
Suasana pagi yang hangat, menyelimuti dua orang yang masih betah di balik selimut yang sama. Hangatnya tubuh keduanya, membuat keduanya enggan untuk membuka mata masing-masing. Tapi, waktu terus berjalan pastinya. Dan perut mereka mulai memberontak.
"Pagi sayang, udah waktunya sarapan." bisik seorang pria yang tak lain adalah Acarl pada gadis di dalam pelukannya yang tak lain adalah Abel.
Abel membuka matanya, lalu mendongak dan mendapati mata biru emerald yang menatapnya dengan sayang. "Pagi juga," jawab Abel dengan senyumnya dan jangan lupa tangannya yang memeluk erat tubuh Acarl.
"Makan dulu, nanti lagi." goda Acarl pada Abel yang langsung mendapat hadiah jitakan dikepala Acarl.
"Lagi lagi ! Emang kita ngapain?!"kesal Abel pada Acarl yang terus menggodanya. Bahkan sekarang pun Acarl menatap dengan senyum yang menggoda Abel, membuat Abel tersipu malu kalau ingat kejadian semalam.
Flashback on
Kepergian mobil medis itu, membuat dada Abel mendadak langsung lega. Sedangkan Acarl, langsung mendekap erat tubuh Abel yang lemas karena ketakutan. Jujur saja, walaupun tadi Abel berani melawan Noara, tapi sebenarnya dia ketakutan disaat yang sama. Apalagi mendapati wajahnya yang digores itu, menambah rasa takut Abel.
Tuan Palvison yang datang memandu tenaga medis tadi, kini berjalan mendekat pada Abel dan Acarl. "Tuan muda Xelone, nona Guston. Saya mohon, maafkan putri saya. Jangan penjarakan dia, tapi saya akan memantaunya di rumah sakit jiwa." mohon tuan Palvison.
Pria paruh baya itu sampai berlutut saking merasa bersalah pada Abel dan Acarl. Abel yang tak tega melihat perjuangan seorang ayah sampai seperti ini, mengingatkannya pada ayahnya sendiri yang selalu mengerti masalah Abel.
Dengan kaki lemasnya, Abel berjongkok menyamai tinggi tuan Palvison. Abel dengan lembut menggenggam tangan tuan Palvison yang dikatupkan itu. "Tuan Palvison, saya sudah memaafkannya. Lagipula, ini juga bukan kesalahan Noara sepenuhnya. Dia hanya belum bisa menerima saja tentang takdir dunia. Dan saya juga tidak akan memenjarakan Noara, sebaliknya saya ingin Noara segera kembali menjadi dirinya." ujar Abel dengan lembut.
Tuan Palvison yang mendengar penuturan Abel, langsung meneteskan air matanya. " Ini semua salahku, aku keterlaluan saat meninggalkannya demi mengejar dunia. Dia selalu mendapatkan apa yang dia inginkan, kecuali kasih sayang." lirih tuan Palvison membuat Abel mengerti kenapa obsesi Noara sangatlah kuat.
Tak lama setelah itu, tuan Palvison yang merasa sudah baikan langsung pamit untuk mengurus putrinya. Dan kini, tersisa Acarl dan Abel yang diterpa angin dermaga yang menambah suasana dingin di hari yang mulai malam.
Acarl yang mengerti gadisnya kedinginan, langsung melepas jas yang dipakainya. Lalu memakaikan di tubuh mungil Abel yang terlihat kurus dari sebelum ia di culik. "Disini dingin, lebih baik kita ke hotel." ujar Acarl lembut sembari menggiring Abel di dengan lembut. Tapi...
Abel mendadak berhenti dan terpaku ditempat, membuat Acarl langsung menoleh pada Abel yang ada disampingnya. "Ada apa? Apa kakimu sakit? Atau ada yang tidak enak?" serbuan tanya dari Acarl yang langsung mendapatkan gelengan kecil dari Abel.
"Aku kotor, jangan mendekati aku." ucap Abel membuat Acarl bingung sendiri. Bukan hanya perkataan Abel yang membuat Acarl bingung, tapi ditambah gadisnya itu yang kini mulai meneteskan air matanya juga membuat Acarl menjadi bertambah panik.
"Bahkan, aku tidak pantas menyebut namamu lagi. Bibirku sudah kotor dan itu membuatku tidak bisa menyebut namamu lagi. Semuanya kotor saat itu!" lirih Abel yang ambigu, membuat Acarl yang mendengarnya semakin tak mengerti ada apa dengan gadisnya ini.
"Kurasa kamu perlu istirahat. Baru kamu jelaskan nanti padaku, okey?" ucap Acarl lembut dan itu menambah dada Abel semakin bergejolak.
