Kau Pelindungku Dan Aku Milikmu

Kau Pelindungku Dan Aku Milikmu
Chapter 63


__ADS_3

Jika dikata perempuan itu harus jaga image, apalah daya Abel yang sekarang bersandar dipundak Acarl dengan kaki diluruskan sambil mengelus perutnya seperti orang yang akan melahirkan. Rasa kenyang yang Abel rasakan itu, membuat Abel sedikit tersiksa.


Acarl sendiri merelakan pundaknya untuk disandari Abel. Toh dia juga suka. Setelah makanan habis tadi, Abel mengeluh jika perutnya membesar karena kekenyangan. Dengan begitu, Acarl membawa Abel menuju bangku yang menghadap ke luar dimana lampu kota terlihat indah bagaikan bintang-bintang itu.


Dan kebahagiaan datang pada Acarl yang perlahan ia rasakan kalau Abel mulai mendekat padanya. Walaupun begitu, Acarl tetap akan pelan-pelan merangkul Abel. Acarl tidak memaksakan Abel untuk menyukainya, tapi kalau lama ya bolehlah sedikit memaksa:)


"Tuan, aaa maksud ku A-carl. Maafkan aku yang sedikit canggung, mungkin karena aku belum terbiasa." ujar Abel yang membuat Acarl tegang karena panggilan dan obrolan Abel yang berubah padanya itu.


"Tidak, aku tidak memaksakan kamu untuk itu." jawab Acarl sembari tangannya mengusap lembut surai Abel yang terurai bebas itu.


"Aku belum pernah memiliki teman pria sebelumnya, jadi aku sedikit canggung saat kamu mengajakku berteman."ujar Abel seraya menggeser tubuhnya mendekat pada Acarl untuk mencari posisi yang enak.


Acarl mengerutkan dahinya bingung. Mendengar apa yang dikatakan Abel, mengatakan bahwa Acarl lah teman pria pertama bagi gadis itu. Tapi bagaimana dengan Eron?


"Eron?" tanya Acarl to the poin karena saking penasarannya.


Abel mendongakkan kepalanya melihat Acarl yang juga melihatnya. Abel tersenyum dan menggeleng pelan," Eron adalah penyelamatku waktu itu. Kalau Eron tidak ada, mungkin saat itu aku sudah terlindas mobil." jawab Abel yang membuat nafas lega Acarl terdengar. Tapi tentu saja masih ada yang janggal dari itu,


"Tunggu tunggu, kamu terlindas mobil? Apa maksudnya?" tanya Acarl lagi saking terkejutnya dengan jawaban Abel yang menyatakan Eron penyelamatnya.


Abel menceritakan semua yang dialaminya saat dimana dirinya frustasi dengan pernyataan Acarl dulu yang menyuruhnya bertanggung jawab. Dari cerita Abel, Acarl merasa bersalah juga karena membuat Abel pulang sendiri dan tak dia sangka jika Abel sampai merasakan hampir mati ditengah jalan.


Terbesit rasa terimakasih pada Eron yang menyelamatkan gadisnya ini. Tapi yang Acarl ketahui, Eron juga menyukai Abel. Itu membuat rasa terimakasih yang ada pada diri Acarl tadi menguap dan melampiaskannya dengan memeluk erat tubuh mungil itu dari samping.


"Acarl, ada apa?" tanya Abel saat tubuhnya didekap erat oleh pemilik pelukan terhangat yang pernah Abel rasakan itu.


"Maaf," hanya itu yang mampu keluar dari bibir Acarl saat ini. Walau Abel tau maksud dari kata maaf Acarl, tapi menurut Abel itu bukan kesalahan Acarl. Dirinya juga ikut andil dalam masalah bukan?


"Untuk apa kamu minta maaf? Sudahlah lupakan saja, lagipula sekarang kita sudah akur." ujar Abel sembari menepuk pelan punggu lebar Acarl yang tidak sanggup ia peluk sepenuhnya itu.


Acarl memundurkan tubuhnya dan menatap wajah Abel yang juga menatapnya itu . Satu kecupan hangat mendarat di bibir Abel. "Itu tanda jika aku berterimakasih," ujar Acarl menjawab pertanyaan Abel yang belum sempat Abel tanyakan itu.

__ADS_1


Abel tidak mampu menyembunyikan rona wajahnya yang memerah karena Acarl. Dengan rasa malunya, Abel menubruk dada Acarl dan bersembunyi disana sampai membuat keduanya kembali terdiam. Saking nyamannya juga, membuat Abel ketiduran didada Acarl.


Acarl tersenyum mendengar dengkuran halus keluar dari bibir yang membuatnya candu itu. Tanpa pikir panjang, Acarl mengangkat tubuh mungil itu dan dibawanya sampai ke mobil yang akan membawanya pulang.


