Kau Pelindungku Dan Aku Milikmu

Kau Pelindungku Dan Aku Milikmu
Chapter 58


__ADS_3

"Ya?" tanya Abel agar Acarl mengulangi lagi apa yang dia ucapkan tadi.


"Bisakah kita berteman?" ulang Acarl yang membuat Abel menatap tak percaya pada Acarl.


Abel masih mencerna kata-kata Acarl. Bagaimana mungkin seorang asisten yang bermula dari masalah , menjadi teman bosnya itu? Dengan mempertimbangkan sedalam-dalamnya, Abel akhirnya memilih mengangguk saja. Toh hanya berteman kan?


Acarl yang melihat anggukan kepala itu, membuat senyumnya muncul . Tak menyangka saja jika Abel akan menjawabnya langsung, tanpa meminta waktu seperti dalam film-film . Ya walaupun dia mengajak hanya berteman sih, tapi Acarl berharap jika Abel akan terbiasa dengan Acarl karena status teman itu.


"Baiklah, karena kita berteman sekarang. Jangan begitu formal denganku." ujar Acarl yang membuat Abel mendongak dan menatap tak percaya dengan apa yang didengarnya. Bagi Abel, bagaimana bisa dia bersikap tidak formal dengan Acarl?


" Kalau untuk itu, apakah anda mau memberi waktu untuk saya Tuan?" tanya Abel .


"Baiklah akan aku beri kamu waktu." jawab Acarl yang entah kenapa ada yang berbeda dengan kalimat itu. Setelah di cerna Abel, Abel akhirnya menemukan satu kata yang amat menarik itu. KAMU???


Detak jantung Abel yang sudah cepat, tambah cepat lagi saat Acarl memanggilnya dengan embel-embel kamu. Biasanya kau atau nona Abel. Walau hanya kata kamu ,tapi rasanya sangat menghangatkan hati Abel.


Melihat gadis didepannya terdiam, membuat Acarl mengerutkan dahinya bingung. "Abel? ada apa?" tanya Acarl,membuat Abel terkejut namun double terkejut. Mana embel-embel nona nya????


Tiga buah mesin penghangat seakan menancap dihati Abel. Bahkan rasanya sekarang seluruh tubuh Abel menghangat,dan terutama pada wajahnya yang memerah.


"Abel wajahmu.. memerah," ujar Acarl yang entah sejak kalan sudah berdiri dihadapan Abel. Kini tangan tangan Acarl sudah berada di pipi kiri Abel. Abel terdiam tidak tau apa yang harus dia lakukan dalam situasi seperti ini.


Melihat Abel yang terdiam dan merona, membuat pertahanan Acarl roboh. Naluri laki-lakinya muncul begitu saja, menerobos pertahanan yang dia bangun sejak tadi saat mengecup dahi Abel. Tanpa sadar, Acarl memajukan wajahnya dan begitu juga dengan Abel yang sekarang entah dorongan dari mana ,menutup matanya.


Seakan mendapat izin dari Abel, Acarl mulai mendekatkan wajahnya lebih dekat lagi. Hidung mereka bahkan sudah menyentuh. Tangan Acarl juga tak tinggal diam, tangan itu juga menahan tengkuk Abel agar semakin mendekat juga. Tapi...


Brakk....


"TUANN!!" teriakan dan dobrakan pintu, menyadarkan Acarl dan Abel . Bukan menyadarkan, tapi lebih ke mengejutkan Acarl dan Abel . Abel segera menarik dirinya menjauh dari Acarl, begitu juga dengan Acarl yang segera melepas tangannya dari wajah dan tengkuk Abel .


Mendapati waktu yang salah, Cheiz yang menjadi pelaku pendobrakan menjadi menciut nyalinya setelah melihat lirikan tajam dari bos nya itu. Bukan maksud Cheiz ingin menganggu waktu Abel dan Acarl, melainkan ada masalah serius yang memang harus dia laporkan segera pada Acarl.


"Tamatlah riwayatku!" batin Cheiz meratapi nasibnya nanti.


"Tu-tuan, saya keluar dulu," pamit Abel yang langsung keluar tanpa menunggu jawaban lagi.

__ADS_1


Acarl melihat kepergian Abel dengan tidak rela. Setelah Abel sudah tak terlihat lagi, kini mata Acarl kembali menatap Cheiz dengan tajam seakan ingin menusuk Cheiz saat itu juga.


"Tuan, anu itu Tuan Be-besar a-ada disini." ujar Cheiz terbata-bata karena oksigen tiba-tiba menipis .


Mendengar ucapan Cheiz, Acarl mendengus kesal dibuatnya. Segera dia membenarkan dasinya, lalu beranjak mendahului Cheiz yang masih mematung takut. Tak lama, Cheiz akhirnya menyusul Acarl dengan segera .


"Takdir nggak pernah berpihak padaku! Sekali saja aku bisa berduaan dengan Abel, ada saja yang mengganggu." batin Acarl meratapi nasibnya yang kacau.


