
Jalanan di Sirakusa, Italia. Membuat Abel yang notabene berkeinginan untuk berlibur kesini, menjadi sangat bahagia. Apalagi dengan adanya Acarl disini yang menemaninya. Terasa seperti bulan madu, tapi belum menikah:(
Abel berencana untuk ke cafe tempat ia bekerja sebelum bertemu dengan Acarl. Setidaknya, dia harus pamit juga pada Serra yang pasti mengkhawatirkannya. Bagaimanapun juga, Serra adalah teman pertama Abel di negara ini. Dan juga teman yang menangisi nya saat ia diculik saat itu.
"Acarl, aku punya satu permintaan boleh?" tanya Abel pada Acarl yang sejak tadi mengikuti gadisnya dibelakang. Sedangkan sekarang, Abel menghadap kebelakang dan berjalan kebelakang.
"Apapun itu." jawab Acarl membuat binar di mata Abel menyala terang. Abel langsung saja menarik Acarl ketempat yang ia inginkan, dan tentu saja Acarl tidak menolaknya. Melihat Abel yang menunjukkan sifat lucu padanya, itu sudah membuat Acarl senang.
Abel menarik Acarl menuju pusat perbelanjaan yang tak jauh dari mereka berada sebelumnya. "Emm, aku ingin membeli baju untuk teman pertamaku disini. Apa boleh?" tanya Abel dengan puppy eyes nya yang mana mungkin bisa ditolak oleh Acarl. Acarl mengangguk dan langsung menyaksikan gadisnya menghilang mencari baju yang gadis itu maksud.
Tak berapa lama, akhirnya keduanya keluar dari mall dengan dua paperbag ditangan Acarl. "Kamu tau nggak? ini sangat aku nantikan bisa berlibur bersama Acarl berdua." ujar Abel sembari berjalan menyusuri kota menuju cafe tempatnya bekerja.
"Dan kamu tau? Kamu adalah gadis pertama yang berlibur ke negara ini bersamaku." balas Acarl membuat Abel menggigit bibir bawahnya menahan senyum. Beruntung Acarl berada dibelakangnya, jadi semu merah dipipi Abel tidak bisa dilihat oleh Acarl.
Melanjutkan langkahnya menuju cafe, Abel tak menyangka kalau kakinya sudah berada tak jauh dari cafe tempatnya bekerja. "Mana yang aku minta tadi?" tanya Abel pada Acarl sembari mengulurkan tangannya untuk menerima paperbag yang Acarl berikan.
"Makasih sayang," ujar Abel setelah paperbag yang diminta ada di tangannya. Sedangkan Acarl terpaku sampai tak menyadari gadisnya sudah memasuki cafe sendirian. Dengan senyum yang menghiasi wajahnya, Acarl segera menyusul gadisnya.
Didalam cafe yang begitu familiar dari ujung ke ujung, Abel mencari gadis yang menjadi teman pertamanya disini. Dan WALAA! Rambut pendek sebahu, menjadi pusat perhatian Abel. Serra, gadis cantik yang terlihat ramah dengan senyumnya. Abel segera mendekati kasir untuk memesan minuman sebelum bertemu Serra.
Dan sekarang, dirinya harus dihadapkan dengan kasir galak yang sering memarahinya. Dengan smirknya, Abel menyapa di kasir galak untuk memesan minum. "Salve, vorrei ordinare un drink." (Halo, saya ingin memesan minuman.) ujar Abel membuat si kasir galakpun melototkan matanya.
"Ei, tu! Cosa stai facendo qui? Perché non funziona?!" (Hei kau! Apa yang kau lakukan disini? Kenapa tidak bekerja?!) serbuan kata dari si kasir galak membuat Abel tersenyum. Ini lah yang Abel nanti-nantikan.
__ADS_1
"Oh mio Dio! È così che accogli gli acquirenti?" (Oh astaga! Apa begitu kamu menyambut pembeli?) tanya Abel dengan ekspresi sok kagetnya. Sungguh Abel sangat menyukai hal ini, walaupun ini tidaklah benar sih.
Terlihat wajah si kasir galak itu memerah menahan kesal. Dan mungkin saja bersiap melayangkan beberapa kata rohani lagi untuknya sebelum akhirnya...
