
"Itu......"
.
.
.
.
.
Tatapan para lelaki yang ada diruang tamu itu seketika tertuju pada perempuan dengan high heels nya, rambutnya yang digerai dan jas berwarna cream itu. Style ala kantor itu memberi kesan berwibawa bagi sesiapa yang memakainya, dan itu semua yang membuat Acarl dan Eron terpana pada gadis itu.
Abel. Nama yang identik dengan remaja SMA itu seakan menguap begitu saja. Nyatanya, dengan style itu membuatnya terlihat seperti wanita bukan lagi gadis.
Berjalan pelan karena malu, Abel menghampiri Eron dan Acarl. Sebenarnya dia merasa tidak nyaman dengan baju yang sudah disiapkan Acarl ini, namun apalah daya kalau ini yang memperintahkan adalah Acarl.
"Tuan," panggil Abel pada Acarl yang masih menatapnya. Mengabaikan Eron yang juga menatapnya dengan mulut terbuka.
Tersadar karena merasa ada yang memanggilnya, Acarl menggelengkan kepalanya kecil untuk membuang pikiran-pikiran yang tiba-tiba muncul dibenaknya.
"Ehem iya." jawab Acarl yang sudah sadar sepenuhnya.
"Tuan, apa tugas pertama saya?" tanya Abel agar dia mengerti apa saja tugasnya disini. Dia yang masih remaja, membuatnya merasa bosan jika tidak melakukan sesuatu. Untuk itu dia bertanya pada Acarl mengenai tugasnya .
Acarl yang mengerti maksud Abel, langsung mengangguk dan kemudian dia menekan remote yang berada disakunya. Tak lama setelah itu, pintu terbuka dan menampilkan Cheiz yang datang .
"Iya tuan muda." ujar Cheiz setelah dia menundukkan kepalanya.
"Kau ikutlah Cheiz. Dia akan menjelaskan semua hal yang harus kau lakukan sebagai asisten pribadiku," ujar Acarl pada Abel.
"Dan kau Cheiz... angkat bocah itu. Lama-lama rumahku akan banjir jika dia masih ada disini." lanjut Acarl memberi perintah untuk Cheiz.
Cheiz yang diberi perintah oleh majikannya, segera melaksanakannya. Meletakan kedua tangannya pada tangan Eron, Cheiz mengangkat Eron. Eron yang merasa tubuhnya melayang langsung tersadar dengan apa yang terjadi.
"Sialan! Lepas!!" kesal Eron dengan menggoyangkan badannya keras agar terlepas dari Cheiz. Namun usahanya gagal, bukannya terlepas dia malah terlihat seperti berpelukan dengan Cheiz. Demi apa? Eron seorang CEO dan diperlakukan seperti ini???
Abel sendiri yang menyaksikan berusaha sekeras mungkin untuk menahan tawanya. Cheiz dan Eron sudah keluar dari ruangan itu, menyisakan Abel dan Acarl berdua. "Tuan, saya akan menemui Cheiz terlebih dahulu." ujar Abel sopan pada Acarl.
Abel yang merasakan hawa tidak enak saat berdua dengan Acarl, memutuskan untuk segera menyusul Cheiz. Setidaknya jika dengan Cheiz tidak akan terasa hawa yang mencekam seperti sekarang. Walau pada dasarnya Cheiz juga sama dinginnya.
Tanpa menunggu jawaban dari Acarl, Abel segera berlari dan pergi meninggalkan Acarl. "Apa aku terlihat begitu menakutkan baginya?" gumam Acarl setelah melihat Abel.
__ADS_1
------------
"Huh... akhirnya aku bebas darinya." nafas lega Abel hembuskan saat sudah bebas dari Acarl.
Berjalan melewati dapur, Abel mencari ruangan tempat Cheiz berada. Menyerah untuk mencari sendiri, Abel terpaksa bertanya pada para pelayan yang ada.
"Permisi?"
"Iya,Nona." jawab pelayan itu dengan sopan.
"Emm... apakah kamu tau dimana ruangan Cheiz?" tanya Abel pada pelayan perempuan itu.
"Oh tuan Cheiz. Dia sekarang berada diruang baca Tuan muda, Nona." ujar pelayan itu memberitahukan keberadaan Cheiz padanya.
"Ruang baca sebelah mana ya?" tanya Abel lagi karna ini pertama kalinya dia menginjakkan kaki di mansion Acarl. Mansion yang luas ini terlalu sulit untuk langsung dihafal oleh Abel selama sehari.
"Anda cukup naik kelantai dua dan berbelok kekanan , lalu cari ruangan ketiga. Disana Nona," jelas pelayan itu dengan senyumnya yang indah. Mungkin pelayan ini masih berusia 20 tahun, terlihat dari wajahnya yang belum terlihat tua itu.
