
Pagi hari yang cerah, masih ada gadis yang bergelut dengan selimutnya. Merasakan kehangatan dibalik selimut, tanpa mengingat dimana dia tidur saat ini. Dia hanya ingat jika ini hari Minggu, tapi untuk segalanya dia lupa .
Teeettttttttttttt
Suara benda di nakas, membuat Abel segera meraba nakas disebelahnya. Dengan mata masih terpejam, Abel mencoba meraih benda kecil berbunyi nyaring itu. Merasa kesal karena bunyinya, membuat Abel bangun dan melempar benda itu.
Prakkkk
"Argghh benda sialan!" teriak Abel seraya melempar benda kecil itu.
Tak lama dia tersadar akan satu hal. Dengan cepat, dia membuka matanya dan membelalakan matanya. Menegakkan tubuhnya, lalu melompat dari tempat tidurnya. Abel berlari menghampiri benda kecil yang dia lempar tadi, seketika matanya membola melihatnya. "Mati aku!" batinnya merutuki kebodohannya.
Bergegas kekamar mandi dan melaksanakan ritualnya. Semua dilakukan Abel dengan cepat, setelah dia tersadar dimana dia sekarang dan benda apa tadi yang dia lempar.
Disisi lain.
Seorang pria yang sedang berada dimeja makan , mengetukan jari-jarinya seperti sedang menunggu seseorang. Walaupun makanan sudah terhidang didepannya, dia masih belum menyentuhnya.
"Sialan! kemana gadis itu?" batin Acarl bertanya.
Tak lama seseorang yang ditunggu akhirnya datang dengan berlari. Rambut yang digerai itu terbang dengan indah ,sangat mendominasi dengan wajah cantik yang sedang panik itu .
Gadis yang ditunggu Acarl sudah tiba disampingnya, menundukkan kepalanya seperti memberi salam pada Acarl. Nafas ngos-ngosan itu terdengar ditelinga Acarl, membuat dia mengerutkan keningnya.
"Apa kau di kejar hantu?" tanya Acarl .
Tapi yang ditanya masih mengatur nafasnya agar stabil. Acarl secara reflek memberi gelas berisi air yang tadi dia isi untuk dirinya sendiri. Gadis itu yang tak lain adalah Abel, juga dengan reflek mengambil gelas yang disodorkan Acarl padanya. Meminumnya sampai tandas.
"Apa ini gelasnya? " tanya Abel dalam hati setelah menghabiskan air dalam gelas itu.
"Aaaa ,Tuan. Maaf saya menghabiskan airnya. Saya akan ambilkan lagi sekarang." panik Abel setelah menyadarinya.
Saat ingin berbalik, tangan Abel ditarik Acarl. Abel yang tadinya sudah membelakangi Acarl, Kembali menghadap Acarl. Tanpa berkata, Acarl langsung menggelengkan kepalanya.
"Kau belum menjawab pertanyaanku." ujar Acarl . Kini Abel kembali bingung dengan pertanyaan Acarl, namun tatapannya tertuju pada tangan Acarl yang menahan tangannya.
Acarl tersadar dari tatapan Abel, Acarlpun melepaskan tangannya. "Ehem..... Aku bertanya kenapa kau berlari seperti dikejar hantu? Dan kenapa kau terlambat?" tanya Acarl yang sebenarnya dia tambahi dari pertanyaan yang tadi.
"Mampus! mau dijawab gimana ini?" batin Abel berteriak.
"Hehehe..... Maaf,Tuan. Saya terbiasa bangun siang saat libur sekolah." jawab Abel setelah memikirkan jawaban yang pas untuk Acarl.
"Bukankah aku sudah memanggilmu dengan remot itu?" tanya Acarl lagi. Abel mengigit bibir bawahnya karena bingung.
"Emmm itu.. saya...anu... remotnya." jawab Abel yabg kebingungan. Acarl yang tak mengerti maksud Abel, langsung menatap tajam kearahnya. Seketika tatapan Acarl membuat Abel terdiam dari ucapan ambigunya tadi. Dan tangannya reflek merogoh sakunya dan mengambil benda kecil yang dimaksud Acarl.
