
Dulunya yang bilang akan menyiapkan sopir untuk Abel, malah sekarang orang itu sendiri yang menjadi sopir untuk Abel. Semanjak hubungan keduanya mulai mendekat, Acarl tak henti-hentinya lebih mendekat pada Abel,mengikis jarak yang pernah ada diantara mereka.
"Acarl, apa tidak apa-apa kalau kamu nganter aku kesekolah tiap hari begini?" tanya Abel yang tidak enak hati jika terus-terusan diantar Acarl yang notabene harus bekerja dengan arah yang berbeda itu. Yapp, sekarang Abel memanggilnya Acarl, walau canggung tapi Acarl selalu suka jika Abel menyebut namanya.
"Apa pernah kamu melihat aku terpaksa? Bukankah sebagai teman ,aku harus ada disampingmu?" jawab Acarl dengan pertanyaan lagi yang membuat Abel tidak bisa berkata-kata lagi. Bagi Abel, Acarl adalah teman yang mungkin bukan teman. Bagaimana bisa teman se so sweet Acarl, tapi Abel menghargai perjuangan Acarl yang ingin akur dengannya.
Ya, akur. Walau sebenarnya dari perlakuan Acarl padanya itu, menggoyahkan hati Abel. Siapa yang tidak akan suka pada Acarl jika mendapat perlakuan seperti itu ? Sebagai perempuan normal, Abel merasa diperlakukan istimewa seperti barang yang mudah pecah.
Abel menggeleng pelan untuk menjawab pertanyaan Acarl. Senyum Acarl yang katanya langka itu, selalu bisa dinikmati Abel setiap harinya. Senyum yang menambah poin ketampanan Acarl yang membuat semua wanita akan terpana . Abel bersyukur bisa menikmati setiap hari, dan tentu saja Abel terpana.
"Kamu datanglah ke kantorku sehabis sekolah, asisten pribadiku." ujar Acarl setelah menghentikan mobilnya tepat dihalte bis dekat sekolahnya seperti biasa.
"Baiklah,Tuan Acarl. " jawab Abel dengan cengiran khas karena bisa masuk peran dari perkataan Acarl tadi.
Acarl tersenyum dan mengusap pucuk kepala Abel dengan sayang. Kalau orang lain melihat,pasti dikira adik kakak. Padahal mereka kan TE.MAN,
Abel membuka pintu mobil dan keluar setelah pamit pada Acarl. Acarl sendiri melihat Abel sampai gadis kecilnya itu masuk dalam sekolahnya. Setelah semua aman, Acarl melajukan mobilnya menuju kantor.
___---___
"Cantik, baru dateng?" sapa seseorang diseberang pintu kelas Abel dengan kencangnya.
Abel menghentikan langkahnya dan berbalik melihat sosok yang dikenalnya kemarin . Sosok pria yang membuatnya kesal setengah mati itu, berjalan dengan santainya menghampiri Abel.
"Ngapain lo kesini?" tanya Abel dengan nada menantangnya. Sangat risih bagi Abel saat pria itu mendekat.
"Karna gue juga kelas bahasa, dan gue kakak kelas lo yang kelasnya ada didepan kelas lo ini. Kurasa memang kita berjodoh," ujar pria itu yang tak lain pastinya Rian. Dengan senyum manisnya, Rian dengan percaya diri mengatakan itu.
Abel menarik sudut bibirnya keatas, membentuk senyuman terpaksa yang terkesan menunjukan raut mengejek pada Rian. Abel memang sangat malas jika berurusan dengan Rian, apalagi dihadapan banyak orang seperti ini.
"Berjodohlah dengan tiang bendera, karena gue nggak mau kenal ataupun bareng sama lo!" sarkas Abel yang membuat Rian sedikit tertarik dengan gadis didepannya. Huh banyak banget yang tertarik sama Abel:( Author juga mau.