Menuju ruang tamu yang dingin seperti Acarl (khusus untuk orang nggak penting), Acarl berjalan dengan tegasnya menghampiri pria paruh baya yang sudah duduk dengan santai itu.


Mengambil tempat duduk dihadapan pria paruh baya itu, Acarl melemparkan tatapan perang pada ayahnya itu. Oh bukan , bukan Acarl yang mengawalinya. Sejak Acarl duduk, tatapan perang sudah ada pada Ayahnya, dan Acarl hanya meladeni saja.


"Ehem, ada apa Tuan besar Xelone kerumah saya?" tanya Acarl memulai pembicaraan. Tentu saja ucapan Acarl mampu memancing hawa-hawa panas dalam diri Tuan besar Xelone itu.


"Apakah aku tidak boleh berkunjung untuk menemui an.ak.ku?" jawab tuan besar Xelone dengan menekan katanya yang diakhir. Seringai tipis langsung tercipta jelas diwajah Acarl, terasa lucu saja saat mendengar basa-basi yang tercipta ini.


"Tentu saja anda boleh berkunjung ,Tuan. Oh dengan senang hati saya akan menerima kedatangan anda kapanpun anda mau." ujar Acarl menjawab Tuan besar Xelone.


Sampai pada minuman datang, hanya ada keheningan yang tercipta. Acarl yang menunggu aksi ayahnya, begitu juga dengan Tuan besar Xelone yang memikirkan cara memulai pembicaraan agar lebih menarik.


"Aaaaaaaa!!!!! apa yang lo bayangin Abel!!! Sadar sadar sadar!!" pekik Abel seraya menepuk-nepuk pelan kedua pipinya itu. Pipi yang menbuatnya diam membeku itu masih ditepuknya. Pipi yang selalu jujur dengan apa yang dirasakannya, dan selalu menunjukkan itu pada Acarl.


"Bisakah kita berteman?"


Pertanyaan itu seakan boomerang bagi Abel. Hanya berteman, dan kejadian tadi bukan yang biasanya dilakukan dalam status teman. Teman? Teman? TEMAN?!


Tubuh Abel merosot saat tiba-tiba kakinya lemas ketika wajah dengan senyum manis milik Acarl muncul lagi dibenaknya. Wajah yang tak pernah ada di wishlist nya itu, tiba-tiba muncul begitu saja dan hadir didekatnya.


"Apa aku menyukainya?" gumam Abel dengan tubuh lemas dilantai dan punggung yang tersandar di tembok.


Abel meggelengkan kepalanya berulang kali saat kata-kata tidak masuk akalnya itu terucap dimulutnya. Jika benar Abel menyukai, pasti hanya sebatas mengidolakan . Itu yang selalu Abel pikirkan sekarang, berusaha untuk berpikir positif dan tak terlalu berharap.


"Tuhan , bantu aku!" ujar Abel pada dirinya sendiri yang kini pasrah menerima kenyataan yang ada jika Abel benar menyukai Acarl. Bukan dari wajahnya yang tampan dan hartanya yang melimpah. Melainkan dari hangat dan manisnya setiap sentuhan, nafasnya dan juga senyumnya itu.


.....

__ADS_1


Kembali lagi pada dua pria beda generasi itu. Sekarang Tuan besar Xelone sudah memulai dengan meminum minumannya terlebih dahulu, disusul Acarl sebagai tuan rumah yang baik.


"Hah, kau selalu ingat minuman kesukaanku ternyata." ujar tuan besar Xelone setelah meminum minumannya.


"Apapun untuk melayani anda," jawab Acarl seraya meletakan cangkirnya dimeja.


Tuan besar Xelone terlihat sedang melihat-lihat setiap inci rumah Acarl . Dan sudah pasti setiap gerak-gerik tuan besar Xelone sudah terbaca oleh Acarl. "Rumah sebesar ini dan kau dirumah sendiri?" tanya tuan besar Xelone yang tepat sasaran dengan apa yang dipikirkan Acarl tadi.


"Jika anda sudah lupa, maka saya akan ingatkan kembali. Saya memiliki asisten, pelayan dan juga asisten pribadi saya." jawab Acarl dengan senang hati.


"Bagaimana bisa asisten pribadimu tidak muncul didekatmu sekarang?" tanya tuan besar Xelone lagi.


"Apakah ada masalah dengan itu? Dia asisten saya, dan saya yang berhak memberi perintah." jawab Acarl dengan senyum yang dari tadi tidak hilang itu.


Tuan besar Xelone mendengus mendengar jawaban Acarl. Dengan rasa kesalnya, Tuan besar Xelone berdiri dan meninggalkan Acarl tanpa pamit. Namun langkahnya terhenti saat dirinya teringat sesuatu hal yang penting yang belum dia katakan pada Acarl.


"Kinerjamu bagus, dan aku menghargai itu sebagai ayahmu." ujar tuan besar Xelone yang kemudian melanjutkan langkahnya lagi.


.


.


.


.


.


Hay semua ❤️


Aku comeback 😅


Jangan lupa like komen dan vote ya😙


Dukung juga boleh 😁

__ADS_1


see you next part:)


__ADS_2