Benda yang kini remuk itu berceceran ditangan Abel. Acarl yang melihat semakin geleng-geleng , sedangkan Abel menyengir canggung kearah Acarl.
"CHEIZ!?" Panggil Acarl pada Cheiz. Tak lama Cheiz datang dan memberi salam pada Acarl. Berdiri disebelah Acarl, membuat Abel dapat melihat Cheiz yang berada di seberangnya.
"Ada apa ,Tuan?" tanya Cheiz pada Acarl dengan sopan.
Acarl tanpa berbicara, langsung merebut benda yang sudah tidak berbentuk itu dari tangan Abel. Lalu menyerahkan benda itu pada Cheiz. Cheiz langsung menatap Abel , sedangkan Abel langsung menyengir karena ditatap Cheiz dengan tatapan yang tidak tau apa artinya.
"Pindahkan kamar dia disebelah kamarku!" perintah Acarl dengan telunjuknya yang menujuk kearah Abel.
Abel dan Cheiz yang mendengar langsung menatap Acarl tidak percaya. "APA!????" pekik Abel secara reflek . Acarl yang berada disampingnya langsung menutup telinganya yang merasa berdenyut karena pekikan Abel yang melengking.
__ADS_1
"Ah maaf ,Tuan. maaf maaf maaf!" ujar Abel seraya membungkukkan kepalanya berulangkali.
"Baik ,Tuan. Akan saya siapkan kamar disamping anda." ujar Cheiz menyetujui perintah Acarl. Sedangkan Abel hanya menggeleng menatap Cheiz, seperti memberitahu jika dia tidak mau. Tapi Cheiz dengan bodo amat mengalihkan pandangannya dari Abel.
"Baiklah, kau bisa keluar! Aku akan sarapan sebelum menuju resort." ujar Acarl yang ditujukan pada Cheiz, tapi Abel yang larut dalam pikirannya malah ikut melangkah. Namun langkahnya terhenti saat tangannya kembali ditahan Acarl.
"Ya,Tuan?" tanya Abel setelah sadar dari lamunannya.
Acarl menatap Abel ,lalu beralih menatap kursi kosong disamping Abel. Abel yang melihat sorot mata Acarl, langsung melihat arah sorot itu. Beralih dari kursi, Abel kembali menatap Acarl dengan wajah bertanya. Acarl yang sudah jengkel langsung menatap datar Abel.
"Duduk!" ujar Acarl dingin.
Abel dengan cepat duduk di kursi yang ditunjuk Acarl. Suara dingin Acarl memang paling menakutkan bagi siapa saja yang mendengarnya. Abel sekarang yang sudah duduk ,masih menatap Acarl karena dia tidak tau kenapa disuruh duduk saat ini.
"Makan!" ujar Acarl dingin lagi. Acarl yang dari tadi tau jika dia ditatap Abel , langsung mengatakan apa tujuannya menyuruh Abel untuk duduk. Bukannya dia peduli dengan Abel, tapi dia tidak ingin ribet saat membawa gadis ke resort dalam keadaan perut kosong. Nah kan, Acarl itu sebenarnya tidak jahat .
Abel yang masih canggung, mengambil makanan dalam porsi sedikit. Jelas itu bukan porsinya makan, tapi dia harus jaga image lah sebagai cewe didepan lelaki.
"Apa kau sedang diet?" tanya Acarl yang melihat makanan yang bisa hanya sekali lahap di piring Abel. Bahkan porsinya 5 kali lebih banyak dari makanan yang ada dipiring Abel saat ini.
Mendengar pertanyaan Acarl, Abel menggelengkan kepala tanda menyangkal pertanyaan Acarl. "Ini porsi saya, Tuan." jawab Abel setelah berhenti menggelengkan kepalanya.
Menghembuskan nafasnya, Acarl mengambil beberapa makanan dan ditaruhnya di piring Abel. Abel membelalakan matanya melihat makanan yang diberi Acarl. "Astaga ,Tuan! ini memang porsiku dirumah." batin Abel.
"T-tuan. Saya tidak akan habis jika sebanyak ini." alibi Abel .
Acarl yang sudah selesai mengambil makan untuk Abel, menatap Abel dengan ekspresi datar seperti biasa. Namun sorot mata yang seperti mengintimidasi Abel saat ini. "Apa kau kira aku tidak mampu memberimu makan?" tanya Acarl .