"Janganlah marah, lo itu tambah cantik kalo marah." ujar Rian dengan senyum tulusnya. Rian tidak tersinggung dengan penolakan yang Abel lakukan, malah dia gemas melihat kedua pipi tembam itu bergerak sesuai irama bibirnya saat marah itu.
"Dasar gila," Abel kemudian berbalik dan masuk kedalam kelasnya. Baginya, Rian tak lebih dari semua pria yang pernah ditemuinya. Hanya tertarik karena kecantikannya. Dan itu membuat Abel muak saat semua mata mengarah padanya ketika ada pria yang mendekatinya. Tapi dengan munculnya Acarl dikehidupannya, membuat Abel sedikit berwarna dan hanya percaya pada Acarl. Pria dengan senyum dan pelukan terhangat yang dia tau.
Rian tak mengikuti Abel, dia masih berdiri di depan kelas XI bahasa. Rian yang baru pindah kemarin, namun mampu mengantongi fans dalam waktu sekejap saja. Para wanita baik itu guru ataupun siswi sekolah ini menatapnya dengan pesona mereka. Kecuali Abel.
"Gue pasti dapetin lo ,apapun caranya itu." batin Rian sebelum memutar langkahnya menuju kelas yang berhadapan langsung dengan kelas Abel.
___---___
"Gue nggak habis pikir sama tuh cowo, masa dia bilang kalo kita berjodoh. Ogah gue mah mending sama A..." kesal Abel yang hampir saja keceplosan itu.
__ADS_1
Falida yang mendengar setiap gerutuan Abel, mengerenyit saat telinganya menangkap kata-kata yang menggantung itu. Tanda tanya besar langsung tercetak jelas di mata Falida yang ditujukan pada Abel.
"Mulut nggak bisa diajak kompromi!!" batin Abel merutuki mulutnya yang hampir menyebut nama yang sangat sakral itu.
"Mending sama?" tanya Falida dengan wajah bertanya.
"A..Abang gue lah!" sanggah Abel dengan wajah pasti yang langsung diberi anggukan Falida. Karna Falida juga mengetahui kakak Abel yang ada diluar negeri itu. Menurut Falida , kakaknya Abel memang tampan.
"Emang dia ganteng, tapi masa lo sama abang lo sendiri?" pertanyaan Falida yang membuat Abel segera mencari alasan lagi. Abel sangat pintar beralibi dengan cepat, dan sekarang pun Abel sudah menemukan alibi yang tepat.
"Setidaknya abang gue tulus sayang sama gue," jawab Abel dengan cengirannya. Tentu saja tonyoran dikepala Abel dapatkan dari Falida yang duduk didepannya.
"Sadar woy! abang sendiri juga. Mending kalo ke gue itu baru cocok," tonyoran kepala langsung mengarah pada Falida. Tentu saja pelakunya Abel.
Keduanya kembali tertawa sambil menghabiskan makanan masing-masing. Untuk Abel dan Falida, mereka hanya bertemu saat dikantin saja. Atau kalau ada waktu dimana satu sekolah jam kosong, baru salah satu dari mereka akan datang menghampiri.
__---__
"Hei, lo mau gabung ke kelompok kita nggak?" tanya salah satu siswi yang menghampiri Abel.
Yapp, saat ini Abel ada dalam kelasnya. Mata pelajaran sudah dimulai dan harus menentukan kelompok yang anggotanya bisa memilih sendiri. Abel sedikit terkejut dengan tawaran itu. Dimana mereka yang selalu menjauhi Abel? Kenapa sekarang mereka menawarinya hal seperti itu?
"Lo nawarin gue?" tanya Abel untuk memastikan lebih lanjut . Gadis kuncir kuda itu mengangguk yakin dengan diikuti kedua temannya yang ada dibelakang gadis itu.
"Okelah," jawab Abel. Toh hanya kelompok saja sebagai formalitas.