___---___


Senyuman semua orang dimansion tak luntur saat menyambut pulangnya Acarl yang menggendong Abel. Menurut mereka itu adalah momen langka yang indah. Hanya Abel yang mampu membuat Tuannya yang dulu dingin dan menyebalkan, menjadi Hangat dan penuh senyuman.


Acarl membuka pintu kamar Abel dengan hati-hati tanpa membuat Abel terbangun . Sampai di tempat tidur, Acarl melepaskan high heels yang melekat dikaki jenjang milik Abel. Juga tak lupa Acarl menyelimuti tubuh mungil itu. Sebelum pergi, Acarl berniat untuk memandangi wajah cantik itu. Namun seketika Acarl teringat satu hal penting yang harus dia lakukan.


Acarl berjalan menuju meja rias Abel. Dengan perlahan ,Acarl menorehkan makeup remover diwajah Abel. Menghapus semua makeup yang menempel diwajah Abel dan membuat wajah natural namun masih terkesan cantik itu terpancar.


Selesai sudah tugas penting Acarl, dengan segera dia bangun untuk menaruh makeup remover kembali di meja rias Abel. Namun cekalan yang menahan tangannya itu, membuat Acarl teralihkan dari niat awalnya.


"Jangan pergi.... terimakasih," ucap Abel dalam tidurnya. Ingin Acarl segera melepaskan cekalan itu , namun semakin dia berusaha itu malah membuat Abel menggerak-gerakan tubuhnya seperti terganggu.


"Huh, baiklah. Tapi jangan salahkan aku jika aku akan kecanduan tidur dengan mu," ujar Acarl yang akhirnya memilih tidur disamping Abel.


Acarl yang sudah merasakan kantuk karena melihat Abel yang terlelap nyaman, akhirnya Acarl melepaskan jas nya dan menyisakan kemeja dan celana panjangnya saja.


Acarl kemudian memejamkan matanya menyusul Abel ke alam mimpi sambil memeluk tubuh mungil itu.


___---___


"AAAAAAAAAAA!!!!!!"


"Ada apa itu? " panik para pelayan yang mendengar teriakan dari kamar Abel. Tapi dengan cepat, Khanze yang sebagai kepala pelayan tau jika tidak perlu khawatir dengan teriakan itu. Dengan begitu, Khanze menyuruh para pelayan untuk tenang.


Didalam kamar yang hangat. Abel yang membuka matanya, merasakan tangan kekar melingkar diperutnya. Terasa nyaman dan hangat yang membuat Abel tidak berpikir lagi siapa pemiliknya . Tapi saat melihat jam, Abel harus rela membalikan tubuhnya dan akhirnya melihat si pemilik tangan itu .


"Pagi," sapa Acarl dengan lembut saat wajah natural khas bangun tidur Abel terlihat jelas.

__ADS_1


Abel membelalakan matanya saat wajah western yang sangat candu untuknya itu, berbaring dihadapannya juga. Tanpa disadari Abel berteriak saking terkejutnya melihat Acarl.


"Ssttttt! jangan berteriak." ujar Acarl yang mampu membuat Abel berhenti berteriak.


"A-Acarl, kenapa kamu bisa ada disini?" tanya Abel setelah berhasil menetralkan dirinya.


Bukannya menjawab, Acarl malah mengeratkan pelukannya dan menyembunyikan wajahnya diceruk leher Abel. Tentu saja Abel terkejut dan ikut mengeratkan pelukannya pada Acarl karena sebenarnya dia merasa geli. Acarl tersenyum diceruk leher Abel. Acarl mengecup leher itu dan kemudian bangun .


"Sudah bangunlah, kamu harus sekolah bukan?" ujar Acarl yang langsung dijawab Abel dengan anggukan. Abel kemudian mengangkat tubuhnya menjadi posisi duduk, sedangakan Acarl mengambil jasnya dan tersenyum yang mengatakan jika dia pamit untuk keluar dari kamar .


Melihat pintu kamar yang sudah tertutup lagi, membuat Abel ikut bangun dan berjalan menuju kamar mandi untuk bersiap-siap .


"Teman? Apakah teman seumur hidup?" gumam Abel didepan cermin kamar mandi. Seketika rona dipipinya menyala karena senyumnya saat mengingat perlakuan Acarl akhir-akhir ini yang membuat jantungnya tidak berhenti berdegup kencang.


.


.


.


.


.


Hay semua ❤️


Aku comeback 😅


Jangan lupa like, komen dan vote ya 😙


Dukung juga boleh 😁

__ADS_1


See you next part:)


__ADS_2