Kau Pelindungku Dan Aku Milikmu

Kau Pelindungku Dan Aku Milikmu
Chapter 26


__ADS_3

Dalam perjalanan menuju mansion Acarl, Abel merasa cemas. Apa yang akan dia lakukan disana ? Apa yang akan dilakukan Acarl padanya? Semua itu sekarang terasa menghantui pikiran Abel. Ingin rasanya lari atau kabur dari sini, tapi akan banyak resiko yang akan terjadi jika dia melakukan itu. Dengan tekad demi keluarga, semua akan dia lakukan terutama demi ayahnya.


"Semua akan baik-baik saja, Nona." ujar Cheiz tiba-tiba setelah melihat dengan jelas kegelisahan yang ada di raut wajah Abel.


Abel yang mendengar sedikit terkejut, namun dengan cepat merubah ekspresinya. "Apa yang akan terjadi denganku nanti?" tanya Abel lirih. Bukan takut atau apa, tapi jika itu sampai membuatnya tertekan pasti akan sangat menyakitkan untuknya.


"Untuk itu, saya tidak tau nyonya. Yang terpenting anda harus mengikuti perintah Tuan muda ." jawab Cheiz .


Mobil yang melaju menuju mansion Acarl belum juga berhenti, yang menandakan belum sampai juga. Abel hanya bisa berharap jika sampai disana, dia tidak akan merasa sangat tertekan.


45 menit waktu yang dibutuhkan untuk sampai di mansion Acarl jika dari rumahnya. Masuk melalui gerbang yang menjulang tinggi itu, Abel sedikit tercengang dengan apa yang dilihatnya setelah mobil masuk menuju halaman mansion. "Waw... Apa dia sekaya ini sampai memiliki taman yang luas?" batin Abel yang menikmati keindahan mansion Acarl.


Belum memalingkan matanya dari indahnya taman mansion Acarl, sebuah panggilan membuat Abel tersadar. " Nona, kita sudah sampai." ujar Cheiz sambil membuka pintu mobil. Melihat pintu yang sudah terbuka, Abel segera mengambil tasnya dan keluar dari dalam mobil.


Berjalan mengekor Cheiz, Abel diam saja sampai matanya menatap sepasang mata tegas yang mengarah padanya saat dia sudah masuk kedalam mansion. Ruang tamu yang memiliki kesan dingin, sangat mencerminkan pemiliknya. Warna cat dinding berwarna putih dan didominasi garis bidang berwarna hitam untuk lantainya membuat tempat ini terlihat kaku.


"Tuan, Nona sudah datang." ujar Cheiz pada orang yang sedang duduk santai sambil menatap Abel lekat.


Cheiz yang tiba-tiba pergi membuat Abel tersadar dari lamunannya. Tatapannya menunduk saat menyadari ada orang yang menatapnya dengan lekat. Masih berdiri diposisi yang sama, membuat Abel sedikit lelah. Bagaimana tidak? Abel yang hidup bagaikan tuan putri dirumah walaupun ada ibunya yang menyebalkan, akan menjalani hidupnya yang mengerikan disini. Melirik sinis kearah Acarl, seperti sedang mengumpat lelaki itu yang tidak peka terhadapnya.


Melihat lirikan Abel, membuat Acarl tertawa dalam hatinya. Rasanya senang saat melihat gadis itu mengeluarkan ekspresi kesalnya namun masih diam saja. "Duduklah!" ujar Acarl yang merasa tak tega setelah dipikir-pikir.


Tanpa menunggu lama, Abel segera duduk dan meluruskan kakinya yang terasa kaku itu. "Fyuhh akhirnya dia peka." batin Abel.


"Apa kau mau minum?" tawar Acarl mencoba berbaik hati. Karena sebenarnya Acarl sama sekali tidak marah pada Abel . Namun melihat keberanian gadis ini melawan ayahnya membuatnya tertarik dan ingin bermain.


"Tidak ,Tuan. " tolak Abel dengan masih menundukkan kepalanya.


"Harus aku bilang berapa kali jika aku tidak ada dibawah." ujar Acarl dengan nada sedikit tinggi yang seketika membuat Abel segera mengangkat kepalanya menatap Acarl.


Dari sorot mata Abel, Acarl sudah melihat ketakutan yang dirasakan gadis itu. "Ehem, apa yang kau bawa itu?" tanya Acarl dengan menunjuk menggunakan dagunya, seraya untuk mengubah topik.