__ADS_1
Abel mengepalkan tangannya dengan kuat, dadanya sakit. "Demi hari itu, aku harus menciumnya. Aku... hiks... aku harus menciumnya. Tidak ada yang bisa membuat bibirku bersih lagi! Tidak ada! Semua kotor, semua kot..-"
cup.......
Tubuh Abel terhuyung ke belakang, tat kala bibir hangat nan lembut menempel di bibirnya. Menciumnya dengan lembut, menyesapnya dan memandunya menjadi candu. Sedangkan para pengawal yang berjaga langsung membalikkan badan sembari mengamankan dermaga yang terasa hangat.
Acarl memundurkan kepalanya perlahan, melihat wajah gadisnya yang dipenuhi air mata. Memajukan wajahnya lagi, Acarl mengecup kedua mata hazel itu. "Jangan pernah katakan itu, apa kamu tau betapa rindunya aku? Seberapa frustasinya aku saat tidak ada kamu? Dan sekarang, aku sudah menemukanmu. Itu sudah lebih dari cukup untukku melihatmu." ucap Acarl sembari menatap mata hazel itu.
Dan malam itu, adalah malam yang membahagiakan bagi Acarl dan Abel. Sampai akhirnya keduanya tertidur setelah pulang dari rumah sakit untuk memeriksa luka Abel. Hanya luka gores, tapi Acarl yang kesakitan melihat gadisnya terluka, akhirnya mengharuskan membawa Abel ke rumah sakit sebelum pulang ke hotel dan tidur.
flashback off
"Udahlah, aku mau makan. Aku laper pengen lasagna sama susu almond." ujar Abel megalihkan tatapan Acarl yang terus menggodanya.
Acarl langsung mengangkat tubuh Abel dan menggendongnya ke kamar mandi. Sedangkan Abel yang merasa tubuhnya melayang, tentu saja terkejut dengan Acarl yang tiba-tiba mengangkatnya. "HEi ACARL! TURUNIN AKU! AKU BISA JALA SENDIRI." pekik Abel dalam gendongan Acarl.
"Tidak, dadamu yang tertusuk masih memerah. Pipimu yang tergores belum kering. Itu tandanya kamu belum sembuh total." tegas Acarl membuat Abel memajukan bibirnya tidak terima. Inilah yang membuat Abel tidak enak sendiri. Tapi Abel tidak akan pernah bisa protes melawan Acarl yang berjiwa emak-emak kalau Abel sedang sakit.
Sampai pada akhirnya, Abel diturunkan setelah memasuki bathub dan Acarl keluar. "Panggil aku kalau sudah selesai mandi!" pinta Acarl setelah menurunkan Abel. Sedangkan Abel mendengus sebal.
Sarapan yang sudah Abel pesan, sudah tersaji dengan cantiknya di kamarnya. Sebenarnya bisa saja mereka turun untuk ke ruang makan, tapi Acarl tau gadisnya akan merasa risih bila orang lain memandangnya karena luka dipipinya. Itu yang membuat Acarl memesan sarapan dan dimakan di dalam kamar saja.
"Pemandangan yang bagus," ujar Abel saat melihat diluar jendela yang menyajikan tatanan gedung dari atas.
"Tidak secantik yang bilang." balas Acarl membuat Abel mencibir. Tingkat bucin Acarl sungguh meningkat setelah lama tak bertemu, dan itu membuat Abel harus beradaptasi dengannya.
"Kapan kita pulang?" tanya Abel sembari menikmati lasagna nya yang bertabur keju leleh yang menambah mood Abel untuk memakannya.
"Tidak akan pulang, aku masih ingin berdua denganmu. " jawab Acarl membuat Abel bertambah kesal pada Acarl.
"Acarl, aku serius! Aku harus bersekolah, lalu aku juga harus menyapa yang lain." kesal Abel yang diacuhkan Acarl.
"Kamu tidak akan sekolah, kita akan menikah."
__ADS_1
"Nikah aja sendiri! Orang aku mau selesaiin sekolahku dulu!"
"Clara sudah siapin baju nikah untuk kita."
"Siapa juga yang mau nikah sama kamu?!"
"Akan ku bunuh siapapun yang menikah denganmu selain aku."
"Bunuh aja!"
"Oke!"
.
.
.
.
.
Hay semua ๐คญ
Apa kabar semua??
Sehat kah?
Gimana nih? Acarl makin bucin๐ญ
Apa jadinya ya Abel nanti?!
Jangan lupa like, komen dan vote ya ๐
__ADS_1
Dukung wajib ๐
See you next part:)