
Pagi hari menyapa kembali dengan gemericik air yang membuat semua orang betah bergelut dengan selimutnya. Suasana sejuk dan redup , membuat siapa saja betah berlama-lama berada diatas kasur. Contohnya si Tuan yang tepat waktu itu, kini masih berada didalam kamarnya dan enggan meninggalkan mimpinya. Suasana yang mendukung juga mimpinya yang indah, membuatnya tidak membuka matanya untuk melihat jam yang sudah tertera di dinding dan nakasnya.
Seorang gadis disebelah kamar itu, juga melakukan hal yang sama. Bahkan seperti ada pertemuan didalam mimpi mereka. Seakan nyata, membuat mereka enggan untuk merasakan guyuran air di kamar mandi itu.
Acarl dengan mimpinya yang indah sesuai hadapannya sebelum tidur. Sedangkan Abel dengan mimpi yang tidak pernah disangkanya. Bertemu dengan dua pria yang amat familiar baginya itu. Dua pria yang saling bertarung melalui tatapan masing-masing, dengan Abel berada ditengah-tengah mereka berdua.
Namun tiba-tiba bibirnya terasa hangat karena pria yang amat sangat dikenalinya itu menempelkan bibirnya pada bibir Abel . Sangat dalam ,bahkan membuat si pria satunya lagi melongo dan menatap tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Lama bibir mereka menyatu, tiba-tiba...
"HAH!!"
Abel terbangun dengan nafas ngos-ngos an . Seakan mimpi yang dilaluinya tadi memang nyata adanya. Seketika, tangan Abel menyentuh bibirnya dan merasakan jika bibirnya tida sehangat tadi.
"Huwaaaaa! apa gue gila sampai memimpikannya!" pekik Abel pelan, takut ada yang mendengar jika kencang.
Mimpi yang masih terbayang-bayang itu selalu menghantui Abel sekarang. "Bagaimana bisa gue memimpikan hal itu bersama Tuan Acarl? Huwaaa Abel lo udah gila fiks lo gila! " maki Abel pada dirinya dalam hati.
Bersaman dengan itu, Acarl terbangun dengan perasaan yang sangat senang. Entah, moodnya tiba-tiba cerah saat mimpi yang sangat diinginkannya itu benar datang padanya.
__---__
Sarapan yang tenang namun terkesan canggung itu terasa sampai membuat semua orang yang melihat saja pasti juga sudah merasakannya. Abel yang diam karena mimpinya tadi, membuatnya merasa malu jika menatap Acarl saat ini. Sedangkan Acarl terdiam karena memandangi Abel yang sempat mampir ke mimpinya tadi.
"Tuan, saya akan ke kantor sekitar jam setengah enam mungkin," ujar Abel yang masih menundukkan kepalanya. Acarl tersadar dari tatapannya dan segera mengambil sendok didepannya.
"Baiklah, aku akan menunggumu. Dan sepertinya aku lembur nanti," jawab Acarl.
Abel mengangguk paham seraya menyantap sarapannya. Seketika dirinya tersadar akan sesuatu yang tiba-tiba terpikir olehnya. "Lembur? Apakah aku akan ikut lembur?" batin Abel.
"Kamu tidak usah ikut. Tugasmu hanya mengantarkan makan malam untukku, dan siapkan pakaian juga." ujar Acarl seakan mengerti apa yang ada dipikiran Abel .
"Baik Tuan, saya akan siapkan nanti." jawab Abel mengiyakan.
__ADS_1
Keduanya akhirnya terdiam lagi dan memilih menghabiskan sarapan masing-masing sampai jam menunjukan mereka harus segera berangkat.
Didalam mobil yang sama , hanya berbeda sekarang saja suasananya karena hanya ada Acarl dan Abel dimobil itu. Acarl yang tadi bersikeras mengemudikan sendiri agar bisa berdua dengan Abel, sekarang dihadapkan dengan Abel yang hanya diam saja.
"Ehem!" deheman dari Acarl yang tidak digubris Abel sama sekali. Gadis itu lebih memilih menikmati pemandangan diluar dan berpikir kenapa tadi dia mau diajak satu mobil dengan Acarl.
"Ehem," deheman Acarl lagi yang sekarang sedikit direspon Abel dengan lirikannya. Walau sedang mengemudi, Acarl lamat-lamat bisa melihat lirikan itu .