Melihat arah yang ditunjuk Acarl, Abel melihat tas yang ada tergantung ditangannya. "Ini perlengkapan pribadi saya ,Tuan." jawab Abel yang membuat Acarl mengerutkan dahinya.


"Bukankah aku sudah katakan untuk tidak membawa apapun kesini!? Memang apa yang kau bawa?"

__ADS_1


Mendengar apa yang dikatakan Acarl membuat Abel bingung untuk menjawab apa. Matanya melirik kekanan dan kekiri tanda dia sedang memikirkan jawaban apa yang akan dia berikan pada Acarl. "Ma-maaf Tuan. Ini perlengkapan pribadi bagi saya." jawab Abel setelah memikirkannya.


"Bukankah aku sudah bilang kalau perlengkapan mu sudah siap disini?" tanya Acarl dengan tatapan meyelidik.


"Iya tuan, tapi yang saya bawa memang pribadi bagi saya." jawab Abel menjelaskan seberapa penting barang yang dibawanya saat ini.


"Khanze !!!! buka apa yang dibawa gadis ini!" teriak Acarl pada kepala pelayan yang ada di mansion Acarl. Dengan panik, Abel mendekap tas nya seakan melarang orang untuk menyentuhnya. "Bagaimana ini?" batin Abel berteriak.


"Tuan , saya mohon jangan." mohon Abel pada Acarl.


Tak memperdulikan permohonan Abel, Acarl tetap memberi isyarat pada Khanze untuk tetap membukanya. Khanze langsung merebut paksa tas itu. Saat membukanya , Khanze seketika merona. Sedangkan Abel malu setengah mati . Melihat reaksi dua orang didepannya, Acarl menghampiri keduanya dan merebut tas yang ada ditangan Khanze.


"Ya tuhan tolong aku!" teriak Abel dalam hati.


Bagaikan slow motion gerakan Acarl, Abel merasa jantungnya berdegup kencang saking takutnya . Perlahan demi perlahan, keringat dingin mulai bercucuran didahi Abel. Dan ... yapppp


"Apa ini?" tanya Acarl sambil mengangkat hal penting bagi wanita.


"Kenapa berbentuk seperti ini?" pertanyaan kembali keluar dari bibir Acarl.


Merasa tidak ada yang menjawab, Acarl mulai kesal. "HEI!! APA KALIAN INI? KENAPA TAK MENJAWABKU!" teriak Acarl marah.


Mendengar suara gaduh dari dalam, Cheiz segera membuka pintu dan mendapati Tuannya yang terlihat marah kepada dua orang didepannya. Berjalan mendekat, Cheiz melihat wajah takut pada Abel dan Khanze .


"Tuan," sapa Cheiz pada Acarl .


"Cheiz, apa kau tau jika tidak boleh ada yang menentang ku?" tanya Acarl yang pasti sudah tidak akan mendapat kata Tidak.


"Iya Tuan," jawab Cheiz senormal mungkin .


"Tapi mereka berdua menentang ku karena aku bertanya benda apa ini." ujar Acarl dengan kesal dan masih memancarkan kekesalan pada Abel dan Khanze.


"Tuan muda, kurasa bukan mereka yang salah." tangis Cheiz dalam hati .


"Cepat cari tau apa ini !" perintah Acarl yang membuat bingung Cheiz . Ingin rasanya Cheiz mendukung Abel dan Khanze, tapi jika itu terjadi nyawanya pasti terancam.

__ADS_1


"Tuan , maafkan saya tapi itu..." putus Cheiz yang membela Abel dan Khanze, merutuki kebodohan majikannya.


"Itu apa? Katakan padaku!" kesal Acarl.


"Tuan... Apakah kita perlu melihat di internet?" tanya Cheiz mewaspadai jika Tuannya akan malu.


"Kenapa? Apa sekarang kau menjadi bodoh? " sindir Acarl dengan memancarkan aura kemarahannya pada tiga orang yang ada didekatnya.


"Tuan sadarlah itu sangat bahaya untuk dikatakan." ujar Cheiz dengan lembut , menahan kekesalannya pada Acarl.


"Apa?"


"Tuan..."


"Cepat katakan apa ini?" tanya Acarl lagi.


"Dasar bodoh! itu pembalut!!!"


.


.


.


.


.


.


Aku up lagi😘


Jangan lupa like, komen dan vote ya❤️


Oh iya, mampir yuk di novel ku 'KACA' ditunggu😙

__ADS_1


see you next part:)


__ADS_2