
Hari menjelang sore dan lama kelamaan menjadi malam. Ayah pulang tepat jam 8 malam. Akupun turun untuk makan malam bersama. Saat di meja makan, nyonya Guston masih melihatku dengan tatapan tajamnya. Ayah yang menyadari itu langsung bertanya padaku dan nyonya Guston.
"Ehemm... ada apa ini? " tanya ayah dengan mengepalkan tangannya untuk menahan dagunya.
"Anak kamu mas bikin masalah terus!" adu Nyonya Guston pada Ayah , namun matanya melihatku dengan tajam.
"Kamu kenapa Bel?" tanya ayah padaku.
"Nggak papa kok,yah. Cuman ada masalah dikit di sekolah." jawabku sambil mencoba tersenyum pada ayah.
"Nggak papa nggak papa.... kamu tau mas, anak kamu ini punya masalah sama anaknya tuan Xelone!" ujar Nyonya Guston yang masih melihatku dengan tajam.
"Tau darimana kamu? " tanyaku heran dengan ucapan nya itu. Namun yang ditanya malah diam saja.
"Masalah apa Bel? " tanya ayah padaku.
"Salah paham aja kok , Yah." jawabku.
Kami pun akhirnya terdiam lagi dan melanjutkan acara makan malam. Setelah selesai makan, aku pun menuju kamarku bersiap untuk tidur.
Author pov
Keesokan harinya
Seperti biasa, Abel datang kesekolah dengan diantar pak Andre.
Suasana sekolah terlihat seperti biasa, tidak ada yang mencurigakan. Namun anehnya saat Abel menuju kearah kelasnya, tepat di depan kelasnya biasanya ada Clara yang menatapnya sinis,tapi sekarang tidak ada dia.
"Tumben." batin Abel.
Abel pun berjalan seperti biasa menuju kedalam kelasnya. Ada teman sekelasnya yang memang dekat dengan Clara menatapnya dengan tajam seakan benci sangat sangat benci.
__ADS_1
Pelajaran berlangsung dan sampailah saat istirahat pertama. Abel berjalan menuju ke kantin setelah mendapat pesan dari Falida bahwa dia sudah menunggu dikantin.
"Lo lagi dapet masalah ya? " tanya Falida saat Abel sudah ada didepannya.
"Tau darimana? " Tanya Abel balik.
"Satu sekolah tau lah! Apa lagi kalo lo berurusan sama Clara!" jawab Falida jengkel dengan temannya ini yang tidak cerita tentang masalahnya.
"Gue gapapa kok." ujar Abel dengan tatapan tulus.
"Gue gak mau lo dicabut dari sekolah!" lirih Falida.
"Tenang, gue bisa atasi kok!" ujar Abel dengan tegar.
"Lo harusnya cerita sama gue!" kesal Falida.
"Gue tau lo lagi sibuk kemarin." jawab Abel yang memang sebenarnya dia tidak ingin melibatkan temannya eh ralat,,, satu satunya sahabat yang dia miliki.
"Kayak nggak tau gue aja!" jawab Abel dengan smirk nya.
"Gue percaya sama lo." kata Falida dengan senyumnya.
Mereka pun menghabiskan waktu di kantin dengan mengobrol, entah apa yang mereka obrolkan. Sampai Bel masuk berbunyi memisahkan mereka.
Kok firasat ku nggak enak ya, batin Abel.
Waktu sekolah selesai, sekarang Bel pulang berbunyi dengan indah bagi para pelajar.
"Apa itu rame-rame?" tanya Abel pada Falida yang berada disebelah nya berjalan menuju gerbang bersama.
"Gatau ya, ayo lihat! " ajak Falida.
__ADS_1
Didepan lorong menuju gerbang, banyak orang yang sepertinya wartawan mengerubungi seseorang ditengah mereka.
"Itu kan tuan Xelone! Ada apa? " ujar Falida yang membuat Abel menoleh padanya.
"Gue tau, ini ada hubungannya dengan gue!" jawab Abel pasti.
"Lo gak boleh kesana!" tahan Falida dengan tangannya menarik tangan Abel yang berjalan menuju kesana.
"Gue harus! Demi keluarga gue." putus Abel.
"Gue ikut! " ujar Falida yang mendapat gelengan dari Abel.
"Nggak lo ga boleh, ini masalah gue! " tolak Abel.
"Gue harus, gue sahabat lo!" tawar Falida lagi.
"Tapi.. "
"Gue ikut!" potong Falida saat Abel ingin menolak nya lagi.
Dengan terpaksa, Abel menganggukkan kepalanya. Mereka berjalan seperti biasa menuju kearah gerbang.
Hai kakak-kakak yang baik, yang mau baca ceritaku ini:)
Pertama aku mau ngucapin terimakasih ❤
Kedua, untuk kakak yang baik aku mau minta vote nya yahh??
Plishhh, dukung cerita ini:)
Dan jangan lupa buat komen dan like ya kak:)
__ADS_1
Sankyu:*