"Tuan, kenapa anda memaksa saya satu mobil dengan anda? Bahkan mobil Pak Terry saja sudah selesai diperbaiki." ujar Abel tiba-tiba tanpa menjawab arti deheman Acarl.
"Bukankah kita berteman? Dan sampai kapan kamu akan memanggilku Tuan? " jawab Acarl dengan melemparkan tanya nya itu.
Abel menghela napasnya saat dihadapkan dengan pertanyaan yang berat itu. Entah kenapa setiap pertanyaan yang Acarl tanyakan padanya selalu memberatkannya, seakan ada dendam dibalik semua itu. "Bukan seperti itu, tapi saya belum terbiasa jika harus memanggil anda dengan nama atau bahkan tanpa gelar Tuan." jawab Abel kembali mengarahkan pandangannya keluar.
Acarl yang mendengar jawaban Abel, berdecak kesal dan membanting stirnya agar menepi ke tepian jalan. Dengan rem yang mendadak, membuat Abel terkejut karenanya.
"Tuan, apa yang and-"
Dengan nafas tertahan, Abel memejamkan matanya seakan menikmati momen yang terjadi saat ini. Matanya yang tertutup, seolah ijin bagi Acarl. Acarl tersenyum melihat mata itu, mata brownis nya yang tertutup menikmati suasana ini.
Acarl menarik kepalanya perlahan, membuat Abel membuka matanya perlahan juga. Nafas memburu dari keduanya, membuat keduanya menjadi saling tukar menukar udara itu.
Mata biru emerald dan mata coklat hazel itu beradu yang membuat pertahanan Acarl kembali runtuh. Dengan cepat, Acarl menarik tengkuk Abel dan mendorongnya untuk memperdalam rasa hangat diantara kedua bibir yang menyatu itu. Entah kenapa, Abel tidak berontak . Bahkan sekarang sedikit demi sedikit Abel membalas ciuman itu .
"Jangan pernah sungkan dan takut padaku," ujar Acarl melepas sebentar bibirnya, lalu kembali menautkan setelah selesai mengucapkan kata itu.
__---__
"Bersiaplah sekitar jam 7 malam ini. Pak Terry akan mengantarmu ketempat yang sudah aku siapkan. Tidak perlu memasak untuk hari ini," ujar Acarl setelah mobil berhenti didepan halte dekat sekolah Abel.
"Ba-baik," jawab Abel kemudian membuka pintu dan keluar dengan debaran jantung yang belum hilang dari tadi.
__ADS_1
Acarl tersenyum melihat Abel yang sekarang berlari memasuki gerbang sekolah yang hampir tertutup itu. Suatu mimpi yang menjadi nyata telah terlaksana hari ini. Mimpi menjadi kenyataan? Acarl bahkan tidak pernah memikirkannya. Tadi Acarl hanya kesal dengan Abel yang terlihat tidak bersahabat dengannya, namun siapa sangka jika kekesalannya menguap begitu saja setelah hangat bibir yang membalasnya itu membuat moodnya cerah kembali.
Acarl merogoh sakunya untuk mengambil ponsel. Dengan cepat, dia menekan nomor ponsel yang tidak asing bagi siapapun yang membaca sekarang:)
"Siapkan masakan Italia dan juga siapkan tempat istimewa dikantorku malam ini!" perintah Acarl pada pendengar diseberang yang tak lain pastinya Cheiz.
"Baik ,Tuan." jawab Cheiz diseberang sana.
Acarl menutup sepihak panggilannya itu. Kemudian kembali melajukan mobilnya menuju kantor dengan senyum yang tak luntur itu.
Sedangakan seorang gadis yang berlari dikoridor itu, merasakan jika jantungnya sekarang berontak padanya. Degupan kencang itu mengalihkan rasa lelah Abel yang berlari karena dirinya sudah telat sekarang. Bahkan pikiran Abel dipenuhi kehangatan itu, sampai-sampai sekarang tidak menyadari seseorang berdiri didepannya dan akhirnya...
Brakk...
.
.
.
.
.
Hay semua ❤️
Aku comeback 😅
Jangan lupa like, komen dan vote ya 😙
Dukung juga boleh 😁
__ADS_1
See you next part:)