
Abel pov
Satu masalah sudah selesai, bahkan menurutku dua masalah sekaligus. Pertama dengan Clara dan kedua dengan Brian. Ahh, lega rasanya.
Aku pulang dengan perasaan senang, bahkan senyum di bibirku tak pernah pudar sampai didepan rumah. Hanya sampai didepan rumah senyumku terukir, saat masuk kedalam rasa bahagia yang kumiliki seakan terhempas dari diriku.
Yah, kalian pasti sudah menduga kalau yang membuatku tidak senang lagi adalah ibuku. Ibuku memandangku dengan perasaan marah, dan aku dapat melihat itu bukan marah biasa antara ibu dan anak, tapi ini lebih.
Aku berjalan melewatinya seakan tak melihat dia sama sekali sampai sebuah teriakan membuatku berbalik badan menghadapnya.
"Sepertinya kau bahagia nona Guston?" ujar seseorang yang bersedekap dada dengan mata menatap tajam kearahku.
"Jika iya kenapa? " tanyaku dengan nada menantang.
"Bukan salah jika aku menilaimu anak tidak tau diri!" kata nyonya Guston dengan mengejek.
"Memang tidak salah jika anda mengatakannya pada saya, karna dimata anda tidak pernah ada saya!" jelasku yang mulai jengkel.
__ADS_1
"Apa kau tau kesalahanmu nona Guston yang terhormat? " tanya nyonya Guston.
"Apapun yang saya lakukan selalu salah dimata anda." jawabku dengan senyum kecut ku.
"Ah, kau memang benar. Dan untuk kesalahanmu kali ini, kau benar-benar membuatku marah!! "
"KAU BAHKAN INGIN MEMBUAT PERUSAHAAN AYAHMU BANGKRUT!!! " teriak nyonya Guston padaku.
"Apa untungnya buat saya? " jawabku dengan nada kesal.
Kulihat nyonya Guston menatapku dengan bingung, seperti ingin menjawab namun ada hal yang membuat dia tidak menyampaikan itu.
"Bagaimana ini? separuh saham keluarga Guston ada pada keluarga Xelone." lirih ku sambil kubaringkan tubuhku diatas tempat tidur.
"Ayah pasti marah padaku!" lanjut ku lagi . Tak terasa air mata menetes langsung menyerap ada tempat tidurku.
Tak terasa aku tertidur dengan mata sembab dan masih memakai seragam sekolah. Saat tertidur, aku merasakan ada goncangan dikasur ku. Sangat susah untukku membuka mata, aku pun berusaha sedikit untuk mengintip. Dan ternyata Ayah duduk disebelahku dengan menghadap jendela yang tak ada pemandangannya karna tertutup gorden.
__ADS_1
Terlihat ayah sendu, seperti merasa bersalah atau lainnya. Ingin rasanya membuka mataku dengan penuh, tapi karena efek menangis tadi jadi susah dan membuat kepalaku pusing.
"Kau banyak terluka." lirih Ayah tiba-tiba dengan tangan terulur di kepalaku dan mengusapnya lembut, namun tatapannya masih kosong kearah jendela.
"Bahkan ayah selalu tidak ada saat kau dimarahi ibumu atau dibenci olehnya." lanjut ayah.
"Kau tau, Ayah sebenarnya tau semua yang kau alami. Tapi apa daya ayah, Ayah bahkan bukan berasal dari keluarga kaya. Ayah hanya meneruskan perusahaan Ayah dari ibumu. Bahkan ayah tak pernah sekalipun mencintai ibumu, ayah dijodohkan kakekmu tuan besar keluarga Guston. " lanjut ayah lagi dengan panjang dan sangat menyentuh untukku.
Tak ku sangka ayah mengalami itu semua. Dan menurutku sungguh pantas jika ibu tak pernah menyayangi ku, dia hanya butuh anak laki-laki seperi kakakku.
Pantas juga dia merasa marah saat aku melawan keluarga Xelone, karna dampak dari itu ada pada perusahaan Guston.
Ayah, maaf aku merepotkan mu. batinku.
Makasih buat kakak yang udah baca❤
Jangan lupa komen, like dan juga vote ya kak😊
__ADS_1
Vote kakak dukunganku, komen kakak semangat ku, like kakak I love you😍