"Baiklah . Terimakasih......" jawab Abel menggantung saat tadi dia lupa menanyakan nama pelayan itu.
"Emely ,Nona." ujar Emely setelah mengetahui ucapan menggantung Abel.
"Terimakasih Emely. Kamu baik dan cantik." ujar Abel lalu berlalu pergi menuju tempat yang diberitahu Emely.
------------------
Pintu berwarna coklat kayu itu, terasa berat walau hanya melihatnya. Abel yang sudah memantapkan hatinya, segera mengetuk pintu ruangan itu. Tak ada jawaban dari dalam . Abel mencoba mengetuk kembali dengan sedikit lebih keras dari sebelumnya. Usahanya membuahkan hasil, pintu terbuka dan menampilkan Cheiz yang membukakan pintu.
Tersenyum kearah Cheiz, Abel merasa puas setelah berhasil menemukan keberadaannya setelah dia berkeliling tadi. Namun senyumnya seketika surut saat matanya tak sengaja melihat seseorang yang sedang duduk dengan elegannya di kursi kebesarannya. Acarl.
"Bagaimana dia sudah ada disini?" batin Abel bertanya
"Masuklah!" ujar Cheiz mempersilahkan Abel untuk masuk kedalam.
Abel dengan langkah perlahan, memasuki ruangan itu. Tak sengaja matanya menangkap Acarl yang sedang meliriknya. Nyali Abel menciut, namun dia tetap berusaha tersenyum. Menundukkan kepalanya pada Acarl, Abel pun menyapa Acarl. "Tuan?" ujar Abel.
Acarl yang tadinya hanya melirik, kini berganti melihat langsung kearah Abel. "Apa kau bodoh!" ujar Acarl yang langsung menusuk Abel.
"Apa-apaan dia ini! bahkan aku baru saja masuk kesini. Dan sekarang dia mengatakan aku bodoh?!" gerutu Abel dalam hati.
Walaupun dalam hati kesal, namun Abel masih memamerkan senyumnya pada Acarl. "Maaf tuan?" tanya Abel yang tidak mengerti maksud ucapan Acarl yang langsung menuduhnya bodoh.
"Apa kau tidak bisa menekan bel saat ingin masuk? Bahkan bel itu berada tepat di samping pintu." ujar Acarl yang langsung membuat Abel mengerti kenapa Acarl menuduhnya bodoh.
__ADS_1
"Mana aku tau! Aku baru masuk wahai tuan muda," gerutu Abel lagi dalam hati.
"Maaf tuan, saya akan mengingatnya." ujar Abel.
Abel dituntun Cheiz menuju sofa yang berada di ruang baca itu. Abel duduk secara terpisah dengan Cheiz . Cheiz langsung mengeluarkan map yang berisi kertas-kertas yang belum Abel ketahui apa tulisannya.
Acarl yang tadinya duduk dikursi kebesaran, sekarang berjalan mendekat kearah Abel dan Cheiz. Dengan langkah tegas, Acarl langsung memilih tempat duduk didepan Abel. Menatap Abel yang sedang melihat map didepannya.
"Ini??" tanya Abel pada Cheiz. Dia tidak berani menatap Acarl yang berada tepat didepannya.
"Itu adalah semua tugas, kewajiban, hak anda, dan juga larangan. Anda harus memperlajarinya sesegera mungkin,Nona" jawab Cheiz sambil membuka map itu.
Kertas-kertas yang banyak membuat Abel yang melihatnya mual. Bahkan tugas sekolahnya tak sebanyak ini!
Acarl yang melihat ekspresi Abel pun menyunggingkan senyum miringnya. Seperti anak kecil yang mendapat mainan. baru, itulah yang Acarl rasakan saat ini. Wajah tidak terima Abel tercetak jelas dan itu adalah suatu kebahagiaan tersendiri
Abel langsung membuka kertas demi kertas. Matanya membola saat dia membaca bagian hak yang akan dia dapat.
"Apa! saya digaji?" kejut Abel saat melihat isinya.
"Iya ,Nona. Tuan muda bukan tipe orang yang suka memperbudak." jawab Cheiz. Wajah bangga tercetak jelas diwajah Acarl saat Cheiz memujinya.
"Te-terimakasih ,Tuan." ujar Abel tergagap.
Abel kembali membuka lembaran demi lembaran yang ada. Namun saat melihat dibagian tugas, rasanya jantung Abel berhenti berdetak.
"Maaf ,Tuan. Apa maksudnya ini?"
.
.
.
.
.
Hayo apa yang membuat Abel begitu🤭
Jangan lupa like, komen dan vote ya❤️
Makasih buat yang masih setia😭
__ADS_1
see you next part:)