"C'è qualcosa che ti preoccupa?" (Apa ada yang mengganggumu?) tanya seorang pria yang baru datang dan langsung menghampiri Abel yang terlihat sedang terkejut sembari menatap wanita didepannya. Yap, pria itu adalah Acarl yang baru sampai untuk mengejar gadisnya ini yang meninggalkannya.
Abel yang mendengar suara dari belakangnya, langsung memulai aksinya. Setidaknya ia harus memberitahu pada si kasir galak ini, untuk tidak melihat Abel dari penampilannya. "Tesoro, ho appena ordinato da bere. Ma all'improvviso mi ha aggredito". (Sayang, aku hanya memesan minuman. Tapi dia tiba-tiba membentakku.) ujar Abel dengan sok imutnya pada Acarl. Tapi fokus Acarl ada pada kedipan mata Abel, dan itu membuat Acarl tau bahwa gadisnya ini mengajaknya untuk berkompromi.
"Che cosa hai fatto alla mia ragazza?" (Apa yang kamu lakukan pada gadisku?) tanya Acarl pada si kasir galak, membuat si kasir galak itu membelalakkan matanya lagi. Lalu menoleh pada Abel yang menatapnya juga. Perasaan bingung langsung menerpa si kasir galak itu. Bukankah gadis didepannya ini hanya seorang waiters yang berkerja disini? Tapi sekarang?
"Mi scusi signore, ma la ragazza accanto a lei fa la cameriera in questo bar". (Maafkan saya Tuan, tapi gadis disebelah anda ini adalah pelayan di cafe ini.) jawab si kasir galak itu dengan tegas. Dan itu membuat Abel tak tahan menahan tawanya. Sangat lucu melihat wajah kasir galak menjadi kebingungan seperti itu, dan itu membuat tawa Abel lepas sekarang.
Sampai akhirnya, Abel memilih untuk bercerita pada kasir itu dan membuat raut wajah bersalah menyelimuti nya. Yah, perlakuan si kasir galak itu, tak jauh dari kata iri. Ia tau kalau Abel masuk ke cafe ini tanpa data diri apapun, dan itu membuat si kasir galak itu tak terima. Sehingga akhirnya ia memilih untuk membenci Abel yang notabene adalah korban penculikan.
"Va bene. Ma il problema è che ora devo dimettermi, ma il signor Agam non c'è". (Tidak apa. Tapi masalahnya sekarang aku harus mengundurkan diri, tapi Tuan Agam tidak ada.) balas Abel membuat si kasir galak mendongak.
"Lascia fare a me". (Serahkan saja pada saya.) ujar si kasir galak itu membuat binar dimata Abel menyala terang. Abel pun berterimakasih sebelum akhirnya dirinya beralih untuk berbincang dengan Serra yang sudah dipanggil untuk bergabung bersamanya.
"Ciao Serra?" (Hai Serra?) sapa Abel membuat Serra tak mampu menahan air matanya. Bayang-bayang saat Abel diculik kemarin, masih teringat jelas di ingatan Serra. Apalagi sekarang ia melihat temannya ini terbalut perban di pipinya. Dengan sekuat hatinya, Serra menubruk tubuh Abel dan memeluknya erat.
"Grazie al cielo stai bene". (Syukurlah kamu baik-baik saja.) lirih Serra yang senang melihat temannya selamat seperti ini. Sementara Abel tersenyum dan mengusap punggung Serra untuk menenangkannya.
"Sto bene anche io perché Serra mi ha aiutato". (Aku baik juga karena Serra juga membantuku.) balas Abel membuat Serra memundurkan dirinya menatap Abel dengan sayang. Serra baru mengenal Abel, tapi rasanya Serra sudah menganggap Abel seperti adiknya sendiri. Itulah kenapa saat melihat Abel diculik, rasanya Serra ikut sakit saat tidak bisa menolong Abel waktu itu.
__ADS_1
Cukup seperti ini yang Abel inginkan. Memiliki teman yang sayang padanya, juga ada teman hidupnya yang selalu ada untuk melindunginya. Sungguh Abel tidak ingin yang lain, hanys ingin tatapan sayang yang selalu ada untuknya dan selalu menemaninya.
.
.
.
.
.
Hai semua 🥳
Semua sudah bahagia nih🤭
Gimana ini?
Tunggu kabar dari author ya👌
Jangan lupa like, komen dan vote ya 😂
Dukung wajib 👌
__ADS_1
See you next time:)