"Ten-tentu saja tidak ,Tuan. " jawab Abel yang langsung mengalihkan pandangannya dari Acarl.
"Kalau begitu makanlah. Jangan sakit disini!" ujar Acarl yang langsung beralih memakan makanannya.
Merekapun akhirnya memakan makanan dalam diam. Acarl yang sudah selesai dulu, langsung berdiri membuat Abel reflek ikut berdiri. "Duduklah, selesaikan makanmu!" ujar Acarl. Abel dengan cepat menghabiskan makannya saat Acarl sudah keluar.
Selesai makan, dengan cepat Abel berlari menuju tempat Cheiz berada. Disana sudah ada Cheiz dan Acarl yang sedang berbincang. "Mana barangmu?" tanya Acarl saat menyadari Abel sudah didekatnya.
"Ahh itu, saya kan tidak membawa baju saat kesini. Dan juga di lemari hanya ada baju yang saya pakai saat ini dan kemarin saya pakai." jelas Abel.
"Benar juga, kan aku yang menyuruhnya." batin Acarl yang baru menyadarinya.
"Ehem... baiklah, akan ada baju untukmu nanti." putus Acarl seraya melirik Cheiz. Cheiz yang mengerti langsung mengangguk mengiyakan.
Masuk kedalam mobil, mereka bersama menuju resort . Dengan Abel disamping Acarl, dan Cheiz duduk didepan bersama supir. Hanya ada keheningan didalamnya , Abel yang merasa bosan langsung membuka ponselnya dan mengechat Falida .
Fall Falida
^^^P^^^
^^^Fal?^^^
Tak lama ponselnya bergetar menandakan ada pesan. Langsung saja Abel membuka ponselnya.
Fall Falida
^^^P^^^
^^^Fal?^^^
__ADS_1
Apaan?
Kangen nih sama aku?
^^^Gak lah.^^^
^^^Gabut disini.^^^
Lo nggak ngapa-ngapain disana?
^^^Gue jalan ke resort bareng tuan Acarl.^^^
What?! waw baru berapa hari lo disana dah ke resort.
^^^Boleh nggak kalo gue bunuh lo?^^^
Tak terasa ,kegiatan Abel selalu dilirik seseorang yang ada didekatnya. Siapa lagi jika bukan Acarl yang melihatnya? Melihat Abel yang asik sendiri, membuat Acarl merasa bertanya-tanya dengan apa yang dilakukan Abel saat ini.
"Ehem!" dehem Acarl untuk memecahkan suasana. Bukannya Abel akan menoleh,namun malah Cheiz yang menoleh pada Acarl.
"Tuan, apa tenggorokan anda sakit?" tanya Cheiz saat mendengar deheman yang berasal dari belakang.
Melambaikan tangannya seakan memberitahu jika dia tidak sakit, Cheiz yang paham dan akhirnya berbalik melihat kedepan lagi.
"Apakah ada minum disini?" tanya Acarl dengan nada sedikit keras untuk menyinggung Abel, namun yang disinggung tidak kerasa juga.
"Cara anda PDKT sungguh buruk ,Tuan." batin Cheiz bergeleng melihat kelakuan majikannya itu.
"APAKAH ADA MINUM DISINI?" tanya Acarl lagi dengan nada keras nya. Dan benar saja, sekarang Abel melihat kearah Acarl saking terkejut dengan suara keras Acarl.
"Ya ,Tuan." ujar Abel setelah menyimpan ponselnya.
"Aku butuh minum." ujar Acarl dingin. Abel yang mendengar, seketika menelan salivanya dengan susah. Mencari botol minum disebelahnya, Abel kemudian memberi botol itu setelah menemukannya.
"Ini , Tuan." ujar Abel sambil menyerahkannya.
Acarl menerima botol itu, dan meminumnya. "Kurasa aku harus memberi satu larangan lagi untukmu." ujar Acarl setelah selesai minum.
"A-pa itu ,Tuan?" tanya Abel tergagap.
"Jangan bermain ponsel didepanku! "
.
.
.
.
.
.
Hai semua❤️
Makasih sudah mau mampir 😘
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan vote ya 👌
see you next part:)