
Layaknya di sebuah pengadilan, sekarang posisi Abel dan Acarl berada dalam interogasi tiga orang yang datang ke mansion Acarl. Datang tidak diundang dan pulang ogah mengantarkan.
Lebih tepatnya Rian, Clara dan Eron lah yang menjadi tukang interogasi disini. Abel yang kepergok sedang berciuman dengan Acarl, hanya bisa menahan dirinya yang malu karena ulah Acarl. Sedangkan Acarl menatap tajam tiga orang didepannya, dengan rasa kesal yang memuncak karena sudah menganggu aksinya tadi.
"Ehem, jadi kita kesini mau adain acara makan malam karena besok kau akan ke luar negeri," ujar Eron membuka suara lebih dulu.
"Juga melihat aktivitas kakakku dan juga kakak iparku," imbuh Clara yang menatap tajam Acarl.
"Dan melihat om-om yang sedang menerkam adik kelasku," lanjut Rian yang sama menatap tajamnya pada Acarl.
Merasa menjadi bahan, Abel yang risih ingin segera meninggalkan posisinya sekarang menjauh dari keempat orang yang sedang otot berotot itu.
"Gimana ya caranya?" batin Abel yang sedang memikirkan cara untuk kabur.
Perlahan Abe sedikit menggeser duduknya menjauh dari Acarl. Tapi karena Acarl yang juga merasakan gadisnya ingin pergi, dirinya mencekal tangan Abel dibawah meja. Tidak memberi celah untuk Abel kabur dari sini dan dalam situasi yang seperti ini.
"Aha, aku harus meminta kepala koki untuk menyiapkan makanannya." ujar Abel berusaha kabur, namun tatapan Clara yang semula berada pada Acarl , sekarang sudah beralih padanya.
"Kita sudah membawanya," ujar Clara dengan senyumnya lalu kembali menatap Acarl dengan tatapan tajamnya seperti tadi.
"Wah, kalau begitu aku mau siapin minumannya." usaha Abel lagi untuk kabur. Sekarang gantian Rian yang beralih menatapnya.
"Kita juga sudah membawanya," kata Rian yang lalu kembali menatap tajam Acarl.
Seketika Abel frustasi dengan keadaan yang dialaminya. Apa dosanya sampai sekarang ia harus menanggung rasa malu berlebih ini. Berbeda dengan Acarl yang melirik Abel dengan smirknya. Tak lama, dalam gerakan cepat Acarl mencium pipi Abel sekilas seakan memamerakan pada tiga jones didepannya.
Abel yang mematung dengan wajah memerah, langsung menundukkan kepalanya sampai rambut panjangnya menutupi wajahnya. Sedangkan ketiga orang di depan Acarl dan Abel, langsung menatap lebih tajam pada Acarl.
"Apa? Sudah tau kan kalau kalian itu menganggu!" ketus Acarl pada ketiga orang didepannya.
"Lebih tepatnya aku mau membantu kakak iparku dari harimau kelaparan!" balas Clara tak kalah ketusnya.
Acarl berdecih, lalu bangkit dari duduknya dan berjalan entah kemana. Abel yang masih terdiam, menyadari jika Acarl pergi dari sisinya lalu ia mendongak menatap ketiga orang yang juga sedang menatapnya.
"Eh, itu kalian emang bawa apa kemari? aku ambilkan alat makannya." ujar Abel berusaha menepis kecanggungan.
"Sini gue bantu aja," jawab Clara yang bersiap untuk berdiri , namun tidak jadi karena Acarl yang sudah datang bersama para pelayan yang membawa peralatan yang mereka butuhkan.
__ADS_1
"Kedatangan kalian, saya hargai. Jadi sebagai tuan rumah, mari kita menuju atap untuk menikmatinya." ujar Acarl dengan kalimat yang membuat dirinya terlihat lebih keren, ditambah para pelayan yang berjalan di belakangnya.
Dengan menarik Abel dalam rangkulannya, Acarl dan Abel berjalan dahulu meninggalkan tiga orang yang memiliki pikiran masing-masing.
Sesampainya di atap, sudah disiapkan meja dan tempat duduk dengan pemandangan langit cerah berbintang. Ini adalah kedua kalinya Acarl membawa Abel kesini, menyaksikan bintang yang masih sama sejak dia pertama kali kesini.
"Kakak, biarkan kakak ipar bersamaku. Cewe dengan cewe," ujar Clara yang langsung menarik Abel dari rangkulan Acarl.
"Tidak! Dia..."