Abel sedikit canggung saat duduk berempat menjadi satu kelompok bersama murid yang lumayan populer dikalangan para siswi disini. Walau begitu, Abel tetap diam saja dan fokus dengan apa yang guru mereka ajarkan.
"Gue nggak nyangka, lo emang bener pinter ya." puji Tina setelah mata pelajaran mereka selesai, dan sekarang sudah waktunya pulang.
Abel hanya berdehem menanggapi pujian Tina. Bukan sombong atau bagaimana, tapi Abel tidak tau harus menaggapinya dengan apa.
"Kalau ada mata pelajaran yang kelompok, lo boleh masuk kelompok kita aja." ujar Tina lagi seraya berpamitan pada Abel.
Setelah ketiga orang tadi keluar, hanya tertinggal Abel didalam kelas itu. Bagian kelas bahasa sudah sepi tanpa orang sedikitpun. Perlahan, Abel keluar dari dalam kelasnya. Namun baru saja melangkah menjauhi mejanya, suara gebrakan yang keras membuat Abel menghentikan langkahnya.
"Apa itu?" gumam Abel seraya melangkahkan kakinya lagi sampai didekat pintu.
Mulutnya terbuka saat dirinya melihat kejadian yang langka terjadi didepannya. Cewe dengan pipi merah itu, sangat familiar bagi Abel.
"Lo itu udah bukan penguasa lagi disini, bahkan gue nyesel nganggep lo temen gue!" sarkas cewe yang tadi menampar gadis yang terduduk dilantai sambil memegang pipinya itu .
"Bahkan lawan adik kelas aja lo kalah," sarkas cewe lain yang berada disamping cewe tadi.
__ADS_1
"Jadi kalian nganggep gue temen karena kekuasaan gue aja?" tanya gadis yang saat ini menangis itu.
"Karna nama lo Clarayta Xelone! Gue hanya tertarik dengan marga lo, dan ternyata orangnya nggak sehebat marganya."
Abel sudah tidak tahan melihatnya. Bukan mau sok jagoan, tapi Abel pernah ada diposisi Clara yang merintih sakit itu. Abel mengepalkan tangannya dan berjalan dengan tegas menghampiri cewe bermulut pedas itu.
Prok prok prok..
"Cuma karena marga, kakak jadi tergila-gila? Kenapa nggak sekalian kakak minta pindah KK aja ke keluarga Xelone. Oh tapi kayaknya dengan muka kakak yang kayak gini nggak akan cocok." ujar Abel dengan smirk andalannya.
Cewe bos geng tadi tentu saja menatap nyalang pada Abel. Kata-kata menusuk Abel langsung membuat tangan cewe itu tertahan diudara.
"Hihi, tangan kotor kakak aja nggak pantes tanda tangan . Apalagi mau nampar aku," lanjut Abel menyalakan api kemarahan pada cewe itu.
"KAU!!!!!" kesal dengan Abel, cewe itu berbalik dan pergi meninggalkan Abel dan Clara yang masih ditempat.
Abel berbalik dan melihat Clara yang bersimpuh dilantai dengan mata yang memerah karena menangis.
"Ngapain lo bantu gue? lo mau hina gue lagi? " pertanyaan dari Clara yang membuat Abel tersenyum tipis .
"Aku udah bilang kan, jaga image kakak. " ujar Abel seraya mengulurkan tangannya didepan Clara .
Clara menepis uluran tangan itu, dan kemudian berdiri meninggalkan Abel. Abel mengerti perasaan Clara, yang membuatnya hanya diam saat Clara bersikap kasar padanya.
"Astaga gue ada janji dengan Acarl," panik Abel yang kemudian lari meninggalkan kawasan sekolah.
.
.
.
.
.
Hay semua ❤️
Aku comeback 😅
Jangan lupa, like komen dan vote ya 😙
Dukung juga boleh 😁
__ADS_1
See you next part:)