkal Abel pada permintaan maaf Acarl, dengan segera dia mengambil ponselnya yang selalu berada di sakunya. Namun dengan cepat pula Acarl merebut ponsel itu.
__ADS_1
"Dia ingin bertelepon dengan Cheiz???" batin Acarl .
"Tidak perlu, aku sudah tidak sakit. Lebih baik kau persiapkan diri untuk berbelanja nanti!" perintah Acarl. Abel menundukkan kepalanya dan keluar dari ruangan Acarl karena merasa takut dengan Acarl yang suka berubah-ubah sikapnya. Bahkan Abel sampai melupakan ponselnya yang masih berada digenggaman Acarl.
Selepasnya Abel keluar dari ruangan Acarl, Acarl berteriak sendiri. Merutuki kebodohannya yang entah sejak kapan dia punya itu. Bahkan sekarang Acarl mulai berpikir, ada apa dengannya sekarang, kenapa setiap melihat wajah Abel dia tidak bisa mengendalikan diri.
Larut dalam kebodohannya, Acarl melirik ponsel Abel yang sekarang berada dimejanya. Meraih ponsel cashing pink itu, membuat Acarl penasaran dengan apa yang ada dalam ponsel kecil ini. Apa isinya sampai-sampai membuat Abel ingin membukanya terus.
Dertt....dertt....dertt..
Suara getar ponsel, membuat Acarl sedikit terkejut . Dilihatnya ponsel Abel bergetar diatas mejanya dan menampilkan nama Falida di layarnya. Karena rasa penasaran tadi, membuat Acarl meraih kembali ponsel itu dan mengangkat panggilan itu.
"Apa lo terlalu bersenang-senang dengan tuan Acarl sampai membuat lo lupa sama gue? Dahlah kalau lo udah nggak sibuk cepet chat gue."
Panggilan berakhir dalam sepihak. Pekikan yang diberikan Falida tadi membuat telinga Acarl terasa cenat cenut sendiri, bahkan ponsel itu tadi sudah dia jauhkan dari telinganya.
"Apa aku terlalu membatasinya?" batin Acarl .
...----------------...
Dalam mobil , hanya ada Abel dan Acarl disana. Dengan Acarl yang mengemudi dan Abel yang duduk disampingnya. Sebagai asisten, tentu saja Abel merasa risih diperlakukan seperti ini tapi itu semua adalah perintah Acarl.
Tanpa ada yang membuka suara , suasana sunyi mulai merayap di penghujung waktu. Perjalanan menuju toko pakaian sebenarnya tidak jauh, hanya saja rasa sunyi ini yang membuat bosan. Abel yang paling merasakannya, mencoba meraba ponselnya disaku yang dia pakai. Tapi hasilnya nihil, ponsel itu tak ada dalam sakunya. "Mana ponselku?" batin Abel bertanya-tanya.
"Kau meninggalkannya di ruangan tadi," ujar Acarl menjelaskan pertanyaan yang bahkan belum diberikan Abel.
Abel menerima ponsel itu pelan-pelan. " Terimakasih, Tuan." ujar Abel.
Suasana sunyi kembali terjadi sampai mobil sudah memasuki kawasan mall mewah itu. Abel sedikit terkejut dengan tempat yang didatanginya ini, bukan karena Acarl membawanya kesini tapi karena mall ini yang jelas adalah tempat dimana siswa siswi sekolahnya nongkrong dimalam minggu ini.
"Tuan, apakah kita bisa mencari mall lain?" tanya Abel yang membuat seorang Acarl mengerutkan dahinya.
"Kenapa? apakah ada masalah dengan mall ini?" bukan menjawab, Acarl malah mengajukan pertanyaan yang tentu daja membuat Abel bingung bagaimana cara untuk menjelaskannya pada Acarl.
"Emm itu saya emm saya tidak... " ujar Abel yang membuat Acarl bingung sendiri.
"Apa?" tanya Acarl yang seraya melepaskan seat belt nya agar mudah menolehkan diri menghadap Abel.
Abel memainkan jarinya karena bingung, bahkan dia juga memejamkan matanya untuk berpikir. Belum menemukan jawaban yang tepat, Abel kembali membuka matanya . Wajah Western bermata biru emerald itu berada tepat didepan wajah Abel, yang tentu saja membuat Abel terkejut dan terjengkal kebelakang sampai kepalanya membentur kaca mobil.
Duk..
"Awhhh.." pekik Abel mengaduh .
__ADS_1
Tanpa aba-aba, Acarl mengulurkan tangannya untuk mengelus kepala belakang Abel. Tatapan keduanya terpaku satu sama lain saat itu, warna mata yang berbeda itu terasa seperti menyatu .
"Kenapa?" tanya Acarl dengan masih menatap mata Abel.
"Karena disana ada anak sekolahku ," jawab Abel tanpa sengaja keluar begitu saja seperti terhipnotis dengan tatapan yang diberikan Acarl.
Entah dorongan dari mana, mata biru emerald Acarl menatap turun sampai ke bibir pink milik Abel. Dengan dua jantung yang saling berdegup bersautan itu, membuat Abel merasa lemas saja saat itu .
Semakin dekat Acarl memajukan wajahnya, dan...
Tok tok tok....
Ketukan kaca di belakang Abel mengejutkan dua insan yang sedang dalam keadaan menatap itu. Acarl langsung memundurkan kepalanya begitu juga Abel langsung tersadar dan menegakkan tubuhnya.
"Tuan ,Nyonya jika kalian ingin bermesraan lebih baik jangan ditengah jalan begini." teriak orang yang tak lain pasti satpam mall diluar itu.
Acarl menginjak pedal gasnya . Mobil tetap melaju masuk kedalam parkiran mall. Abel yang hanya diam saja ,tak sadar jika mobil sudah berhenti . Bayangan wajah dan mata Acarl terus berputar di benak Abel, bahkan nafasnya saja sampai tak beraturan.
Acarl yang juga masih memikirkan tindakannya tadi, langsung teralihkan karena ingat dengan ucapan Abel yang mengatakan alasan kenapa Abel tidak mau masuk kedalam mall itu. Segera Acarl mengambil ponselnya dan menelpon seseorang itu.
"Sekarang.."
Tut tut
.
.
.
.
.
Hay semua ❤️
Aku comeback 😭
Jangan lupa like, komen dan vote ya 😙
Dukung juga boleh 😁
See you next part:)
__ADS_1