"Aku mau sama Clara, kamu sama yang lain ya." potong Abel dengan cepat, sebelum lelaki itu ingin melontarkan penolakannya. Senyum bangga langsung tercetak diwajah Clara, berbanding terbalik dengan Acarl yang tersenyum paksa untuk menjawab Abel.
Clara dan Abel berjalan bersama menuju pinggir atap sembari menunggu para pria yang sibuk mengerjakan semuanya. Yah, sekali-kali merasakan menjadi ratu.
Abel yang sebenarnya ada maksud tertentu ikut bersama Clara, kini ia akan melancarkan aksinya. "Clara," panggil Abel yang langsung membuat Clara menoleh padanya.
"Ya?" jawab Clara sembari memfokuskan dirinya untuk menunggu lanjutan Abel.
"Emm ada yang mau aku tanyain, tapi..."
"Udah tanyain aja," balas Clara dengan lembut.
Clara menjadi sedikit panik sendiri saat Abel terus menatapnya menuntut jawaban mengenai pertanyaannya. "Apa kamu pernah bertemu dengannya?" tanya Clara ragu-ragu. Abel mengangguk yang membuat mata Clara membola,
"Dimana?" tanya Clara yang berusaha semaksimal mungkin untuk terlihat tidak panik.
"Pertama di cafe, dan kedua di kantor Acarl saat aku juga bersama Acarl." jawab Abel jujur.
Clara sedikit memikirkan apa yang harus ia jawab untuk Abel. Tapi menurutnya, akan lebih baik dia tidak mengetahui kejadian waktu itu. Sudah memantapkan pilihannya, Clara menjawab pertanyaan Abel.
"Lebih baik kalau kamu tidak menanyakan itu. Bukankah hari ini kita harus menikmati acara sebelum besok kamu nggak bisa liat Kakak lagi," ujar Clara mengalihkan pembicaraan. Abel tau kalau Clara tau sesuatu, tapi jika begini jawaban yang Abel dapat maka Abel hanya bisa diam saja sekarang.
Kembali dengan para pria yang terlihat sudah selesai menyiapkan segalanya, Clara dan Abel mengambil tempat duduk bersebelahan. Untuk kali ini, Abel akan menepis segala rasa penasarannya. Walau dalam hatinya dia sangat penasaran tentang masalah itu, tapi ini bukanlah waktu yang tepat untuk itu.
"Kamu coba..."
Secara bersamaan, tiga pasang sumpit terjejer rapih di hadapan Abel. Tatapan mata nyalang langsung tercetak dari masing-masing pemilik sumpit itu. Rian, Acarl dan Eron. Mereka sama-sama saling tatap , seketika membuat Abel mau tidak mau harus mengambil keputusan agar tidak merusak suasana ini.
__ADS_1
"A-ha kalian baik banget, aku suka semua." ujar Abel sembari memasukan tiga makanan yang ditawarkan Acarl,Rian dan Eron kedalam mangkuk miliknya.
"Huh, aku cemburu loh." sindir Clara yang membuat Abel tertawa pelan, memecah keheningan yang tercipta oleh tiga pria itu.
"Sayang, kamu harus makan ini. Oh juga ini, jangan lupa yang ini. Ini harus!" ujar Acarl sembari memasukan makanan yang ia pilih kedalam mangkuk Abel. Tak lupa juga melirik dua pria yang ikut merasa geram karenanya.
"HOPPPPPP!!" pekik Abel membuat semua yang ada di situ, langsung mengalihkan pandangannya pada Abel yang memekik lumayan keras.
Abel berkacak pinggang setelah berdiri dari duduknya. Menatap ketiga manusia pembuat suasana buruk itu. "Diem atau aku keluar!" ancam Abel membuat ketiga pria itu menelan ludahnya susah.
"Sayang jangan gitu dong, ini kan salahnya dua kunyuk itu." ujar Acarl sedikit menyindir Eron dan Rian.
"SSSTTTTT! Sekarang push up sampai aku bilang cukup. KALIAN BERTIGA!!" kesal Abel yang tak terbantahkan. Jangan lupa Clara yang menatap ketiga pria itu dengan tatapan meledek dan lidah yang ia julurkan .
Ketiga pria itu mau tidak mau push up dengan hitungan yang sama, namun tak elak dari saling senggol menyenggol. "Aku bahkan hanya diam," ujar Rian yang merasa tertohok disana.
"Jangan melawan singa yang lagi tanggal merah," gumam Acarl yang didengar Rian dan Eron yang akhirnya pasrah jika itu alasannya.
.
.
.
.
.
Hay semua β€οΈ
Aku comeback π
Jangan lupa like, komen dan vote ya π
Dukung wajib π
Lup yu allπ
__ADS_1
See you next part:)